• Tidak ada hasil yang ditemukan

UANG DI INDONESIA

2. Pengaturan di dalam KUHPidana dan KUHAP (Lex Generalis)

2.2. Pengaturan Menurut KUHAP

2.2.3. Pembuktian Kejahatan Carding Menurut KUHAP

Pembuktian kejahatan carding tidak terlepas dari alat-alat bukti yang merujuk pada ketentuan di Pasal 184 KUHAP, antara lain:

1. Keterangan saksi. Menurut Pasal 185 ayat (1)

KUHAP, keterangan saksi sebagai alat bukti adalah apa yang saksi nyatakan di persidangan. Semua orang dapat menjadi saksi, adapun pengecualian untuk menjadi saksi tercantum pada Pasal 186 KUHAP, antara lain:108

a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis

lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari Terdakwa atau yang bersama- sama sebagai Terdakwa;

b. Saudara dari Terdakwa atau yang bersama-

sama sebagai Terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan, dan anak-anak saudara Terdakwa sampai derajat ketiga;

c. Suami atau istri Terdakwa meskipun sudah

bercerai atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa.

Saksi-saksi yang terkait dengan kejahatan

carding tersebut dapat berasal dari:

a. Saksi fakta, yaitu saksi yang menyaksikan

secara langsung pada saat carder sedang

melakukan kejahatan carding apabila

kejahatan carding tersebut dilakukan secara

online, yaitu dengan menggunakan komputer dan koneksi internet;

b. Pihak merchant, yaitu penjual barang atau

jasa yang memiliki mesin EDC di tokonya apabila kejahatan carding tersebut dilakukan

secara offline, yaitu dengan langsung

berbelanja ke tempat di mana mesin EDC tersebut berada. Biasanya kartu kredit yang digunakan oleh carder adalah hasil curian;

c. Korban, yaitu pihak yang dalam hal ini

adalah pemilik atau pemegang kartu kredit yang sah yang dirugikan atas kejahatan

carding;

d. Pihak lainnya, baik secara sadar maupun

tidak sadar yang membantu dan/atau mempermudah terlaksananya kejahatan

ataupun kurir pada ekspedisi yang mengantarkan barang hasil kejahatan carding

kepada carder.

2. Keterangan ahli atau verklaringen van een

deskundige. Pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa keterangan seorang ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di persidangan. KUHAP sendiri tidak memberikan suatu penjelasan mengenai keterangan

ahli tersebut, akan tetapi Pasal 343 Ned. Sv.

(Nederlandsche Strafvordering) memberikan pengertian apa yang dimaksud dengan keterangan ahli, yaitu:

“Pendapat seorang ahli yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya, tentang sesuatu apa yang dimintai pertimbangannya”.

Saksi-saksi ahli yang terkait dengan kejahatan

carding ini dapat berasal dari:

a. Pihak-pihak terkait sesuai dengan perumusan

delik pada kejahatan carding, misalnya

apabila berkaitan dengan pemalsuan surat untuk menyamarkan identitas yang dalam hal ini adalah KTP, maka saksi yang diperiksa adalah pegawai kecamatan yang menerbitkan KTP tersebut;

b. Pihak yang berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan erat dengan kartu kredit, seperti orang-orang yang berasal dari Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI);

c. Pihak bank sebagai penerbit kartu kredit

yang dapat memberikan penjelasan seputar kartu kredit yang diterbitkannya;

d. Dosen ataupun Praktisi Hukum yang telah

terbukti mengerti dan memahami secara luas terhadap suatu bidang terkait dengan kejahatan carding yang dalam hal ini bisa saja pakar hukum pidana ataupun kriminolog.

3. Surat. Selain pada Pasal 184 KUHAP yang

menyebutkan alat-alat bukti, maka hanya ada 1 (satu) pasal saja di dalam KUHAP yang mengatur tentang alat bukti surat, yaitu pada Pasal 187 KUHAP, yang menurut ketentuan tersebut alat bukti surat terdiri atas:109

a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk

resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya,

yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat, atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangan itu;

b. Surat yang dibuat menurut ketentuan

peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

c. Surat keterangan dari seorang ahli yang

memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau keadaan yang diminta secara resmi daripadanya;

d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada

hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

Alat bukti surat yang terkait dengan kejahatan

carding ini dapat berupa Berita Acara Pemeriksaan (BAP)

berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh pihak Kepolisian;

4. Petunjuk. Pasal 188 ayat (1) KUHAP memberikan

pengertian terhadap petunjuk, yaitu:

“Petunjuk adalah perbuatan, kejadian, atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya”.

Pasal 188 ayat (3) KUHAP jika diperhatikan lebih lanjut, mengatakan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh Hakim dengan arif dan bijaksana, setelah mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nurani. Andi Hamzah mengatakan bahwa sebaiknya alat bukti ini diganti dengan alat bukti pengamatan Hakim seperti diatur di dalam Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1950

dan Ned. Sv. (Nederlandsche Strafvordering) yang

terbaru110.

Alat bukti petunjuk yang terkait dengan kejahatan

carding ini dapat berasal dari bukti e-mail apabila carder

melakukan kejahatan carding secara online atau bukti sales

draft apabila carder melakukan kejahatan carding secara

offline.

5. Keterangan Terdakwa. KUHAP mencantumkan

dengan jelas bahwa “keterangan Terdakwa” dapat digunakan sebagai alat bukti sesuai dengan Pasal 184 butir c, berbeda dengan HIR yang menyebut “pengakuan Terdakwa” sebagai alat bukti menurut Pasal 295 HIR, namun sangatlah disayangkan karena KUHAP sendiri tidak menjelaskan apa perbedaan antara “keterangan Terdakwa” sebagai alat bukti.111

Keterangan Terdakwa sebagai alat bukti tidak perlu sama atau berbentuk pengakuan. Semua keterangan Terdakwa hendaknya didengar, baik itu berupa penyangkalan ataupun pengakuan sebagian dari perbuatan atau keadaan. Hakim tidak perlu menggunakan seluruh keterangan Terdakwa atau saksi, hal ini sesuai dengan

Arrest Hoge Raad tertanggal 22 Juni 1944.112

Keterangan Terdakwa terkait dengan kejahatan

carding yang telah diperbuatnya dapat berupa keterangan tentang cara ataupun asal usul Terdakwa tersebut melakukan kejahatan carding beserta alasannya.

111Ibid., halaman 278.

112 J. M. van Bemmelen, Strafvordering, Martinus Nijhoft, Gravenhage, 1950, halaman 306.