• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEPENG Gangguan

TEMUAN DAN ANALISA DATA

A. Temuan Lapangan

4. Pembinaan Mental

Pembinaan Mental Adalah serangkaian kegiatan teknis operasional yang diarahkan untuk pulihnya kembali harga diri, kepercayaan diri, disiplin, kemampuan integrasi, kesadaran dan tanggung jawab sosial kemampuan penyesuaian diri dan penguasaan satu atau lebih jenis keterampilan kerja sebagai bekal untuk dapat bermata pencaharian layak dalam tatanan hidup masyarakat.

“Pembinaan mental di PSBK wajib di ikuti oleh setiap WBS baik laki- laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak semua wajib mengikuti pembinaan mental terutama yang beragama islam. Sementara yang beragama non muslim ada tersendiri sudah disiapkan Pembina yang beragama non muslim juga.”23

Proses kegiatan ini yang peneliti fokuskan untuk mengetahui metode pelaksaan pembinaan mental dan mengetahui faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat terlaksananya pembinaan mental.

21

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

22

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

23

Wawancara pribadi dengan penanggung jawab Bintal (Pembinaan Mental), Bpk Ust. Endin Khoirudin, Bekasi Kamis, 28 April 2011.

75

1. Metode Pelaksanaan Pembinaan Mental di PSBK :

Pelaksanaan kegiatan pembinaan mental di sediakan ialah dengan kegiatan bimbingan/tuntunan untuk memahami diri sendiri, dan orang lain dengan belajar keagamaan, cara berfikir positif dan keinginan untuk berprestasi serta mengubah sikap normatif agar lebih baik.

Di bawah ini adalah metode kegiatan pembinaan mental yang di laksanakan Panti Sosial Bina Karya, Bekasi:

a. Ceramah keagamaan

Para Warga Binaan Sosial (WBS) di kumpulkan di sebuah ruangan serba guna/aula kemudian penyuluh memberikan materi berupa keagamaan, setelah memberikan ceramah keagamaan ada tanya jawab dari WBS berkaitan dengan materi yang disampaikannya. Ceramah keagamaan ini bertujuan untuk pemenuhan spiritual, merubah sikap normatif/akhlak pada WBS.

Tujuan lain dari penyampaian materi ceramah keagamaan ini adalah: 1. Mempunyai pengetahuan tentang agama secara luas

2. Mempunyai pengetahuan tentang hukum dan syariat dalam agama 3. Mampu mempelajari dan membedakan antara yang halal dan haram 4. Mampu bersikap lebih sabar dan tawakal

5. WBS bisa merasakan kenikmatan beragama.

Waktu pelaksanaan pembinaan mental dengan ceramah agama yaitu setiap hari senin dan rabu pukul 08.30-10.00 WIB, yang bertempat di ruang serba guna/aula.

b. Pemberian Motivasi

Pemberian motivasi ini biasanya dilakukan pada saat setelah ceramah agama disampaikan, jadi penyuluh setelah memberikan ceramah keagamaan sebelum penutup dengan doa ada pemberian motivasi, biasanya dilakukan dengan cara permainan (games) dan diakhir permainan itu di jelaskan pelajaran apa atau manfaat yang bisa diambil dari permainan tersebut tentang kehidupan sehari-hari. Tetapi pemberian motivasi ini tidak hanya pada saat dalam ceramah keagamaan saja, bisa juga pada saat konseling kelompok atau konseling individu. Bisa juga pada saat case conference (pembahasan masalah) dengan WBS yang bermasalah. Tujuan dari pemberian motivasi ini adalah:

1. Mampu bertindak secara efisien 2. Memiliki tujuan hidup yang jelas 3. Mampu mengkonsep diri

4. Mampu mengkoordinasikan antara segenap potensial dengan usaha-usahanya 5. Memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian

6. Memiliki batin yang tenang.

7. Posisi pribadinya seimbang dan baik

8. Selaras dengan dunia luar, dengan dirinya sendiri dan dengan lingkunganya.

c. Menikahkan dan Mengkhitankan

Salah satu program yang ada PSBK adalah menikahkan dan mengkhitankan WBS-nya yang belum menikah dan di khitan, dan program ini adalah sepenuhnya dalam program Bintal (pembinaan mental) yang dilaksakan satu kali dalam 6

77

(enam) bulan/perangkatan yang bekerja sama dengan kantor urusan agama (KUA) Bekasi timur.

