UNIT USAHA NON FORMAL
4.3.4 Pembuatan Sistem Pemasaran Bersama
Adapun strategi yang dilakukan oleh Disperindag Kabupaten Sumenep dalam menciptakan pemasaran bagi Usaha Kecil dan menengah yang ada di Kabupaten sumenep dilihat dari hasil wawancara yang peniliti lakukan, salah satunya oleh Sekretaris Disperindag Kabupaten Sumenep mengatakan bahwa:
“untuk menciptakan pemasaran bersama bagi UKM di Kabupaten Sumenep kami (Disperindag) menyediakan Sorum bagi hasil produksi UKM yang ada, sorum tersebut berada dikabupaten sumenep dengan nama DESGRANASDA. Sorum ini menampung semua hasil produksi UKM di Kabupaten Sumenep yang merupakan binaan kami. Selain sorum tersebut bentuk bantuan dalam memasarkan hasil produksi UKM yang kami lakukan adalah dengan memberikan peluang kepada para pelaku UKM untuk mengikuti pameran tingkat lokal, regional dan nasional. Untuk tingkat local setiap hari jadi Kabupaten Sumenep kami selalu mengikut sertakan hasil produksi dari tiap UKM. Tingkat regional dengan mengikuti pasar lelang yang diadakan setiap 1 bulan sekali di Surabaya, sedangkan untuk pemasaran nasional kami melakukan kerja sama denga Disperindag diluar daerah. Kami untuk mengikut sertakan hasil produksi UKM ditingkat regional maupun nasional selain dari produk yang dihasilkan juga dilihat dari proaktif pelaku UKM kepada Disperindag” (wawancara, Drs. Erfandi, Sekretaris Disperindag, 13 Februari 2014).
Sedangkan Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep menambahkan bahwa:
“informasi terkait dengan adanya pameran yang ada diluar daerah didapatkan melalui panitia EO (Event Organizer) atau penyelenggara pameran, sedangkan output yang diperoleh oleh instansi sendiri yaitu mempersembahkan nama baik daerah melalui produk unggulan yang dimiliki oleh kabupaten Sumenep, seperti halnya Keris, Batik Pewarna Alam dan Industri Agro atau Kulinernya” (wawancara, Agus Eka Hariyadi Kepala Bidang Industri Disperindag, 11 Februari 2014).
System pemasaran usaha mikro, kecil ataupun menengah yang ada dikabupaten Sumenep dalam memasarkan produknya cukup bervariatif, salah satunya yang peneliti mampu dimintai keterangan melalui wawancara adalah Didik (38 tahun) warga Pangarangan Kota Sumenep pemilik usaha bidang Batik tulis Canteng Koneng, yang mengungkapkan bahwa:
“factor terpenting yang harus difikirkan oleh pemilik usaha selain sumber daya manusia yaitu segmen pasar yang tepat, dimana kita harus mampu melihat segmen pasar yang tepat untuk hasil produksi yang kita miliki, pasar merupakan hal terpenting yang harus difikirkan oleh pemilik usaha. pengalaman pribadi saya tentang pemasaran hasil produksi yang saya miliki mudah dan sulit, mudah diangankan namun sulit untuk dilaksanakan. Banyak orang bilang bahwa kunci termudah untuk memasarkan hasil produksi batik tulis yaitu dengan memanfaatkan internet. Saya pun mencobanya dan alhasil nol persen, malah motif saya dijiplak. Dari pengalaman tersebut saya mencoba utuk mencoba kerjasama dengan pemerintah dengan sebanyak-banyaknya produktifitas dan disetor kepada pemerintah untuk dipasarkan dan alhamdulilah hingga saat ini saya masih bisa bertahan di bisnis ini, pemerintah yang membantu saya dalam menyediakan pasar produksi saya adalah Disperindag. Event dan pameran sering saya ikuti karena dibawa oleh Disperindag” (wawancara, 21 februari 2014).
Hal tersebut berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh salah satu responden dalam penelitian ini, atas nama Hartono (38 tahun) warga pekandangan tengah yang mengatakan, bahwa:
“sejauh ini pemasaran dari hasil produksi saya dipasarkan melalui teman ke teman saja, dan sampai detik ini lingkup pasar saya masih di dalam daerah. Pernah satu kali ikut serta pameran nasional di Jakarta, itupun saya harus numpang kepada pengrajin yang lain, karena untuk ikut pameran atas nama pribadi harus mengelurkan biaya yang tidak sedikit”.
