BAB III : Kesehatan Masyarakat, Gizi, Pola Makan, Dan Anak Balita
3.4 Pemberian Makanan Dan Gizi Pada Anak Balita
Makanan merupakan hal yang terpenting bagi proses perkembangan dan kemajuan pada anak agar dapat tumbuh dan besar. Makanan yang bagaimana seharunya yang di berikan oleh ibu kepada anak. Dibawah ini merupakan anjuran makanan untuk balita mulai dari lahir hingga berumur lima tahun.
1. Makanan Anak sejak Lahir Sampai Usia Empat Bulan.
Keadaan gizi anak pada waktu lahir sangat di pengaruhi oleh keadaan gizi ibu selama hamil. Ibu yang selama hamilnya menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya kurang baik, juga memungkinkan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam pertumbuhannya. Dalam usia empat bulan, air
susu ibu ( ASI ) merupakan makanan yang paling utama. Manfaatnya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh ASI. Kebaikan dan mutu yang tinggi dari ASi akan menjadi relative tidak berarti apabila jumlah ASI yang dapat dihasilkan ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, dan akibatnya bayi juga akan menderita gangguan gizi.
ASI cukup mengandung zat-zat makanan yang diperlukan, selama ASI itu keluar secara normal, jadi dapat memenuhi kebutuhan bayi itu akan unsure-unsur gizi. ASI juga merupakan badan-badan inti yang berasal dari ibu, sehingga dapat mempertahankan bayi ini dari berbagaijenis penyakit. Karena ASI sedikit sekali berhubungan dengan udara luar, maka kemungkinan masuknya bakteri akan sangat sedikit. Dan yang praktis dari ASI ibu tidak perlu repot untuk memasak atau mengolah lebih dahulu, karena ASI siap saji kapan saja anak butuh.
2. Makanan Anak Lima Bulan Sampai Delapan Bulan
Sampai usia lima bulan masih dapat dijamin keperluannya akan seluruh unsure gizi yang diperoleh dari air susu ibunya. Akan tetapi, dengan bertambahnya usia bayi itu, akan bertambah pula unsur gizi yang dibutuhkannya, maka sudah perlu diberikan makanan tambahan disamping ASI. Berbagai jenis makanan tambahan dapat diberikan kepada anak, sekarang tergantung pada kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Makanan tambahan dapat berupa nasi tim atau bubur.
Usia antara 9 bulan sampai usia 2 tahun merupakan usia kritis dalam kehidupan anak dan pada kelompok usia KKP paling banyak ditemukan antara lain sebagai berikut :
a. Produk ASI menurun secara drastis terutama bayi mencapai umur 1 tahun.karena ada keseganan ibu terhadap anaknya.
b. Anak sangat terbuka dengan berbagai penyakit.
c. Penghasilan keluarga yang sangat terbatas sehingga tidak memungkinkan keluarga untuk memeberikan bahan makanan sumber protein secara teratur. 4. Makanan Anak Usia 3 Tahun Sampai 5 Tahun
Makanan anak usia 3 tahun sampai 5 tahun, tetap sama dengan makanan sebelumnya. Terutama protein dan vitamin A, disamping kalori dalam jumlah yang cukup. Anak-anak dalam usia ini sudah dapat lebih banyak dikenalkan dengan makanan yang disajikan untuk keluarga. Bahan-bahan makanan seperti tahu, tempe, dan sayuran dapat diberikan sejak anak melewati usia 1 tahun.
Apabila tidak terpenuhinya gizi dalam tubuh anak balita maka akan menyebabkan gangguan gizi. Ada beberapa hal yang menyebabkan gangguan gizi adalah karena tidak sesuainya jumlah zat gizi yang diperoleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka. Gizi yang buruk menyebabkan mudahnya terjadinya infeksi karena daya tubuh menurun, sebaliknya, penyakit infeksi sering menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan zat gizi sedangkan nafsu makan biasanya menurun dan dapat mengakibatkan anak yang gizinya baik akan menderita gangguan gizi.