Dari panti menawarkan kepada WBS yang ingin menikah dan khitan, kemudian di data dan di beri surat pernyataan. Setelah itu semua diurus ke kantor urusan agama.

Tujuan dari menikahkan adalah: 1. Menyelamatkan dari perzinahan 2. Mampu memiliki tanggung jawab

3. Mencegah penyakit, terutama HIV/AIDS

4. Dapat memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan waramah.

Waktu pelaksanaan menikahkan dan mengkhitankan tidak menentu, hanya saja setiap angkatan pasti melaksanakan kegiatan tersebut. Pada angkata I 2011 kemarin hari senin 2 mei 2011 dilaksakannya pernikahan masal yang di ikuti WBS sebanyak 16 (enam belas) pasang pengantin. Dan untuk mengkhitankan nanti dilaksanakan pada bulan juni, sudah terkumpul 18 WBS yang akan di khitankan yang terdiri dari anak-anak dan ada juga orang dewasa.

d. Outbond dan Tafakur Alam

“Dalam pembinaan mental juga ada kegiatan outbont atau bisa disebut

juga tafakur alam itu dilaksanakan diluar panti dengan kegiatan jalan- jalan, disana kita adakan permainan, dan doa bersama…”24

Kegiatan outbond dan tafakur alam adalah kegiatan diluar panti yang dilakukan guna membangun kerjasama antara WBS dan menambah kepercayaan dan tanggung jawab. Sedangkan tafakur alam bertujuan untuk penyegaran kembali para WBS setelah melakukan rutinitas rehabilitasi di PSBK.

24

Wawancara pribadi dengan penanggung jawab Bintal (Pembinaan Mental), Bpk Ust. Endin Khoirudin, Bekasi Kamis, 28 April 2011.

Tujuan lain dari kegiatan outbond dan tafakur alam yaitu:

1. Untuk menghilangkan jenuh dan penyegaran setelah 6 (enam) bulan lamanya rehabilitasi di dalam panti.

2. Menyenangkan hati WBS yang sebentar lagi akan keluar dari panti PSBK 3. Menumbuhkan kebersamaan dan tanggung jawab.

4. Lebih bersyukur atas nikmat Allah SWT dan mampu mengambil pelajaran dari melihat alam ciptaan-Nya.

Waktu pelaksanan kegiatan outbond dan tafakur alam yaitu dilaksanakan diakhir rehabilitasi, Sebelum para WBS meninggalkan panti untuk disalurkan dan di kembalikan ketempat asal meraka. Anggaran yang dikeluarkan sepenuhnya dari pemerintah dalam hal ini Kementrian Sosial Pusat melalui PSBK Bekasi.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Pembinaan Mental

Pelaksaan pembinaan mental di PSBK terdapat faktor pendukung dan penghambat, dalam proses pelaksanaan pembinaan mental yang menjadi faktor pendukung dan penghambat tersebut diantara lain yaitu:

Faktor Pendukung

1. Tenaga pengajar yang kopenten di bidangnya, memiliki keahlian dan ilmu/materi yang dapat di terapkan dalam pelaksanaan pembinaan mental 2. Sarana dan prasarana fasilitas yang ada di PSBK sangat mendukung untuk

berlangsungnya pembinaan mental, seperti gedung aula, sound system, papan tulis, infokus dan laptop

3. Anggaran dana yang langsung di berikan sepenuhnya dari pemerintah pusat yaitu Kemensos (kementrian sosial)

79

1. Dari WBS itu sendiri adanya rasa keinginan yang kuat untuk mau merubah dirinya dan bertekad ingin lebih baik lagi setelah dari PSBK ini.

