• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Dalam dokumen GAMBARAN UMUM KABUPATEN (Halaman 59-64)

SUMBER DAYA KESEHATAN

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN

Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.

Pembiayaan kesehatan dapat bersumber dari Pemerintah, masyarakat, swasta maupun sumber lainnya. Untuk Kabupaten Buton sumber terbesar pembiayaan kesehatan masih dari pemerintah. Untuk Tahun 2013 pembiayaan pembangunan kesehatan bersumber APBD, APBN maupun Bantuan Luar Negeri (BLN).

48

Batauga Batuatas Gu Rahia Kadatua Kapontori Barangka Tuangila Lakudo Wamolo Lapandewa Lasalimu Lawele Las. Selatan Wajah Jaya Mawasangka Wakambangura Kanapa Napa Mawasangka Tengah Mawasangka Timur Pasarwajo Banabungi Wakaokili Sampolawa Gerak Makmur Sangiawambulu Siompu Siompu Barat Siontapina Talaga Raya Wabula Wolowa RSUD Dinkes Kab. GFK Labkes AKPER

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 60

1. Dana APBD bidang kesehatan

Alokasi dana untuk pembiayaan program kesehatan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bidang kesehatan Tahun 2013 sebesar Rp.

39.205.971.400,- terdiri dari Belanja Tidak Langsung sebesar Rp. 33.924.079.500,- dan Belanja Langsung sebesar Rp. 5.281.891.900,-. Alokasi Dana APBD Kabupaten Buton yang termuat dalam DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 ini sudah termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesarRp. 3.416.180.000,-. Adapun rincian APBD Kabupaten Buton Tahun 2013 disajikan pada tabel 5.2. Rincian lengkapnya sebagai berikut :

Tabel 5.2.

Retribusi Yankes di Puskesmas

Retribusi Pelayanan Jamkesmas &

Jampersal

Retribusi Yankes di Laboratorium

Retribusi Kapitasi Yan RJTP ASKES PNS

3.425.513.000,- Sumber : Lakip Dinas Kesehatan Kab. Buton, 2013

Proporsi pembiayaan kegiatan fisik tersebut diatas dimaksudkan untuk upaya pemerataan dan peningkatan akses masyarakat ke sarana pelayanan kesehatan terutama dibeberapa kecamatan baru dan desa-desa pemekaran.Hal inidiharapkan makin banyak masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah/masyarakat miskin dan kelompok rentan terutama yang bermukim di wilayah kepulauan dan desa-desa terpencil dapat mengakses pelayanan kesehatan yang representative dan berkualitas.

2. Dana APBD Propinsi

Penyelenggaraan program kesehatan di Kabupaten Buton tahun 2013 mendapat dukungan dari APBD propinsi untuk pembiayaan Program Pembebasan Biaya Pengobatan (PBP)-Bahteramas. Dananya diperuntukkan untuk membiayai pelayanan kesehatan gratis bagi 14.043 jiwa penduduk yang menjadi sasaran program PBP-Bahteramas di 32 Puskesmas Kabupaten Buton. Dana APBD Provinsi ini telah termasuk dalam APBD Kabupaten sebagaimana termuat dalam DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Tahun Anggaran 2013.

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 61

3. Dana APBN Bidang Kesehatan

Penyelenggaraan program kesehatan di Kabupaten Buton tahun 2013 selain mendapat dukungan dana APBD Kabupaten juga didukung oleh Dana APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Jamkesmas dan Jampersal serta Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

a. Dana Alokasi Khusus (DAK)

DAK Bidang Kesehatan merupakan dana alokasi khusus yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan bidang kesehatan yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas pembangunan kesehatan nasional. Dalam pelaksanaan kegiatan, pemerintah daerah harus menyediakan pembiayaan yang bersumber dari daerah untuk dana pendamping sebesar 10% sesuai dengan Undang-undang No 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005, biaya operasional, biaya pemeliharaan/ perawatan sarana dan peralatan kesehatan, ketersediaan tenaga pelaksana, serta aspek lainnya sebagaimana akibat pelaksanaan kegiatan DAK Bidang Kesehatan.

b. Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal)

Upaya pemeliharaan kesehatan penduduk miskin bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

Pada tahun 2013, penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang meliputi pelayanan kesehatan dasar di dalam dan luar gedung puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan rujukan baik di puskesmas maupun Rumah Sakit dilaksanakan melalui program Jamkesmas.

Untuk mendukung upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta mempercepat pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s) maka Kementerian Kesehatan pada tahun 2011 meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal) kepada semua ibu hamil yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan KB pasca bersalin serta pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin berjumlah 188.368 jiwa. Sedang yang memiliki kartu Jamkesmas hanya 14.398 jiwa.Peserta Jamkesmas ini mendapat pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di Rumah sakit.

Dana Jamkesmas serta dana jampersal menjadi satu kesatuan yang disalurkan langsung dari bank operasional Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta V ke Rekening Giro Dinas Kesehatan Kabupaten dan dikelola Tim Pengelola BOK/Jamkesmas dan Jampersal Kabupaten untuk melakukan pembayaran atas klaim pelayanan dari fasilitas kesehatan yang telah diverifikasi pengelola kabupaten.

Alokasi Dana Program Jamkesmas dan Jampersal Kabupaten Buton Tahun 2012 berdasarkan jumlah sasaran sebesar Rp. 3.398.501.000,-dan penyaluran dananya dilakukan secara bertahap berdasarkan realisasi dana luncuran sebelumnya. Tahun 2012

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 62

penyaluran dana Jamkesmas dan Jampersal sebanyak 4 kali dengan realisasi dana sebesar Rp. 2.886.260.000,- . Dan sisadana sebesar Rp. 512.241.000,- ( 84.92%), sisa dana luncuran ini dikembalikan ke Kas Negara.

c. Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)

BOK adalah bantuan dana dari pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam membantu Kabupaten/Kota melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan menuju Millenium Development Goals (MDGs) dengan meningkatkan kinerja Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif.

