• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1) Pemberian Pengalaman Pertama Masa Kanak-kanak

2. Pendidikan Anak Dalam Keluarga Di Dusun Simbar a. Fungsi Pendidikan Keluarga di Dusun Simbar

Penerapan fungsi pendidikan keluarga berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa terdapat lima fungsi yang diterapkan oleh orang tua keluarga Dusun Simbar kepada anak. Lima fungsi tersebut adalah fungsi pemberian pengalaman pertama masa kanak-kanak, fungsi penanaman kehidupan sosial, fungsi pendidikan moral, fungsi sosial dan terahir adalah fungsi pendidikan keagamaan. Berikut adalah penjelasan penerapan fungsi pendidikan keluarga yang diterapkan keluarga Dusun Simbar:

1) Pemberian Pengalaman Pertama Masa Kanak-Kanak

Penerapan fungsi pengalaman pertama pendidikan keluarga oleh orang tua Dusun Simbar dibuktikan dengan adanya pemberian pengetahuan dasar dari orang tua kepada anak. Bentuk pengetahuan dasar yang diberikan berupa cara beserta contoh dari orang tua agar anak bisa mandiri seperti cara berbicara, cara makan sendiri, cara mandi dan hal dasar yang semestinya dapat dilkukan anak tanpa bantuan orang tua. Orang tua juga memberikan tambahan wawasan keilmuan dengan menyekolahkan anak pada sekolah formal. Bentuk pemberian pengetahuan dari orang tua merupakan suatu bentuk pengalaman baru bagi anak dan merupakan pengalam pertama anak yang diperoleh dalam keluarga.

56

Keluarga Dusun Simbar memahami bahwa pemberian pembelajaran tentang kemandirian sangat penting untuk dilakukan sebagai wujud pelaksanaan fungsi pengalaman pertama masa kanak-kanak . Hal ini sesuai dengan pernyataan bapak SH yang menyatakan bahwa “Saya haruskan dan saya tekankan, karena itu berhubungan dengan kemandirian...” (Rabu, 10 September 2014). Hal senada juga diungkapan oleh ibu LS dalam petikan wawancara hari Jumat, 19 September 2014 berikut “jika hanya makan, mandi sudah bisa, karena mudah kecuali mencuci baju, anak belum bisa, tapi jika membantu merapikan rumah, menjemur pakaian saya haruskan” (Jumat, 19 September 2014).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, keluarga informan menyatakan tentang pemberian pengajaran terkait kemandirian anak meliputi cara makan dan toilet training yang meliputi cara mandi, kencing dan buang air besar. Kondisi tersebut juga diperkuat dari hasil observasi dan wawancara yakni anak usia 7-13 tahun di Dusun Simbar sudah bisa melakukan makan dan toliet training sendiri kecuali saat tidur semua informan masih belum mau untuk tidur sendiri (catatan lapangan tanggal 14, 18, 22 September 2014). Hal tersebut dibuktikan oleh kutipan wawancara ibu PW dan ibu YL sebagai berikut:

“Anak saya tidak mau tidur sendiri tetapi setelah sunat anak saya sudah bisa mandi sendiri, kira-kira sudah setahun, jika ingin kencing sudah berani sendiri tetapi jika ingin tidur masih

57

minta ditemani dengan alasan kasurnya dingin” (Selasa, 23 September 2014).

“Makan sudah bisa sendiri sejak dulu saat kelas dua sudah makan sendiri, mandi seringnya saya suruh jika tidak anak saya jarang mandi, jika tidur masih dengan orang tua...” (Kamis, 11 September 2014).

