Dalam pembangunan kesehatan faktor perilaku merupakan salah satu faktor dominan yang menentukan status kesehatan selain faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan.
Salah satu bentuk perilaku masyarakat adalah perilaku kesehatan yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, sanitasi , dll.
1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku sehat yang diterapkan oleh keluarga dapat dilihat dari tatanan rumah tangga yang menerapkan PHBS. Indikator PHBS yakni PHBS tatanan rumah tangga, PHBS tatanan Institusi Kesehatan, PHBS tatanan tempat Ibadah dan PHBS tatanan Institusi Pendidikan.
Penerapan PHBS di Kabupaten Buton tahun baru terlaksana pada PHBS tatanan rumah tangga. PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat.
Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di rumah tangga yaitu ; 1) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, 2)member bayi ASI ekslusif, 3) menimbang bayi dan balita, 4) menggunakan air bersih, 5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, 6) menggunakan jamban sehat, 7) memberantas jentik di rumah, 8) makan buah dan sayur setiap hari, 9)melakukan aktivitas fisik setiap hari, 10) tidak merokok dalam rumah.
Survey PHBS yang dilaksanakan tahun 2013 memantau 55.799 rumah tangga dengan hasil 20.251 rumah tangga atau 36,3% yang telah beperilaku hidup bersih dan sehat. Persentase rumah tangga ber PHBS tertinggi pada puskesmasLasalimu64%,Puskesmas dengan cakupan terendah adalah puskesmas Wakambangura sebesar 15,4%. Dari seluruh puskesmas terdapat 4 Ppuskesmas yang melampaui angka target RKT tahun 2013-2017 . Untuk lengkapnya disajikan pada gambar 4.21.
Gambar 4.21.
Cakupan Rumah Tangga Ber PHBS Menurut Puskesmas Di Kabupaten Buton Tahun 2013
Sumber : Seksi Promokes & pemberdayaan Masyarakat Dnkes Kab. Buton, 2013
15.4 18.9 20.4 21.5 22.4 24.6 28.6 29.2 29.7 30.2 31.2 33.4 35.0 37.1 37.3 38.9 39.2 41.6 41.6 41.7 42.1 43.7 45.4 46.4 46.7 50.0 52.5 54.1 57.4 61.8 62.6 64.0 36.3 82.5
10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0
Wakambangura Wamolo Mawasangka Siompu Mastim Lakudo Batuatas Siontapina Barangka Lasel Kadatua Tuangila Gu Sangia Wambulu Lawele Pasarwajo Banabungi Rahia Siompu Barat Lapandewa Gerak Makmur Talaga Raya Kanapa-Napa Wajah Jaya Kapontori Wabula Wolowa Sampolawa Batauga Masteng Wakaokili Lasalimu Kabupaten Target RKT
Persentase (%)
Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 48
2. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)
Peran serta masyarakat menampakkan sosoknya setelah munculnya Posyandu sebagai salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM), yang merupakan wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Kondisi ini ternyata mampu memacu munculnya berbagai bentuk UKBM lainnya seperti Polindes (Pondok bersalin desa), POD (Pos obat desa), Pos UKK ( Pos Upaya Kesehatan Kerja), TOGA (Tanaman obat keluarga), Dana Sehat dan terbaru adalah Poskesdes (Poskesdes), dll. Namun dengan program desa siaga berbagai UKBM menjadi bagian dari pemberdayaan desa untuk menjadi sebuah desa siaga aktif.
a. Posyandu
Posyandu merupakan wahana kesehatan bersumber dari masyarakat yang diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare yang dilakukan oleh dan bersama masyarakat.
Di Kabupaten Buton jumlah posyandu tahun 2013 tercatat 425 buah dengan rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 1,75 mengalami peningkatan dibanding rasio tahun 2012 yang mencapai 1,72 posyandu per desa/kelurahan.
Strata posyandu di Kabupaten Buton tahun 2013 bervariasi, dari 425 jumlah posyandu, strata pratama sebanyak 41 posyandu atau 9,6%, strata madya sebanyak 133 posyandu atau 31,2%, strata purnama sebanyak 196 posyandu atau 46,2% dan strata mandiri sebanyak 54 posyandu atau 12,7%.. Untuk jelasnya dapat di lihat pada gambar 4.22.
Gambar 4.22.