2. Kerja sama dengan intasi pemerintah dalam hal ini adalah KUA (Kantor Urusan Agama) Bekasi Timur.

b. Faktor Penghambat

1. Adanya kejenuhan dan malas-malasan dari WBS dalam mengikuti kegiatan pembinaan mental.

2. Keterbatasan dana yang di alokasikan untuk proses kegiatan pembinaan mental masih sangat terbatas

3. Fasilitas yang masih belum begitu lengkap, dan gedung aula yang terkadang berbenturan pelakasaan pembinaan mental dengan cek kesehatan yang dilaksanakan di dalam gedung aula

4. WBS yang berbeda pendidikan dan pengalaman, hal ini juga menjadi faktor penghambat dalam penyampaian materi yang akan di berikan oleh penyuluh 5. Waktu yang sangat terbatas, hanya dalam 6 (enam) bulan saja pembinaan

mental di laksanakan.

5. Resosialisasi

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang bersifat dua arah yaitu di satu pihak untuk mempersiapkan klien agar dapat berintegrasi penuh ke dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat secara normatif, dan di satu pihak lagi untuk mempersiapkan masyarakat khususnya masyarakat daerah asal atau lingkungan masyarakat di lokasi penempatan kerja/usaha klien agar mereka dapat menerima, memperlakukan dan mengajak serta untuk berintegrasi dengan

kegiatan kemasyarakatan. Adapun kegiatan resosialisasi meliputi beberapa hal sebagai berikut :

a. Bimbingan kesiapan dan peran serta masyarakat

Ialah kegiatan bimbingan/tuntunan pendekatan untuk menumbuhkan kemauan keluarga, masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi sosial.

b. Bimbingan sosial hidup bermasyarakat

Ialah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan agar klien tersebut dapat melaksanakan seluruh kegiatanya sesuai dengan norma yang berlaku dan menghindari kegiatan yang menjadi larangan-larangan masyarakat.

c. Pemberian bantuan stimulans usaha produktif

Ialah serangkaian kegiatan pengadaan bantuan peralatan dan bahan untuk mempersiapkan klien dapat melaksanakan praktek bermata pencaharian dan bantuan tersebut bersifat merangsang usaha-usahanya agar dapat lebih berkembang.

d. Bimbingan usaha/kerja

Ialah kegiatan tuntutan praktek berusaha/bekerja untuk dapat menciptakan lapangan kerja yang layak, serta praktek mengelola usaha, menuju terciptanya kondisi usaha yang efektif dan efisien.

6. Penyaluran

Adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mengembalikan penerima pelayanan kedalam kehidupan dan penghidupan di masyarakat secara normatif baik dilingkungan keluarga, masyarakat, daerah asal maupun kejalur-jalur lapangan kerja/usaha mandiri (wirausaha) dengan bertransmigrasi.

“Penyaluran biasanya WBS itu kita kembalikan kedaerahnya masing- masing untuk buka usaha, ada juga yang trnsmigrsi bekerja sama

81

dengan Dinaskertrans, dan juga ada juga lembaga-lembaga atau perusahaan yang mita untuk bekerja di sana. Jadi kalau lembaga/perusahan itu butuh pegawai misalnya bengkel atau salon, kita siapin WBS yang benar-benar kompeten dibidangnya.”25

Ada juga faktor penghambat dalam penyaluran yang dilakukan PSBK antara lain:

“Yang menjadi faktor penghambat paling hanya dalam penyaluran biasanya ada juga WBS yang betah di panti dan tidak mau di pulangkan, karena mereka belum siap, sementara di panti ini setelah di rehabilitasi harus disalurkan semua karena kita akan mengadakan rehabilitasi angkatan selanjutnya.”26

7. Bimbingan Lanjut

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada klien dan masyarakat guna lebih memantapkan, meningkatkan dan mengembangkan kemandirian klien dalam kehidupan serta penghidupan yang layak.

