• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM KABUPATEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN UMUM KABUPATEN"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 1

PENDAHULUAN

inas Kesehatan Kabupaten Buton merupakan salah satu unsur pelaksana pemerintah daerah, mempunyai tugas melaksanakan kewenangan otonomi daerah dalam rangka pelaksanaan tugas desentralisasi di bidang kesehatan.

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Derajat kesehatan yang optimal bukan saja merupakan kebutuhan dasar bagi individu dan keluarga, tetapi lebih jauh dari itu merupakan bagian dari kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dimasa yang akan datang dalam rangka menghadapi makin ketatnya persaingan bebas pada era globalisasi. Penduduk yang sehat selain akan menunjang keberhasilan pembangunan bidang lainnya, juga akan mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan penduduk.

Perubahan derajat kesehatan ini dipengaruhi oleh empat faktor kunci, yaitu faktor lingkungan, faktor perilaku masyarakat, faktor pelayanan kesehatan dan faktor keturunan.

Dimana faktor lingkungan dan perilaku masyarakat merupakan 2 (dua) hal pokok yang sangat besar pengaruhnya terhadap pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimaldi suatu wilayah.

Derajat kesehatan masyarakat yang optimal adalah suatu kondisi kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya angka kesakitan penduduk, menurunnya angka kecacatan dan ketergantungan akibat penyakit, serta meningkatnya status gizi masyarakat.

Kita menyadari bahwa pelaksanaan program kesehatan di Kabupaten Buton selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang cukup bermakna, walaupun disadari pula bahwa masih banyak dijumpai berbagai masalah dan hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan program kesehatan tersebut, antara lain keterbatasan pembiayaan, keterbatasan jumlah tenaga kesehatan terutama yang bertugas di desa-desa terpencil, serta masih rendahnya tingkat peran serta masyarakat dalam upaya pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Pembangunan bidang kesehatan yang diselenggarakan dengan pendekatan paradigma sehat yaitu semua aspek pembangunan diharapkan dapat memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan keluarga, selain itu diharapkan upaya-upaya kesehatan yang dilaksanakan dititikberatkan pada aspek promotif, preventif, dan tetap melaksanakan upaya kuratif serta rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

D

BAB

I

(2)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 2

GAMBARAN UMUM KABUPATEN

A. KEADAAN WILAYAH DAN LETAK GEOGRAFI

Kabupaten Buton terletak di kepulauan Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi dan bila ditinjau dari peta Provinsi Sulawesi Tenggara secara geografis terletak disebelah selatan garis khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan diantara 4.960 – 6.250 Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 120.000 – 123.340 Bujur Timur.

Wilayah kabupaten dari segi geografis mempunyai batas-batas sebagai berikut :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Muna

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores

 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wakatobi

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bombana

Kabupaten Buton memiliki wilayah daratan seluas 2.488,71 km2 atau 248.871 Ha dan wilayah perairan diperkirakan seluas 21.054 km2. Secara administrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Buton sampai dengan akhir tahun 2012 terbagi atas 21 kecamatan dan 242 desa / kelurahan yang terdiri dari 31 kelurahan dan 211 desa.

Kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Pasarwajo dengan luas 356,40 km2 dan Kecamatan Lasalimu dengan luas 327,29 km2 atau luas Kecamatan Pasarwajo sebesar 14,31% dan Kecamatan Mawasangka sebesar 13,14% dari Luas wilayah Kabupaten Buton secara keseluruhan. Kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Batuatas dengan luas 7,18 km2 atau 0,29% dari luas wilayah Kabupaten Buton.

Kabupaten Buton telah mempunyai puskesmas di seluruh wilayah Kecamatan dan terdapat 8 kecamatan yang mempunyai puskesmas lebih dari satu puskesmas. Cakupan wilayah kerja puskesmas ini tidak seluruhnya mempunyai wilayah kerja yang sama dengan wilayah administrasi kecamatan. Hal ini terjadi pada puskesmas yang berada di daerah perbatasan antar kecamatan, yaitu Puskesmas Wakaokili, Puskesmas Lapandewa, Puskesmas Sampolawa dan Puskesmas Gerak Makmur. Wilayah kerja Puskesmas Wakaokili mencakup 2 desadi Kecamatan Pasarwajo dan 2 desa di Kecamatan Sampolawa. Sedangkan Puskesmas Gerak Makmur mempunyai wilayah kerja 2 desa di Kecamatan Sampolawa dan 2 desa lainya merupakan wilayah Kecamatan Lapandewa. Rincian jumlah kelurahan/desa dan jumlah puskesmas menurut kecamatan disajikan pada tabel 2.1.

BAB

II

(3)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 3 Tabel 2.1

Distribusi Jumlah Kelurahan/Desa dan Puskesmas Di Kabupaten Buton Tahun 2013

No Kecamatan Kelurahan / Desa Puskesmas

1 Batauga 12 Batauga

2 Batuatas 7 Batuatas

3 Gu 12 Gu

Rahia

4 Kadatua 10 Kadatua

5 Kapontori 17 Kapontori

Barangka Tuangila

6 Lakudo 15 Lakudo

Wamolo

7 Lapandewa 7 Lapandewa

8 Lasalimu 15 Lasalimu

Lawele

9 Lasalimu Selatan 16 Lasalimu Selatan

Wajah Jaya

10 Mawasangka 19 Mawasangka

Wakambangura Kanapa-Napa

11 Mawasangka Tengah 10 Mawasangka Tengah

12 Mawasangka Timur 8 Mawasangka Timur

13 Pasarwajo 22 Pasarwajo

Banabungi Wakaokili

14 Sampolawa 16 Sampolawa

Gerak Makmur

15 Sangia Wambulu 6 Sangia Wambulu

16 Siompu 10 Siompu

17 Siompu Barat 8 Siompu Barat

18 Siontapina 11 Siontapina

19 Talaga Raya 7 Talaga

20 Wabula 7 Wabula

21 Wolowa 7 Wolowa

JUMLAH 242 32

B. KEPENDUDUKAN

Masalah kependudukan yang dihadapi Kabupaten Buton selain jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, kepadatan dan arus urbanisasi yang memberikan dampak sosial ekonomi juga angka kelahiran yang cukup tinggi.

1. Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Buton pada kurun waktu 2005–2013sebesar 0,57% pertahun. Kecamatan Wolowa dan Mawasangka adalah kecamatan dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi yaitu 4,99% dan 3,20%.

(4)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 4

2. Kepadatan Penduduk

Bila membandingkan jumlah penduduk dengan luas wilayah masing-masing kecamatan maka nampak kepadatan penduduk setiap km2. Kepadatan penduduk Kabupaten Buton tahun 2013 adalah 110 jiwa/km2 .

Tingkat kepadatan penduduk tertinggi tahun 2013 di Kabupaten Buton masih didominasi oleh kecamatan yang berada di kepulauan.Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Batuatas, yaitu 1.530 jiwa/km2. Kecamatan Siompu Barat adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi ke-2 yaitu sebesar 791jiwa/km2 dan disusul dengan Kecamatan Sangia wambulu sebesar 649jiwa/km2..Kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Lasalimu dengan kepadatan hanya 30 jiwa/km2. Untuk lengkapnya dapat dilihat pada tabel 1 terlampir.

Kepadatan penduduk perkecamatan Kabupaten Buton Tahun 2013 terlihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1

Kepadatan Penduduk Perkecamatan Kabupaten Buton Per Km2 Tahun 2013

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

3. Distribusi Penduduk

Jumlah penduduk yang besar dan terus bertambah setiap tahun tidak diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk. Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2013 maka persebaran Penduduk terbesar (14,8%) berada di Kecamatan Pasarwajo sebagai ibukota Kabupaten dengan luas 14,3% wilayah Kabupaten Buton. Penduduk terbesar kedua berada di Kecamatan Mawasangka ( 9,2% ) yang mempunyai luas 10,91% wilayah kabupaten dan Kecamatan Lakudo ( 7,6% ) dengan luas 9,04% luas wilayah kabupaten.

Kecamatan dengan distribusi penduduk terkecil berada di wilayah Kecamatan Wolowa (1,8%) yang mempunyai luas 2,07% wilayah kabupaten serta Kecamatan Wabula (1,93%) yang mempunyai luas 2,61% wilayah Kabupaten Buton.Kecamatan dengan luas wilayah terkecil sebesar 0,29% dari seluruh wilayah kabupaten yaitu Kecamatan Batuatas dihuni oleh 3,9% penduduk Kabupaten Buton.

4. Komposisi Penduduk

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2013 oleh BPS, jumlah penduduk Kabupaten Buton adalah 274.813 jiwa. Komposisi penduduk suatu daerah ditentukan oleh perkembangan tingkat kelahiran, kematian dan migrasi.Kabupaten Buton mempunyai ciri penduduk muda karena 35,67% penduduknya dibawah usia 15 tahun. Hal ini masih

1,530.64 791.00 649.40 390.66 300.68 193.58 161.11 143.89 143.58 142.08 137.13 115.73 114.50 97.07 93.74 93.58 81.74 68.60 68.00 42.64 30.22 110.42

(5)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 5

menunjukan bahwa angka kelahirandi Kabupaten Buton beberapa tahun terakhir masih cukup tinggi.Distribusi penduduk berdasarkan golongan umur di Kabupaten Buton tahun 2013terlihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2

Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur Kabupaten Buton Tahun 2013

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

5. Rasio Jenis Kelamin ( Sex Ratio )

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2013 penduduk laki-laki 132.644 jiwa (48,26%) dan penduduk perempuan berjumlah 142.169 jiwa (51,73%). Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan atau rasio jenis kelamin Kabupaten Buton tahun 2013adalah 93, hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk wanitadi Kabupaten Buton lebih banyak dari jumlah penduduk laki-laki atau setiap 100 orang perempuan hanya terdapat 93 orang laki-laki. Kondisi ini diperkirakan akan masih terus berlangsung pada masa-masa mendatang.

Untuk rasio jenis kelamin per golongan umurdi Kabupaten Buton tahun 2013berada pada rentang 67-107.Rasio terkecil yaitu 67 terdapat pada golongan umur 70-74 tahun dan rasio terbesar yaitu 107 terdapat pada golongan umur 10-14 tahunSebagian besar (56,2%) berada pada angka 90-100, dan terdapat4golongan umur mempunyai rasio diatas 100 yaitu golongan umur 10-14 (107), golongan umur15-19 tahun, 40-44 tahun dan 55-59 tahun masing masing dengan rasio (101).Untuk lebih lengkapnya dilihat pada Tabel 2 terlampir.

6. Rasio Beban Tanggungan

Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2013, penduduk berusia non produktif mencapai 13,9% dan penduduk berusia produktif sebesar46,6,2%. Dengan demikian maka rasio beban tanggungan (Dependency Ratio)Kabupaten Buton tahun 2012 sebesar 81, hal ini menunjukan bahwa setiap 100 orang umur produktif menanggung 81 orang usia non produktif.Rasio beban tanggungan tahun 2013 ini sama dengan rasio beban tanggungan tahun 2012. Jika dibandingkan dengan rasio beban tanggungan tahun-tahun sebelumnya cenderung meningkat, kecuali tahun 2011dan 2012 yang mengalami penurunan dibanding rasio tahun sebelumya. Untuk lengkapnya rasio beban tanggungan Kabupaten Buton tahun 2004-2013 seperti pada gambar 2.3.

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 0-45-9

10-1415-19 20-2425-2930-3435-39 40-4445-49 50-5455-59 60-6465-6970-7475+

0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+

Jumlah 36,156 26,558 35,330 26,925 21,765 20,312 16,928 16,737 13,987 11,608 10,212 7,404 6,313 13,429 5,974 5,175

(6)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 6 Gambar 2.3

Rasio Beban Tanggungan Kabupaten Buton Tahun 2004-2013

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013

7. Rata-Rata Besarnya Anggota Keluarga

Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2013 terdapat 67.143 rumah tangga. Jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2012 yaitu 71.093 rumah tangga. Rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 orang. Distribusi besarnya anggota rumah tangga setiap kecamatan tahun 2013, yaitu18 kecamatan mempunyai rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 orang, orang dan 3kecamatan lainnya rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 5 orang.

C. SOSIAL EKONOMI

1. Tingkat Pendidikan

Sasaran pembangunan pendidikan dititikberatkan pada peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar di semua jenjang pendidikan, dimulai dari kegiatan pra sekolah (Taman Kanak-Kanak) sampai dengan perguruan tinggi.