Strata Posyandu Menurut Puskesmas di Kabupaten Buton Tahun 2013
Sumber : Seksi Promokes & pemberdayaan Masyarakat Dinkes Kab. Buton, 2013
b. Polindes
Polindes atau Pondok bersalin desa adalah wahana kesehatan bersumber masyarakat yang dikelolah oleh bidan di desa beserta masyarakat guna memberikan layanan profesional di bidang kesehatan ibu dan anak. Kabupaten Buton tahun 2013 mempunyai polindes sebanyak 26 buah tahun 2012 jumlah polindes 28 namun ada 2 polindes naik status menjadi poskesdes di tahun 2013.
24 24 28
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Pratama Madya Purnama Mandiri
Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 49
3. Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Desa dan kelurahan siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri dalam rangka mewujudkan desa sehat.
Desa dan kelurahan siaga aktif adalah bentuk pengembangan dari desa siaga yang telah dimulai sejak tahun 2006. Desa atau kelurahan siaga aktif ini merupakan desa atau kelurahan yang penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang diberikan oleh sarana kesehatan yang ada diwilayah tersebut seperti Puskesmas, Poskesdes, Pustu, Polindes dan saranan kesehatan lainnya.
Selain itu penduduk didesa atau kelurahan siaga aktif mengembangkan UKBM dan melaksanakan survailans berbasis masyarakat (meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi , lingkungan dan perilaku), kedaruratan kesehatan dan penangulangan bencana serta penyehatan lingkungan sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Tahun 2013 Seluruh Desa dan kelurahan di kabupaten buton termasuk desa siaga yaitu berjumlah 242 Desa dan kelurahan dan jumlah desa siaga aktif yaitu berjumlah134 desa/kelurahan menurun dibanding tahun 2012 yang berjumlah 171 desa/kelurahan.
Walaupun program desa siaga ini telah cukup berhasil melaksanakan pembinaan dan pembentukan desa siaga tetapi sejak tahun 2009 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat pada pelaksanaan desa siaga dengan indikator desa/kelurahan siaga aktif. Di Kabupaten Buton desa/kelurahan siaga aktif sebesar 62,6% dari desa/kelurahan siaga yang ada, walaupun seluruh desa siaga aktif tersebut masih dalam kategori desa/kelurahan siaga aktif pratama.
4. Penyuluhan Kesehatan
Telah diakui bahwa program-program pembangunan tidak akan berhasil tanpa peran serta nyata dari masyarakat sehingga program-program pembangunan akan berhasil dengan efektif, apabila masyarakat merasa diikutsertakan dan untuk inilah perlu upaya pembinaan kepada masyarakat yang diarahkan sedemikian rupa agar masyarakat berperan dan berpartisipasi secara berarti dalam pembangunan. Jelas bahwa hal ini bukan merupakan kegiatan yang sederhana karena banyak faktor-faktor yang dapat berpengaruh secara positif atau negatif dalam proses penggerakan masyarakat itu sendiri.
Penyuluhan/penyampaian informasi merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena dengan penyampaian informasi yang benar maka peran serta masyarakat yang diharapkan itu akan timbul dan mudah berkembang sesuai keadaan.
Begitu pula dalam pembangunan kesehatan dewasa ini yang menempatkan penyuluhan sebagai program pendukung yang mutlak harus ada dalam setiap program yang dilaksanakan. Kegiatan penyuluhan kesehatan di Kabupaten Buton tahun 2013 antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :
Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 50
a. Penyuluhan kesehatan dilakukan oleh petugas kesehatan secara rutin setiap bulan pada kegiatan-kegiatan posyandu. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan puskesmas sebagai salah satu kegiatan dalam pembinaan posyandu di wilayah kerja masing-masing puskesmas.
b. Penyuluhan kelompok juga dilaksanakan pada kegiatan pembinaan lomba desa/kelurahan, P2WKSS, posyandu, dll. Kegiatan ini selain dilaksanakan tim promosi puskesmas juga didukung oleh Tim Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten.
c. Penyuluhan tentang penyakit HIV/AIDS serta peyalahgunaan narkotika dan zat adiktif (NAPZA) lebih ditekankan pada siswa sekolah menengah sebagai sasaran yang rentan terhadap peredaran Napza sehingga dapat memahami bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan Napza dan mendapat informasi tentang penyakit HIV/AIDS.
Kegiatan penyuluhan HIV/AIDS dan NAPZA ini dilaksanakan oleh tim promosi kesehatan di puskesmas masing-masing.
Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 51