Pemberian pendidikan kemandirian pada keluarga Dusun Simbar lebih condong diajarkan oleh ibu dari pada ayah. Hal tersebut dikarenakan ayah sebagai kepala keluarga bertanggung jawab akan kondisi ekonomi. Kebanyakan kepala keluarga bekerja sebagai petani dan mulai bekerja pada pagi dan pulang saat sore. Kesibukan tersebut membuat pendidikan keluarga sebagian besar diberikan dari ibu kepada anak. Pernyataan tersebut berdasarkan jawaban yang diutarakan oleh bapak AT yang menyatakan “lebih sering ibu yang mengajarkan, saya sekedar hanya menyuruh anak supaya mengerjakan yang belum dikerjakan ” (Jumat, 19 September 2014). Hal senada juga diutarakan bapak SH sebagai berikut:

“Anak merupakan tanggung jawab orang tua, sudah seharusnya jika orang tua yang membimbing, jika saya sedang tidak bisa tentu ibunya, tetapi karena pekerjaan dan saya juga jarang di rumah membuat ibu yang lebih sering mengajarkan, karena ibu lebih sering di rumah dari pada saya” (Rabu, 10 September 2014).

Penanaman sifat kemandirian oleh orang tua kepada anak dapat dikatakan berhasil, apabila anak sudah mampu melaksanakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pribadinya sendiri. Hal tersebut juga terlihat pada keluarga Dusun Simbar yang berhasil menanamkan sikap mandiri kepada anak, terlihat seperti saat

58

anak sudah bisa mandi maupaun makan sendiri tanpa dibantu orang tua (catatan lapangan 10 September 2014). Keberhasilan penanaman kemandirian ditentukan oleh pengajaran yang diberikan orang tua sedini mungkin agar anak terbiasa untuk melakukan kegiatan sendiri. Kondisi tersebut juga dijumpai pada observasi keluarga Dusun Simbar, dimana pembiasaan kemandirian anak mulai orang tua terapkan pada saat anak mulai bersekolah pada kelas satu sekolah dasar, seperti pada wawancara ibu UM yang menyatakan “mulai dari kelas satu anak saya mulai bisa mandiri, dan semenjak itu saya ingatkan terus agar bisa mandiri seterusnya sampai sekarang” (Senin, 15 September 2014). Pernyataan tersebut senada dengan jawaban dari bapak SH yang menyatakan:

“Sejak kelas satu sampai kelas dua, saya mulai menyuruh untuk mandi sendiri, kecuali saat pagi anak saya harus dimandikan karena sulit mandi dan harus pakai air hangat, dan anak mulai bisa tanpa saya suruh kira-kira mulai mulai kelas tiga” (Rabu,10 September 2014).

Orang tua Dusun Simbar juga memberikan pendidikan formal kepada anaknya selain memberikan pembelajaran tentang kemandirian, dalam penerapan fungsi pengalaman pertama. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas kepada anak. Berdasarkan data yang didapat, keluarga informan menyekolahkan anak-anaknya, dari tingkat TK, SD bahkan terdapat pula salah satu keluarga informan yang menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi, hal tersebut membuktikan

59

jika masih terdapat orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak, meskipun dari data kependudukan yang didapat sebagian besar tingkat jenjang pendidikan arang tua Dusun Simbar hanya sampai SD. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara ibu UM yang menyatakan bahwa “Saya punya anak empat, sudah sekolah semua, kakanya kuliah di UMY dan adiknya yang paling kecil kelas 4” (Senin, 15 September 2014).

Berdasarkan pemaparan hasil wawancara yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa orang tua Dusun Simbar melaksanakan fungsi pemberian pengalaman pertama masa kanak-kanak, dalam wujud pemberian pembelajaran tentang kemandirian. Hal tersebut tentu sangat berguna mengingat pembelajaran tentang cara mengurus diri sendiri seperti makan dan mandi sendiri tersebut, menjadi modal pengalaman yang berharga dan hanya di dapat dalam keluarga. Kewajiban memberikan pendidikan formal kepada anak juga sudah orang tua penuhi, agar bekal pengetahuan anak semakin bertambah. Pengajaran di rumah lebih sering diberikan oleh ibu, hal tersebut dikarenakan profesi ayah sebagai petani yang membuat ayah sibuk untuk dan jarang berada di rumah.