Kondisi pendidikan di suatu daerah merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam menilai pembangunan manusia. Melalui pendidikan akan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang untuk merubah perilaku kearah perilaku hidup bersih dan sehat.

Jumlah institusi pendidikan di Kabupaten Buton dari tingkat TK, SD, SLTP, SLTA dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, begitu pula dengan jumlah guru dan murid yang ada.Keadaan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Buton.

Perkembangan jumlah sekolah, murid dan guru dapat di lihat pada tabel berikut : 80

83 84

83 83 83

85

82 81 81

77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(7)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 7 Tabel 2.2

Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Menurut Tingkat Pendidikan Di Kabupaten Buton Tahun 2010-2012

Tingkat Pendidikan

Jumlah

Sekolah Guru Murid

TK 2010 139 453 6.148

2011 152 462 6.049

SD 2010 252 1.770 45.565

2011 260 1.819 49.361

2012 262 2.951 46.830

SMP 2010 42 879 12.490

2011 46 805 13.159

2012 68 1.462 14.780

SMU 2010 28 513 6.534

2011 29 419 7.004

2012 29 685 7.228

SMK 2011 12 234 510

2012 * * *

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2012

2. Tingkat Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Buton, Rata-rata peningkatan PDRB perkapita penduduk Kabupaten Buton memperlihatkan angka diatas 5%, ini menunjukkan tingkat kemakmuran yang semakin baik

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Buton kurun waktu 2010-2012 menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukan adanya peningkatan, dimana tahun 2011 sebesar 7,54 juta menjadi 8,63 juta pada tahun 2012. Gambar 2.4 menyajikan struktur PDRB Kabupaten Buton dimana bidang pertanian merupakan bidang yang memberikan konstribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan harga berlaku di Kabupaten Buton tahun 2012.

Gambar 2.4

Pendapatan Regional Perkapita Kabupaten Buton Tahun 2012

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2012

(8)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 8

Pertumbuhan ekonomi mempengaruhi tingkat kemiskinan di suatu daerah.

Di Kabupaten Buton walaupun tiap tahun mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi tetapi masyarakatnya masih didominasi oleh penduduk yang kurang mampu (miskin).

Masyarakat miskin di Kabupaten Buton salah satunya dapat digambarkan melalui jumlah masyarakat miskin yang ditanggung pelayanan kesehatannya oleh pemerintah melalui Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang awalnya merupakan program yang digulirkan pemerintah sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi krisis ekonomi.

Persentase masyarakat miskin yang menjadi peserta program pelayanan kesehatan tanpa bayar tahun 2004-2010 cenderung meningkat dan menurun di tahun 2011 dan 2012, namun demikian dari jumlah relatif sama. Peningkatan persentase yang mulai terjadi tahun 2009 terjadi karena selain 174.215 masyarakat miskin yang dijamin kesehatannya melalui Program Jamkesmas terdapat pula penambahan 14.133 masyarakat miskin yang mendapat jaminan pelayanan kesehatan melalui Program Pembebasan Biaya Pengobatan (PBP) Bahteramas sebagai salah satu dari 3 program unggulan pembangunan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Sulawesi Tenggara. Jumlah dan persentase masyarakat miskin peserta program pelayanan kesehatan masyarakat miskin Kabupaten Buton tahun 2004-2013 seperti terlihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5

Persentase Masyarakat Peserta Program Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin Kabupaten Buton Tahun 2004 – 2013

Sumber : Sekretariat Program Jamkesmas Kab.Buton, 2013

3. Agama

Sesuai data dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Buton masyarakat Kabupaten Buton adalah mayoritas pemeluk agama Islam. Walaupun pemeluk agama Islam lebih besar jumlahnya dari pemeluk agama lain tetapi kehidupan toleransi antar pemeluk agama sangat baik.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Buton, jumlah tempat ibadah di Kabupaten Buton tahun 2012 adalah 354 buah yang terdiri dari tempat ibadah pemeluk agama Islam yaitu mesjid berjumlah 312 buah dan mushallah/langgar sebanyak 32 buah.

Gereja sebanyak 5 buah dan pura sebanyak 5 buah.

% 0

50 100

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

52.7

46.8 62.6 63.2 62.3 66.2 73.7 71.6 70.2 56.6

(9)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 9

Di Kabupaten Buton juga tersedia sekolah agama yaitu :

 Raudatul Atfal / TK sebanyak 12 unit dengan 52 orang guru dan 588 orang murid, sehingga rasio murid terhadap guru sebesar 11. Ini berarti bahwa 1 orang guru Raudatul Atfal harus menangani 11 murid.

 Ibtidaiyah / SD sebanyak 14 unit dengan jumlah tenaga pengajar 108 orang dan 1.845 orang murid, sehingga rasio murid terhadap guru sebesar 17.

 Tsanawiyah / SMP sebanyak 25 unit dengan jumlah tenaga pengajar 274 orang dan 2.962 orang murid, sehingga rasio murid terhadap guru sebesar 11.

 Aliyah / SMA sebanyak 9 unit dengan jumlah tenaga pengajar 116 orang dan 1.426 orang murid, sehingga rasio murid terhadap guru sebesar 12.

 Pesantren sebanyak 3 unit dengan jumlah tenaga pengajar 50 orang dan 434 orang murid, sehingga rasio murid terhadap guru sebesar 9.

(10)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 10

SITUASI

DERAJAT KESEHATAN

U

ntuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat yang merupakan dampak dari pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan maka dapat digunakan beberapa indikator antara lain angka kematian, angka kesakitan, umur harapan hidup waktu lahir dan status gizi. Gambaran situasi derajat kesehatan Kabupaten Buton tahun 2013disajikan berikut ini :

A. MORTALITAS (ANGKA KEMATIAN)

Kejadian kematian dalam masyarakat merupakan salah satu gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian (AKB, AKABA, AKI, AKK) pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan survei dan penelitian. Untuk Kabupaten Buton angka kematianyang disajikan adalah merupakan angka kematian yang dilaporkan oleh Bidan desa secara rutin setiap bulannya yang tentunya masih terdapat beberapa kekurangan terutama dalam jumlah kematian dimasyarakat yang belum terlaporkan secara keseluruhan, tetapi angka ini telah dapat memberikan gambaran jumlah kematian yang ada di wilayah Kabupaten Buton dari tahun ke tahun.

