• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendirian Pusat Konsultasi Dan Pengembangan UMKM

Dalam dokumen Strategi Pengembangan UMKM pigura kaligrafi (Halaman 102-110)

UNIT USAHA NON FORMAL

4.3.3 Pendirian Pusat Konsultasi Dan Pengembangan UMKM

Adanya kantor yang menyediakan pusat informasi dan konsultasi bagi masyarakat terkait dengan pengembangan UKM di Dinas Perindustrian dan Perdangan Kabupaten Sumenep tidak berjalan sesuai dengan rencana. Seperti yang disebutkan oleh Kasi Informasi Kerjasama Perdagangan Disperindag kabupaten Sumenep yang mengatakan bahwa:

“untuk pusat konsultasi disini kami telah menyediakan, namun jarang bagi pelaku UKM yang mendatangi kantor kami untuk melakukan konsultasi, padahal selama masih menjadi binaan kami apapun yang menjadi permasalahan mereka (pelaku UKM) harus di konsultasikan dengan kami. Sedangkan pengunjung yang banyak mendatangi kantor kami hanya masyarakat yang ingin melakukan proses legalitas izin usahanya yang sebenarnya wewenang untuk mengeluarkan legalitas atau izin usaha sekarang sudah ditangani oleh BPPT (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) Kabupaten Sumenep” (wawancara, Agus Wahyudi, 11 Februari 2014 di Disperindag Sumenep).

Selanjutnya, responden atas nama Moh. Erfan (38) pemilik butik Dermaga di Kecamatan Pragaan dan anggota dari Arah Naga Tresna yang bergerak dibidang usaha Aksesoris dan Batik Tulis mengatakan bahwa:

“untuk pusat konsultasi di Disperindag menurut saya menerapkan system kekeluargaan, dimana bagi mereka yang sudah akrab dan dikenal lama dengan beberapa pegawai disana, maka ia lebih mudah untuk menggali informasi. Tata cara berkonsultasipun berbeda dengan mereka yang masih baru, baru dalam artian bergabung di dunia usaha atas naungan pemerintah daerah atau Disperindag. Untuk mereka yang telah akrab dengan mudah mereka langsung bertemu dan konsultasi dengan kabag ataupun pimpinan sedangkan untuk yang baru bergabung biasanya masih ditangani oleh pegwai yang lain.”

“Selama ini saya untuk melakukan konsultasi harus mendatangi kantor Disperindag, dan tentang pusat konsultasi melalui jejaring social atau internet saya belum pernah melakukannya” (wawancara, 20 februari 2014).

Selama satu bulan kegiatan penelitian ini, dari hasil observasi peneliti di kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, peneliti jarang melihat masyarakat pengunjung yang mendatangi kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep.

Terkait dengan strategi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep agar tetap dekat dengan masyarakat atau memperoleh aspirasi masyarakat yaitu diungkapkan oleh Sekretaris Disperindag Kabupaten Sumenep, bahwa:

”kami selain menyediakan pusat konsultasi juga melakukan pendekatan melalui partisipasi masyarakat, yang dimulai dengan menghimpun aspirasi masyarakat, melalui Musrenbang dari Tingkat Kecamatan sampai pada Tingkat Kabupaten yang dimotori oleh Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Sumenep, agar memperoleh prioritas kegiatan yang diperlukan. Dari hasil perolehan Musrenbang masing-masing kecamatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan memandang perlu melakukan upaya sinkronisasi sekaligus mempertajam prioritas kegiatan hasil serap aspirasi tersebut. Hal ini dilakukan agar perencanaan

pembangunan industri dan perdagangan benar-benar mengarah pada prioritas kebutuhan masyarakat yang nyata dan sesuai dengan potensi kondisi wilayah per-kecamatan, mengingat dari banyaknya daftar usulan kegiatan pada masing-masing kecamatan yang kemungkinan besar tidak dapat terealisasi semuanya” (wawancara, Drs. Erfandi, Sekretaris Disperindag, 13 Februari 2014).

Selain pusat konsultasi, factor yang penting yang harus dilaukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep adalah pengembangan usaha kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Sumenep. Adapun strategi yang dilakuakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep dalam mengembangakan industri dan perdagangan usaha kecil yang ada dikabupaten Sumenep diungkapkan oleh Agus Eka Hariyadi, bahwa :

“untuk mengembangakan usaha kecil yang ada dikabupaten sumenep kami melihat dulu apa yang menjadi kendala bagi pemilik usaha, kalau misalkan pemilik usaha menginginkan adanya pelatihan maka kami datangkan pelatih untuk memberikan pelatihan kepada mereka. Tetapi kalau mengenai kelengkapan peralatan, maka yang kami lakukan yaitu dengan memberikan bantuan peralatan. Pada pemasaran hasil produksinya kami juga ikut membantu mengembangkan, dengan cara melakukan kerja sama dengan Disperindag daerah lain dan dengan mengikutsertakan pameran (wawancara, 11 Februari 2014 di Disperindag Kabupaten Sumenep).