“Bimbingan lanjut biasa di lakukan setelah 3 atau 4 bulan setelah mereka keluar dari panti, kita adakan bimbingan lanjut tapi tidak semua WBS yang pernah mengikuti rehabilitasi disini kita binjut. Disesuaikan dengan dana yang di sediakan terus dipilih kira-kira WBS yang memang harus kita binjut, terutama WBS yang sering member kabar dia buka usaha nah kita binjut kita melihat sampai sejauh mana. Jadi setelah mereka keluar tidak kita lepas begitu saja.”27

Dalam melaksanakan bimbingan lanjut ada juga faktor pendukung dan penghambat yang PSBK alami, yaitu:

“Yang menjadi faktor penghambat biasanya kadang-kadang alamat WBS yang pertama dia kasih belum tentu dia kembali kesitu, karena mereka gelandangan tidak menetap disatu tempat jadi kemungkinan beralih tempat, kemudian kalau dia kembali ke daerah asal dia pulang kampong kadang-kadang lokasinya sulit banget untuk kita cari, faktor dana juga karena dananya sedikit. Selanjutnya dari pihak WBS sendiri kalau mereka menghubungi dan minta didatengi dan mau membuka

25

Wawancara pribadi dengan Kasie Rehsos (Rehabilitasi Sosial) Drs. Pujiyanto, Bekasi Senin 25 April 2011.

26

Wawancara pribadi dengan Kasie Rehsos (Rehabilitasi Sosial) Drs. Pujiyanto, Bekasi Senin 25 April 2011.

27

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

usaha modal yang diperlukan kurang biasanya mengalami hal seperti itu.”28

Tahap bimbingan lanjut secara operasional PSBK melaksanakanya dalam 3 kegiatan, yaitu:

a. Bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat dan peran serta dalam pembangunan.

Ialah kegiatan bimbingan usaha bimbingan/tuntunan untuk lebih memantapkan kemampuan penyesuain diri dalam tata hidup bermasyarakat dan ke ikut sertan mereka dalam proses pembangunan sesuai dengan kemampuanya.

”Peran masyarakat biasanya kalau misalkan WBS itu mau selesai mengikuti rehabilitasi disini, tapi kita belum melaksanakan itu, jadi contohnya sebelum WBS kembali kedaerah asalnya kita datang kesana untuk survey kita adakan koordinasi dengan pihak aparat setempat disana kita beri tau bahwa yang bersangkutan pernah ikut pelatihan disini, jadi mereka siap. Fungsinya saling ada kerja sama.”29

Ada juga yang menjadi faktor penghambat dalam melaksanakan bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat dan serta dalam pembanguna, yaitu:

“Di daerah setempatnya tidak punya sarana untuk membimbing lebih lanjut, semestinya kita saling kerja sama terutama dari dinas sosial setempat, kalau mereka mau buka usaha saling kerja sama jadi tidak hanya membebankan pada pihak panti saja, padahal pihak panti hanya punya dana untuk paket saja.”30

b. Bantuan pengembangan usaha/bimbingan peningkatan keterampilan.

Ialah serangkaian kegiatan yang diarahkan kepada penerima pelayanan dalam bentuk pemberian bantuan ulang balik berupa peralatan dan bahan permodalan

28

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

29

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

30

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

83

maupun pemantapan keterampilan, sehingga jenis usaha/kerjanya lebih berkembang.

“Jadi WBS yang sudah buka usaha membuat proposal dan di ajukan ke kita kekurangnya nanti setelah dapat proposal itu kita liat kesana, kita survey ke lokasi benar tidak dia buka usaha, benar tidak dia kekurangan barang yang di butuhkan. Misalnya kalau bener nanti kita kesana lagi untuk untuk memberikan bantuan jadi ada monitoring dan evaluasinya.”31

c. Bimbingan pemantapan kemandirian/peningkatan usaha/kerja.

Ialah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada penerima pelayanan guna dapat meningkatkan usaha ekonomis, produktif, sehingga dapat mengembangkan jenis dan jumlah penghasilannya.

