• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Pembiayaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

Program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri pedesaan menyediakan dana langsung dari pusat (APBN) dan daerah (APBD) yang disalurkan ke rekening kolektif desa di kecamatan. Masyarakat desa dapat mempergunakan dana tersebut sebagai hibah untuk membangun sarana dan prasarana penunjang

produktivitas desa, pinjaman bagi kelompok ekonomi untuk modal usaha bergulir, atau kegiatan sosial seperti kesehatan dan pendidikan. Setiap penyaluran dana yang turun ke masyarakat harus sesuai dengan dokumen yang dikirimkan ke pusat agar memudahkan penelusuran. Warga desa, dalam hal ini TPK atau staf Unit Pengelola Kegiatan (TPK) di tingkat kecamatan mendapatkan peningkatan kapasitas dalam pembukuan, manajemen data, pengarsipan dokumen dan pengelolaan uang atau dana secara umum, serta peningkatan kapasitas lainnya terkait upaya pembangunan manusia dan pengelolaan pembangunan wilayah pedesaan.

Dalam pelaksanaannya, pengalokasikan dana bantuan langsung bagi masyarakat (BLM) program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri perdesaan dilakukan melalui skema pembiayaan bersama (cost sharing) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda), seperti yang telah berhasil dilakukan dalam program pengembangan kecamatan (PPK III pada tahun 2005 sampai tahun 2007 dan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM). Besarnya cost sharing ini disesuaikan dengan kapasitas fiskal masing-masing daerah, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 73/ PMK.02/2006 per 30 Agustus 2006.

Melihat kegiatan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri pedesaan yang ditargetkan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat di pedesaan, maka program ini

telah menerima dana hibah yang cukup besar dari sejumlah lembaga dan negara pemberi bantuan. Melalui program pengembangan kecamatan (PPK) dan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) hingga 2007, program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri perdesaan telah menghimpun lebih dari 168,3 dolar AS dalam bentuk trust funds dan hibah dari berbagai Negara atau lembaga penyandang dana. Hibah atau trust funds tersebut merupakan wujud dukungan dan kepercayaan atas keberhasilan program pemberdayaan masyarakat terbesar di Indonesia ini.

Dana bergulir secara khusus untuk pengembangan ekonomi masyarakat dikelola oleh Unit Pengelola Ekonomi hanya dapat digunakan untuk (Sutjiono,2005):(1) pinjaman untuk kegiatan prasarana yang bersifat individual, misalnya untuk perbaikan rumah, pembuatan Toilet dan lain lain. Dana bergulir ini juga dapat digunakan untuk kepentingan lingkungan dan sosial, seperti beasiswa dan pelatihan khusus untuk warga tidak miskin; (2) pinjaman untuk kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang membutuhkan dana untuk kegiatan produktif yang dijalankan oleh para anggotanya.

Adanya program pemerintah untuk mengatasi rendahnya investasi, pengangguran dan kemiskinan, yaitu program pemihakan ekonomi yang bersifat pemberdayaan golongan ekonomi lemah dan pengadaan infrastruktur yang mendukung. Pemihakan pada golongan ini adalah pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Pada masa krisis di tahun 1997/1998, usaha mikro dan kecil dianggap sebagai

katup penyelamat ekonomi Indonesia. Bank menyalurkan dananya berupa kredit ke sektor usaha mikro dan kecil karena memandang adanya peluang bisnis yang besar di sektor ini. (Ade, 2006)

Investasi disebut juga dengan penanaman modal atau pembentukan modal, merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat. Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Beberapa faktor yang menentukan tingkat investasi yang akan dilakukan dalam perekonomian yaitu tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh, suku bunga, ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan, kemajuan teknologi, tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya serta keuntungan yang diperoleh. Investasi yang direncanakan, hanya akan dilaksanakan apabila tingkat keuntungan yang akan diperoleh adalah lebih besar dari suku bunga yang harus dibayar. (Sukirno, 2004)

Pemberdayaan masyarakat mengandung pengertian memihak (targeting), mempersiapkan (enabling), dan melindungi (protecting). Untuk itu diperlukan mitra yang partisipatif dalam memberikan investasi. (Sri, 2007).

Sukirno (2004) mendefinisikan modal sebagai segala barang-barang yang akan diciptakan oleh manusia dengan tujuan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa yang akan digunakan oleh masyarakat. Barang-barang dan jasa yang dihasilkan berguna untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan manusia tersebut.

Keynes berpendapat pentingnya kebijaksanaan stabilisasi harga. Perubahan harga mempunyai efek yang berbeda terhadap tiga golongan utama penduduk, yakni investor (yang menginvestasikan tabungan), pengusaha (enterpreneur), dan penerima upah (tenaga kerja). Secara umum, inflasi akan menyulitkan golongan penduduk pertama, sedangkan deflasi akan menyulitkan golongan kedua dan ketiga. Kebijaksanaan stabilisasi harga diperlukan untuk mengatasi kesulitan yang timbul dari inflasi maupun deflasi. (Nopirin, 2002)

Pendapatan yang diterima dari suatu kegiatan penanaman modal biasanya akan diterima dalam beberapa tahun. Keuntungan yang diperoleh perusahaan dapat diketahui dengan menghitung nilai sekarang pendapatan yang diperoleh di masa depan atau menghitung tingkat pengembalian modal (keuntungan). Cara ini digunakan perusahaan-perusahaan untuk menilai kesesuaian dari sesuatu investasi yang akan dilakukan. Suatu investasi dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila nilai sekarang pendapatan di masa depan adalah lebih besar dari pada nilai sekarang modal yang diinvestasikan.