Salah satu pemilik usaha keris yang mendapatkan bantuan peralatan adalah Moh. Sabit (32 tahun) warga Aeng Tong-tong Kecamatan Saronggi dengan nama usaha Sumber Pusaka, mengatakan bahwa:

“bantuan yang selalu diberikan oleh Disperindag dalam mengembangkan usaha yang saya miliki yaitu berupa peralatan keris. Kebetulan usaha yang saya miliki yaitu keris atau pusaka

Madura asli. Bantuan yang diberikan seperti, Boor, Palu, Borcun, Pengapit, Gerenda dan alat ukir keris. Dan untuk pengembangan dibidang permodalan, pihak Disperindag hanya memberikan arahan kepada kami melalui peminjaman bank,salah satunya bank BPRS kabupaten Sumenep” (wawancara, 27 Februari 2014).

Pelatihan dan pengembangan merupakan faktor terpenting dalam melakukan perbaikan sumber daya yang dimiliki oleh UKM dan kualitas produksi yang dihasilkan oleh UKM itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Siswanto dari Probolinggo yang merupakan instruktur pelatihan yang diadakan oleh Disperindag Jawa Timur bekerjasama dengan Disperindag Kabupaten Sumenep, dengan tema pelatihan ”Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Pewarnaan Alam Batik Tulis di Kabupaten Sumenep” mengatakan bahwa:

”pelatihan bagi usaha kecil harus terus dilakukan, karena dengan pelatihan, hasil produksi akan lebih baik dan meningkat. Apabila hasil produksinya sudah bagus maka selanjutnya akan menaikkan harga jual dari produk tersebut dan tentu apabila ini dijaga dengan baik masyarakat sumenep akan mudah untuk membuka peluang kerja dan mendapatkan pekerjaan. Contohnya di batik tulis yang telah berjalan sekarang, pemasaran usaha dibidang batik tulis untuk lingkup jatim dan Pusat cukup baik, bersaing dalam negeri atau luar negeri masih sangat mungkin karena ciri khas yang tetap dijaga dan kualitas yang semakin baik. Tentu semua itu tidak terlepas dari Skill Training And Companny Management” (wawancara, 17 Februari 2014 di Sumenep).

Adapun permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan dan pengembangan industri kecil Bidang Perindustrian dikabupaten sumenep dilihat dari LPPD Tahun 2013 yaitu (Sumber: LPPD Tahun 2013 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep):

a) Terbatasnya staff dalam mendata unit usaha dan sarana pendukungnya, sehingga pendataan sebagai dasar untuk memberikan pembinaan dapat belum menjangkau lebih luas pada pengusaha kecil yang jumlahnya sangat besar dan tersebar diberbagai pelosok desa termasuk wilayah kepulauan.

b) Tingkat kewirausahaan para pengrajin pada umumnya masih rendah, lemahnya permodalan, peralatan tradisional sehingga memberi hasil produksi yang kurang dapat bersaing dan factor kualitas banyak diabaikan.

c) Kurangnya pengetahuan dalam pemasaran produk dan saluran pemasaran belum dapat dimanfaatkan dengan baik sementara itu koperasi atau wadah persatuan pengrajin yang lain belum berfungsi sebagaimana mestinya.

d) Persaingan antar pengrajin seringkali menghambat berkembangnya usaha itu sendiri.

Langkah antisipasif yang perlu diambil untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan di atas yang mungkin akan terjadi pada tahun berikutnya yaitu dengan:

a) Perlu adanya pelatihan untuk staff dalam rangka pendataan industri kecil menengah sebagai pertimbangan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan tersebut dapat tepat sasaran,

fleksibel dan memberikan nilai tambah terhadap kesejahteraan masyarakat kecil.

b) Perlu adanya pelatihan untuk staff dalam rangka pendataan industri kecil menengah dengan serta meningkatkan ketrampilan teknis para penyuluh staf atau petugas teknis sehingga dapat memenuhi kebutuhan produk yang sesuai dengan selera konsumen dan meningkatkan kualitas produksi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk lokal.

c) Lebih mengintensifkan pembinaan pada pengrajin/pengusaha industri kecil melalui pendidikan dan latihan, study banding, bantuan stimulant dan penggunaan teknologi tepat guna.

d) Perlu diadakan koordinasi dengan instansi terkait dalam pembinaan sistem pemasaran dengan melalui jalur koperasi atau wadah persatuan pengrajin lainnya sehingga dengan demikian jangkauan pemasaran akan lebih luas dan menghilangkan atau paling tidak dapat mengurangi persaingan yang tidak sehat antar pengrajin.

e) Perlu diajukan kembali program penguatan modal untuk membantu permodalan usaha industri kecil dan menengah dengan membuat petunjuk teknis dan pelaksanaan yang tepat, fleksibel dan sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari kredit macet.

