• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG PENDIRIAN PERSEROAN

B. Prosedur pendirian Perseroan Terbatas

1. Pembuatan Akta Pendirian Perseroan Terbatas

Untuk mendirikan suatu Perseroan perlu dipenuhi syarat dan prosedur yang telah ditentukan oleh UUPT. Syarat-syarat dan prosedur tersebut terdiri dari tiga syarat utama yang harus dipenuhi, yaitu :37

a. Didirikan oleh dua orang atau lebih

Pasal 7 ayat (1) UUPT menyatakan Perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih. Yang dimaksud dengan orang adalah orang perseorangan atau badan hukum. Ketentuan sekurang kurangnya dua orang menegaskan prinsip yang dianut oleh undang-undang bahwa Perseroan sebagai badan hukum dibentuk berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu harus mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham sebagai pendiri. Ketentuan dua orang pendiri atau lebih tidak berlaku bagi perseroan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

b. Didirikan dengan Akta Otentik

Menurut ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT, perjanjian pendirian perseroan harus dibuat dengan akta otentik dibuat dihadapan notaris mengingat perseroan adalah badan hukum. Akta otentik tersebut merupakan akta pendirian yang memuat anggaran dasar perseroan. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT ini menegaskan bahwa akta notaris merupakan syarat mutlak untuk adanya suatu perseroan terbatas.

37 Abdulkadir Muhammad, Op Cit, hal 68

c. Modal Dasar Perseroan

Dalam Pasal 32 UUPT ditentukan bahwa modal dasar perseroan paling sedikit Rp. 50 juta dan pada saat pendirian perseroan paling sedikit 25% dari modal dasar harus sudah ditempatkan dan disetor penuh.

Maksud adanya dua orang dalam pendirian PT ini adalah jelas karena dalam mendirikan PT harus didasarkan pada perjanjian, atau yang disebut dengan asas kontraktual sesuai pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dimana suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

Namun menurut Soekardono, bahwa sebaiknya jumlah para pihak dalam akta pendirian suatu Perseroan Terbatas haruslah berjumlah ganjil, supaya lebih mudah dalam mengambil suatu keputusan. 38

Perseroan Terbatas yang lahir karena perjanjian yang berarti hubungan (koneksitas) diantara para pendiri PT hanya merupakan hubungan yang bersifat

“contractual” yang tidak memungkinkan adanya pemegang saham tunggal.39 Menurut Sentosa sembiring, bila suatu Perseroan sudah berdiri dan pemegang saham kurang dari dua orang, maka pendiri harus mencari partner baru. Bila tidak, risiko yang akan diderita oleh PT akan menjadi tanggung jawab pribadi pendiri.40

Akta pendirian yang merupakan perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya dan perjanjian itu tidak dapat

38 Soekardono, Hukum Dagang Indonesia (Jakarta: Rajawali Pers,1983), hal 11

39 Habib Adjie, Op Cit, hal 11

40 Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan tentang PerseroanTterbatas, (Bandung, Nuansa Aulia, 2006), hal 18

ditarik kembali selain dengan kesepakatan para pihak atau alasan-alasan yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Dan perjanjian itu harus dilakukan dengan itikad baik.

Tanpa adanya akta otentik akan meniadakan eksistensi Perseroan Terbatas , sebab akta pendirian inilah nantinya yang harus disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Berbeda dengan Firma, walaupun pendiriannya menurut Pasal 22 KUHD diharuskan dengan suatu akta otentik, ketiadaan akta notaris tidak dapat dipakai sebagai alasan bahwa Firma tidak ada. Dalam Firma ketiadaan akta otentik tidak menghalangi keberadaan Firma. Akta hanya merupakan alat bukti utama adanya Firma. Kalau akta itu tidak ada masih dimungkinkan mempergunakan alat bukti lain tentang keberadaan Firma. 41

Akta pendirian PT ini mempunyai fungsi intern dan ekstern. Fungsi intern, yaitu sebagai aturan main para pemegang saham dan organ perseroan. Sedang fungsi ekstern terhadap pihak ketiga sebagai identitas dan pengaturan tanggung jawab perbuatan hukum yang dilakukan oleh yang berhak atas nama perseroan terbatas. 42

Dalam pembuatan akta pendirian PT tersebut, para pendiri bisa mewakilkan kepada atau diwakilkan oleh orang lain dan itu harus dilakukan berdasarkan suatu surat kuasa. Mengenai bentuk surat kuasa tidak ditentukan oleh UUPT, apakah harus notariil atau cukup dibawah tangan saja. Pasal 8 ayat (3) UUPT hanya

41 Agus Budiarti, Op Cit, hal 37

42 Rahmadi Usman, Op Cit, hal 60

menegaskan bahwa “dalam pembuatan akta pendirian, pendiri dapat diwakilkan oleh orang lain berdasarkan surat kuasa”.43

Pasal 8 ayat (1) menegaskan bahwa Akta pendirian tersebut merupakan perjanjian berdasarkan kesepakatan para pihak yang dibuat secara otentik yang memuat anggaran dasar perseroan dan keterangan lain yang berkaitan dengan pendirian perseroan.

