BAB III. PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE
D. Pembibitan Mangrove
Sebelum melakukan rehabilitasi atau restorasi, maka perlu penyediaan bibit mangrove yang akan ditanam. Adapun tahapan penyiapan bibit mangrove adalah sebagai berikut.
1. Pembuatan Bedeng
a.Tahap pertama dalam pembuatan pembibitan aadalah pembuatan bedeng
b. Lokasi pembuatan bedeng, dipilih yang berdekatan dengan lokasi penanaman mangrove. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengiriman bibit mangrove pada saat penanaman.
c. Perhatikan tentang kondisi lingkungan, seperti tipe pasang surut di lokasi bedeng. Informasi mengenai kondisi pasang surut yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga sirkulasi air dan agar bedengan tidak tergenang air.
d. Bedeng bisa dibuat dengan berbagai macam tipe, disesuaikan dengan kondisi, situasi, budaya setempat dan tentunya biaya yang dimiliki. Pembangunan bedeng persemaian untuk menyemaikan benih – benih mangrove.
e.Terdapat 3 tempat persemaian, yaitu dua buah bedeng dan satu buah tempat persemaian mangrove.
f. Pemeliharaan bibit dalam bedeng dilakukan untuk menghindari pemangsaan bibit mangrove misalnya oleh kepiting
g. Sebagai naungan, bisa digunakan daun kelapa dan atau bahan penutup lainnya. Bibit – bibit mangrove tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan mengakibatkan kematian bibit mangrove yang sedang disemaikan.
h. Persemaian dapat juga dilakukan tanpa bedeng, dengan cara benih langsung disemaikan di bawah pohon induknya, yang penting bibit – bibit mangrove harus tertutup dari sinar matahari secara langsung.
Bedengan pembibitan mangrove dibuat
di dekat lokasi penanaman Foto : Hendra Gunawan
2. Pengambilan benih mangrove.
Benih diambil dari pohonnya secara langsung. Buah – buah mangrove dari jenis Rhizopora dan Avicennia, terletak bervariasi di ketinggian yang berbeda. Buah Rhizopora yang diambil adalah buah yang sudah matang, yang ditandai dengan adanya cincin kuning dibagian propagulnya. Propagul adalah buah Vivipar yaitu biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya dan kecambah telah keluar dari buah. Untuk propagul yang belum muncul cincin kuningnya, tidak diambil karena belum bisa disemaikan.
Pengumpulan propagul Rhizophora untuk benih pembuatan bibit.
Foto : Hendra Gunawan
Gambar di atas adalah propagul Rhizopora. Bagian – bagiannya adalah tangkai, kelopak buah, plumula (bakal buah), buah, keping buah, hipokotil dan radikula. Plumula adalah bakal daun yang tertutupi oleh keping buah. Selanjutnya, keping buah bisa dijadikan indikator bagi pemasakan buah. Apabila warna keping buah berubah menjadi kuning atau coklat, maka buah Rhizopora telah masak. Demikian juga dengan jenis-jenis lainnya, juga akan menunjukkan ciri-ciri kematangan buah yang sama.
3. Perlakuan Benih
a. Setelah diambil dari sumbernya, buah mangrove kemudian diletakkan di tempat yang terlindung, bisa di bedeng atau di pohon induknya.
b. Bibit mangrove kemudian diberikan perlakuan sehingga pada saat disemaikan bisa mencapai daya hidup yang maksimal.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
28
29
D. Pembibitan Mangrove
Sebelum melakukan rehabilitasi atau restorasi, maka perlu penyediaan bibit mangrove yang akan ditanam. Adapun tahapan penyiapan bibit mangrove adalah sebagai berikut.
1. Pembuatan Bedeng
a.Tahap pertama dalam pembuatan pembibitan aadalah pembuatan bedeng
b. Lokasi pembuatan bedeng, dipilih yang berdekatan dengan lokasi penanaman mangrove. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengiriman bibit mangrove pada saat penanaman.
c. Perhatikan tentang kondisi lingkungan, seperti tipe pasang surut di lokasi bedeng. Informasi mengenai kondisi pasang surut yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga sirkulasi air dan agar bedengan tidak tergenang air.
d. Bedeng bisa dibuat dengan berbagai macam tipe, disesuaikan dengan kondisi, situasi, budaya setempat dan tentunya biaya yang dimiliki. Pembangunan bedeng persemaian untuk menyemaikan benih – benih mangrove.
