HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembuatan Lateks PS-g-MA dan Lateks Polyester
Lateks PS-g-MA diperoleh dengan cara pencampuran larutan PS-g-MA dalam toluena pada konsentrasi 30% (v/v) dengan aquadest pada berbagai ratio, kecepatan pengadukan ± 200 – 400 rpm, diikuti dengan penambahan emulsifier ALS 10%. Lateks polyester diperoleh dari pencampuran larutan polyester 50% (v/v) dalam dichloromethan
(DCM) dengan aquadest dan diikuti dengan penambahan emulsifier SLS 20%, kecepatan pengadukan sekitar 200 – 400 rpm. Dari hasil pencampuran diperoleh lateks polimer.
Selanjutnya dilakukan uji kestabilan dengan cara mengukur densitas lateks yang diperoleh pada variasi masa penyimpanan. Pengujian kestabilan ini berdasarkan hubungan antara densitas fase terdispersi, densitas fase pendispersi, densitas emulsi dan volume fraksi yang menentukan konsentrasi partikel minyak (Weiss, 2002). Hasil pengukuran densitas lateks pada variasi waktu penyimpanan seperti tabel berikut :
Tabel 4.2. Hasil Pengukuran Densitas Lateks PS-g-MA dengan ALS 10% pada Berbagai Waktu Penyimpanan.
ALS (10%)
Larutan PS-g-MA (ml) : Aquades (ml)
Densitas (g/ml) waktu penyimpanan (hari)
1 3 5 7 14 21 28
Hasil pengukuran densitas kedua emulsi pada berbagai waktu penyimpanan, terlihat bahwa lateks dengan ratio larutan PS-g-MA/aquadest/lar ALS 10% = 90/10/10 stabil. Pada table 4.1 terlihat bahwa nilai densitas lateks PS-g-MA pada perbandingan 90 : 10 tidak mengalami perubahan selama masa penyimpanan. Nilai densitas lateks PS-g-MA adalah 0,960 g/ml dan tetap stabil selama masa penyimpanan. Sedangkan pada ratio 70 : 30 nilai densitasnya mengalami perubahan pada penyimpanan hari ketiga, dengan penurunan nilai densitas yaitu dari 0,955 g/ml menjadi 0,996 g/ml. Hal ini memperlihatkan bahwa lateks PS-g-MA pada ratio 70 : 30 hanya mampu stabil selama dua hari, yang kemudian pada hari ketiganya telah mengalami proses pemisahan fase. Sementara lateks pada ratio 50 : 50
mengalami pemisahan fase pada hari kedua penyimpanan. Seperti yang telihat pada tabel 4.3 lateks PS-g-MA dengan ratio 50 : 50 mengalami kenaikan nilai densitas dari 0,960 g/ml menjadi 0,986 g/ml dan ratio 30 : 70 mengalami kenaikan sekitar 0,026 g/ml pada hari kedua penyimpanan.
Tabel 4.3. Data Hasil Pengukuran Densitas Lateks Polyester dengan SLS 20% pada Berbagai Waktu Penyimpanan.
SLS (20%)
Larutan Polyester (ml) : Aquades (ml)
Densitas (g/ml) waktu penyimpanan (hari)
1 3 5 7 14 21 28
Demikian juga dengan lateks poliester yakni stabil pada ratio larutan polyester : aquadest : SLS 20% = 90/10/10. Pada table 4.4 terlihat bahwa nilai densitas lateks polyester pada ratio 90 : 10 tidak mengalami perubahan selama masa penyimpanan. Hal ini menunjukkan bahwa lateks polyester dengan SLS 20% pada ratio 90 : 10 stabil selama masa penyimpanan dengan nilai densitas 1,093 g/ml. Sedangkan ratio 70 : 30 mengalami perubahan nilai densitas pada hari ketiga penyimpanan, dengan penurunan nilai densitas yaitu dari 1,083 g/ml menjadi 1,081 g/ml. Hal ini memperlihatkan bahwa lateks Polyester pada ratio 70 : 30 hanya mampu stabil selama dua hari, yang kemudian pada hari ketiga telah mengalami proses pemisahan fase. Sementara pada ratio 50 : 50 dan 30 : 70.
mengalami pemisahan fase pada hari ketiga penyimpanan. Pada tabel 4.2 lateks polyester dengan ratio 50 : 50 mengalami penurunan nilai densitas dari 1,070 g/ml menjadi 1,0,66 g/ml dan ratio 30 : 70 mengalami penurunan sekitar 0,014 g/ml pada hari ketiga penyimpanan.
