• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

ASUMSI DASAR PENELITIAN

2.1.5 Pembinaan Koperasi

Ada beberapa segi koperasi yang pembangunannya memerlukan bantuan pemerintah. Keikutsertaan pemerintah dalam pembinaan koperasi itu dapat berlangsung secara efektif, dan tentu perlu dilakukan koordinasi antara satu bidang dengan bidang lainnya. Pembinaan koperasi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan dan mengembangkan iklim yang kondusif yang mendorong pemasyarakatan koperasi melalui pemberian bimbingan, kemudahan, dan perlindungan kepada koperasi. Oleh karena itu, Pembinaan koperasi adalah segala suatu tindakan yang

berhubungan langsung dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan, pengembangan, pengarahan, penggunaan serta pengendalian segala sesuatu mengenai koperasi secara berdaya guna dan berhasil guna dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi.

Pembinaan dan pengembangan koperasi di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam beberapa peraturan, baik itu Undang-Undang Dasar sampai pada Peraturan Pemerintah. Tujuannya adalah agar dapat keselarasan dalam menentukan pola pembinaan koperasi secara nasional. Dengan terbangunnya keselarasan dalam pola pembinaan koperasi, maka koperasi diharapkan dapat benar-benar meningkatkan kemampuannya, baik dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat di sekitarnya, maupun dalam turut serta membangun sistem perekonomian nasional.

Pembinaan dan pengembangan koperasi sangat penting dalam upaya memupuk pertumbuhan dan sekaligus meningkatkan peranan dan tanggung jawab masyarakat golongan ekonomi lemah dalam kegiatan pembangunan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 pemerintah melakukan pembinaan koperasi dengan cara berikut ini:

1. Menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan serta pemsyarakatan koperasi, yaitu dengan jalan:

a. Memberikan kesempatan usaha yang seluas-luasnya kepada koperasi.

b. Meningkatkan dana memantapkan kemampuan koperasi agar menjadi koperasi yang sehat, tangguh dan mandiri.

c. Mengupayakan tata hubungan usaha yang saling menguntungkan antara koperasi dengan badan usaha lainnya serta

d. Membudayakan koperasi dalam masyarakat.

2. Memberikan bimbingan, kemudahan, dan perlindungan kepada koperasi, dengan cara :

a. Membimbing usaha koperasi yang sesuai dengan kepentingan ekonomi anggotanya.

b. Mendorong, mengembangkan, dan membantu pelaksanaan pendidikan, penyuluhan, dan penelitian perkoperasian.

c. Memberikan kemudahan untuk jaringan usaha koperasi serta mengembangkan lembaga keuangan koeprasi.

d. Membantu pengembangan jaringan usaha koperasi dan kerjasama yang saling menguntungkan antar koeprasi serta

e. Memberikan bantuan konsultasi guna memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh koperasi dengan tetap memperhatikan anggaran dasar dan prinsip koperasi.

2.2 Penelitian Terdahulu

Dalam melakukan penelitian “Strategi Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi dalam Pembinaan Koperasi di Kota Serang. Peneliti melakukan peninjauan terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, baik berupa jurnal, skripsi maupun tesis yang terkait dengan tema yang diambil dalam penelitian ini. Peneliti mengambil tiga penelitian terdahulu yang bertujuan sebagai pembanding dengan penelitian yang dilakukan.

Penelitian pertama yaitu diambil dari skripsi yang berjudul Analisis Strategi Pengembangan Koperasi di Kabupaten Serang, yang dilakukan oleh Tiwi Rizkiyani, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, tahun 2012. Dalam penelitian ini diketahui bahwa strategi pengembangan koperasi di Kabupaten Serang cukup optimal yang diperjelas dengan adanya hasil kuantitatif berupa angka sebesar 54,32 % dari prediksi paling tinggi 65% yang artinya strategi yang dilakukan pemerintah Kabupaten Serang khususnya Dinas Koperasi Perindustrian dan

Perdagangan di daerah tersebut dalam melakukan pengembangan koperasi sudah cukup optimal. Dari penelitian ini juga terdapat beberapa faktor penghambat dan pendukung pengembangan koperasi, faktor pendukung tersebut adalah dukungan pemerintah daerah, adanya kendaraan dinas, keaktifan pengurus dan anggota koperasi serta komitmen pimpinan, dan adanya kerjasama (usaha) kemitraan. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya jumlah SDM pada bidang koperasi di dinasnya, partisipasi anggota kurang, kurangnya modal dan sarana prasarana koperasi.

Persamaan penelitian ini dengan penulis, yaitu penulis melakukan penelitian dengan objek utama yang sama yaitu strategi pemerintah untuk koperasi. Dengan melihat objek yang sama maka peneliti dapat menjadi lebih memahami bagaimana strategi pemerintah untuk koperasi. Perbedaan penelitian ini dengan penulis adalah fokus yang dipilih penelitian terdahulu yaitu Analisis Strategi Pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan dalam Pengembangan Koperasi, tetapi penelitian yang penulis lakukan saat ini berfokus pada Strategi Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi dalam Pembinaan Koperasi. Selain itu metode yang digunakan juga berbeda, jika penelitian terdahulu meneliti menggunakan metode kuantitatif sedangkan penelitian yang penulis lakukan dengan kualitatif dan selain itu lokus yang diambil juga berbeda jika penelitian terdahulu di Kabupaten Serang sedangakan penulis melakukan penelitian di Kota Serang.