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Infant Mortality Rate atau angka kematian bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Buton tahun 2012 adalah 25,5 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2013 angka kematian bayi meningkat menjadi 26,8 per 1.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi ini jumlah dari angka lahir mati, angka kematian neonatal dan angka kematian bayi. Angka kematian bayi ini dihitung berdasarkan laporan rutin bidan desa setiap bulannya dan laporan evaluasi akhir tahun puskesmas sehingga masih terdapat kemungkinan ada kematian bayi yang tidak terlaporkan. Untuk mendapatkan angka kematian bayi yang sebenarnya terjadi di masyarakat masih memerlukan survey khusus.

Berdasarkan laporan rutin puskesmas dan data-data lainnya, sejak tahun2004–2008 angka kematian bayi cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya, kecuali tahun, 2009, 2010, terjadi peningkatan dan kembali menurun pada tahun 2011 dan tahun 2012, Tahun 2013 terjadi peningkatan kembali. Peningkatan cukup besar terjadi pada tahun 2009 yang meningkat hampir 2 kali dari angka tahun sebelumnya, seperti terlihat pada gambar 3.1.

BAB

III

(11)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 11 Gambar 3.1

Angka Kematian Bayi (AKB) Kabupaten Buton Tahun 2004-2013

Sumber : Seksi Kesehatan Anak, Remaja dan Usila Dinkes Kab.Buton, 2013

Kematian bayi di Kabupaten Buton tahun 2013 berjumlah 155 bayi dari 5.791 kelahiran hidup. Dari 155 kematian bayi, 77 bayi lahir mati atau (49,7%), 31 kematian (20%) terjadi pada bayi umur 0-6 hari, 4 kematian (2,6%) pada bayi umur 7-28 hari dan 43 kematian (27,7%) terjadi pada bayi umur 1 bulan s.d < 1 tahun.

Kematian bayi tertinggi terjadi di Kecamatan Pasarwajo dan Gumasing-masing tercatat 20 bayi, disusul kecamatan Gu 12 bayi, Siontapina 11 bayi, Banabungi, 9 bayi, Kadatua 8 bayi, Sampolawa dan talaga masing-masing tercatat7 bayi. Distribusi kematian bayi dapat dilihat pada tabel 5 terlampir.

Penyebab kematian bayi 0-11 bulan di Kabupaten Buton diantaranya disebabkan oleh berat badan lahir rendah (BBLR), Asfiksia,trauma lahir, pneumonia, diare dan lain-lain.

2. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menggambarkan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.

Sebagaimana angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (AKABA) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat yang dapat menggambarkan upaya kesehatan yang telah dilaksanakan serta dapat mencerminkan tingkat dan besarnya masalah kemiskinan sebagai indikator yang sensitif bagi perkembangan sosial ekonomi nasional.

Angka kematian balita di Kabupaten Buton tahun 2013 berdasarkan laporan yang masuk sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup.Angka ini lebih besar dibanding dengan angka kematian balita tahun 2012 yaitu 29,6 per 1.000 kelahiran hidup.Bila dibandingkan dengan Estimasi AKABA tingkat Nasional (44 per 1.000 kelahiran hidup) dan AKABA Provinsi Sulawesi Tenggara (62 per 1.000 kelahiran hidup) berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, maka AKABA Kabupaten Buton masih berada dibawah angka nasional maupun provinsi.

Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA dalam 4 tingkatan, yaitu sangat tinggi (> 140), tinggi (71-140), sedang (20-70) dan rendah (<20).

Jika membandingkan dengan tingkatan AKABA MDGs maka AKABA Kabupaten Buton

23 22

17 17.5 13.4

26.5

32.7 30.2

25 26.8

0 5 10 15 20 25 30 35

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(12)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 12

masuk dalam kategori sedang.Gambar 3.2.menyajikan AKABA Kabupaten Buton tahun 2005-2013.

Gambar 3.2

Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup Di Kabupaten Buton Tahun 2005-2013

Sumber : Seksi Kesehatan Anak, Remaja dan Usila Dinkes Kab.Buton, 2013

3. Angka Kematian Ibu (AKI)

Maternal Mortality Rate atau Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan, dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

AKI memberikan gambaran status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama pelayanan ibu hamil, ibu melahirkan dan masa nifas.

Untuk menekan angka kematian ibu bersalin diperlukan beberapa usaha yang spesifik antara lain meningkatkan peran bidan didesa yang dilengkapi dengan peningkatan keterampilan , fasilitas dan peralatan serta menurunkan peran dukun bayi.Dengan penempatan bidan di desa diharapkan masalah tersebut dapat diatasi disamping peran bidan desa maupun petugas kesehatan lainnya untuk melaksanakan pendekatan kepada masyarakat guna merubah persepsi masyarakat yang lebih senang melahirkan di rumah dengan dibantu dukun bayi daripada melahirkan di rumah sakit, puskesmas, poskesdes, polindes dengan bantuan tenaga kesehatan.

Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan laporan bidan desa tahun 2013sebesar 242per 100.000 kelahiran hidup mengalami peningkatan dibanding tahun 2012 yang mencapai 211 per 100.000 kelahiran hidup.Bila dibanding dengan angka Nasional dimana AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI, tahun 2007), Target AKI Provinsi yang termuat dalam Renstra Pembangunan Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2008-2013, serta kesepakatan global (MDG’s/Millenium Development Goals) yang menargetkan AKI pada tahun 2015 dapat mencapai angka 102 per 100.000 kelahiran hidup, maka AKI Kabupaten Buton inimasih cukup tinggi. Gambar 3.3 menyajikan trend AKI di Kabupaten Buton Tahun 2004- 2013.

41

32.6 30.8

24.2 25

40.2 40.7

29.6 32

05 1015 2025 3035 4045

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(13)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 13 Gambar 3.3

Angka Kematian Ibu Kabupaten Buton Tahun 2004-2013

Sumber : Seksi Kesehatan Ibu dan reprodukksi Dinkes Kab.Buton, 2013

Jumlah Kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Buton tahun 2013 sebanyak 14 orang. Kematian ibu terbanyak terjadi pada saat ibu melahirkan sebesar 71,4%

(10 orang), saat ibu dalam masa nifas sebesar 14,2 % (2 orang) dan 14,2 % (2 orang) kematian ibu terjadi saat ibu dalam masa kehamilan. Penyebab kematian terbesar adalah Perdarahan, Eklampsia, infeksi. Kematian ibu ini terbanyak terjadi pada kelompok ibu berumur <35 tahun yaitu 71,4%.