“menurut saya, Disperindag kabupaten sumenep dalam menyediakan peluang pasar bagi UKM masih pilih kasih, saya pribadi jarang diikut sertakan ke pameran daerah ataupun nasional, padahal saya sering melakukan konsultasi dengan pegawai disana, menurut saya untuk dapat memiliki peluang ikut serta dipemasaran yang disediakan oleh Disperindag harus mengenal orang yang berpengaruh di Disperindag. (wawancara, 25 februari 2014).
Selanjutnya Agus Wahyudi, ST, Kasi Kerjasama Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, menambahkan tentang hal yang harus dilakukan oleh UKM dalam memasarkan hasil produksinya, bahwa:
“Kami menyediakan pasar local berupa pameran dan sorum karya UKM, Pasar Regional berupa pasar lelang dan Pasar Nasional dengan bekerja sama.
seharusnya para wirausahawan disumenep tidak menggantungkan dirinya kepada pemerintah saja, karena pemerintah tidak sepenuhnya bisa dan dapat merangkul semua yang menjadi beban atau permasalahan mereka. Seharusnya para pelaku UKM harus lebih kreatif dalam mencari peluang di luar daerah, karena apabila UKM yang ada dikabupaten ini hanya menggantungkan diri kepada pemerintah, maka sulit untuk berkembang pesat” (wawancara, Agus Wahyudi, 11 Februari 2014 di Disperindag Kabupaten Sumenep).
Permasalahan yang sering dihadapi pada produksi dan pemasaran dari data LPPD Tahun 2013 yang dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep yaitu (Sumber: LPPD Tahun 2013 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep):
a) Masih sering terjadi kelangkaan stock dan kenaikan harga yang cukup tajam atas barang penting/strategis serta masih sulitnya menginformasikan data mengenai informasi harga dan stock pada masyarakat secara umum.
b) Kurangnya kemampuan dan kemauan pengusaha untuk memperkenalkan produknya melalui pameran.
c) Tidak ada eksportir yang berkedudukan di Sumenep sehingga sulit untuk memasarkan produk-produk unggulan Kabupaten Sumenep ke luar Negeri.
d) Ada kekhawatiran para pengusaha kecil IKM terhadap kebijakan Pasar Global.
Langkah antisipasif yang diambil oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan perdangan pada industry kecil menengah maupun besar yang mungkin akan terjadi pada tahun berikutnya yitu dengan:
a) Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penstabilan stock dan harga atas barang penting/strategis.
b) Meningkatkan pembinaan kemampuan dan kemauan pengusaha untuk mengikutsertakan dan memperkenalkan produknya melalui pameran sehingga muncul produk-produk unggulan baru.
c) Meningkatkan pembinaan serta pelatihan ketrampilan dalam peningkatan kualitas produk-produk unggulan lokal agar dapat bersaing dengan produk luar.
d) Meningkatkan kesadaran masyarakat agar menggunakan produk dalam negeri khususnya barang lokal, agar barang lokal bisa menjadi andalan daearah dan dapat bertahan sebagai produk lokal.
Tabel 4.3.4
Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri
No Jenis Program Pelaksana
1 Pengembangan pasar lelang daerah Disperindag 2 Pameran dan kontak dagang produk
unggulan
Disperindag
3 Peningkatan fasilitas terwujudnya kerja sama strategis
Kabupaten Sumenep
4 Operasional gudang SRG Disperindag 5 Fasilitasi peningkatan dan
pengembangan pasar industri hasil tembakau dan hasil produk diversifikasi
Disperindag
6 Pembinaan dan fasilitasi dalam rangka penguatan pedagang jasa perbengkelan di lingkungan daerah penghasil tembakau
Kabupaten Sumenep
7 Kemitraan UKM dan Usaha Besar dalam pengadaan bahan baku
Disperindag
Sumber: (LPPD Tahun 2013 Disperindag Kabupaten Sumenep)
Industri andalan yang merupakan produk unggulan Kabupaten Sumenep dilihat dari data LPPD Disperindag Kabupaten Sumenep Tahun 2013, diantaranya sebagai berikut :
a) Industri Garam
Kabupaten Sumenep terkenal dengan industri garamnya. Adapun pengelola lahan untuk proses pembuatan garam di Kabupaten Sumenep tersebar pada beberapa kecamatan. Kapasitas produksi tertinggi terjadi di
Kecamatan Kalianget dengan produksi 73.030 ton per tahun di susul oleh Kecamatan Gapura dengan produksi 43.331 ton dan Kecamatan peragaan dengan produksi 30.612 ton.