Pola adalah gambaran atau cocok. Pola makan anak balita adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan tiap hari oleh seseorang dan merupakan ciri khas untuk satu kelompok masyarakat tertentu. Ketetapan pola makanan ini erat hubungannya dengan status gizi. Kebutuhan kalori untuk setiap orang berbeda-beda. Hal ini dipangaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Secara umum pola makan seseorang adalah tiga kali sehari yaitu sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Namun demikian seseorang cenderung dalam keseharian tidak hanya makan untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam saja, melainkan sering makanan tambahan seperti jajanan.
Makanan adalah sumber gizi utama yang dibutuhkan oleh tubuh kita yang secara khusus mempunyai fungsi biologis. Makanan yang terdiri dari berbagai unsure ( Protein, lemak, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air ) di dalam tubuh mempunyai tiga fungsi utama yaitu disebut dengan “Triguna Makanan” yaitu sebagai zat pembagun, sebagai sumber tenaga dan sebagai zat pengatur. Ketiga fungsi makanan ini harus ada dalam tubuh kita, karena itu kita harus mengkomsumsi zat gizi setiap hari. Pola makanan balita dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
- pengenalan jenis makanan. - Kebiasan makan dalam keluarga. - Pengetahuan ibu tentang gizi. - Pekerjaan orangtua.
- Pendidikan orangtua. - Pendapatan orangtua.
- Jumlah tanggungan orangtua.
Tiap jenis makanan memiliki peranan masing-masing di dalam menyeimbangkan masukan zat gizi sehari-hari. Apabila konsumsi makanan sehari- hari kurang beraneka ragam, maka akan timbulkurang keseimbangan antara masukan dengan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Tubuh manusia memerlukan zat gizi atau zat makanan untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehar-hari, untuk memelihara proses tubuh dan untuk tumbuh dan berkembang khususnya yang masih dalam pertumbuhan oleh karena itu anak balita memerlukan berbagai macam makanan untuk menjamin agar semua zat makanan yang diperlukan tubuh dapat dipenuhi dalam jumlah yang mencukupi. Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup anak balita memerlukan lima kelompok zat gizi ( lemak, protein, karbohidrat, mineral dan air dalam jumlah yang cukupdan tidak berlebihan dan tidak kekurangan ).
Makanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama balita. Tanpa makanan balita tidak dapat tumbuh, berkembang dan hidup. Dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, maka balita akan dapat bertumbuh kembang secara optimal.
Anak berusia 1-5 tahun merupakan konsumen pasif, dimana makanan yang dimakan anak hanya sebatas makanan tumbuhan disamping ASI atau tergantung pada apa yang disediakan oleh orang tuanya yang memang sudah dianggap dapat memenuhi gizi anak, sehingga peranan orang tua dalam menentukan makanan yang bergizi lengkap dan seimbang. Pada usia ini, rasa ingin tahu anak juga sanga tinggi sehingga para ibu memiliki kesempatan untuk memperkenalkan berbagai jenis makanan yang beraneka ragam yang dapat dikonsumsi oleh balita. Setelah anak mencapai usia 5 tahun, makanan padat sudah dapat diberikan karena dengan bertambahnya umur maka kebutuhan zat gizi akan semakin meningkat.
Pengetahuan ibu juga sangat diperlukan dalam mengolah makanan untuk anak balita. Pada masa balita umumnya anak balita mempunyai selera makan yang bergelombang dan cenderung memilih. Mereka lebih cenderung lebih suka memakan makanan yang disukainya, untuk itu ibu harus pintar berkreasi dalam menyusun menu makanan agar menarik perhatian anak.
Berbagai faktor yang mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak balita antara lain sebagai berikut :
Penghasilan keluarga atau orang tua akan menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan. Pengetahuan tentang kadar zat gizi dalam berbagai bahan makanan bagi kesehatan keluarga dapat membantu ibu dalam memilih bahan makanan yang harganya tidak begitu mahal akan tetapi nilai gizinya tinggi. Pemanfaatan sumber daya keluarga secara baik dan berdaya guna akan dapat membantu keluarga sehingga keluarga yang berpenghasilan terbatas mampu menghidangkan makanan yang cukup memenuhi syarat gizi bagi anggota keluarga khususnya bagia anak balita.