e.Terdapat 3 tempat persemaian, yaitu dua buah bedeng dan satu buah tempat persemaian mangrove.
f. Pemeliharaan bibit dalam bedeng dilakukan untuk menghindari pemangsaan bibit mangrove misalnya oleh kepiting
g. Sebagai naungan, bisa digunakan daun kelapa dan atau bahan penutup lainnya. Bibit – bibit mangrove tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan mengakibatkan kematian bibit mangrove yang sedang disemaikan.
h. Persemaian dapat juga dilakukan tanpa bedeng, dengan cara benih langsung disemaikan di bawah pohon induknya, yang penting bibit – bibit mangrove harus tertutup dari sinar matahari secara langsung.
Bedengan pembibitan mangrove dibuat
di dekat lokasi penanaman Foto : Hendra Gunawan
2. Pengambilan benih mangrove.
Benih diambil dari pohonnya secara langsung. Buah – buah mangrove dari jenis Rhizopora dan Avicennia, terletak bervariasi di ketinggian yang berbeda. Buah Rhizopora yang diambil adalah buah yang sudah matang, yang ditandai dengan adanya cincin kuning dibagian propagulnya. Propagul adalah buah Vivipar yaitu biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya dan kecambah telah keluar dari buah. Untuk propagul yang belum muncul cincin kuningnya, tidak diambil karena belum bisa disemaikan.
Pengumpulan propagul Rhizophora untuk benih pembuatan bibit.
Foto : Hendra Gunawan
Gambar di atas adalah propagul Rhizopora. Bagian – bagiannya adalah tangkai, kelopak buah, plumula (bakal buah), buah, keping buah, hipokotil dan radikula. Plumula adalah bakal daun yang tertutupi oleh keping buah. Selanjutnya, keping buah bisa dijadikan indikator bagi pemasakan buah. Apabila warna keping buah berubah menjadi kuning atau coklat, maka buah Rhizopora telah masak. Demikian juga dengan jenis-jenis lainnya, juga akan menunjukkan ciri-ciri kematangan buah yang sama.
3. Perlakuan Benih
a. Setelah diambil dari sumbernya, buah mangrove kemudian diletakkan di tempat yang terlindung, bisa di bedeng atau di pohon induknya.
b. Bibit mangrove kemudian diberikan perlakuan sehingga pada saat disemaikan bisa mencapai daya hidup yang maksimal.
4
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
30
31
c. Buah mangrove yang ditemukan di lapangan biasanya terdiri dari dua tipe, yaitu tipe propagul dan tipe buah bulat. Tipe propagul berbentuk bulat – lonjong – memanjang dan tipe buah bulat berbentuk bulat dengan variasi bulat lancip seperti pada jenis Avicennia dan bulat penuh yang terdapat pada Sonnerita .
d. Setelah dipetik dari lapangan, kemudian direndam kurang lebih 2 hari atau menyesuaikan dengan jarak waktu antara pembibitan dan penanaman, kemudian disemaikan di bedeng. Perendaman ini berfungsi untuk menghilangkan bau manis pada benih, yang disukai oleh kepiting, sehingga pada saat disemaikan, pemangsaan benih oleh kepiting bisa dikurangi.
Jenis propagul (berbentuk panjang) dan buah (bulat) Foto : https://www .mangrovesforthefuture.or g 4. Pembibitan Mangrove
a. Alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu polybag (polybag kecil untuk benih berukuran kecil, seperti Avicennia spp, Sonneratia spp, dan Ceriops spp. Polybag besar untuk benih Rhizopora spp dan Bruguiera spp). Polybag memiliki lubang di bagian samping dan bawahnya, yang berguna untuk sirkulasi air dan udara, Benih mangrove berbagai jenis, cetok, dan lumpur (Lumpur yang digunakan sebaiknya diambil dari sekitar lokasi penanaman, untuk meningkatkan ketahanan hidup benih sewaktu pembibitan)
b. Tahapan membuat bibit adalah sebagai berikut :
(1) Ambil polybag, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng.
(2) Isi poly bag dengan lumpur, ¾ dari isi polybag.
(3) Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, kristal–kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih mangrove.
(4) Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi
baik ke dalam lumpur (sedimen) dengan kedalaman yang cukup.
(5) Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia
ke dalam polybag kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera ke dalam polybag yang berukuran besar.
(6) Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan
benih – benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah pengiriman pada saat
pengambilannya di tahap penanaman mangrove.