4. Angka Kematian Kasar (AKK)

Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Angka kematian kasar dapat digunakan untuk membandingkan kondisi kesehatan suatu daerah atau negara dengan daerah atau negara lain. Angka ini dipengaruhi oleh karakteristik penduduk atau komposisi umur penduduk. Berdasarkan hasil SUPAS 2005, estimasi angka kematian kasar (AKK) tahun 2007 sebesar 6,9 per 1.000 penduduk.

Angka kematian kasar di Kabupaten Buton diperoleh berdasarkan laporan rutin dari puskesmas.Angka kematian kasar ini walaupun belum mencakup semua kematian yang terjadi tetapi sudah dapat mengambarkan kematian secara umum yang terjadi di Kabupaten Buton.

Angka kematian kasar Kabupaten Buton tahun 2004-2005 cenderung mengalami peningkatan dan mengalami penurunan pada tahun 2006 dan 2007, selanjutnya tahun 2008 sampai 2011 angka kematian kasar ini meningkat kembali dan dua tahun terakhir kembali menurun yaitu tahun 2012 dan 2013. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.4

337

234 269

177 149 179 170 351

211 242

0 50 100 150 200 250 300 350 400

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(14)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 14 Gambar 3.4

Angka Kematian Kasar Kabupaten Buton Tahun 2004-2013

Sumber : Seksi Kesehatan Anak, Remaja dan Usila Dinkes Kab.Buton, 2013

B. MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN)

Gambaran kesakitan diperoleh dari laporan rutin seperti Laporan Bulanan Data Kesakitan (LB 1) dan SST. Data kesakitan di Puskesmas Kabupaten Buton tahun 2013tercatat 162.378 kunjungan kasus mengalami peningkatan dibanding kunjungantahun 2012sebesar 150.121 kunjungan kasus.Angka ini masih belum mengambarkan angka kesakitan secara keseluruhan sebab data ini hanya berasal dari institusi pelayanan (puskesmas, pustu, poskesdes, polindes) sedang angka kesakitan dari praktek dokter, praktek perawat, praktek bidan belum dapat diregistrasi dengan baik.Disamping itu angka ini merupakan angka kunjungan kasus yang tidak mengambarkan jumlah penduduk Kabupaten Buton yang sakit dalam setahun.

1. 10 (Sepuluh) Penyakit Terbesar Kabupaten Buton

Pola penyakit semua golongan umur berdasarkan kunjungan kasus rawat jalan ke pelayanan kesehatan ( puskesmas, pustu, poskesdes dan polindes ) Kabupaten Buton

tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1

Sepuluh Penyakit Terbesar Kunjungan Rawat Jalan Puskesmas Kabupaten Buton Tahun 2013

No Jenis Penyakit Jumlah %

1. ISPA 42.889 35,97

2. Penyakit Kulit (Infeksi,Alergi,Jamur) 14.693 12,32 3. Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat 12.557 10,53

4. Tekanan Darah Tinggi 8.385 7,03

5. Tukak Lambung 7.774 6,52

6. Diare 5.950 4,99

7. Kecelakaan dan Rudapaksa 3.153 2,64

8. Anemia 2.373 1,99

9. Penyakit kecacingan 2.245 1,88

10. Asma 2.236 1,88

Sumber : Data Kesakitan (LB1)

3.1 3.5

2.7 2.54 2.88 3.18 3.95

4.75

2.4 2.2

0 5

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(15)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 15

2. Angka Kesakitan penyakit Menular

Angka kesakitan penyakit menular yang diamati di Kabupaten Buton dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Angka kesakitan penyakit Malaria

Prevalensi penyakit malaria dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yaitu pada tahun 2004 sebesar 35,5/1.000 penduduk. Pada tahun 2005-2007 prevalensi malaria kembali mengalami penurunan menjadi 30,2/1.000 penduduk pada tahun 2005, tahun 2006 menjadi 20/1.000 penduduk dan pada tahun 2007 menjadi 19,04/1.000 penduduk.

Prevalensi malaria mulai meningkat kembali pada tahun 2008 dan 2009 yaitu 22,16/1.000 penduduk dan 24,96/1.000 penduduk. Tahun 2010-2012 prevalensi malaria mengalami penurunan menjadi 24,2/1.000 penduduk dan 23,5/1.000 penduduk sedangkan tahun 2013 prevalensi malaria turun menjadi yaitu2,29/1000 penduduk.

b. Angka kesakitan penyakit Tetanus Neonatorum

Prevalensi penyakit tetanus neonatorum Pada tahun 2004 - 2005 tidak ditemukan kasus dan kematian akibat tetanus neonatorum. Pada tahun 2006 ditemukan kembali 2 kasus Tetanus Neonatorum (0,3/1.000 kelahiran) yang ditemukan di desa Boneoge wilayah Puskesmas Lakudo dan desa Talaga Besar wilayah Puskesmas Talaga. Kurun waktu tahun 2010-2013 prevalensi dan kematian akibat tetanus neonatorum tidak ditemukan.

c. Angka kesakitan / kasus yang dicurigai Demam Berdarah

Angka kesakitan / kasus yang dicurigai demam berdarah pada tahun 2004 – 2006 tidak ditemukan kasus demam berdarah. Namun pada tahun 2007 ditemukan 4 kasus (0,01/1.000 penduduk). Tahun 2008 tidak ditemukan kasus demam berdarah, Tahun 2009 ditemukan 1 kasus (0,004/1.000 penduduk), Tahun 2010 dan 2011 tidak ditemukan kasus, s tahun 2012 ditemukan 3 kasus (0,01/1.000 penduduk) dan Tahun 2013 ditemukan 2 kasus (0,007/1000 penduduk).

d. Angka kesakitan penyakit TBC

Prevalensi penyakit TBC menunjukan trend yang meningkat dari tahun 2004-2013, pada tahun 2004 yaitu 95/100.000 penduduk. Pada tahun 2005 menurun menjadi 54/100.000 penduduk, tetapi tahun 2006 kembali meningkat menjadi 116/100.000 penduduk. Tahun 2007 prevalensi penyakit TBC turun menjadi 94/100.000 penduduk, tahun 2008 dan 2009 kembali meningkat menjadi 116/100.000 penduduk dan 182/100.000 penduduk. Tahun 2010 angka kesakitan menurun menjadi 172/100.000 penduduk dan meningkat menjadi 245/100.000 penduduk pada tahun 2011, pada tahun 2012 menurun menjadi 232/ 100.000 penduduk dan tahun 2013 menurun menjadi 147/100.000 penduduk.

