• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terima kasih pimpinan.

Ini bukan persoalan, teman-teman ini bukan persoalan kita populer atau tidak populer. Kalau itu sudah lewat lah perdebatannya itu, kita duduk di sini dipilih. Saya juga duduk disini dengan suara terbanyak di provinsi saya dan saya bertanya kepada konsituen saya, kan begitu. Dan apa yang di jelaskan, mohon maaf Pak Sofwat, yang di jelaskan Pak Sofwat juga kita paham itu, kita pelajari itu. Pertanyaannya sekarang adalah antara APBN-P dengan subsidi BBM tidak bisa dipisahkan, tidak berdiri sendiri, APBN-P pun dipercepat karena subsidi BBM dibicarakan, kenaikan BBM, kenaikan minyak dunia. Sekarang pertanyaannya adalah, mohon maaf, kita tidak pernah menemukan dari angka-angka APBN-P yang ada sekarang apa komitmen pemerintah untuk memperbaiki pembangunan daerah, pengentasan kemiskinan dan lain sebagainya. Hampir semua belum apa-apa, sekarang hampir seluruh departemen berlomba-lomba kok untuk mendapatkan dana itu. Sekali lagi pimpinan, hampir 1000 triliun itu adalah belanja pusat bukan belanja daerah. Kita tidak melihat postur komitmen pemerintah pusat, mohon maaf pimpinan. Konstituen mengatakan begini "bagaimana kita tidak menolak BBM, presiden-wakil presiden saja jalan hampir lebih 20, itu menggambarkan penghematan atau tidak?" Ini contoh, praktikal, tapi itu riil dirasakan oleh masyarakat kita. Pejabat-pejabat negara tidak memperlihatkan bukti-bukti kesederhanaan, direktur-direktur di seluruh departemen kalau kita masuk hampir semua sudah ada kamar mandi, sudah ada tempat tidur, hampir semua begitu bukan hanya di dalam. Artinya pimpinan, ada masa frustasi rakyat kita melihat kondisi ini. Jangan dikatakan bahwa naiknya BBM itu tidak memberikan multiplayer effect. Hampir seluruh wilayah-wilayah kehidupan

masyarakat kita itu terpengaruh karena kenaikan BBM. Kajian-kajian yang disampaikan oleh Pak Sofwat juga kita pahami kok itu. Kita mengerti berapa hutang beban negara kita, kita mengerti itu.

Sehingga usulan saya pimpinan, rill sekali lagi, dan Komite IV pun mengatakan tadi, teman-teman Komite IV pun mengatakan kita tolak kenaikan harga BBM. Pemerintah tidak memberikan komitmen yang tinggi. Saya berikan contoh pimpinan. Pemerintah tidak pernah mau bicara serius tentang perbankan menurunkan suku bunga perbankan. Pemerintah tidak mau bicara serius tentang menaikkan subsidi harga pupuk, subsidi pupuk, subsidi perumahan murah. Program-program ini tidak pernah berjalan dengan maksimal. Empat program pengentasan kemiskinan yang dijalankan oleh pemerintah tidak pernah naik. Sedangkan PNPM saja yang sangat diakui oleh pemerintah daerah kita itu hanya naik tidak lebih dari 2 persen pertahun. Lalu komitmennya pemerintah dimana? Lalu kita-kita ini untuk memperjuangkan daerah titiknya dimana? Sehingga pimpinan, kalau misalnya teman-teman mengatakan tadi bahwa naiknya ini akan mengurangi lebih 50 triliun, jangan dilupa bahwa itu memberikan multiplayer effect yang lain kepada masyarakat kita. Tidak mungkin banyak pakar-pakar, pengamat dan lain sebagainya bicara juga menolak kenaikan BBM kalau tidak memiliki itu. Tidak mungkin masyarakat kita sekarang bergeliat untuk menolak itu karena kalau tidak ada dampak dari itu juga. Belum bicara kebocoran APBN, belum bicara, luar biasa pimpinan. Inilah saatnya DPD mengambil sikap. Kalau mau membicarakan kapan BBM naik atau tidak kita bicarakan di APBN 2013, baru kita melakukan kajian yang serius, jangan sekarang. Coba liat pimpinan, Departemen Keuangan saja itu caranya instan melakukan, ketika duit kurang yang dia lakukan sangat instant, potong semua lembaga-lembaga negara duitnya, tidak bisa seperti itu. Padahal hampir semua APBN yang ditetapkan di 2012 itu melalui undang-undang dan di kaji. Kalau itu dipotong itu juga tetap akan berdampak terhadap program pemerintah. Sehingga pimpinan, saya tetap bersikap teman-teman juga sudah menyampaikan kenaikan subsidi BBM yang juga mempengaruhi postur APBN-P kita, kita tolak kali ini. Kalau mau membicarakan itu DPD menantang lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif untuk membicarakan langkah-langkah taktis, naikan 2013 baru kita bicarakan, dijawab di APBN 2013. Itu saja pimpinan. Terima kasih.

65. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Silakan, Elnino.

66. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)

Baik, terima kasih pimpinan.

Pimpinan, Ibu-Bapak sekalian senator anggota DPD yang saya hormati.

Ini rapat paripurna, ini rapat paripurna dalam arti mestinya kita membuat keputusan. Kalau kita masih berdebat lagi soal pro kontra, sebanyak alasan menaikkan harga BBM sebanyak itu pula alasan untuk menolak kenaikan harga BBM. Sementara kita ini lembaga politik perwakilan daerah yang selama ini dianggap seperti iklan Honda "nyaris tak terdengar". Minimal inilah kita dibuat terdengar, terdengar oleh rakyat yang menjerit itu dimana-mana dan unjuk rasa hampir diseluruh ibukota provinsi diseluruh mungkin. Buatlah DPD ini terdengar pimpinan, dengan keputusan kita ini. Toh kalaupun kita memberikan pertimbangan seperti Pak Tonny Tesar bilang, kita memberikan pertimbangan menolak dengan tegas kenaikan harga BBM belum tentu juga terdengar oleh Presiden dan DPR, belum tentu juga. Tapi inilah momen kita, momen yang berkaitan dengan nasib begitu banyak jutaan orang yang ada di sana, begitu. Jangan lagi kita berdebat soal pro kontra, ada

banyak alasan untuk menolak dan untuk menerima, banyak sekali alas an. Tapi ini rapat paripurna, rapat untuk mengambil keputusan.

Jadi pimpinan tidak usah lagi berlama-lama, saya mengusulkan di rapat ini, paripurna kita ini kita mendapatkan keputusan yang tegas DPD sikapnya apa terhadap kenaikan harga BBM dan secara umum kepada APBN-P 2012. Terima kasih.

67. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, terima kasih. Coba saya simpulkan ya, tidak perlu lagi ditanya ini. Ini kan mekanismenya kan sudah berjalan, memutuskan APBN ini bukan sekarang, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010. Kita tahu di setiap kita ini dibagi per komite. Kita percayakan juga apa yang dihasilkan oleh komite yang telah dihasilkan. Nah, mekanisme di sini menampung kalau ada hal-hal yang berbeda itu adalah bagian kepada keputusan. Jadi itu gunanya kita berikan ruang untuk itu.

68. PEMBICARA : ELNINO M. HUSEIN MOHI. ST., M.Si. (GORONTALO)

Pimpinan, maaf pimpinan.

69. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Tidak, tidak usah di jawab dulu, saya bicara dulu, saya ingin jelaskan kepada saudara dulu. Jadi tidak ada yang salah ini, ini biasa. Saya pimpin rapat ini selalu kita dengar, iya bagian dari keputusan seperti yang disampaikan Pak Bambang Soeroso ada minderheidsnota, boleh itu, boleh. Mereka juga sudah menyampaikan bagaimana dinamika yang ada di komitenya, kita hargai juga itu hasilnya, tidak semuanya mendadak terus di torpedo semua begini. Kan tadi disini kan tidak ada waktu menjelaskan lebih dalam. Kan kita harus ada altenatif, tidak bisa begitu, langsung keputusan, langsung ini, tidak. Hargai juga begitu loh perwakilan yang ada di masing-masing kita dengan segala dinamika yang ada. Simboliknya kan di tingkat komite itu kan juga sudah ada keputusan melalui voting, begitu loh. Kemarin juga berdebat juga kita di Panmus. Tapi suara-suara seperti yang disampaikan Pak Bambang itu begitu. Jadi kalau tidak catatan, ini kan bagian, semuanya ini kita rekam, dan bagian daripada keputusan ini saya ingin jelaskan begitu ya.

Baik, sekarang saya kasih satu lagi.

70. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)

Interupsi pimpinan. Saya hanya bacakan point ke-3.

71. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Silakan.

72. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)

Point ke-3 dari penutup yang Komite IV. DPD RI berpendapat bahwa kenaikan harga BBM dan listrik tidak perlu dilakukan secara menyeluruh. Kalau perspektif saya tadi pimpinan saya mulai dari sana. Model kajiannya bagaimana tidak menyeluruh. Itu yang saya sebut tadi dengan ambigu. Sehingga saya menyatakan bahwa menolak dengan tegas. Itu saja pimpinan.

73. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Iya, kita catat semuanya ya.

74. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)

Pimpinan interupsi sebentar pimpinan, B-86.

75. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Iya, silakan.

