• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Singkat Bantuan Hukum Di Indonesia

BAB II : URGENSI PEMBERIAN BANTUAN HUKUM OLEH

A. Sejarah Singkat Bantuan Hukum Di Indonesia

Bantuan hukum sebenarnya sudah dilaksanakan pada masyarakat barat sejak zaman romawi, dimana pada waktu itu bantuan hukum berada dalam bidang moral dan lebih dianggap sebagai suatu pekerjaan yang mulia, khususnya untuk menolong orang-orang tanpa mengharapkan dan atau menerima imbalan atau honorarium. Setelah meletusnya revolusi Perancis, bantuan hukum kemudian menjadi bahagian dari kegiatan hukum atau kegiatan yuridik, dengan mulai lebih menekankan pada hak yang sama bagi warga Negara untuk mempertahankan kepentingan-kepentingannya dimuka pengadilan, dan hingga awal abad ke-20 kiranya bantuan hukum lebih banyak dianggap sebagai pekerjaan memberi jasa dibidang hukum tanpa suatu imbalan.61

Bantuan hukum, khususnya bagi rakyat kecil yang tidak mampu dan buta hukum tampaknya merupakan hal yang dapat dikatakan relative baru dinegara- negara berkembang, demikian juga di Indonesia. Bantuan hukum sebagai suatu

legal institution (lembaga hukum) semula tidak dikenal dalam system hukum tradisional, dia baru dikenal di Indonesia sejak masuknya atau diberlakukannya

61

system hukum barat di Indonesia. Namun demikian, bantuan hukum sebagai kegiatan pelayanan hukum secara Cuma-Cuma kepada masyarakat miskin dan buta hukum dalam decade terakhir ini tampak menunjukkan perkembangan yang amat pesat, apalagi sejak Pelita ke-III pemerintah mencanangkan program bantuan hukum sebagai jalur untuk meratakan jalan menuju pemerataan keadilan dibidang hukum.62

Kendati demikian, Adnan Buyung Nasution Mengemukakan:63

Bantuan hukum secara formal di Indonesia sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, hal ini bermula pada tahun 1848 ketika di Belanda terjadi perubahan besar dalam sejarah hukumnya. Berdasarkan asas konkordansi, maka dengan firman raja tanggal 16 Mei 1848 Nomor 1, perundang-undangan baru di negeri Belanda tersebut juga diberlakukan buat Indonesia (waktu itu bernama Hindia Belanda), antara lain peraturan tentang susunan kehakiman dan kebijaksanaan pengadilan (RO). Mengingat baru dalam peraturan hukum itulah diatur untuk pertama kalinya ”Lembaga Advokat”, maka dapatlah diperkirakan bahwa bantuan hukum dalam arti yang formal baru dimulai di Indonesia pada tahun-tahun itu, dan hal itupun baru terbatas bagi orang-orang eropa saja didalam peradilan raad van justitie. Sementara itu, Advokat pertama Bangsa Indonesia adalah Mr. Besar Mertokoesoemo yang baru membuka kantornya di Tegal dan Semarang pada sekitar tahun 1923.

Lebih tegas lagi, dalam hukum positif Indonesia masalah bantuan hukum diatur dalam Pasal 250 ayat (5) dan (6) Het Herziene Indonesiche Reglemen

(HIR/Hukum Acara Pidana Lama) dengan cakupan yang terbatas, artinya pasal ini dalam prakteknya hanya lebih mengutamakan bangsa Belanda daripada bangsa Indonesia yang waktu itu lebih populer disebut inlanders, disamping itu daya laku pasal ini hanya terbatas apabila para Advokat tersedia dan bersedia membela

62

Adnan Buyung Nasution, Bantuan Hukum Di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1988), hlm. 23.