Poster berikut ini menggambarkan proses penyiapan bibit mangrove.
4
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
30
31
c. Buah mangrove yang ditemukan di lapangan biasanya terdiri dari dua tipe, yaitu tipe propagul dan tipe buah bulat. Tipe propagul berbentuk bulat – lonjong – memanjang dan tipe buah bulat berbentuk bulat dengan variasi bulat lancip seperti pada jenis Avicennia dan bulat penuh yang terdapat pada Sonnerita .
d. Setelah dipetik dari lapangan, kemudian direndam kurang lebih 2 hari atau menyesuaikan dengan jarak waktu antara pembibitan dan penanaman, kemudian disemaikan di bedeng. Perendaman ini berfungsi untuk menghilangkan bau manis pada benih, yang disukai oleh kepiting, sehingga pada saat disemaikan, pemangsaan benih oleh kepiting bisa dikurangi.
Jenis propagul (berbentuk panjang) dan buah (bulat) Foto : https://www .mangrovesforthefuture.or g 4. Pembibitan Mangrove
a. Alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu polybag (polybag kecil untuk benih berukuran kecil, seperti Avicennia spp, Sonneratia spp, dan Ceriops spp. Polybag besar untuk benih Rhizopora spp dan Bruguiera spp). Polybag memiliki lubang di bagian samping dan bawahnya, yang berguna untuk sirkulasi air dan udara, Benih mangrove berbagai jenis, cetok, dan lumpur (Lumpur yang digunakan sebaiknya diambil dari sekitar lokasi penanaman, untuk meningkatkan ketahanan hidup benih sewaktu pembibitan)
b. Tahapan membuat bibit adalah sebagai berikut :
(1) Ambil polybag, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng.
(2) Isi poly bag dengan lumpur, ¾ dari isi polybag.
(3) Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, kristal–kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih mangrove.
(4) Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi
baik ke dalam lumpur (sedimen) dengan kedalaman yang cukup.
(5) Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia
ke dalam polybag kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera ke dalam polybag yang berukuran besar.
(6) Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan
benih – benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah pengiriman pada saat
pengambilannya di tahap penanaman mangrove.
Poster berikut ini menggambarkan proses penyiapan bibit mangrove.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
32
33
5. Pembuatan Pemecah Gelombang
Dilakukan setelah tahap pembibitan, untuk melindungi bibit – bibit mangrove yang telah ditanam di lokasi penanaman. Mangrove, baru bisa berfungsi sebagai penahan abrasi, setelah berumur kurang lebih 5 tahun, disaat akarnya telah kuat, sehingga mampu mengurangi kekuatan gempuran gelombang.
1. Hal yang harus diperhatikan sebelum penanaman adalah :
(a) Faktor lingkungan yang harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman mangrove antara lain adalah tipe tanah, salinitas (kadar garam), suhu, ketinggian tanah, pH, musim dan saluran air.
(b) Substrat (tanah) untuk penanaman mangrove harus sesuai dengan jenis mangrove yang akan ditanam. Secara sederhana, pada lahan yang berlumpur, jenis Rhizopora adalah jenis mangrove yang tepat untuk ditanam. Avicennia dan Sonneratia menyukai tanah berpasir yang berada di pinggiran pantai. Jenis mangrove lainnya seperti Ceriops dan Bruguiera bisa hidup bervariasi di substrat lumpur berpasir. Salinitas juga perlu diperhatikan, karena mangrove hidup pada salinitas yang bervariasi.
(c) Penanaman mangrove dengan mempergunakan bibit mangrove akan memiliki tingkat hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan propagul, karena bibit mangrove lebih mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
(d) Penggunaan propagul sebagai “bahan baku” penanaman mangrove, meskipun memiliki daya adaptasi yang lebih tinggi, tetapi tidak demikian dengan daya tahannya terhadap gelombang.
(e) Penanaman bibit mangrove harus dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Hal ini dilakukan mengingat pada kondisi alami, mangrove memang membentuk hutan murni yang berarti ditemukan secara berkelompok sesuai dengan jenisnya.
(f) Penanaman mangrove sebaiknya dilakukan pada saat air laut surut. Namun demikian, apabila keadaan tidak memungkinkan, maka penanaman mangrove bisa tetap dilaksanakan pada saat air tergenang dengan syarat pada saat melakukan penanaman akar bibit benar – benar tertancap dengan baik di tanah dan terikat kuat di tiang penyangganya (ajir).