76. PEMBICARA : Ir. ADHARIANI, SH., MH. (KALSEL)

B-86 Pak. Terima kasih dulu atas kesempatan yang diberikan.

Saya bisa memahami apa yang diperdebatkan hari ini. Hanya secara substansi sudah dibicarakan di komite, jelas sudah tergambar di laporan ini. Hanya saja apa yang disampaikan saudara kita Elnino keputusan tertinggi itu kan ada di paripurna Pak. Paripurna ini adalah keputusan politik DPD RI. Pertimbangannya apa yang disampaikan oleh Tonny Tesar, apakah kita ini ingin begitu loh, dilihat oleh masyarakat atau kita ingin juga terikut arus dengan pemerintah. Sementara hari ini demo-demo besar-besaran itu luar biasa Pak. Ini menyangkut harkat martabat DPD, itu yang penting, bukan harkat martabat kita-kita ini. Disinilah momen saya rasa, kita jangan ketinggalan momen Pak. Kalau nanti pertimbangan kita itu tidak dipakai kita kehilangan momen. Saya rasa kita jangan berpikir kepentingan individu disini, tapi kepentingan DPD yang lebih utama. Sehingga kita ini dilihat oleh masyarakat, dilihat, diperhatikan oleh pemerintah. Hari ini statement Ketua DPR apa? mengenai dana kita? hanya 450 miliar dipermasalahkan, iya kan. Sekarang saatnya kita menunjukan bahwa DPD itu ada dan eksis di mata kawan-kawan itu.

Saya pokoknya hari ini minta keputusan Pak, minta keputusan, itu kan kita menghargai apa yang disampaikan Komite IV dalam pembahasannya dengan kawan-kawan, kita hargai dong, iya kan. Cuma ada di dalam tatib kita bahwa pengambilan keputusan itu ada di paripurna ini, ya coba kita ambil keputusan. Siapa yang menolak, siapa yang menerima itulah keputusan DPD dan kita harus legowo dengan apa catatan-catatan itu. Kita punya argumen masing-masing kok. Saya bisa memahami apa yang disampaikan Komite IV kok, iya kan. Cuma atas nama lembaga ini mau dijual kemana, mau dipertaruhkan kemana, sementara saat ini juga kita sudah terpuruk kok, iya kan? Tidak ada sama sekali kita

bargaining kita dengan kawan-kawan di sebelah itu. Saya juga agak keras dengan

amandemen juga. Kalau bisa kita kerahkan saja 10 ribu, 10 ribu massa datang ke Jakarta, saya sanggup kok, saya seorang pengusaha juga Pak, saya tantang hari ini. Ini negara ini untuk kepentingan bersama, kan bukan kepentingan DPR. Membangun negara ini kita harus sama-sama, bukan kita dituangkan disitu saja. Berapa banyak uang yang kita sudah dihabiskan dalam rangka studi banding, studi banding juga, dalam rangka untuk eksisnya ini. Tapi exitnya tidak ada. Pak Irman harus berani saya bilang, Pak Irman harus berani Pak, Pak Irman harus berani, 132 orang yang mewakili daerah di belakang Pak Irman, Pak. Saya setuju, terima kasih.

77. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, terima kasih. Makanya saya dengar semua, beri juga kesempatan setiap orang untuk memberikan pandangannya. Silakan Pak Alirman Sori.

78. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (SUMBAR)

Saya kira kalau disebut ini paripurna benar sekali. Kita ini kan sedang mencoba

mengkritisi sekaligus bagaimana memberikan penguatan terhadap hasil kerja Komite IV. Karena ini paripurna, kalau memang kerja Komite IV belum sempurna ya kita sempurnakan hari ini, itu tujuannya. Jadi libido politik kita hari ini itu adalah bagaimana keputusan politik DPD RI hari ini bisa menjawab kepentingan dan kebutuhan apa yang diributkan di luar, di daerah kita masing-masing. Nah menurut saya pimpinan, saya menyarankan, karena perkembangan perdebatannya sudah memang cukup panjang, sudah saatnya kita masuk ke ranah untuk mengambil keputusan, apakah mau melaksanakan voting secara terbuka. Kalau sifatnya kebijakan Tatib kita mengatur votingnya terbuka. Kita arahkan saja kesana lagi. Tidak ada pilihan lain, karena hampir mewakili setiap provinsi yang mengatakan sepakat untuk menolak kenaikan BBM itu, begitu. Setuju kan? Kan itu semuanya.