63

mereka yang dituduh dan diancam hukuman mati dan atau hukuman seumur hidup.64

Gambaran keadaan diatas terjadi karena dizaman kolonial Belanda dikenal adanya 2 (dua) sistem peradilan yang terpisah satu dengan yang lainnya. Pertama, satu hirarki peradilan untuk orang-orang Eropa dan yang dipersamakan (Residentie Gerecht, Raad van Justitie dan Hoge Rechtshof). Kedua, hirarki peradilan untuk orang-orang Indonesia dan yang dipersamakan (Districtgerecht Regentschaps Gerecht, dan Landraad).65

Salah satu implikasi penting dari dikotomi diatas kaitannya dengan bantuan hukum adalah bagi orang-orang Eropa dikenal kewajiban legal representation by a lawyer baik bagi perkara perdata maupun perkara pidana, tampaknya hal ini lebih didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka telah mengenal lembaga yang bersangkutan didalam kultur hukum mereka (di negeri Belanda) dan karenanya cukup diatur didalam Undang-Undang ketentuan bantuan hukum sebagaimana yang dikenal dinegara-negara maju. Tidak demikian halnya yang terjadi untuk orang-orang Indonesia, bahkan didalam HIRnya tidak dikenal semacam legal representation by a lawyer seperti pada orang-orang Belanda. Didalam perkara pidana bagi orang-orang Indonesia HIR juga tidak mengatur tentang terdakwa yang berhak dibela oleh seorang lawyer, jadi setiap orang boleh

64

Andi Hamzah dan Irdan Dahlan, Perbandingan KUHAP, HIR dan Komentar, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hlm. 109.

65 Ibid.

saja membela dirinya sendiri atau menunjuk keluarganya atau siapa saja (tidak perlu seorang lawyer) untuk membantunya dimuka pengadilan.66

Pada masa penjajahan Bangsa Jepang, tidak terlihat adanya kemajuan dari kondisi diatas. Sekalipun peraturan hukum tentang bantuan hukum yang berlaku pada masa Belanda seperti RO masih tetap diberlakukan, akan tetapi situasi dan kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk mengembangkan dan memajukan program bantuan hukum di Indonesia. Keadaan yang sama juga terjadi pada tahun-tahun awal setelah Bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, karena seluruh bangsa sedang mengkonsentrasikan dirinya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa, demikian pula setelah pengakuan kedaulatan rakyat Indonesia pada tahun 1950, keadaan yang demikian relatif tidak berubah.67

Dalam periode berikutnya, sekitar tahun 1950-1959 terjadi perubahan sistem peradilan di Indonesia dengan dihapuskannya secara perlahan-lahan pluralisme dibidang peradilan, hingga hanya ada satu sistem peradilan yang berlaku bagi seluruh penduduk Indonesia, yaitu: Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, demikian pula telah diberlakukan satu hukum acara yaitu HIR. Namun demikian, pemberlakuan yang demikian berimplikasi pada tetap berlakunya sistem peradilan dan hukum acara warisan kolonial yang

66

Bambang Sunggono dan Aries Harianto, op.cit, hlm. 13.

67

ternyata masih tetap sedikit menjamin ketentuan-ketentuan tentang bantuan hukum.68

Angin segar dalam sejarah bantuan hukum di Indonesia dimulai pada saat munculnya babak Orde Baru. Dalam hal ini Adnan Buyung Nasution mengemukakan:69

Periode ini dimulai ketika gagalnya kudeta PKI yang disusul dengan jatuhnya rezim Soekarno. Pada mulanya atau tahun-tahun pertama tampak ada drive yang kuat sekali untuk membangun kembali kehidupan hukum dan ekonomi yang sudah hancur berantakan. Disamping program rehabilitasi ekonomi, terasa sekali adanya usaha-usaha untuk menumbuhkan kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan juga kebebasan mimbar pada universitas. Independency pengadilan mulai dijalankan, dan respek kepada hukum tumbuh kembali.

Puncak dari usaha ini ditandai dengan digantinya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dan terakhir diganti dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang kembali menjamin kebebasan peradilan dari segala campur tangan dan pengaruh- pengaruh kekuatan dari luar lainnya dalam segala urusan peradilan.