Selanjutnya pada lateks PS-g-MA maupun lateks polyester yang paling stabil dilakukan uji pengamatan ukuran dan bentuk partikel dengan cara mengamati lateks dibawah mikroskop optik dengan perbesaran 400 x. Berikut adalah hasil foto mikroskop optik lateks PS-g-MA dan lateks polyester.
Gambar 4.3. Hasil foto Mikrograf Mikroskop optik (a) lateks PS-g-MA dan (b) lateks Polyester
Hasil pengamatan foto mikroskop optik diatas diperoleh ukuran partikel rata-rata kedua lateks yang dihitung secara manual berkisar antara 1,333 – 3,1 µm , hal ini sesuai dengan ukuran partikel emulsi secara umum adalah berkisar antara 1 – 10 µm (J.W.
Goodwin, 2004).
4.3. Pembuatan Soil Stabilizer
Soil stabilizer dibuat melalui pencampuran lateks polimer (PS-g-MA maupun polyester) dengan lateks pekat karet alam (LPKA). Hasil pencampuran lateks PS-g-MA dengan LPKA pada berbagai ratio menggunakan emulsifier ALS 10% disebut soil stabilizer termoplastik (SSTP). Sementara hasil pencampuran lateks polyester dengan LPKA pada berbagai ratio menggunakan emulsifier SLS 20% disebut soil stabilizer termoset (SSTS).
a b
Soil stabilizer yang dihasilkan dianalisis secara visual dan data hasil pengamatan seperti tabel berikut :
Table 4.4. Hasil pengamatan visual terhadap Soil Stabilizer Termoplast (SSTP) No Lateks
Pada pembuatan SSTP, ratio PS-g-MA/LPKA : 90/10 diperoleh hasil berupa emulsi yang homogen dengan warna putih susu, tetapi pada ratio lateks PS-g-MA/LPKA 70/30 mulai terjadi penggumpalan. Demikian juga dengan ratio PS-g-MA/LPKA : 50/50 terjadi penggumpalan yang semakin banyak. Dengan demikian peningkatan jumlah LPKA dan penurunan jumlah lateks PS-g-MA menyebabkan terbentuk emulsi yang tidak homogen dan terjadi penggumpala. Hal ini disebabkan oleh adanya volume LPKA sebagai fraksi dispersi yang tinggi, yang menyebabkan fenomena flokulasi, muatan listrik partikel, kristalisasi sebagian dari molekul fase dispersi, dan adanya lapisan penyerap sehingga terjadi proses penggumpalan maupun pengendapan (Weiss, 2002).
Table 4.5. Hasil pengamatan visual terhadap soil stabilizer termoset (SSTS).
No Lateks (ml)
Demikian juga dengan SSTS, pada ratio lateks polyester/LPKA 90/10 terbentuk emulsi yang homogen, tetapi dengan peningkatan ratio LPKA dan penurunan ratio lateks polyester mulai terjadi penggumpalan dan pada ratio 10/90 terbentuk campuran dengan gumpalan yang sangat pekat. Hal ini disebabkan oleh adanya volume LPKA sebagai fraksi dispersi yang tinggi yang menyebabkan fenomena flokulasi, muatan listrik partikel, kristalisasi sebagian dari molekul fase dispersi, dan adanya lapisan penyerap sehingga terjadi proses penggumpalan maupun pengendapan (Weiss, 2002).
4.3.1. Analisis Densitas Soil Stabilizer.
Table 4.6. Data Hasil Pengukuran Densitas SSTP dan SSTS.
No Waktu Penyimpanan (hari)
Suatu emulsi yang stabil akan memiliki densitas yang tetap selama masa penyimpanan. Tabel berikut adalah data hasil pengukuran densitas soil stabilizer pada berbagai waktu penyimpanan. Dari hasil pengukuran densitas diperoleh bahwa SSTP yang homogen mempunyai nilai densitas 0,998 gr/ml, sementara SSTS yang homogen mempunyai nilai densitas 1, 073 gr/ml. dalam hal ini SSTS memiliki densitas yang lebih besar dibandingkan SSTP, ini disebabkan karena densitas polyester lebih besar dibanding densitas polystyrene, yaitu 1,2 gr/ml sementara densitas polystyrene adalah 0,998 gr/cm3.