Tabel 4.3.4.a
(Jumlah Luas Lahan dan Produksi Industri Garam tahun 2012) No Kecamatan Jumlah Luas
Lahan/ ha
Produksi Ton Rata-Rata Produksi/ ha 1 Pragaan 257. 663 30.612.00 118.80 2 Saronggi 338. 746 25.538.00 75.38 3 Giligenting 255.456 27.875.00 109.12 4 Talango 7.590 350.00 46.11 5 Kalianget 495.053 730.030.00 147.53 6 Sumenep 4.718 175.00 37.09 7 Gapura 302. 697 43.331.00 143.15 8 Dungkek 143.505 4.280.00 29.80 9 Ra’as 63. 544 4.417.00 69.50 10 Sapeken 50. 760 2.983.00 58.76 11 Arjasa 24. 500 1.423.00 58.50 Jumlah 1. 944. 230 214.014.00 110.08 Sumber: (LPPD Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tahun 2013). b) Industri Meubel Kayu
Industri Meubel Kayu yang berlokasi di Kabupaten Sumenep merupakan industri kecil dan menengah yang menyebar hampir di semua Kecamatan. Sentra Industri Meubel Kayu yang cukup besar yaitu berlokasi di Desa Karduluk Kecamatan Pragaan dan produksi Meubel Kayu Antik/Repro terkonsentrasi hanya di Kecamatan Kota dan Kalianget. Adapun jenis hasil produksi dibedakan menjadi meubel kayu komersial biasa dan meubel kayu
antik/ repro. Pangsa pasarnya terdiri dari lokal, regional/nasional dan peluang ekspor luar negeri.
c) Industri Batik Tulis
Industri Batik Tulis merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Sumenep. Produk yang dihasilkan mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang membedakan dengan baik-batik tulis luar. Bahan yang diproduksi terbuat dari jenis kain primissima dan sutra dengan metode batik tulis dan pewarnaan dilakukan dengan cara kimia dan alami sehingga menghasilkan jenis dan corak yang beraneka ragam. Industri ini terkonsentrasi di Desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto dan mempunyai pangsa pasar lokal, regional/nasional dan peluang ekspor luar negeri.
d) Industri Keris
Produk unggulan Kabupaten Sumenep berupa kerajinan yang memiliki nilai sejarah yaitu kerajinan keris. Industri ini berlokasi di Desa Aeng Tong-Tong Kecamatan Saronggi dan Palongan Kecamatan Bluto. Produski yang dihasilkan terdiri dari berbagai macam jenis produk keris. Pangsa pasarnya lokal, Nasional dan Internasional.
e) Industri Makanan
Industri makanan yang ada di Kabupaten Sumenep bertumpu pada hasil pertanian dan perkebunan serta hasil laut. Jenis dan macam industri makanan yang merupakan produk unggulan; Kripik singkong, Kripik ikan,
Petis ikan, Terasi, Rengginang, Mente, Juwadah, Man Reman, dan Kripik Pisang.
f) Industri Gula Siwalan
Industri ini hanya diproduksi pada musim kemarau dikarenakan bahan bakunya berupa nira pohon siwalan yang banyak dan melimpah yang bisa diambil pada musim kemarau. Lokasi industri Gula Siwalan berada di Kecamatan Dungkek, Batang-Batang, Gapura, Lenteng, Pragaan dan Bluto. g) Industri Kerajinan Kerang- Kerangan
Kabupaten Sumenep dengan wilayah kepulauan dan laut yang luas menghasilkan banyak potensi kelautan yang bisa diolah menjadi hasil industri, diantaranya adalah kerang-kerangan. Lokasi industri ini yaitu di Kecamatan Ra’as dengan pangsa pasar Bali dan Yogyakarta.
h) Industri Rokok
Industri Rokok di Kabupaten Sumenep sangat didukung oleh tersedianya bahan baku lokal yang cukup serta kwalitas yang baik sehingga mampu menghasilkan produk rokok dengan cita rasa dan aroma yang khas. Lokasi industri ini berada di Kecamatan Bluto, Pasongsongan, Pragaan dan Lenteng.
i) Industri Perahu Kayu
Industri Perahu Kayu sangat diperlukan sebagai daya dukung alat transportasi laut yang efisien untuk menghubungkan pulau-pulau serta keperluan para nelayan untuk mengeksploitasi hasil kekayaan laut dimana
Kabupaten Sumenep mempunyai wilayah kepulauan dan perairan yang sangat luas. Industri perahu kayu tersebar di Kecamatan Saronggi, Talango dan Masalembu.