Adapun keluhan yang sering diungkapkan oleh para pelaku UKM dikabupaten Sumenep, disebutkan oleh Kepala Bidang Industri, bahwa:

“permasalahan dan kendala yang sering menjadi keluhan para pelaku UKM dalam mengembangkan usahanya yaitu modal dan pemasaran. kami (Disperindag) dalam menangani permasalahan yang dihadapi oleh pelaku UKM untuk modal kami memberikan informasi tentang peminjaman modal kepada bank yang ada di daerah salah satunya seperti Bank BPRS Kabupaten Sumenep, dan untuk pemasaran kami menyediakan pasar lelang, promosi produk unggulan dan kerjasama dengan Disperindag Provinsi Jawa Timur. ” (wawancara, Agus Eka Hariadi Kepala Bidang Industri Disperindag, 11 Februari 2014).

Dalam pelaksanaan pembinaan dan pelatihan kepada para pelaku UKM disumenep tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Disperindag Kabupaten Sumenep bahwa:

“dalam pelaksanaan pembinaan dan pelatihan yang diberikan kepada para pelaku UKM sering mengalami kendala baik itu internal ataupun eksternal. Kendala internal yaitu kualitas sumber daya manusia atau SDM yang dimiliki oleh instansi ini (Disperindag) masih jauh dengan apa yang menjadi harapan atau kurang mampu dalam bidang yang dijalankan. Sedangkan permasalahan eksternal yaitu adanya kecemburuan oleh pelaku UKM yang tidak mendapatkan giliran bantuan peralatan ataupun pelatihan, factor ini disebabkan oleh sedikitnya dana APBD yang dialokasikan kepada instansi kami (Disperindag) sehingga kami tidak bisa merangkul semua pelaku UKM yang ada disumenep (wawancara, Drs. Erfandi, Sekretaris Disperindag, 13 Februari 2014).

Adapun program yang diberikan oleh disperindag Kabupaten Sumenep dalam menunjang pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM), dapat dilihat dari data ditabel berikut ini:

Tabel 4.3.3

Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah

No Jenis Program Wilayah

1 Penumbuhan usaha baru industri kecil dan menengah Pande Besi.

Kec. Batang dan Kec. Dungkek

2 Penumbuhan usaha baru industry kecil dan menengah Gula Siwalan.

Ds. Longos Kec. Gapura dan Ds. Bicabbi Kec. Dungkek

3 Penumbuhan usaha baru industry kecil dan menengah Terasi.

Kec. Ambunten dan Kec. Batu Putih

4 Pemberdayaan unit usaha IRT dan IK non formal perbengkelan sepeda motor (Maintenance Service).

Kabupaten Sumenep

5 Penumbuhan wirausaha baru dibidang industry kasur dilingkungan daerah penghasil tembakau.

Ds. Ellak Laok kec. Lenteng, Ds. Ellak Daya Kec. Lenteng, Ds. Belluk Ares Kec.

Ambunten, Ds.

Panaongan Kec. Pasongsongan

6 Penumbuhan usaha baru industry kecil dan menengah Las Karbit.

Kab. Sumenep

(Kepulauan) 7 Penumbuhan usaha baru industry kecil

dan menengah Selai Buah.

Kec. Batu Putih dan Kec. Lenteng

8 Penumbuhan usaha baru industry kecil dan menengah Keripik.

Ds.Geddungan Kec. Batuan, Ds. Parsanga Kec. Kota, Desa Jabaan Kec. Manding

dan menengah Batik. Saronggi 10 Penumbuhan wirausaha baru dibidang

industry kerupuk ikan dilingkungan daerah penghasil tembakau.

Ds. Lenteng Barat Kec. Lenteng,

Ds.Pekandangan tengah Kec. Bluto,

Ds. Ambunten Tengah Kec. Ambunten, dan Kec. Pragaan

11 Pemberdayaan unit usaha IRT dan IK non formal jasa penjahitan.

Kabupaten Sumenep

12 Penumbuhan wirausaha baru dibidang industry Petis Ikan dilingkungan daerah penghasil tembakau.

Ds. Slopeng Kec. Dasuk, Ds. Ambunten Timur Kec. Ambunten, Kec. Pragaan dan Kec. Pasongsongan

13 Program pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Asongan berupa sarana dan prasarana.

Kabupaten Sumenep

Sumber: (LPPD Tahun 2013 Disperindag Kabupaten Sumenep).

Dalam dokumen Strategi Pengembangan UMKM pigura kaligrafi (Halaman 102-110)

Dokumen terkait