Sementara itu, apabila kita lihat dari aspek institusional (kelembagaan) tentang bantuan hukum, kita dapat mengetahui bahwa lembaga atau biro bantuan hukum dalam bentuk konsultasi hukum pernah didirikan di Sekolah Tinggi Hukum (Rechts Hoge School) Jakarta pada tahun 1940 oleh Prof. Zeylemaker seorang Guru Besar Hukum Dagang dan Hukum Acara Perdata, yang melakukan

68 Ibid.

69

kegiatannya berupa pemberian nasehat hukum kepada rakyat yang tidak mampu disamping juga untuk memajukan kegiatan klinik hukum.70

Pada masa Orde Baru masalah bantuan hukum tumbuh dan berkembang dengan pesat. Satu contoh dapat dikemukakan bahwa pada tahun 1979 tidak kurang dari 57 Lembaga Bantuan Hukum yang terlibat dalam program pelayanan hukum kepada masyarakat miskin dan buta hukum.71

Akhirnya, pada era reformasi legalitas para Advokat dalam hal memberikan bantuan hukum diatur dalam Undang-Undang tersendiri, yaitu dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, dimana profesi Advokat dikatakan sebagai profesi yang mulia offcium nobile dan bertindak sebagai aparat penegak hukum dan mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat dengan aparat penegak hukum lainnya.

Dewasa ini jasa bantuan hukum banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi bantuan hukum yang tumbuh dari pelbagai organisasi kemasyarakatan maupun organisasi profesi. Dengan demikain, para penikmat bantuan hukum dapat lebih leluasa dalam upayanya mencari keadilan dengan memanfaatkan organisasi-organisasi bantuan hukum tersebut.

72

70

Todung Mulya Lubis, Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural, (Jakarta: LP3ES, 1979), hlm. 7.

71 Ibid.

72

B. Landasan Filosofis dan Yuridis Pemberian Bantuan Hukum Oleh Advokat Terhadap Pelaku Tindak Pidana Terorisme.

Landasan filosofis merupakan landasan yang bersifat ideal, memotivasi aparat penegak hukum untuk mengarahkan semangat dan dedikasi pengabdian dan penegakan hukum untuk mewujudkan keluhuran kebenaran dan keadilan. Dengan demikian setiap tindakan penegak hukum harus sejajar dengan cita-cita yang terkandung dengan semangat dan keluhuran tujuan yang filosofis dimaksud.73

Oleh karena itu, landasan filosofis pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme adalah berdasarkan Pancasila, yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Dengan sila Ketuhanan dan Kemanusiaan, mengakui bahwa setiap aparat penegak hukum maupun tersangka/terdakwa yang diduga sebagai pelaku tindak pidana terorisme adalah:74

1. Sama-sama manusia yang dependen kepada Tuhan, yang tergantung kepada kehendak Tuhan, semua makhluk manusia tanpa terkecuali adalah ciptaan Tuhan, yang kelahirannya dipermukaan bumi semata-mata atas kehendak dan berkat rahmat Tuhan.

2. Oleh karena semua manusia merupakan hasil ciptaan Tuhan dan tergantung kepada kehendak Tuhan, hal ini mengandung makna bahwa: b. Tidak ada perbedaan asasi sesama manusia termasuk pelaku tindak

pidana terorisme.

c. Sama-sama mempunyai tugas sesama manusia untuk mengembangkan dan mempertahankan kodrat, harkat dan martabatnya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

d. Setiap manusia mempunyai hak kemanusiaan yang harus dilindungi tanpa terkecuali.

73

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 20.

74

Bambang Sunggono dan Aries Harianto, Bambang Sunggono dan Aries Harianto, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, (Bandung: Mandar Maju, 2009, hlm. 73.