(16)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 16

e. Angka Kesakitan penyakit Kusta

Prevalensi penyakit kusta tahun 2004 sebesar 1,24/10.000 penduduk dan tahun 2005 meningkat menjadi 1,59/10.000 penduduk serta menurun kembali pada tahun 2006 turun menjadi 1,44/10.000 penduduk. Tahun 2007angka kesakitan penyakit kusta mengalami peningkatan menjadi 1,49 per 10.000, tahun 2008 meningkat menjadi 2,04/10.000 penduduk, tahun 2009 menjadi 3,76/10.000 penduduk, tahun 2010 menurun menjadi 3,52/10.000 penduduk, tahun 2011 menjadi 2,85/10.000 penduduk, tahun 2012 menjadi 2,46/10.000 penduduk tahun 2013 2,47/10.100 penduduk.

f. Angka kesakitan penyakit Frambusia

Angka kesakitan penyakit frambusia tahun 2004 sebesar 7,94/10.000 penduduk, tahun 2005 menurun menjadi 4,29/10.000 penduduk. Prevalensi frambusia menular tahun 2006-2012 cenderung menurun, yaitu pada tahun 2006 sebesar 3,09/10.000 penduduk, tahun 2007 menurun menjadi 0,47/10.000, tahun 2008 menjadi 0,11/10.000 tetapi tahun 2009 meningkat menjadi 0,39/10.000. Tahun 2010 prevalensi frambusia menular menjadi 0,04/10.000 penduduk dan tahun 2011 meningkat menjadi 0,57/10.000 penduduk dan tahun 2013 meningkat kembali menjadi 2,05/10.000 penduduk.

g. Angka kesakitan penyakit Filaria

Angka kesakitan penyakit filaria/kaki gajah hasil survey tahun 2002 sekitar 1,56/10.000 penduduk, tahun 2003 masih bertahan pada angka 1,56/10.000 penduduk, tahun 2004 menurun menjadi 0,90/10.000 penduduk, tahun 2005 turun menjadi 0,52/10.000 penduduk, tahun 2006 meningkat menjadi 0,56/10.000 penduduk, tahun 2007 meningkat menjadi 0,58/10.000 penduduk dan tahun 2008 menurun menjadi 0,43/10.000 penduduk. Pada tahun 2009 dan 2010 prevalensi penyakit filaria relatif sama yaitu 0,49/10.000 penduduk dan 0,47/10.000 penduduk.

Tahun 2011 dan tahun 2012 prevalensi penyakit filaria menurun menjadi 0,30/10.000 penduduk dan tahun 2013 0,21/10.000 penduduk.

C. STATUS GIZI

Pengamatan status gizi masyarakat dengan indikator kunci yaitu perkembangan status gizi balita sebagai kelompok rentan atau kelompok paling rawan gizi terhadap perubahan pola konsumsi oleh berbagai faktor penyebab. Indikator status gizi balita dapat dilihat dari prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita. Untuk mendapatkan angka prevalensi tersebut dibutuhkan survey khusus, tetapi untuk memberikan gambaran prevalensi gizi kurang dan buruk pada balita setiap tahun maka angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil pemantauan status gizi balita melalui penimbangan berat badan balita di Posyandu setiap bulannya dan hasil pelacakan serta sweeping oleh petugas gizi puskesmas dilapangan, sehingga dianggap cukup representatif dalam mewakili populasi balita di Kabupaten Buton.

Gambaran prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita di Kabupaten Buton tahun 2004 -2013, sebagai berikut :

(17)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 17

1. Prevalensi gizi kurang pada balita 2004-2013 berfluktuasi. Tahun 2004 prevalensi gizi kurang balita sebesar 6,6% Namun tahun 2005 prevalensi gizi kurang balita meningkat menjadi 6,8% dan kembali menurun menjadi 6,47% pada tahun 2006 dan 3,37% tahun 2007. Tahun 2008 dan tahun 2009mengalami peningkatan yang cukup signifikan bila dibanding tahun sebelumnya yaitu menjadi 8,45% pada tahun 2008 dan 16,4% pada tahun 2009. Tahun 2010 dan 2011 mengalami penurunan kembali menjadi 15,6% dan 13,57%, tahun 2012 kembali meningkat yaitu 16,51% dan pada tahun 2013 menurun menjadi 10,90%. Gambaran prevalensi gizi kurang Kabupaten Buton tahun 2002-2013 terlihat pada gambar 3.5

2. Prevalensi gizi buruk pada balita cukup berfluktuasi yaitu pada tahun 2004 sebesar 0,3%.

Pada tahun 2005 kembali terjadi peningkatan prevalensi gizi buruk menjadi 0,6% dan kembali menurun pada tahun 2006 menjadi 0,29%. Tahun 2007 prevalensi gizi buruk kembali meningkat kembali menjadi 0,57% dan menurun pada tahun 2008 menjadi 0,25%.