Dengan memisalkan nilai sekarang modal yang diinvestasikan adalah M, penanaman modal dikatakan menguntungkan jika nilai sekarang (NS) lebih besar dari M. Untuk menghitung NS dan M digunakan rumus dibawah ini (Sukirno, 2004) :

     

 

n n r Y r Y r Y r Y NS          1 1 1 1 3 3 2 2 1

    

n n R Y R Y R Y R Y M          1 1 1 1 3 3 2 2 1

Dimana dalam persamaan diatas :

a. NS adalah nilai sekarang pendapatan yang diperoleh antara tahun 1 sehingga tahun n, apabila dimisalkan investasi tersebut didepresiasikan pada tahun n.

b. hingga adalah pendapatan neto (keuntungan) yang diperoleh perusahaan antara tahun 1 hingga tahun n.

3 2 1,Y ,Y

Y Yn

c. r adalah suku bunga.

d. R adalah tingkat pengembalian modal.

Dalam teori ekonomi mikro terdapat suatu konsep yang dikenal dengan teori ekonomi terapan yang dikaitkan dengan teori kebijaksanaan ekonomi. Konsep ekonomi yang dimaksud adalah konsep ekonomi kesejahteraan (welfare economics) . Tugas pokok dari welfare economics adalah membanding-bandingkan berbagai kondisi perekonomian (economic state) untuk menentukan apakah perubahan kondisi perekonomian menjurus ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

Pendapat Klasik, Adam Smith menganggap ekonomi kesejahteraan (welfare

economics) identik dengan teori akumulasi kapital yang bertujuan untuk menciptakan

kesejahteraan. Peningkatan kesejahteraan bisa diperoleh dengan meningkatkan laba. Menurut Smith, cara terbaik untuk meningkatkan laba ialah melakukan investasi, dengan membeli mesin-mesin dan peralatan canggih. Dengan mesin-mesin dan peralatan yang lebih canggih maka produktivitas labor akan semakin meningkat. Peningkatan produktivitas labor ini berarti peningkatan produksi perusahaan. Karena Smith menganggap pentingnya akumulasi kapital bagi pembangunan ekonomi, maka

sistem yang dianut Smith disebut sistem liberal (karena memberikan keleluasaan yang besar bagi setiap individu untuk bertindak dalam perekonomian, juga disebut sistem ekonomi kapitalisme (karena sangat menekankan arti akumulasi kapital dalam pembangunan ekonomi). (Cornelis, 2005)

Dalam mengembangkan konsep pemberdayaan ekonomi rakyat terdapat dua strategi. Strategi pertama, adalah memberi peluang agar masyarakat dapat tetap maju. Strategi kedua, memperdayakan (enpowerment) sektor ekonomi mikro, kecil dan menengah dengan memperkuat potensi atau daya yang mereka miliki, misalnya membuka akses pada berbagai peluang usaha yang menjadikan mereka makin berdaya, dan penyediaan berbagai masukan dan fasilitas usaha mereka (misalnya, akses dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, akses pada modal, informasi, teknologi baru dan lapangan kerja).

2.3. Pembiayaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan Bagi Usaha Mikro Dan Kecil

Pengertian usaha kecil pada dasarnya mengacu pada undang-undang Republik Indonesia nomor 9 tahun 1995 tentang usaha kecil yaitu kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Di dalam pasal tersebut usaha kecil meliputi juga usaha kecil informal dan usaha kecil tradisional. Pengertian usaha kecil informal adalah usaha kecil yang belum terdaftar, belum tercatat dan belum berbadan hukum, antara lain petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima dan

pemulung. Usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun temurun yang berkaitan dengan seni dan budaya yang dimiliki dan menghidupi sebagian besar rakyat. Usaha informal dan tradisional ini cenderung dilihat dengan emosional, bukan rasional. Ketika perekonomian berjalan baik, tidak banyak orang yang mau memperhatikan sektor informal ini. Situasi tersebut berubah setelah terjadi krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an (Priyono,2004). Muncul kesadaran bahwa landasan perekonomian yang dibangun dengan konglomerasi ternyata sangat rapuh. Hal tersebut membuat orang mulai berpaling pada sektor informal.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang disebut usaha mikro ialah usaha yang dilakukan orang miskin atau hampir miskin, milik keluarga, sumber daya lokal dan teknologi sederhana. Lapangan usaha mudah dimasuki dan keluar, dengan jumlah tenaga kerja di bawah 3 orang.

Pembiayaan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri pedesaan bagi usaha mikro dan kecil diberikan kepada pedagang dan pengusaha kecil atau rumahtangga lokal, yang mana selain mendapatkan pinjaman juga berpartisipasi dalam kegiatan simpan pinjam.

Usaha mikro dan kecil masih memiliki banyak permasalahan yang perlu mendapatkan penanganan dari otoritas untuk mengatasi keterbatasan akses kredit atau sumber permodalan lain dan akses pasar. Usaha mikro dan kecil diarahkan untuk mengkoreksi kesenjangan antara usaha besar dengan usaha mikro dan kecil, sehingga

sifatnya adalah tambal-sulam. Padahal seperti kita ketahui bahwa berlakunya kebijakan yang bersifat tambal-sulam membuat tidak adanya kesinambungan dan konsistensi dari peraturan dan pelaksanaannya, sehingga tujuan pengembangan usaha mikro dan kecil pun kurang tercapai secara maksimal. Salah satu pembenahan utama yang diperlukan adalah dari aspek regulasinya. (Sri, 2007).

2. 4. Sasaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan

Dokumen terkait