Berdasarkan jiwa yang terkandung dalam sila Ketuhanan sebagaimana tersebut diatas, pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana terorisme tiada lain daripada fungsi pengabdian melaksanakan amanat Tuhan, yaitu dengan cara menempatkan setiap manusia tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme:75

1. Manusia hamba Tuhan yang memiliki hak dan martabat kemanusiaan yang harus dilindungi.

2. Sebagai manusia yang mempunyai hak dan kedudukan untuk mempertahankan hak dan martabatnya.

Selanjutnya yang dapat dijadikan sebagai landasan filosofis dalam pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme adalah sebagaimana pengakuan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang menentukan secara tegas Indonesia adalah negara hukum. Prinsip negara hukum menuntut antara lain adanya jaminan kesederajatan bagi setiap orang dihadapan hukum (equality before the law). Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar juga menentukan bahwa setiap orang termasuk pelaku tindak pidana terorisme berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Dalam usaha mewujudkan prinsip-prinsip negara hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka peran dan fungsi Advokat sebagai profesi yang

75 Ibid.

bebas, mandiri dan bertanggungjawab dalam memberikan bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme merupakan hal yang penting.76

Berdasarkan hal yang demikian, maka setiap orang berhak untuk mendapatkan peradilan yang adil dan tidak memihak (fair and impartial court). Hak ini merupakan hak dasar setiap manusia. Hak ini bersifat universal, berlaku di manapun, kapan pun dan pada siapapun tanpa ada diskriminasi. Pemenuhan hak ini merupakan tugas dan kewajiban negara. Setiap warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, status sosial, kepercayaan dan pandangan politik berhak mendapatkan akses terhadap keadilan. Indonesia sebagai Negara hukum menjamin kesetaraan bagi warga negaranya di hadapan hukum dalam dasar negara dan konstitusinya. Sila kedua Pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila kelima Pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” mengakui dan menghormati hak warga Negara Indonesia untuk keadilan ini. UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama didepan hukum77 dan setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.78

76

Perhatikan Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat.

UUD 1945 juga mengakui hak setiap orang untuk bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif

77

Perhatikan Pasal 28 D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

78

itu.79 Tanggung jawab negara ini harus dapat diimplementasikan melalui ikhtiar- ikhtiar ketatanegaraan pada ranah legislasi, yudikasi dan eksekutorial.80

Kedudukan yang lemah dan ketidakmampuan seseorang tidak boleh menghalangi orang tersebut mendapatkan keadilan. Pendampingan hukum (legal representation) terhadap pelaku tindak pidana terorisme tanpa diskriminasi merupakan perwujudan dari perlindungan dan perlakuan yang sama di hadapan hukum tersebut. Tanpa adanya pendampingan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme maka kesetaraan di hadapan hukum sebagaimana diamanatkan konstitusi dan nilai-nilai universal hak asasi manusia tersebut tidak akan pernah terpenuhi.

Bantuan hukum adalah media bagi warga Negara yang tidak mampu untuk dapat mengakses terhadap keadilan sebagai manifestasi jaminan hak-haknya secara konstitusional. Masalah bantuan hukum meliputi masalah hak warga Negara secara konstitusional yang tidak mampu, masalah pemberdayaan warga Negara yang tidak mampu dalam akses terhadap keadilan, dan masalah hukum faktual yang dialami warga Negara yang tidak mampu menghadapi kekuatan Negara secara struktural.

Disamping itu, pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme juga harus dimaksudkan sebagai bagian integral dari kewajiban warga Negara lain yang mempunyai kemampuan dan kompetensi dalam memberikan bantuan hukum. Pemberian bantuan hukum mempunyai manfaat besar bagi perkembangan pendidikan penyadaran hak-hak warga Negara yang tidak mampu

79

Perhatikan Pasal 28 I ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.