Tahun 2009 s.d 2011prevalensi gizi buruk menunjukan peningkatan setiap tahun yaitu tahun 2009 sebesar 0,44%, tahun 2010 sebesar 0,69% dan tahun 2011 menjadi 0,89% dan tahun 2012 menurun menjadi 0,41% dan kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu 0,43%. Gambaran prevalensi gizi buruk tahun 2002-2013 terlihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5

Prevalensi Gizi Kurang dan Gizi Buruk Kabupaten Buton Tahun 2004-2013

Sumber : Seksi Gizi Kesehatan Masyarakat Dinkes Kab.Buton, 2013

D. ANGKA HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR ( UHH )

Meningkatnya status kesehatan masyarakat selain ditunjukan oleh menurunnya angka kematian dan angka kesakitan juga ditunjukan oleh meningkatnya angka harapan hidup waktu lahir, sehingga meningkatnya angka harapan hidup ini secara tidak langsung dapat memberikan gambaran tentang meningkatnya kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat. Angka Harapan Hidup merupakan salah satu indikator yang diperhatikan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Estimasi angka harapan hidup waktu lahir selama 10 tahun terakhir ini terjadi peningkatan yang bermakna untuk kedua jenis kelamin. Estimasi BPS di Indonesia yakni usia harapan hidup perempuan pada tahun 1990 sebesar 64,15 tahun meningkat menjadi 67,88 tahun pada tahun 2000, dan usia harapan hidup laki-laki pada tahun 1990 sebesar 60,41

3.3

6.8 6.47 3.37

8.45 16.4

15.6

13.57 16.51

10.9

0.3 0.6 0.29 0.57 0.25 0.44 0.69 0.89 0.41 0.43

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Persentase (%)

Gizi Kurang Gizi Buruk

(18)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 18

meningkat menjadi 67,99 pada tahun 2000 dan tahun 2012 umur harapan hidup perempuan sebesar 70,98 dan umur harapan hidup laki-laki sebesar 66,99. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2000-2025, estimasi angka harapan hidup terus meningkat seperti terlihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2

Estimasi Angka Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) Tahun 2000 - 2025

Tahun UHH

2000-2005 67,8

2005-2010 69,8

2010-2015 71,5

2015-2020 72,8

2020-2025 73,6

Berdasarkan estimasi BPS, Bappenas dan United Nations Population Fund maka angka harapan hidup waktu lahir propinsi Sulawesi Tenggara tahun 2005-2010 sebesar 69,1.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), estimasi Angka Harapan Hidup (UHH) Kabupaten Buton tahun 2009 adalah 68,23 tahun, meningkat menjadi 68,58 tahun pada tahun 2010 dan tahun 2011 menjadi 68,93 tahun. Pada tahun 2012 UHH untuk laki-laki 66,99 tahun dan perempuan 70,98 tahun.

(19)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 19

SITUASI

UPAYA KESEHATAN

U

paya kesehatan di Kabupaten Buton diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tersebut dalam rangka meningkatkan status derajat kesehatan khususnya pada kelompok rentan yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, ibu bersalin dan ibu menyusui.

Gambaran situasi upaya kesehatan yang telah dilaksanakan di Kabupaten Buton tahun 2013 dapat diuraikan sebagai berikut :

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya.

Pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan di Kabupaten Buton tahun 20013 adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Upaya ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Seorang ibu memegang peranan penting dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak.

Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu hamil akan berpengaruh terhadap kesehatan janin dalam kandungan hingga saat melahirkan dan pertumbuhan bayi dan anaknya.

Kebijakan tentang pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir lebih diarahkan pada pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan bayi baru lahir yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.Sedang kesehatan anak meliputi pelayanan kesehatan bayi, balita, anak SD dan remaja.

Upaya kesehatan ibu dan anak diarahkan untuk mendukung pencapaian MDGs terutama dalam upaya penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.Upaya-upaya yang di lakukan berhubungan dengan keehamilan, kelahiran dan nifas.Salah satu program untuk mendukung percepatan penurunan AKI yaitu Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2000.

Upaya pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dilaksanakan di Kabupaten Buton tahun 2013meliputi :

a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Pelayanan Kesehatan ibu hamil atau pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan,

BAB

IV

(20)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 20

pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK).

Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan, pengukuran tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), tinggi fundus uteri, menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ), skrinning status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium (rutin dan khusus), tatalaksana kasus serta temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.

Pelayanan antenatal ini sangat penting dilaksanakan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil , berupa deteksi dini faktor resiko, pencegahan dan penanganan komplikasi. Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Ditetapkan pula distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu : minimal 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua dan 2 kali pada triwulan ketiga.

Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan pelayanan kunjungan pertama kali ibu hamil (K1) dan pelayanan ibu hamil sesuai standar minimal 4 kali (K4).

Pelayanan ibu hamil (K1) merupakan akses pelayanan kesehatan ibu hamil yang melaksanakan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Pelayanan K1 Kabupaten Buton tahun 2013dilaksanakan pada 6.454 ibu hamil atau 95,8% dari jumlah sasaran ibu hamil. Cakupan K1 ini mengalami penurunandibanding cakupan K1 tahun 2012 yaitu 6895 ibu hamil ( 95,8%).

Pelayanan ibu hamil yang sesuai standar (K4) merupakan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar minimal 4 kali kunjungan dengan distribusi sekali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan K4 ini sebagai indikator kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Pelayanan K4 Kabupaten Buton tahun 2013 dilaksanakan pada 6.025 ibu hamil (81,2%), mengalami penurunan dibanding pelayanan K4 pada tahun 2012 sebesar85,9% atau 6.180 ibu hamil.

Cakupan K4 per puskesmas Kabupaten Buton tahun 2012 jika dibandingkan dengan cakupan K4 Kabupaten Buton maka terdapat 7 puskesmas (21,9%) yang telah melampau cakupan kabupaten, tetapi jika dibandingkan dengan Target Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang termuat dalam Rencana Strategis Kabupaten Buton 2013-2017 maka baru 1 puskesmas, yaitu puskesmas Batauga (100,8%), yang telah melampaui target RKT tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.1.

(21)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 21 Gambar 4.1

Cakupan K4 per Puskesmas Kabupaten Buton Tahun 2013

Sumber : Seksi Kesehatan Ibu dan Reproduksi Dinkes Kab.Buton, 2013

Gambar 4.2 memperlihatkan cakupan K1 dan K4 Kabupaten Buton selama9 tahun terakhir yang cukup berfluktuasi. Gambar ini juga memperlihatkan kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4. Tahun 2005 kesenjagan cakupan K1 dan K4 sebesar 4,3%, kemudian tahun 2006 meningkat menjadi 10,2%, tahun 2007 menurun menjadi 5,5%, tahun 2008 meningkat kembali menjadi 10%, tahun 2009 menurun cukup signifikan menjadi 2,9%, tetapi tahun 2010, 2011 dan 2012 kembali meningkat menjadi 5,4% dan 9,7%, dan 10,7 dan tahun 2013 kembali menurun menjadi 5,8% Kesenjangan ini menunjukan angka drop out K1-K4 atau semakin kecil persentase kesenjangan maka semakin banyak ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal yang meneruskan kunjungan antenatalnya sampai triwulan 3 kehamilannya sehingga kehamilannya tetap terpantau oleh petugas kesehatan.