2. Kesibukan Orang tua
Kesibukan yang terjadi pada orang tua yang ada di desa Batunadua telah menjadikan anak-anak merkeka kurang perhatian, sebab dalam menafkahi keluarga mereka yang kesehariannya bukanlah seorang pegawai ataupun yang berwiraswasta serta yang memiliki pendapatan yang tetap telah menjadikan mereka melakukan aktifitas ke sawah yaitu dari jam 07.00 WIB pagi hingga pukul 18.00 WIB sore, dimana keadaan mereka saat pulang ke rumah sudah dalam kondisi capek dan letih hinga untuk menanyakan apakah anak-anak mereka sudah makan apa belum tidak akan pernah sempat melainkan mereka langsung menuju kamar untuk istirahat karena dengan melihat keadaan mereka yang sudah keseharian memeras keringat dan telah menghabiskan tenaga mereka di sawah.
3. Pengetahuan orang tua yang kurang tentang gizi
Orang tua yang rata-rata tamatan SD sudah merupakan salah satu alasan yang pantas untuk mengatakan mereka memiliki keterbatasan untuk mengetahui giji yang
tepat untuk mereka berikan kepada anak-anaknya disamping waktu mereka yang tidak sempat untuk memperhatikan jadwal makan anak-anaknya. Pengetahuan orang tua yang kurang tentang gizi sangatlah berpengaruh dalam memberikan asupan kadar gizi yang benar terhadap anak balita. Karena pengetahuan yang mereka miliki sangatlah terbatas hingga mereka sering mem berikan makanan tambahan ataupun susu yang kadar gizinya rendah dan yang paling murah dan terkadang tidak memperhatikan tanggal berlakunya barang yang mereka beli.
4. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit
Faktor ini cukup banyak mempengaruhi, karena jika anak sudah jarang makan, maka otomatis mereka akan kekurangan gizi, selain karena makanan, anak kurang gizi bisa juga karena adanya penyakit bawaan yang memaksa anak harus dirawat. Misalnya penyakit jantung dan paru-paru bawaan.
5. Pendapatan keluarga
Pada umumnya jika tingkat pendapatan naik jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik juga tetapi mutu makanan tidak selalu membaik (Suhardjo dkk, 1986:25). Anak-anak yang tumbuh dalam satu keluarga miskin adalah paling rentan terhadap kurang gizi dia antara seluruha anggota keluarga dan anak paling kecil biasanya paling terpengaruh oleh kekurangan pangan. Jumlah keluarga juga mempengaruhi keadaan gizi. Dimana dengan pendapatan keluarga harus dapat memenuhi pangan bagi semua anak-anaknya. Sumber pangan keluarga, terutama mereka yang sangat miskin, akan lebih memenuhi kebutuhan makanannya jika harus diberi makanan dalam jumlah yang kecil. Pangan yang tersedia untuk suatu keluarga
yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga besar tersebut. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan (Sjahmien Moehji, 2002: 6). Seorang ibu dapat memilih bahan makanan yang harganya tidak begitu mahal akan tetapi nilai gizinya tinggi. Bahan makanan tersebut seperti tempe atau tahu yang mengandung protein dengan harga yang terjangkau.