80

khususnya secara ekonomi, dalam akses terhadap keadilan, serta perubahan sosial masyarakat ke arah peningkatan kesejahteraan hidup dalam semua bidang kehidupan berdasarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan suatu peraturan perundang-undangan yang menjamin hak warga negara Indonesia untuk mendapatkan akses kepada keadilan dan pendampingan hukum, termasuk bantuan hukum (legal aid) bagi warga Negara yang tidak mampu.81

Berdasarkan keseluruhan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mengenai hak pelaku tindak pidana terorisme untuk mendapatkan bantuan hukum dari seorang Advokat tidak diatur secara tegas, padahal hak tersebut penting untuk mencegah terjadinya kekuasaan aparat yang sewenang-wenang dan untuk menegakkan hak-hak asasi pelaku tindak pidana terorisme. Oleh karena itu, dalam kasus tindak pidana terorisme yang tergolong sebagai tindak pidana berat harus mendapat bantuan hukum dari Advokat sejak pelaku tindak pidana Terorisme tersebut tertangkap hingga proses pemeriksaan disidang pengadilan mengingat setiap orang sama dipandang dihadapan hukum (equality before the law) dan juga dalam rangka untuk menegakkan Hak Asasi Manusia.82

Landasan filosofis sebagaimana dikemukakan diatas kemudian diimplementasikan kedalam asas-asas hukum yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai dasar ataupun landasan oleh Advokat dalam memberikan bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme.

81 Ibid.

82

Abdul Wahid, Sunardi dan Muhammad Imam Sidik, Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM, dan Hukum, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2004), hlm. 115.

Perkataan asas berasal dari bahasa arab, yaitu kata asasun, yang berarti dasar, basis, pondasi. Kalau dihubungkan dengan sistem berfikir, maka yang dimaksud dengan asas adalah landasan berfikir yang paling mendasar.83 Jika kata asas dihubungkan dengan hukum, yang dimaksud dengan asas adalah kebenaran yang dipergunakan sebagai tumpuan berfikir dan alasan pendapat, terutama dalam penegakan dan pelaksanaan hukum. Asas hukum pada umumnya berfungsi sebagai rujukan untuk mengembalikan segala masalah yang berkenaan dengan hukum.84

Sementara itu, Satjipto Rahardjo mengemukakan:85

Adapun asas hukum adalah merupakan jantung peraturan hukum, karena selain sebagai landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum, juga sebagai alasan (dasar pemikiran) bagi lahirnya ratio legis dari peraturan hukum. Sambil mengutip dari G.W. Paton, Satjipto mengatakan asas hukum itu tidak akan habis kekuatannya dengan melahirkan suatu peraturan hukum, melainkan akan tetap saja ada, dan akan melahirkan peraturan-peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat dikemukakan bahwa masuknya asas kedalam suatu norma atau peraturan ada yang bersifat eksplisit, artinya asas tersebut langsung dituangkan dalam bentuk pasal Undang-Undang, akan tetapi ada pula yang bersifat implisit, artinya asas tersebut hanya tersirat didalam suatu Undang-Undang, dan ini harus ditelusuri oleh pemakai Undang-Undang. Adapun beberapa contoh asas

83

Mohammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam Di Indonesia, Edisi Keenam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 114.

84 Ibid.

85

Satjipto Rahardjo sebagaimana dikutip M. Solly Lubis, dalam Modul Teori Hukum, (Medan: Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, 2003), hlm. 18.

yang masuk secara eksplisit dan secara implisit dalam suatu peraturan perundang- undangan adalah sebagai berikut:86

1. Asas yang masuk kedalam Undang-Undang secara eksplisit adalah:

1. Nullum delictum nulla poena sine previa legi poenali, yang berarti tiada suatu perbuatanpun yang dapat dikenakan hukuman kecuali ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya terlebih dahulu (Pasal 1 ayat 1 KUHP).

2. Presumption of innocence (Praduga tidak bersalah) sebagaimana terdapat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

2. Asas yang masuk kedalam Undang-Undang secara implisit adalah:

a. In dubio proreo (bila hakim ragu-ragu maka ia seyogianya memutus sedemikian sehingga menguntungkan terdakwa.

b. Res judicata pro veritate habitur (putusan hakim harus dianggap benar meskipun tidak benar).

c. Iedereen wordt geacht de wette kennen, nemo ius ignorare consetur

(setiap orang dianggap mengetahui peraturan hukum). d. Restitutio in integrum (pengembalian keseimbangan).

e. Lex superior derogat legi inferiori (ketentuan yang lebih tinggi mengenyampingkan ketentuan yang lebih rendah).

f. Lex specialis derogat legi generalis (ketentuan yang khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum).

g. Lex posterior derogat legi anterior (ketentuan yang baru mengenyampingkan ketentuan yang lama).

