Terima kasih pimpinan. Saya B-52 dari Jawa Tengah.
Saya sepakat dengan Pak Rahmat bahwa sebetulnya pencabutan subsidi itu bisa dilakukan kalau ada perampingan dari pemerintah. Saya juga melihat bahwa lifestyle dari pemerintah itu dengan belanja yang sangat besar, pengembangan-pengembangan ada wakil menteri dan lain-lain yang menurut saya tidak efisien. Kalau saja pemerintah itu lebih efisien saya kira rakyat tidak perlu lagi dikurangi. Karena apalagi dengan tidak transparannya hasil-hasil dari minyak bumi kita, karena Undang-Undang Migas belum tergantikan saya kira sebetulnya kita tidak perlu mencabut subsidi. Itu saja. Terima kasih.
83. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Terima kasih. Ibu Aida? Jangan ada pengulangan ya, coba di tambah.
84. PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM.
(KEPULAUAN RIAU)
Iya, saya hanya ingin disini kalau boleh saya mengusulkan kita jangan terlampau cepat untuk mengambil keputusan. Maksud saya begini, apakah mungkin kita mendapatkan sandingan kebaikan dan keburukannya. Karena dengan subsidi yang diberikan kepada orang kaya juga itu mengganggu pikiran kita. Jangan kita hanya sekedar kita mendapatkan nama di
daerah tapi kemudian keputusan itu merugikan rakyat secara lebih besar. Jadi supaya kita lebih berhati-hati. Itu menurut pendapat saya.
85. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Ibu Sarah, silakan.
86. PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT)
Baik pimpinan, saya dalam posisi komite menolak. Tetapi bukan berarti saya tidak melihat argumentatif yang ada. Apa yang disampaikan Pak Rahmat dan Ibu Poppy itu sudah ada di dalam pertimbangan kami. Itu kan tidak, kami tidak buta. Kami melihat berbagai dari tahun ke tahun tiga tahun di DPD dan itu menjadi alat kritisi kami dari waktu ke waktu. Efisiensi. Malah ada yang paling revolusioner kami minta sebelum dinaikkan cobalah ikuti langkah-langkah, kalau satu ini sampai pada renegosiasi ulang waktu pertambangan dan lain-lain. Kami unjukan bukan tidak, lengkap. Maka itu waktu yang singkat kalau dikasih baca nanti itu menjadi bias. Sekarang kita sepakat saja Pak, mau dibawa kemana paripurna ini, kita tunggu saja, tapi substansinya sebenarnya dibaca yang baik-baik baru di komentari. Terima kasih.
87. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik Ibu Juniwati. Sebentar, sebentar, yang belum ya, kita hargai juga dong teman-teman kita, jangan kita monopoli juga. Mohon, yang belum nanti.
88. PEMBICARA : Dra. Hj. JUNIWATI T. MASJCHUN SOFWAN (JAMBI)
Terima kasih pimpinan. Menurut hemat saya sidang paripurna ini pada saat ini juga mengambil keputusan. Kalau ditunda-tunda masyarakat kita di daerah lah yang akan mengalami kesulitan. Tadi kita sudah dengar segudang informasi secara akademis apakah dinaikkan atau tidak dinaikkan. Rakyat tidak tahu itu. Yang mereka tahu adalah dengan kenaikan harga BBM ini akan mempunyai multiplayer effect terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Jadi saya setuju Pak Irman harus berani, bukan saja kita di depannya kita juga disampingnya. Terima kasih.
89. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Silakan Pak Gazali.
90. PEMBICARA : MUHAMMAD GAZALI, Lc. (RIAU)
Terima kasih Ketua. Terima kasih. B-16 dari Riau Muhammad Gazali. Walaupun yang hadir saya sendiri Pak Ketua, tapi saya menyimak dan pertama kalinya saya sampaikan adalah apresiasi secara pribadi B-16 kepada Komite IV. Usaha dan kerja keras, dan ternyata yang disampaikan salah satu ketua tadi dan juga anggotanya bahwa dalam memberikan laporan ini sangat mengeluarkan banyak tenaga dan perhatian. Makanya yang pertama adalah apresiasi kami kepada Komite IV. Terima kasih.