Untuk dana BOK Kabupaten Buton Tahun 2013 disalurkan melalui mekanisme Tugas Pembantuan (TP). Dana BOK digunakan untuk kegiatan upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif di 32 puskesmas dan jaringannya serta poskesdes dan posyandu.

Alokasi Dana BOK untuk 32 puskesmas sebesar Rp. 4.013.000.000,- dengan realisasi Rp.

3.996.460.000,-. Sisa Anggaran 16.540.000 (99,59%).

4. Dana Bantuan Luar Negeri (BLN)

Selain dana APBD Kabupaten, APBD Propinsi dan APBN, Kabupaten Buton masih mendapat dukungan dana dari Bantuan Luar Negeri (BLN) dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan untuk program-program pilihan.

Alokasi dana BLN Kabupaten Buton tahun 2013 diperuntukkan untuk penangulangan penyakit Malaria melalui program Global Fund for Aids, Tuberculosis and Malaria (GF-ATM). Dana GF-ATM Komponen Malaria yang langsung disalurkanke Pengelola Kegiatan GF-ATM Dinas Kesehatan Kabupaten Buton sebesar Rp. 251.825.000,-dan diakhir tahun terealisasi sebesar 229.765.050,- atau 91,2%.

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 63

KESIMPULAN

K

ita menyadari bahwa pelaksanaan program kesehatan di Kabupaten Buton selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang cukup bermakna, walaupun disadari pula bahwa masih banyak dijumpai berbagai masalah dan hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan program kesehatan tersebut, terutama di era globalisasi, otonomi daerah dan transformasi informasi yang sangat berkembang dengan pesat saat ini memberi dampak pada semakin kompleksnya tantangan dan permasalahan pembangunan kesehatan.

Beberapa masalah kesehatan yang masih perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan berdasarkan hasil capaian pembangunan kesehatan sampai tahun 2013, antara lain:

1. Disparitas status kesehatan : Status kesehatan masyarakat di Kabupaten Buton telah mengalami peningkatan dan perkembangan yang cukup bermakna, menurunya prevalensi gizi buruk, menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita, menurunnya prevalensi beberapa penyakit menular serta meningkatnya umur harapan hidup. Namun demikian disparitas status kesehatan antar wilayah dan antar kelompok dengan tingkat sosial ekonomi yang berbeda masih cukup tinggi sehingga beberapa daerah/wilayah masih perlu mendapat perhatian untuk peningkatan indikator kesehatan seperti kematian ibu dan bayi serta prevalensi beberapa penyakit.

2. Beban ganda penyakit : Secara nasional maupun lokal, implementasi pembangunan kesehatan menghadapi beban ganda. Saat ini, disatu sisi masih menghadapi meningkatnya prevalensi beberapa penyakit menular, sementara penyakit tidak menular atau degeneratif mulai meningkat pula. Disisi lain telah muncul pula beberapa macam penyakit baru yang mulai menyebar kebeberapa daerah di Indonesia. Di Kabupaten Buton hingga saat ini masih ditemukan adanya kasus penyakit lokal spesifik seperti penyakit frambusia dan filariasis.

3. Peran aktif masyarakat masih terbatas : Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan masih menempatkan masyarakat sebagai obyek, bukan sebagai subyek pembangunan kesehatan. Peran aktif masyarakat terutama dalam konsep desa siaga aktif masih perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah baik dalam distribusi tenaga strategis, dukungan ketersediaan dana serta fasilitas sarana dan prasarana di desa yang perlu ditingkatkan.

4. Aksesibilitas dan distribusi tenaga kesehatan kompeten belum merata : Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum dapat diakses secara maksimal oleh seluruh komponen masyarakat oleh karena beban pembiayaan kesehatan

BAB

VI

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 64

bagi masyarakat dirasakan masih cukup berat akibat keterbatasan dana pemerintah terutama untuk memprioritaskan peningkatan pelayanan kesehatan pada masyarakat miskin, rentan dan beresiko serta daerah terpencil dan kepulauan. Hal ini disebabkan jumlah, kualitas serta penyebaran sarana dan tenaga kesehatan belum terpenuhi sesuai kebutuhan terutama bagi daerah-daerah terpencil dan kepulauan. Perlu dukungan regulasi ketenagaan dan penataan fasilitas pelayanan kesehatan.

5. Potensi sumber dana belum dimaksimalkan : Potensi sumber dana baik dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Tugas Perbantuan (TP), Dana Dekonsentrasi dan Dana Bantuan Luar Negeri (BLN) cukup tersedia. Selain itu, masih terbuka peluang untuk menggali potensi sumber dana dari swasta/masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai sektor kesehatan. Akan tetapi kapasitas SDM Kesehatan serta pemahaman masyarakat dan stakeholder masih terbatas sehingga potensi dana tersebut belum dapat digali dan dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan program dan kegiatan pembangunan kesehatan sesuai dengan prioritas daerah.

Harapan yang ingin diwujudkan pada tahun-tahun yang akan datang adalah agar berbagai sasaran strategik secara bertahap dapat diupayakan meningkat terus, sehingga akan menjamin peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Buton sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan rakyat.

Dalam dokumen GAMBARAN UMUM KABUPATEN (Halaman 59-64)

Dokumen terkait