Oleh karena itu, berdasarkan fokus kajian yang menjadi objek pembahasan, yaitu berkaitan dengan asas pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana terorisme, maka berikut ini akan diuraikan beberapa asas yang berkaitan dengan pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme, yaitu:

86

1. Asas praduga tak bersalah (presumption of innocent).

Asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent dijumpai dalam penjelasan umum butir 3 huruf c KUHAP. Dengan dicantumkannya praduga tak bersalah dalam penjelasan KUHAP, dapat disimpulkan bahwa pembuat Undang- Undang telah menetapkannya sebagai asas hukum yang melandasi KUHAP dan penegakan hukum (law enforcement).87

Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam hukum acara pidana. Ketentuan asas praduga tak bersalah eksistensinya tampak dalam Pasal 8 Undang- Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam praktik peradilan, manifestasi asas ini dapat diuraikan lebih lanjut, selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) pelaku tindak pidana terorisme belum dapat dikategorikan bersalah sebagai pelaku tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan hak-haknya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang salah satunya adalah hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari Advokat.88

Asas praduga tak bersalah ditinjau dari segi teknis yuridis ataupun dari segi teknis penyidikan dinamakan prinsip akusatur atau accusatory procedure. Prinsip

87

M. Yahya Harahap, op.cit, hlm. 40.

88

Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis, Praktik dan Permasalahannya, (Bandung: Alumni, 2007), hlm. 13.

akusatur menempatkan kedudukan tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme dalam setiap tingkatan pemeriksaan:89

a. Adalah subjek; bukan sebagai objek pemeriksaan, karena itu tersangka atau terdakwa harus didudukkan dan diperlakukan dalam kedudukan manusia yang mempunyai harkat martabat harga diri.

b. Yang menjadi objek pemeriksaan dalam prinsip akusator adalah kesalahan (tindak pidana) yang dilakukan tersangka/terdakwa. Kearah itulah pemeriksaan ditujukan.

Dengan asas praduga tak bersalah yang dianut KUHAP, memberi pedoman kepada aparat penegak hukum untuk mempergunakan prinsip akusatur dalam setiap tingkatan pemeriksaan. Aparat penegak hukum menjauhkan diri dari cara- cara pemeriksaan inkuisitur atau inquisitorial systeminquisitorial system yang menempatkan tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme dalam pemeriksaan sebagai objek yang dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Prinsip inkuisitur ini dulu dijadikan landasan pemeriksaan dalam periode HIR, sama sekali tidak memberi hak dan kesempatan yang wajar bagi tersangka/terdakwa untuk membela diri dan mempertahankan hak serta kebenarannya, sebab sejak semula aparat penegak hukum:90

a. Sudah apriori menganggap tersangka/terdakwa bersalah. Seolah-olah tersangka sudah divonis sejak saat pertama diperiksa dihadapan penyidik. b. Tersangka/terdakwa dianggap dan dijadikan sebagai objek pemeriksaan

tanpa memperdulikan hak-hak asasi manusia dan haknya untuk membela diri serta mempertahankan martabat kebenaran yang dimilikinya. Akibatnya, sering terjadi dalam praktek, seseorang yang benar-benar tidak bersalah terpaksa menerima nasib sial, meringkuk dalam penjara. Hal inilah yang dialami Karta dan Sengkon yang meringkuk menjalani

89

M. Yahya Harahap, loc.cit.

90

hukuman beberapa tahun, akan tetapi pembunuhan yang dihukumkan kepadanya ternyata pelakunya adalah orang lain.

Didalam sistem Akuasator atau Advsersarial System, para pihak, tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme dan penasehat hukum serta

Dokumen terkait