Yang kedua adalah agar tidak berpanjang-panjang lagi kita ini kita kurang senang berpanjang-panjang, agar kita segera putuskan bahwa DPD RI kami mengusulkan dari B-16 Ketua bahwa DPD RI menolak kenaikan BBM. Terima kasih Ketua.
91. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Sebentar dulu, sebentar dulu, coba Pak Fatwa. Coba mohon ya, kita beri juga ruang buat kita. Saya setuju bagus-bagus nih, silakan, itu kan pandangan. Silakan Pak Fatwa.
92. PEMBICARA : Drs. H. A. M. FATWA (DKI JAKARTA)
Bismillahirrohmanirrohim.
Saudara Ketua dan saudara-saudara anggota yang terhormat. Saya kira pembahasan sudah lebih dari cukup, sangat mendalam, jadi tinggal keputusan politiknya. Keputusan politiknya itu tentu bukan sekedar setuju atau tidak. Tapi yang terpenting itu adalah pertimbangan-pertimbangannya. Apakah mau dinamakan itu keputusan sela atau
minderheidsnota, itu yang terpenting. Kalau cuma setuju, menolak atau setuju itu seperti
burung beo saja kita. Jadi yang penting pertimbangannya. Dan pertimbangannya itu sudah sangat-sangat kuat diberikan oleh Komite IV. Terima kasih.
93. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Iya, baik. Silakan.
94. PEMBICARA : Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, SH. (KALSEL)
Iya, Sofwat Hadi Pak.
Saya mungkin menambahkan apa yang disampaikan oleh Pak Fatwa. Apa yang disusun dirumuskan dalam Rancangan Undang-Undang tentang APBN 2012 ini tentang perubahan itu sudah pengurangan BBM, pengurangan subsidi BBM. Andaikan pengurangan subsidi BBM itu ditolak atau harga BBM ditolak, berarti voting kita adalah menolak perubahan APBN apa mau menerima perubahan APBN? Itu masalahnya. Karena pertimbangan kita ini sangat banyak, begitu. Karena walaupun kelihatanya kecil tapi akan mengakibatkan semuanya bubar, berarti perubahan itu kita tolak. Ini yang menjadi masalah. Makanya kalau memang mau memperbaiki pertimbangan kita, misalnya ada 10 pertimbangan ada satu point itu saja kita bagaimana redaksinya yang baik begitu.
Kemudian saya belum paham ini soal Tatib kalau kita voting dengan jumlah anggota yang tidak mencapai kuorum bagaimana? Mungkin rapat bisa dilanjutkan, tapi kalau mengambil voting itu saya juga mohon kejelasan di dalam Tatib.
95. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, saya rasa sudah cukup ya. Coba Pak Rahmat sedikit.
96. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)
Sedikit saja Ketua. Saya pikir apapun nanti sikap kita yang kelihatan dari pandangan banyak menolak, ini menjadi pengalaman pahit pemerintah. Yang pasti apa yang kita berikan ini adalah yang murni tanpa pamrih dari DPD. Saya hanya sedikit saja Ketua, kita contoh saja Turki, satu persen pun dia tidak ada subsidi tapi pengangkutan bus, train, taxi, aman, tertib, murah, jadi bisa mengatasi masa lalu. Jadi mungkin dari pelajaran kali ini pemerintah bisa mengkaji dan mengambil suatu sikap yang nantinya tidakpun sama sekali di subsidi minyak itu masyarakat ini menerima. Artinya sakit pemerintah sakit masyarakat semua,
senang pemerintah senang masyarakat semua, begitu. Jangan sebagian saja bisa foto-foto di lapangan golf, begitu. Terima kasih.
97. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, sekarang kita kembalikan ke pimpinan Komite IV, silakan. Cukup ya yang lain ya, saya rasa sudah paham ini. Kita beri kesempatan pimpinan Komite IV.
98. PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, ST., MT. (KETUA KOMITE IV)
Baik, saya kira saya tidak bisa lebih banyak dari apa yang sudah kita berikan pertimbangan di sini. Tetapi dalam konteks argumen-argumen semuanya sudah kita sampaikan di sini, dan dimana letak diskusi kita juga sudah kita paparkan. Nah kemudian tidak dalam posisi sebagai Ketua Komite IV tapi sebagai pandangan personal saya, kalau kita menerima atau menolak tentu saja dengan argumen-argumen. Dan kalau kita katakanlah menolak juga harus ada alternatif-alternatifnya, karena persoalan ini persoalan yang sudah di depan mata, begitu. Jadi kalau misalnya kita hanya mengatakan itu kita tolak, kemudian apa alternatifnya? Nah ini harus kita rumuskan dengan baik kalau itu ditolak. Tentu saja itu juga membutuhkan waktu dan membutuhkan, mungkin tim barulah yang diluar Komite IV, karena Komite IV mekanismenya sudah sampai pada keputusan seperti itu. Tim baru ini tim apa, kemudian diberi batas waktu supaya dia memberikan argumen-argumen penolakan itu secara, ini penolakan kelembagaan ya, bukan penolakan secara emosi-emosi secara sepintas, begitu. Artinya kan tidak lucu kalau misalnya DPD menolak, terus kenapa? Iya pokoknya kita tolak, terus alternatifnya apa? Iya sudah terserah pemerintah pikir sendiri. Saya kira ini bukan cara berpikir.
99. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)
Saya interupsi ini Ketua. Artinya kita menolak disuruh pemerintah itu belajar ke negara yang tidak kasih subsidi sama sekali kok bisa rakyatnya sejahtera begitu, belajar begitu. Itu, terima kasih.
100. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)
Alasan menolak demo-demo banyak
101. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Mohon dihormati ya, ini serius.
102. PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, S.T., M.T (KETUA KOMITE IV)
Artinya silakan saja nanti dibuat alasan-alasan dari tim, tim yang akan mebuat penolakan itu. Tim yang membuat penolakan itu ya nanti kita paripurnakan lagi. Sehingga memang itu akan menjadi keputusan dari kelembagaan, kalau memang kita mengarah kepada itu. Saya kira perlu ada revisi-revisi, karena memang basis dari pertimbangan kita ini adalah diskusi tentang subsidi kemarin. Nah begitu subsidi itu akhirnya dengan diskusi yang panjang kita harus mengambil kebijakan itu di Komite IV. Kalau itu sudah di, katakanlah tidak diterima, ya berarti seluruh yang di belakang ini asumsinya sudah berbeda semua begitu. Saya kira itu yang menjadi pertimbangan. Terima kasih
103. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Coba dijelaskan bagaimana mekanisme dengan DPR ini soal pertimbangan, jadwalnya apa, ini kan, coba.
104. PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, S.T., M.T (KETUA KOMITE IV)
Kalau undang-undang memang mengatur bahwasanya pertimbangan dari DPD itu harus diberikan paling lambat 14 hari sebelum diputuskan. DPR itu sudah memberi jadwal kepada kita APBN-P direncanakan diputuskan pada tanggal 29 Maret. Artinya ini sudah hari terakhir yang memang harus kita putuskan. Saya kira begitu.
105. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Jadi Bapak-Ibu sekalian, kan padangan pendapatnya kan sudah dalam ya. Tapi kan kita yang mewakili aspirasi kita melalui Komite IV juga, sama sebenarnya, di Panmus juga sama. Cuma barangkali kan kita tidak punya waktu yang lama untuk membahas ini dengan dalam. Karena memang ini suratnya baru masuk 4 hari yang lalu juga. Jadi bekerjalah siang-malam, makanya kita adakan rapat ini khusus untuk membahas RAPBN. Seperti yang disampaikan Pak Cholid tadi, apa yang disampaikan teman-teman tadi itu ada didalam ini. Tidak mungkin, ada teman-teman, tidak usah saya sebutkan namanya ya, sudah berdebat juga habis-habisan, ini disini ada Pak Litha Brent semuanya. Jadi apa yang disampaikan itu sama. Cuma barangkali ini yang penting bagaimana ini disajikan dengan bahasa yang lebih sederhana kemudian itu kita sampaikan ke publik supaya kesannya itu satu tidak ambiguity, seolah-olah kita juga mendukung atau apa tidak, tidak, banyak catatan disini, itulah pertimbangan. Ini mohon harapan saya apa yang telah dihasilkan, bahkan Pak Tonny Tesar ini mantan Ketua Komite IV mengakui betul ini. Dan juga ada juga mengenai Undang-Undang Susduk bahwasa hari ini harus kita berikan. Kalau tidak ya dia lewat tidak jadi apa-apa, begitu loh. Tapi kalau ini kita masukan hari ini, masukan teman-teman nanti akan dibawa oleh pimpinan Komite IV untuk ini bicara dengan Panitia Anggaran dan Komisi XI dan Pemerintah untuk membahas ini, masih ada ruang untuk itu.
106. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Interupsi pimpinan, mohon maaf pimpinan, B-125, mohon maaf pimpinan, saya interupsi
107. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Sebentar dulu, saya belum selesai.
108. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Mohon maaf pimpinan saya interpsi. Ini kita diarahkan seperti arahan teman-teman harus ada mekanisme pengambilan keputusan politik. Mohon maaf pimpinan. Kecenderungan saya membaca pimpinan, mohon maaf ini, ini perspektif saya, kecendrungan saya membaca pimpinan ini seakan-akan kita hadir paripurna hanya untuk melegalisasi hasil kerja Komite IV. Kalau itu yang kita lakukan ngapain kita buat paripurna. Kita mencari keputusan politik pada forum paripurna ini. Mohon maaf pimpinan, itu perspektif saya membaca pimpinan tentang laporan Komite IV. Pandangan teman-teman hampir semuanya
tadi mengatakan kita harus punya sikap terhadap posisi BBM mempengaruhi APBN-P. Kalau kita tidak mempunya sikap politik disitu ya tidak ada artinya. Kalau kami juga mau pada akhirnya keputusan politik kita, kemudian pada akhirnya kita menganggap apa yang dilakukan, kami semuanya menghargai kajian Komite IV. Kalau pada akhirnya kita hadir disini hanya untuk melegalisasi itu lain kali lebih baik kita tidak usah laporan buat paripurna hanya untuk mendengarkan pandangan-pandangan itu. Kami mengerti, kami mempelajari tata tertib mekanisme pengambilan keputusan di DPD. Itu saja pimpinan. Terima kasih
109. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, itu yang kita lakukan sekarang. Jadi beberapa catatan tadi itu, itu bagian yang tidak terpisahkan daripada sebuah keputusan. Itu juga keputusan, begitu loh, jangan dihadapkan pada pilihannya setuju atau tidak. Jadi apa yang disampaikan tadi itu terekam jelas, ada pandangan dari Pak Bambang Suroso dengan minderheidsnota, ada pandangan dari Asri, itu dicatat Pak Asri, minderheidsnota. Ini yang kita rumuskan, kita minta nanti pimpinan Komite IV untuk dengan catatan itulah yang kita sempurnakan. Dan inilah yang kita serahkan, begitu. Jadi bukan tidak ada, tidak usah kita berdebat dululah, saya selesaikan dulu, saya juga paham mekanisme ini juga. Jangan juga kita mengarahkan, saya hanya ingin meluruskan. Bukan sekedar, saya tidak mau ingin jadi populer, tapi saya ingin mendudukan persoalan itu pada kontekstual. Coba dibaca betul ini
110. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Pak Irman, interupsi Pak Irman.
111. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Sebentar dulu jangan diinterupsi dulu ya. Baca ini dulu. Jangan kita langsung tanpa belum baca apa yang telah dihasilkan, itu mewakili kita, begitu.
112. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Interupsi pimpinan. Tolong pimpinan menawarkan kepada paripurna bagaimana posisi kita untuk mengambil pandangan Komite IV. Kalau hanya posisi kami untuk menyampaikan itu dan direkam dan itu menjadi alat notulensi, bukan disitu. Saya memiliki konstituen yang menuntut saya untuk mengambil sikap tentang ini. Kalu kita tidak memiliki sikap, mohon maaf pimpinan, pandangan saya alur yang disampaikan pimpinan itu bukan untuk pada posisi untuk mengambil sikap politik kita. Penting pimpinan, begitu. Ini bukan, sekali lagi, bukan persoalan terjebak antara populer dan tidak populer, bukan disitu konteksnya.
113. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, saya terima argumennya. Tapi juga, jangan kita ini dulu dong, kita harus hargai juga apa yang telah disampaikan disini.
114. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)
Pak Irman interupsi Pak Irman. Diluar Pak Irman dari Sabang sampai Merauke rakyat menanti keputusan kita Pak tentang BBM ini, rakyat menanti. Seandainya disorot hari ini
oleh media massa dan media televisi barangkali kelihatan Pak. Tapi hati nurani mereka, saya tiap minggu pulang kekampung didemo habis-habisan fungsinya ambil keputusan Pak Adhariani di paripurna nanti, tolong perjuangkan ini. Sebagai anggota DPD saya punya beban moral Pak kalau tidak disampaikan ini. Nah sekarang kondisinya kawan-kawan juga ingin keputusan itu, keputusan itu saja Pak, jadi kita harus berani. Tidak ada keputusan politik, keputusan politik DPD tentang BBM ini. Bagaimana keputusan kita? Itu saja saya minta.
115. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, saya kan belum selesai. Silakan Ibu Sarah.
116. PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT)
Terima kasih pimpinan. Hari ini pertimbangan kami agenda sidang paripurna adalah mempertimbangkan RAPBN-P 2012 bukan sekedar pada topik BBM atau subsidi. Saya kembali posisi saya tetap menolak bukan tidak. Tetapi saya hanya ingin meluruskan konteksnya adalah agenda hari ini pertimbangan RAPBN-P, bukan sekedar pada BBM dan subsidi. Kalau memang kita menolak BBM dan subsidi artinya kita harus segera mencoba untuk merubah struktur dan postur APBN dan itu yang dibilang oleh Pak Ketua Komite IV. Kita tidak bisa dalam satu hari Pak, kita baca saja sulit. Kita butuh waktu untuk melakukan itu apalagi dikejar dengan Undang-Undang MD3 14 hari. Mari kita berpikir positif. Kita mau voting saat ini untuk BBM dan subsidi? Harus ambil keputusan tapi diluar dengan keputusan RAPBN. Karena pertimbangan kita ini RAPBN yang salah satu memang kuncinya adalah BBM dan subsidi. Saya tidak membela teman-teman yang pro, tetapi mari kita lihat ini lebih positif. Terima kasih
117. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, iya, Ibu Juniwati.
118. PEMBICARA : Dra. Hj. JUNIWATI T. MASJCHUN SOFWAN (JAMBI)
Yang ingin saya sampaikan ini kan sidang paripurna, ini sebuah lebaga politik. Yang ditunggu rakyat sekarang adalah bagaimana keputusan politik DPD terhadap kenaikan BBM. Kami paham tadi apa yang disampaikan bahwa sidang ini adalah untuk memberikan pertimbangan atas RAPBN-P. Namun tidak juga bisa lepas, RAPBN-P ini kan juga oleh karena adanya kenaikan BBM. Jadi itu berkaitan tidak sendiri-sendiri. Jadi saya berharap pada hari ini juga. Kalau kita bikin tim lagi itu akan memakan waktu, pada tanggal 1 April itu sudah akan naik. Segelah kita membuat keputusan hari ini. Saya berharap pimpinan itu berani. Terima kasih.
119. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Sebentar dulu, Ibu Erma ya.
120. PEMBICARA : ERMA SURYANI RANIK, SH. (KALBAR)
Terima kasih pimpinan. Sesuai mekanisme Tatib agenda sidang kita hari ini adalah mendengarkan laporan kerja Komite IV terkait RAPBN-P. Kemudian kalau dalam konteks
perkembangan ini ada sebagian teman-teman yang menolak kenaikan BBM, istilahnya itu, kami menyebutnya pengurangan subsidi. Artinya kalau itu terjadi, kalau itu di voting artinya adalah keputusan sidang paripurna kita adalah menolak hasil pertimbangannya Komite IV. Sekarang beri saya satu catatan atau satu solusi bagaimana mekanisme kita didalam kelembagaan negara ini DPD ini, sehingga kita bisa menyelesaikan pertimbangan itu kalau kita sudah menolak pertimbangan Komite IV di paripurna ini. Tentu saja solusi itu mungkin bentuknya Pansus kalau tatib kita mengatur. Mungkin bentuknya apa-apa dan lain-lain. Tetapi satu yang harus Bapak-Ibu ingat bahwa ketika menyebutkan menerima atau menolak kenaikan BBM asumsinya adalah kita harus berubah semua pertimbangan yang sudah dibuat oleh Komite IV, karena angka-angkanya berubah jauh. Lalu kemudian pimpinan saya minta supaya kita ini tegas saja; satu adalah kalau mau di voting, voting saja, tapi pertanyaan saya dengan sebagian besar anggota yang tidak hadir ini, ini mekanismenya politiknya nanti dampak politiknya apa?
Yang kedua, tolong pimpinan siapkan mekanisme baru kalau pertimbangan Komite IV ini ditolak sama sidang paripurna ini tapi kita tidak melanggar undang-undang. Karena DPD ini adalah lembaga resmi negara yang harus mengirimkan pertimbangan ke kamar sebelah. Terima kasih pimpinan
121. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)
Pimpinan, Elnino.
122. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Coba dibantu ya, coba, jangan ditambah-tambah lagi, kita sudah tahulah, saya sudah baca petanya, tapi tolong dibantu cara jalan keluarnya. Silakan Pak Elnino
123. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)
Baik, terima kasih pimpinan. Ini kan kita cuma waktu 1 hari. Artinya kita memberikan keputusan kita. Bahwa ini soal BBM dan APBN-P karena ada BBM, kenaikan harga minya dunia, kan begitu. Maka yang bisa kita lakukan disini adalah secara tegas memutuskan point-pointnya. Yang pertama adalah bahwa misalnya, bahwa DPD menolak kenaikan harga BBM. Nomor duanya, dengan penolakan itu maka struktur APBN-P akan menjadi seperti a, b, c, d dan seterusnya. Nah itu yang menjadi keputusan kita, begitu.
Terima kasih pimpinan.
124. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)
Ijin pimpinan, sedikit saja. B-6 Rahmat Shah.
Begini ketua, coba teman-teman, jangan antara kita jadi suatu ketegangan, kita ingin mengambil suatu keputusan yang baik untuk bangsa yang besar ini ya. Jadi satu, Kita pun tolak mungkin nanti akan disetujui. Maaf ya, kita tolak pun mungkin nanti akan tetap ini jalan disetujui. Tapi kita setujui pun mungkin juga akan ditolak. Jadi tolong sikap kita murni untuk kebaikan daerah diseluruh Indonesia. Itu saja.
125. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik ya. Jadi coba kita rumuskan ya. Begini, ini pertama tentu kita harus kembali ke undang-undang. Ini coba juga kita harus waktu. Ini memang kan yang diberikan kan baru selesai hari ini, dua malam berdebat terus ya di Komite IV. Kita tidak boleh diluar hari ini. Ini penting. Jadi pandangan tadi dalam kerangka itu. Kemudian tadi disampaikan pertimbangan ini kan komprehensif. Ini harus kita pelajari. Kemudian kalau ada hal-hal yang