“Itu tidak pernah kita laksanakan, jadi binjut itu juga secara khusus

kita membimbing pemantapan mereka dalam buka usaha atau tidak, jadi secara khusus kita laksanakan bukan sekedar melihat tapi juga kasih motivasi, kita pemantapkan mereka untuk kerja.”32

8. Evaluasi

Untuk memastikan apakah proses pelayanan dan rehabilitasi sosial gelandangan pengemis berlangsung sesuai rencana yang telah ditetapkan wajib dilakukan evaluasi terhadap setiap tahapan proses yang dilalui dan kemudian diambil kesimpulan apakah secara keseluruhan proses telah berjalan baik dan dapat dilakukan pengakhiran rehabilitasi.

“Tahapan Evaluasi ini biasanya biasanya diadakan pertemuan dengan semua seksi yaitu membicaran secara bersama-sama di akhir kegiatan rehabilitasi. Misalanya kekurangan apa yang masih kurang, pelayanan apa yang masih kurang selama 6 bulan, Supaya kedepan lebih baik lagi. Nah kemaren diadakan penyusunan program itu evaluasi yang mengkoordinir seksi PAS (program Advokasi Sosial) semacam rapat semua seksi membicarakan mengevaluasi hasil kerja kita di tahun 2010 selama satu tahun di evaluasi apa sih kekurangannya,apa sih maslah

31

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

32

Wawancara pribadi dengan koordinator Peksos Ibu Laila Kurniati Akbariah , Bekasi Kamis, 28 April 2011.

yang timbul tahun kemarin, apa sih yang yang dirasakan kerangnya tahun kemarin di bicarakan dalam rapat kemarin, nah kalo ada kekurang kita tambah, kita perbaiki untuk tahun yang akan datang. Yang di hasilkan dari evaluasi ini adalah adanya peningkatan, ada perbaikan, jadi yang masih kurang-kurang di perbaiki. Saya kasih contoh misalnya ada beberapa klien yang malas-malasan yang dia harus ikut bimbingan mental, bimbingan agama malah tidur di kelas, nah disitu pembimbingan harus melaporkan dalam evaluasi kita cari solusinya dalam masalah seperti itu agar kedepan tidak ada lagi yang seperti itu. Inilah fungsinya diadakannya evaluasi.”33

9. Terminasi (Pengakhiran)

Pengakhiran pelayanan dilaksanakan untuk memastikan hasil evaluasi umum terhadap klien telah dapat menjalankan fungsi sosialnya secara wajar dan mampu menjadi warga negara masyarakat yang bertanggung jawab. Dalam hal ini dipersiapkan klien dalam proses pengakhiran berjalan secara wajar, dimana pemutusan pelayanan tidak menimbulkan konflik psikologis yang dapat mengganggu klien. Disamping itu agar administrasi penanganan kasus berlangsung dengan tertib, dibuatkan surat pemberitahuan formal bahwa proses pelayanan klien sudah berakhir.

“Terminasi biasanya diakhiri dengan penutupan, diakhir kegiatan itu biasanya diadakan semacam rekreasi, katakana beberapa minggu sebelum penutupan biasanya diadakan rekreasi untuk penyegaran, kan selama ini mereka mengikuti kegiatan mereka cape, suntuk, bosen didalam panti, akhirnya diadakan rekreasi biasanya yang sudah-sudah ke dufan, ke taman mini itu di biayai oleh PSBK. Kemudian terminasi juga ada uapcara penutupan, dalam upacara itu juga ada pemberian sertifika, kalau dia jurusan montir motor dia di berikan sertifikat itu diserahkan pada saat upacara penutupan, dalam uparacara itu juga ada penilaian WBS yang terbaik kemudian biasanya di kasih hadiah sama kepala panti supaya mereka semangat setelah keluar dari panti.”34

33

Wawancara pribadi dengan seksi PAS (Program dan Advokasi Sosial) Bpk. Susanto, Bekasi senin, 25 April 2011.

34

Wawancara pribadi dengan seksi PAS (Program dan Advokasi Sosial) Bpk. Susanto, Bekasi senin, 25 April 2011.

85

Dokumen terkait