• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBINAAN KSM PEMINJAM

Dalam dokumen KUMPULAN BAHAN SERAHAN (Halaman 105-109)

Kualitas KSM yang ideal tidak hanya ditentukan oleh proses pembentukan dan pengelolaannya akan tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pembinaan dari pihak-pihak yang terkait dengan KSM. Adapun pihak – pihak yang terkait dengan KSM antara lain : BKM/LKM, UPK, Relawan, Aparat Kelurahan, PJOK Kecamatan dan Fasilitator.

BKM/LKM dan UPK adalah mereka yang terlibat dan berkepentingan langsung dengan KSM, sementara Relawan, Aparat Kelurahan, PJOK Kecamatan dan Fasilitator adalah mereka yang berkepentingan secara sosial terhadap KSM.

Pembinaan KSM oleh BKM/LKM/UPK

BKM/LKM dan UPK dikatakan berkepentingan secara langsung dengan KSM karena kinerja mereka juga sangat dipengaruhi oleh kualitas KSM yang menjadi nasabahnya. Apabila kualitas KSM tidak baik dan kerjasama antar anggota KSM tidak baik sehingga tidak terbentuk tangung jawab bersama (tanggung renteng) maka tanggung jawab pembayaran kembali pinjaman kepada UPK juga akan terganggu. Demikian sebaliknya apabila kualitas kerjasama antar anggota KSM dan taggung jawab bersama (tanggung renteng) sangat baik maka pembayaran kembali pinjaman kepada UPK akan berjalan dengan baik dan kinerja UPK serta BKM menjadi baik.

Untuk itu BKM/LKM dan UPK perlu melakukan pembinaan kepada KSM melalui kegiatan-kegiatan : a. BKM/LKM/UPK memastikan bahwa anggota KSM telah mulai membentuk tabungan sebagai

bukti kedisiplinan dalam mewujudkan tanggung jawab bersama sebelum memperoleh pinjaman dari UPK

b. BKM/LKM/UPK memberikan penjelasan tentang ketentuan umum pinjaman UPK kepada seluruh anggota KSM dalam pertemuan rutin yang diadakan oleh KSM. Kehadiran dalam pertemuan tersebut juga sebagai sarana BKM/LKM/UPK medeteksi kepatuhan anggota KSM dalam memenuhi undangan pengurus KSM untuk berkumpul dan sarana memahamkan anggota KSM atas ketentuan pemberian pinjaman dari UPK.

c. BKM /LKM/ UPK memberikan penyadaran kepada KSM dan anggotanya bahwa pinjaman yang akan diterima dari UPK adalah suatu hutang yang wajib dikembalikan / dibayar kembali, bukannya suatu hibah dari pemerin tah.

d. Disamping penyampaian ketentuan mengenai pemberian pinjaman dari UPK, BKM/LKM juga memberikan pemahaman tentang pengelolaan ekonomi rumah tangga serta bagaimana membuat rencana usaha dan berwirausaha yang baik. Pemahaman ini juga diperlukan oleh anggota KSM untuk dapat mengelola ekonomi dalam rumah tangganya agar mampu meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya secara terencana.

e. BKM/LKM melalui Pengawas UPK / UPK memberikan pembinaan sebulan setelah KSM menerima pinjaman dari UPK. Pembinaan dilakukan dalam bentuk kunjungan ke lokasi usaha dan domisili anggota KSM untuk memastikan keadaan kehidupan rumah tangga dan usaha anggota KSM. Disamping itu juga untuk memastikan penggunaan pinjaman yang diteri ma dari UPK apakah dipergunakan sesuai dengan tujuan pada waktu mengajukan permohonan pinjaman.

f. BKM/LKM dan UPK baik sendiri sendiri maupun bekerja sama dengan instansi pemerintah / swasta memberikan pelatihan / coaching kepada KSM dan anggtanya dalam rangka

 

Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 4 105

meningkatkan kemampuan dan ketrampilan berusaha KSM dan anggotanya agar terjadi peningkatan kualitas SDM maupun produknya.

g. Pengawas UPK dan UPK membantu mencarikan pemecahan terhadap anggota KSM yang mengalami masalah baik dalam usaha maupun kedaan keuangannya. Disamping itu Pengawas UPK dan UPK juga mendorong anggota KSM lainnya ikut merealisasikan rasa tanggung jawab bersama (tanggung renteng) atas masalah yang dialami salah satu anggota KSM.

h. Pengawas UPK dan UPK membina KSM dan anggotanya dalam terus memupuk tabungan selama jangka waktu pinjaman, dan menghimbau agar tabungan tersebut tidak sampai diambil sampai lunasnya pinjaman yang diterima KSM.

i. Pengawas UPK dan UPK meminta bantuan BKM/LKM untuk mencarikan sumber dana lain selain BLM apabila KSM beserta anggotanya yang telah melewati batas maksimum pemberian pinjaman baik dari sisi frekuensi maupun jumlah pinjaman, agar mereka masih tetap mendapat akses dari lembaga keuangan maupun perbankan.

Pembinaan KSM oleh Relawan, Aparat Kelurahan, PJOK Kecamatan dan Fasilitator.