6. Praktik Pemberian Makanan
Menurut Dina Agoes Sulistijani dan Maria Poppy Herlianty (2003: 31) semakin bertambah usia anak makin bertambah pula kebutuhan makannya, secara kuantitas maupun kualitas. Untuk memenuhi kebutuhannya tidak cukup dengan susu saja. Saat berusia 1-2 tahun perlu diperkenalkan pola makanan dewasa secara bertahap. Disamping itu anak pada usia 1-2 tahun sudah menjadi masa penyapihan. Anak disebut konsumen pasif karena sangat tergantung pada pengaturan ibunya. Pengaturan makanan anak usia dibawah lima tahun mencakup aspek pokok yaitu: 1) Pemanfaatan ASI secara tepat dan benar
2) Pemberian makanan pendamping ASI dan makanan sapihan serta makanan setelah usia setahun (Sjahmien Moehji, 2003: 29). Pola makanan yang diberikan yaitu menu seimbang sehari-hari, sumber zat tenaga, sumber zat pembangun, dan sumber zat pengatur. Jadwal pemberian makanan bagi bayi dan balita adalah : 1). Tiga kali makanan utama (pagi, siang, malam)
2). Dua kali makanan selingan (di antara dua kali makanan utama). 7. Kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu
Kesukaan makanan yang berlebihan terhadap jenis makanan tetentu yang disebut sebagai Faddisme makanan, mengakibatkan kurang bervariasinya makanan dan akan mengakibatkan tubuh tidak memperdulikan semua zat giji yang diperlukan sehingga dapat menyababkan giji buruk pada anak.
8. Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan
Berbagai kebiasaan dengan pantang makan makanan tertentu masih sering kita jumpai di pedesaan seperti larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan ataupun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada dasarnya dan hanya diwarisi secara dogmatis turun temurun, padahal anak itu memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya .
9. Prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu
Makanan yang bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapat menurunkan harkat keluarga. Jenis sayuran seperti, genjer, daun turi, vitamin A, protein, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi.
10. Jarak kelahiran yang terlalu rapat
Jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut mempengruhi. Dengan demikian, perhatian si ibu untuk si kakak sudah tersita dengan keberadaan adiknya, sehingga kakak cenderung tidak terurus dan tidak diperhatikan makanannya.
Oleh karena itu akhirnya si kakak menjadi kurang gizi. “Balita itu konsumen pasif, belum bisa mengurus dirinya sendiri, terutama untuk makan
Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sudah hamil lagi, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik padahal anak yang berusia di bawah dua tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan makanan, kesehatan, maupun kasih sayang.
11. Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan dasar diarahkan kepada peningkatan kesehatan dan status gizi anak sehingga terhindar dari kematian dini dan mutu fisik yang rendah (Arianton Aritonang, 2003: 15). Peran pelayanan kesehatan telah lama diadakan untuk memperbaiki status gizi. Pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap kesehatan dengan adanya penanganan yang cepat terhadap masalah kesehatan terutama masalah gizi. Pelayanan yang selalu siap dan dekat dengan masyarakat akan sangat membantu dalam meningkatkan derajat kesehatan. Dengan pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal kebutuhan kesehatan masyarakat akan terpenuhi. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yaitu kegiatan posyandu yang dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anak balita dengan penimbangan berat badan (BB) secara rutin setiap bulan.
Beberapa penyebab yang mendorong terjadinya gangguan gizi antara lain: a. Jumlah ASI yang diperlukan oleh si ibu sudah tidak mencukupi kebutuhan
b. Berat badan bayi tidak diawasi secara teratur dan terus menerus sehingga tidak dapat diketahui apakah makanan bayi cukup atau tidak.
c. Bayi diberi tambahan makanan yang mutu gizinya tidak baik atau bahkan sudah kedaluarsa.
d. Produk ASI terhenti karena berbagai sebab dan kepada anak diberikan makanan pengganti yang tidak memenuhi syarat gizi.
e. Daya kekebalan tubuh anak sudah mulai menurun sedangkan anak semakin terbuka terhadap penyakit infeksi.
Tanda-tanda kurang gizi menurut Sjahmien Moehji,( 2003: 29) adalah: a) Rambut, bila rambut kurang bercahaya, kusam dan kering, mudah
rontok, tipis dan jarang.
b) Wajah, terjadinya pengeringan selaput mata, wajah menonjol keluar dan pengeringan kornea.
c) Bibir, adanya luka yang menyebar di bibir, adanya pembengkakan pada mulut saat keadaan iklim dingin.