Keterangan lain yang dimaksud sekurang-kurangnya memuat :

1) nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat kedudukan dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum dari pendiri perseroan ;

2) nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjan, tempat tinggal, kewarganegaraan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang pertama kali diangkat;

3) nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor.44

Pasal 15 ayat (1) menyatakan bahwa Anggaran dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) memuat sekurang-kurangnya :

1. nama dan tempat kedudukan Perseroan;

2. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan;

3. jangka waktu berdirinya perseroan;

4. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor;

43 Ibid, hal 58

44 Lihat Pasal 8 ayat (2) UUPT

5. jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk tiap klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham;

6. nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan komisaris;

7. penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS;

8. tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris;

9. tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden.

Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 ayat (1) anggaran dasar dapat juga memuat ketentuan lain yang tidak bertentangan dengan undang-undang Perseroan Terbatas. Anggaran dasar tidak boleh memuat:

a. ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham,dan

b. ketentuan tentang pemberian manfaat pribadi kepada pendiri atau pihak lain.45 Hal-hal yang disebut dalam Pasal 15 ayat (1) UUPT bersifat imperatif, artinya paling tidak hal-hal tersebut harus dimuat dalam anggaran dasar perseroan.

Dengan kata lain Pasal 15 UUPT menyebutkan hal-hal yang minimal yang mesti masuk dalam anggaran dasar perseroan terbatas, selebihnya dapat ditambahi sendiri.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Anggaran Dasar merupakan bagian dari akta pendirian Perseroan terbatas 2. sebagai bagian dari akta pendirian, anggaran dasar memuat aturan main dalam

perseroan, yang menentukan setiap hak dan kewajiban dari pihak-pihak dalam

45 Lihat Pasal 15 UUPT

anggaran dasar, baik perseroan itu sendiri, pemegang saham, pengurus (Direksi, maupun komisaris) perseroan;

3. Anggaran dasar perseroan baru berlaku bagi pihak ketiga setelah akta pendirian perseroan disetujui oleh Menteri Hukum dan Ham.46

Disamping memuat hal-hal sebagaimana disebutkan dalam Pasal 8 ayat (1), hal-hal lain yang juga harus dicantumkan dalam akta pendirian sebagaimana diatur Pasal 12 UUPT adalah mengenai perbuatan hukum yang berkaitan dengan kepemilikan saham dan penyetorannya yang dilakukan oleh calon pendiri sebelum perseroan didirikan. Perbuatan hukum yang dimaksud, antara lain perbuatan hukum yang dilakukan oleh calon pendiri dengan pihak lain yang akan diperhitungkan dengan kepemilikan dan penyetoran saham calon pndiri dalam perseroan.

Setelah akta dibuat oleh notaris, maka PT tersebut telah resmi berdiri dan dapat melakukan kegiatan usaha, akan tetapi status PT tersebut bukan sebagai badan hukum. Jadi masing-masing pendiri pada masa ini bertanggung jawab secara pribadi terhadap tindakan yang dilakukan.47

Sebuah Perseroan Terbatas yang baru didirikan dengan hanya berdasarkan “ akta pendirian” yang dibuat dihadapan Notaris (Pasal 7 ayat (1) UUPT) sudah dapat melakukan perbuatan hukum, hal ini dalam praktek sering disebut dengan

“perseroan dalam pendirian”, artinya para pendiri telah dapat melakukan kegiatan atas nama perseroan yang bersangkutan, dan segala kegiatan yang dilakukan selama masa tersebut menjadi tanggung jawab secara pribadi para pendirinya

46 Ahmad Yani & Gunawan Widjaya, Op Cit, hal 60

47 Disampaikan dalam Perkuliahan Hukum Dagang I oleh Ramli Siregar

sampai perbuatan hukum tersebut diterima, diambil alih atau dikukuhkan oleh PT yang bersangkutan setelah mendapat pengesahan, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 14 UUPT, yaitu:

a. Perbuatan hukum atas nama perseroan yang belum memperoleh status badan hukum hanya boleh dilakukan oleh semua anggota Direksi bersama-sama semua pendiri serta semua anggota Dewan Komisaris Perseroan dan mereka semua bertanggung jawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut.

b. Jika perbuatan hukum tersebut yang dilakukan para pendiri atas nama perseroan yang belum memperoleh status badan hukum, maka perbuatan tersebut menjadi tanggung jawab pendiri yang bersangkutan, dan tidak mengikat perseroan

c. Bahwa perbuatan hukum semua anggota Direksi bersama-sama semua pendiri serta semua anggota dewan Komisaris perseroan, karena hukum menjadi tanggung jawab perseroan setelah perseroan memperoleh status sebagai badan hukum. 48

Dokumen terkait