Disamping pembinaan KSM yang dilakukan oleh BKM/LKM dan UPK sebagai pihak yang terkait langsung kepentingannya dengan KSM, Relawan, Aparat Kelurah an, PJOK Kecamatan dan Fasilitator / Konsultan juga memiliki peran yang cukup penting dalam pembinaan KSM

Peran mereka dilakukan dalam bentuk kegiatan-kegiatan antara lain :

a. Menumbuhkan penyadaran kepada warga masyarakat bahwa pinjaman yang diterimanya adalah suatu hutang yang harus dibayar kembali bukan merupakan hibah dari pemerintah b. Menumbuhkan penyadaran warga masyarakat bahwa setiap orang yang berhutang harus

bertanggung jawab membayar kembali pinjamannya sesuai dengan jumlah dan jangka waktu yang telah diperjanjikan sebelumnya karena apabila menunggak berarti telah merampas kesem patan warga lain untuk memperoleh pinjaman dari UPK

c. Menumbuhkan penyadaran warga masyarakat bahwa wujud tanggung jawab bersama (tanggung renteng) adalah dengan saling mengingatkan antar sesama anggota dan bersedia menanggung bersama tunggakan yang terjadi karena salah seorang anggota tidak melaksanakan kewajibannya

d. Menumbuhkan penyadaran warga masyarakat bahwa kesinambungan pelayanan pinjaman oleh UPK sangat ditentukan oleh kedisiplinan semua anggota KSM peminjam dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya beserta jasa pinjamannya. Tanpa kedisiplinan akan terjadi penurunan modal UPK yang pada ujungnya akan menghentikan pelayanan pemberian pinjaman yang berarti juga menghentikan upaya pengentasan kemiskinan melalui sarana pinjaman bergulir.

e. Memahamkan kepada warga masyarakat bahwa pinjaman harus dipergunakan sesuai dengan tujuan awal waktu mengajukan pinjaman agar peningkatan kesejahteraan bisa tercapai. Karena apabila terjadi penyalahgunaan penggunaan pinjaman akan mengakibatkan munculnya kesulitan baru, sehingga bukan pengentasan kemiskinan yang terjadi akan tetapi pemantasan kemiskinan.

106 Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 4

Pendampingan Kelompok Mandiri

Oleh : PIDRA Indonesia

Pendampingan kelompok mandiri dilaksanakan melalui kegiatan pertemuan rutin kelompok dan pelatihan penguatan internal kelembagaan kelompok mandiri oleh fasilitator desa. Jadwal pertemuan rutin kelompok mandiri untuk masing-masing kelompok di desa dampingan tidaklah sama. Jadwal pertemuan ditentukan oleh kelompok sendiri yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu yang luang pada masing-masing anggota kelompok.

Pendampingan Melalui Pertemuan Rutin

Dalam pendampingan kelompok mandiri menggunakan komponen internal kelompok sebagai indikator pendampingan, dimana komponen internal terdiri dari lima (5) Bidang Hasil Pokok yang terdiri dari (i) Organisasi; (ii) Administrasi; (iii) Permodalan; (iv) Usaha/ Kegiatan On - Farm atau Of - Farm; (v) Akseptasi/ Kesinambungan.

Pembinaan lima (5) Bidang Hasil Pokok kepada kelompok mandiri dilaksanakan dalam setiap kegiatan pertemuan dan secara terperinci disampaikan sebagai berikut :

1. Organisasi. Kegiatan yang dilakukan adalah membimbing kelompok untuk melakukan pertemuan anggota serta menetapkan jadwal pertemuan setiap bulan atau setiap dua minggu sekali dan selanjutnya membahas fungsi, tugas dan tanggung jawab pengurus kelompok serta kewajiban dan hak baik pengurus maupun anggota.

2. Administrasi. Memberikan motivasi kepada anggota agar dapat menabung dalam rangka pengadaan buku-buku administrasi umum dan keuangan bagi dokumentasi kegiatan kelompok. Perangkat administrasi yang ada pada masing-masing kelompok :

ƒ Buku Daftar Anggota ƒ Buku Kehadiran anggota ƒ Buku Simpan Pinjam ƒ Buku Tamu

ƒ Buku Notulen Rapat ƒ Buku Kas

ƒ Buku Induk ƒ Buku Bank

3. Permodalan. Kegiatan pendampingan yang dilakukan memberikan motivasi agar kelompok menghimpun modal berupa Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib Anggota sebagai ikatan bagi mereka dalam memperkuat kelembagaan kelompok sedangkan pemupukan modal secara eksternal (dari luar anggota) adalah usaha ekonomi, misalnya pembersihan lahan serta angkat pasir baik milik anggota kelompok maupun di luar anggota kelompok, dagang kios, usaha ternak, dan lain-lain.

4. Usaha On Farm, of Farm dan Non-farm. Memotivasi anggota kelompok untuk mampu menciptakan kegiatan usaha ekonomi sesuai dengan sumberdaya lokal dan potensi yang dimiliki. Pendekatan yang dilakukan dengan melakukan kegiatan identifikasi minat untuk mendapatkan masukan tentang minat yang diinginkan anggota kelompok, sehingga akan menjadi panduan dalam memberikan pelatihan teknis.

5. Akseptasi/Keberlanjutan. Dalam pendekatan pendampingan dilakukan dengan melakukan pengkaderan tenaga relawan yang berasala dari kelompok atau masyarakat desa setempat. Tujuannya adalah apabila proyek sudah berakhir maka relawan akan mampu menjadi

 

Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 4 107

pengganti fasilitator untuk mendampingi kelompok yang sudah ada. Disamping itu difasilitasi untuk membangun jejaring dengan pihak lain diluar kelompok agar pada gilirannya akan mampu memperkuat kelembagaan kelompok baik dari sisi usaha maupun permodalan.

108 Bahan Serahan | Pelatihan Penguatan BKM tahun ke 4

Semarang, 25 Juli 2006

Dalam dokumen KUMPULAN BAHAN SERAHAN (Halaman 105-109)