Kemudian juga, mungkin saya tidak tahu mekanisme dan apa yang dilakukan oleh Komite IV. Mestinya Komite IV juga menjelaskan ketika pemerintah ingin melakukan menekan BBM itu ada tidak jaminan atau garansi pemerintah akan mengatur secara baik dan menjamin tidak akan terjadi kenaikan harga yang lain. Harga belum naik semua sembako sudah naik, kebutuhan pokok sudah naik. Ini kan memincu terjadinya keributan secara sosial ditengah-tengah masyarakat. Jadi untuk itu pimpinan, saya menyarankan mungkin lebih tepat kita arahkan saja untuk mengambil keputusan. Karena daripada nanti semuanya berkembang dan semuanya punya argument. Dan saya tidak setuju kalau mengatakan pertimbangan DPD RI tidak punya arti, ini konstitusi yang mengatur. Jangan sekali-kali katakan itu melemahkan kita. Konstitusi yang menjamin kita harus memberikan pertimbangan kepada DPR. Tetapi pertimbangan yang kita buat hari ini tentang perubahan APBN-P ini harus seirama. Jangan sampai keputusan pertimbangan kita berikan A, statemen di luar secara kelembagaan berbeda, begitu. Jadi iramanya kita iramanya menolak dalam pertimbangan diminta Pak Irman bersama teman-teman pimpinan yang lain juga menyampaikan secara resmi baik di televisi maupun di media cetak. Harus berani seperti yang dikatakan Bapak Adhariani, begitu. 132 plus yang lainnya itu berada, bukan di belakang Pak Irman, di depan, kalau di belakang mau lari namanya itu, iya toh. Di depan Pak Irman kita berada, jangan belakang, itu tidak sportif, misalnya seperti itu. Jadi berani saja menolak ini Pak Irman. Terima kasih.

79. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, coba kasih yang belum ini, Pak Rahmat Shah, biar kita dengar semua.

80. PEMBICARA : Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)

Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang salam sejahtera bagi kita sekalian.

Om Swastyastu.

Kalau saya melihat ini teman-teman, memang masalah besarnya adalah tidak efisiensinya pemerintah, kurangnya kepercayaan kita termasuk masyarakat kepada oknum-oknum pelaksana lini-lini penting di pemerintah. Saya maaf lah, dunia usaha sekarang naik industri akan naik minyak. Tapi tidak pun naik minyak dunia usaha itu megap-megap di negeri ini karena tidak efisiensi, diperas kiri-kanan muka belakang. Di pelabuhan sulit, dimana sulit, mencuri didalam perusahan kita dilaporkan tidak diproses. Jadi ini semua saya lihat masalahnya adalah tidak transparan. Dan saya, kita jangan hanya membahas BLT dan naik minyak Ketua. Kalau boleh solusi menyeluruh republik ini kita kasih

gambaran-gambaran kenapa teman-teman tidak setuju atas kenaikan, diantaranya BLT ini. Saya pikir sebagai wakil daerah kita atau DPD ini alangkah baiknya kalau dikasih jumlah BLT yang diterima daerah kita berapa dan untuk daerahnya, dan untuk siapa saja dan berapa. Jadi kita monitor itu, artinya transparan dia. Ini BLT-BLT kita lihat triliun-triliun kita pun tidak tahu kemana uang itu, rakyat kita masih susah dan miskin terus. Bahkan tetap minta sama kita begitu bikin proposal, makin hari makin tebal proposalnya. Jadi transparan pemerintah Ketua, efisiensi, dan saya juga mohon maaf teman-teman sekalian, termasuk kita begitu, kalau perlu kita juga disuruh efisien, kalau tidak perlu lima staf daerah dan pusat juga dikurangi kita siap. Jadi sama-sama semua mencari efisiensi yang baik.

Dan terakhir Ketua, transparan itu penting. Dan dimana-mana kita pergi ke instansi pemerintah pegawai itu berlebih, PNS itu harus berani pemerintah mengurangi, mungkin 30 persen bahkan 40 persen. Itu yang kami lihat baik di daerah dan pusat. Jadi masalahnya memang BLT untuk sementara mengatasi ini, ini yang kita tidak tahu sampai berhak atau yang tidak atau yang perlu atau yang tidak, tapi kemudian kenaikan ini banyak bocornya. Di pajak saja kita tahu bocor berapa, di sahabat kita di sebelah bocor berapa, tapi semua tidak pernah ada yang mengaku mencuri atau oknum yang korupsi, begitu. Ini yang kami lihat Ketua. Jadi dari kajian-kajian ini pendapat teman saran saya ketua mengambil sikap yang berani dan mengusulkan menunda mungkin. Kalau tidak pun lama sebulan kita ikut mengkaji itu, kita carikan solusinya bagi pemerintah agar tidak hanya diambil jalan dengan menaikkan bahan bakar. Itu mungkin dari kami. Terima kasih Ketua.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat siang.

Om Shanty Shanty Shanty Om.

81. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, saya kasih yang belum ya. Ibu Poppy silakan.

Dokumen terkait