Rujukan penelitian yang kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ali Nazmudin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada tahun

2015 dengan judul Peran Pemerintah Desa terhadap Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi Tunas Cipetung Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dari pemerintah desa terhadap upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa pemerintah pemerintah desa ikut berperan dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi tunas cipetung. Namun seiring berjalannya waktu, pemerintah desa tidak lagi menunjukkan perannya terhadap koperasi. Hal ini terjadi setelah pergantian pemerintahan. Selain itu terdapat faktor lain yang menyebabkan hilangnya peran pemerintah desa terhadap koperasi. Faktor tersebut adalah adanya patologi (penyakit) yang muncul dalam birokrasi seperti kurangnya rasa tanggung jawab pemerintah dan juga adanya miskomunikasi antara pemerintah desa dan koperasi. Persamaan penelitian ini dengan penulis yaitu objek permasalahan yaitu tentang koperasi dan menggunakan metode yang sama yaitu kualitatif . Tetapi terdapat banyak perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu fokus penelitiannya berbeda jika penelitian terdahulu melihat bagaiamana peran pemerintah desa dalam pengembangan koperasi, sedangkan penelitian yang dilakukan penulis yaitu strategi dinas perdagangan perindustrian dan koperasi dalam melakukan pembinaan koperasi. Lokusnya pun berbeda yaitu antara di Kabupaten Indramayu dengan di Kota Serang.

Penelitian berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Syelli Pritamisuhaedi, Universitas Sumatera Utara, tahun 2013 dengan judul Analisis Strategi Pengembangan Koperasi Syariah di Kota Medan. Dari penelitian tersebut

diketahui bahwa perkoperasian syariah di Kota Medan mulai menunjukkan perkembangan yang berarti, hanya saja perkembangannya masih lamban dan masih banyak yang harus dilakukan agar strategi pengembangan koperasi syariah di Indonesia terutama di Kota Medan berjalan sesuai prinsip dan tujuannya. Dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pengembangan koperasi syariah di Kota Medan dan untuk menganalisis strategi pengembangan koperasi syariah di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP), EFAS-IFAS dan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerjasama antara pengurus, pengawas, dan pengelola dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat sekitar, promosi yang berjalan baik, lokasi yang strategis, dan sesuai dengan syariat islam.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang penulis lakukan adalah sama sama membahas tentang strategi nya selain itu metode yang digunakan juga penelitian deskriptif kualitatif, dan teori yang digunakan juga memakai analisis SWOT. Tetapi perbedaannya adalah jika penelitian terdahulu ini fokusnya adalah kepada koperasi syariah sedangkan yang penulis lakukan koperasi secara umum, selain itu lokus nya berbeda antara Kota Medan dan Kota Serang.

2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian

Menurut Sugiyono (2012:60), kerangka berfikir adalah sintesa tentang hubungan antar-variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Dan berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga menghasilkan sintesa tentang

hubungan antar-variabel yang diteliti. Sementara Uma Sekaran dalam Sugiyono (2012:65) mengemukakan bahwa “Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting”.

Selama peneliti melakukan penelitian, peneliti memperoleh data dan informasi melalui pengamatan dan observasi langsung ke lapangan serta melakukan wawancara kepada pihak yang bersangkutan dengan Pembinaan Koperasi di Kota Serang. Untuk mengetahui strategi apa yang harus dilakukan dalam melakukan pembinaan koperasi di Kota Serang maka peneliti menggunakan teknik Analisis SWOT. Adapun Teknik Analisis SWOT adalah suatu cara menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal menjadi langkah-langkah strategi dalam mengoptimalkan usaha yang lebih menguntungkan. Dalam analisis faktor internal akan menentukan aspek-aspek yang menjadi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), sedangkan faktor eksternal akan menentukan aspek-aspek yang menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (threaths) dengan begitu akan dapat ditentukan berbagai kemungkinan alternatif strategi yang dapat dijalankan dalam melakukan pembinaan koperasi di Kota Serang sehingga koperasi di Kota Serang dapat menjadi lebih berkembang, kesejahteraan anggotanya menjadi lebih baik dan secara keseluruhan membawa dampak baik untuk pembinaan koperasi. Berikut ini adalah kerangka berfikir yang peneliti gunakan dalam penelitian:

Gambar 2.3

Proses Kerangka Berfikir

(Sumber: Hasil Analisis Konsep Peneliti, 2016)

Input:

1. Masih banyaknya koperasi resmi di Kota Serang yang tidak aktif.

2. Kurangnya perhatian dan pembinaan dari pemerintah kepada koperasi di Kota Serang.

3. Kurangnya pemberian bantuan modal koperasi.

4. Masih adanya manajemen koperasi yang dikelola secara sederhana.

5. Kurangnya partisipasi masyarakat untuk berkoperasi.

Proses : Analisis SWOT : a. Strengths (Kekuatan) b. Weakness (Kelemahan) c. Opportunities (Peluang) d. Threats ( Ancaman ) (David, (2010:327)) Output :

Strategi yang tepat dalam melakukan pembinaan koperasi di Kota Serang.

Outcome :

Koperasi di Kota Serang menjadi lebih berkembang sehingga dapat mensejahterakan anggota.

Dokumen terkait