Gambar 4.2

Cakupan K1 dan K4 Kabupaten Buton Tahun 2005 – 2013

Sumber : Seksi Kesehatan Ibu dan Reproduksi Dinkes Kab.Buton, 2013

b. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin

Komplikasi dan kematian ibu serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada periode persalinan, hal ini disebabkan antara lain pertolongan persalinan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan.

Dalam target MDGs, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesehatan ibu dengan menuurnkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada

100.8 85.9 88.8 79.0 91.2 79.3 77.6 82.0 86.2 63.9 74.8 76.2 60.1 72.7 69.9 92.4 79.6 82.5 83.3 60.3 89.1 65.2 91.2 89.5 74.5 88.0 87.0 87.9 65.8 79.3 81,8 77.7 88 95

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0

Batauga Batuatas Gu Rahia Kadatua Kapontori Barangka Tuangila Lakudo Wamolo Lapandewa Lasalimu Lawele Las. Selatan Wajah Jaya Mawasangka Wakambang Kanapa-Napa Mwsngka… Mwsngka… Pasarwajo Banabungi Wakaokili Sampolawa Gerak Sangia Siompu Siompu Barat Siontapina Talaga Wabula Wolowa Kabupaten Target RKT

80.6 90.3 78.8

87.7

84.7 88.2 89.5 95.8

87 76.3 80.1

73.1 77.7 81.8 82.8 79.8 85.9 81.2

0 20 40 60 80 100 120

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Persentase (%)

K1 K4

(22)

Profil Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2013 22

tahun1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40,7% pada tahun 1992 (BPS).

Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Buton tahun 2013 sebesar 5.310 orang atau 74,7% dari sasaran ibu bersalin (7.105 orang).

Persentase pertolongan oleh tenaga kesehatan ini menurundibanding dengan persentase tahun 2012 sebesar 5.355 orang atau 75,7%.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Buton tahun 2005-2013 seperti pada gambar 4.3.

Gambar 4.3

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Kabupaten Buton Tahun 2005 – 2013

Sumber : Seksi Kesehatan Ibu dan Reproduksi Dinkes Kab.Buton, 2013

Pada gambar 4.4 terlihat cakupan pertolongan persalinan per puskesmas Kabupaten Buton tahun 2013 jika dibandingkan dengan cakupan kabupaten maka terdapat 7 puskesmas (21,9%) yang telah melampaui cakupan kabupaten, tetapi jika dibandingkan dengan Target Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang termuat dalam Rencana Strategis Kabupaten Buton 2013-20117 maka hanya 4 puskesmas (12,5%) yang telah melampaui target RKT tersebut.

Gambar 4.4

Cakupan Pertolongan Persalinan Tenaga Kesehatan per Puskesmas Kabupaten Buton Tahun 2013

Sumber : Seksi Kesehatan Ibu dan Reproduksi Dinkes Kab.Buton, 2013

Pertolongan persalinan di Kabupaten Buton dibagi dalam 2 kategori, yaitu persalinan oleh tenaga kesehatan termasuk pendampingan antara tenaga kesehatan dan dukun bayi terlatihserta persalinan oleh tenaga non kesehatan. Dari 5.310 persalinan yang

77.7 74.8 84.2 73.5

68.03 68.8 68.8 75.7 74.7

0 20 40 60 80 100

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Persentase (%) 85.0 69.3 99.1 67.2 80.7 66.3 43.3 69.0 72.0 62.6 85.3 82.2 49.7 67.9 63.2 87.2 79.3 70.6 80.2 54.7 73.1 56.3 75.9 80.8 67.3 88.4 84.7 104.3 65.5 76.7 65,6 73.9 84.0 90

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0

Batauga Batuatas Gu Rahia Kadatua Kapontori Barangka Tuangila Lakudo Wamolo Lapandewa Lasalimu Lawele Las. Selatan Wajah Jaya Mawasangka Wakambang Kanapa-Napa Mwsngka… Mwsngka… Pasarwajo Banabungi Wakaokili Sampolawa Gerak Sangia Siompu Siompu Barat Siontapina Talaga Wabula Wolowa Kabupaten Target RKT

Gambar

Gambar  4.2  memperlihatkan    cakupan  K1  dan  K4  Kabupaten  Buton  selama9  tahun  terakhir  yang  cukup  berfluktuasi
Gambar 4.5.menyajikan rincian cakupan KF3 per puskesmas  tahun 2013.
Gambar 4.14. menyajikan persentase status gizi balita Kabupaten Buton tahun 2013.
Gambar  4.19.menyajikan  cakupan  konsumsi  garam  beryodium  pada  21  puskesmas  yang  melaksanakan kegiatan pemantauan garam beryodium di Kabupaten Buton Tahun 2013

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gender tidak memoderasi pengaruh pendapatan terhadap pengelolaan keuangan pribadi Antara laki – laki dan perempuan tidak

Virus merupakan unit elemen yang masih menunjukkan tanda kehidupan, sehingga virus dapat juga didefinisikan sebagai organisme tanda kehidupan, sehingga virus dapat

Pada tahun 2013 angka kematian ibu yang tercatat di Kabupaten Pekalongan berdasarkan laporan dari bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan kabupaten Pekalongan

Hasil penelitian merekomendasikan bahwa variasi campuran yang paling baik untuk menghasilkan adukan campuran papercrete berkinerja terbaik jika dilihat dari

Menyatakan bahwa Karya Ilmiah atau Skripsi saya yang berjudul Strategi Pengelolaan Pariwisata Alam Sumber Maron Berbasis Masyarakat (Studi Desa Karangsuko Kecamatan

Hasil analisis korelasi memperlihatkan bahwa dari 61 variabel yang teridentifikasi pada awal penelitian hanya terdapat 33 variabel yang berpengaruh pada tingkat risiko terhadap

Program ini dilakukan sebagai usaha untuk memperpanjang usia simpan arsip, dan melestarikan arsip yang masih utuh maupun arsip yang fisiknya sudah rusak terutama

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk optimasi penentuan sumber nitrogen yang paling baik digunakan pada media tumbuh mikroalga yang akan menghasilkan rendemen