• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuktian Keterkenalan Merek Bodycology Milik

BAB IV ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NIAGA

C. Analisis Putusan Pengadilan Niaga

1. Pembuktian Keterkenalan Merek Bodycology Milik

Sengketa merek Bodycology ini diputus oleh Pengadilan Niaga

Jakarta Pusat pada tanggal 22 Januari 2014. Sampai saat ini Indonesia masih

menggunakan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek,

salain itu indonesia juga terikat dengan Keppres Nomor 24 Tahun 1979

tentang pengesahan Paris Convention of Industrial Property and ConventionEstablishing the World Intellectual Property Organization.

Perlindungan terhadap merek terkenal diatur dalam Pasal 6 bis Paris Convention yang mewajibkan seluruh anggotanya untuk melindungi merek terkenal warga negara lainnya untuk barang yang menyerupai (similar) atau sama (identical). Disamping itu konvensi ini juga memberikan kebebasan kepada masing-masing anggota untuk menentukan sendiri mengenai

keterkenalan suatu merek dengan tetap berpedoman kepada pasal 6 bis

Paris Convention ini. Pada tanggal 20 September sampai tanggal 29 September 1999, di Jenewa ditandatangani sebuah Joint Recommendatin Concerning Provisions on The Protection of Well Known Marks atau Rekomendasi Bersama tentang Ketentuan Merek Terkenal yang diadopsi

oleh Majelis Paris Convention untuk Perlindungan Hak Milik Industri

50

dan Majelis Umum Organisasi Hak Milik Intelektual Dunia (The General Assembly of The World Intellectual Property Organization / WIPO). Rekomendasi ini berlaku kepada masing-masing anggota Paris Convention

atau WIPO. Rekomendasi ini tidak memuat ketentuan tentang definisi

merek terkenal (well known mark). Pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa pihak yang berwenang (competent authority) sebaiknya mempertimbangkan keadaan lingkungan dimana merek tersebut dianggap sebagai merek

terkenal, sedangkan pada Pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa untuk

menentukan keterkenalan suatu merek dapat menggunakan faktor-faktor

yang termasuk dan tidak terbatas pada informasi sebagai berikut:

1) Tingkat pengetahuan dan pengakuan terhadap suatu merek dalam sektor

yang relevan dalam masyarakat.

2) Jangka waktu, luas, dan wilayah geografis dari penggunaan merek.

3) Jangka waktu, luas dan area geografis dari setiap promosi merek,

termasuk periklanan atau publisitas dan presentasi pada pekan raya atau

pameran-pameran dari barang dan/atau jasa dimana merek tersebut

dipergunakan.

4) Jangka waktu dan wilayah geografis dari setiap pendaftaran merek

sejauhmana merek tersebut mencerminkan pemakaian atau pengakuan

merek tersebut.

5) Dokumen mengenai penegakkan hukum yang baik atas merek terutama

sejauh mana merek tersebut diakui sebagai merek terkenal oleh instansi

6) Nilai yang dihubungkan dengan merek.

Kriteria ini dapat digunakan oleh pihak yang berwenang sebagai

pedoman dalam menentukan keterkenalan suatu merek yang tergantung

pada masing-masing kasus. Beberapa kasus mungkin relevan untuk

menggunakan semua kriteria tersebut, tetapi untuk kasus lain bisa saja

hanya relevan untuk faktor tertentu atau mungkin juga tidak ada sama sekali

faktor yang relevan. Adanya kebebasan hakim untuk menilai keterkenalan

suatu merek sesuai dengan ketentuan Paris Convention dan rekomendasi WIPO tersebut dapat berarti bahwa penentuan keterkenalan suatu merek

tergantung dari penilaian majelis hakim yang memeriksa sengketa tersebut

serta didasarkan pada penafsiran merek terhadap merek sengketa

dihubungkan dengan teori ataupun undang-undang yang ada.

Penentuan merek terkenal di Indonesia didasarkan pada

pertimbangan-pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)

huruf b penjelasan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek

yang menyatakan bahwa penolakan permohonan yang memiliki persamaan

pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek terkenal untuk barang

dan/atau jasa yang sejenis, dilakukan dengan memperhatikan pengetahuan

umum masyarakat mengenai merek di bidang usaha yang bersangkutan.

Selain apa yang sudah ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun

2001, majelis hakim juga dapat mengkaji pendapat para ahli hukum dalam

52

Setelah mengetahui tentang prinsip-prinsip dalam menentukan

keterkenalan merek di atas, jika dikaitkan dengan merek Bodycology milik

penggugat, dapat dikatakan bahwa merek Bodycology milik penggugat

merupakan merek terkenal. Hal ini sebagaimana yang terdapat pada Pasal 2

ayat (2) Joint Recomendatin Concerning Provisions on The Protection of Well Known Marks, dimana penggugat telah mendaftarkan merek Bodycology nya di berbagai negara, antara lain:

1) Merek Bodycology atas nama penggugat telah terdaftar dibawah

registrasi 1,719,286, di Amerika Serikat tanggal 22 September 1992,

untuk kelas 03 (A.S. kelas 1,4,6,50,51 dan 52).

2) Merek Bodycology atas nama penggugat juga telah terdaftar dibawah

dibeberapa negara Uni Eropa dengan No. 006995617 meliputi

negara-negara: Spanyol, Inggris, Belanda, Denmark, Perancis, Italia,

Rumania, Hugaria, Lithuania, Islandia dan Cekoslavia sejak tahun

2009, untuk melindungi jenis barang yang termasuk dalam kelas

3,25,28,44.

3) Merek Bodycology atas nama penggugat telah terdaftar di negara

Jepang dibawah nomor 5.326.291 tanggal 28 Mei 2010, untuk kelas 03,

25, dan 28.

4) Merek Bodycology atas nama penggugat telah terdaftar di negara Chili

dibawah nomor 925391 tanggal 20 Juli 2011 untuk melindungi jenis

5) Merek Bodycology atas nama penggugat telah diajukan permohonan

pendaftarannya di Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

dengan nomor agenda D00-2011013471 tanggal 06 April 2011 untuk

melindungi jenis barang yang termasuk dalam kelas 03.

Dengan merujuk pada bukti pendaftaran merek Bodycology milik

penggugat yang telah penulis jabarkan di atas, penulis tidak sependapat

dengan majelis hakim yang menyatakan bahwa merek Bodycology milik

penggugat bukanlah merupakan suatu merek terkenal. Merek Bodycology

milik penggugat telah terdaftar di banyak negara, dimana menurut penulis

hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa merek Bodycology milik

penggugat sebagai kriteria merek terkenal.

Jika ditinjau mengenai kriteria merek terkenal sebagaimana pada

Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001

Tentang Merek yang menyatakan bahwa “Penolakan permohonan yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek

terkenal untuk barang dan/atau jasa yang sejenis dilakukan dengan

memperhatikan pengetahuan umum masyarakat mengenai merek tersebut di

bidang usaha yang bersangkutan. Di samping itu diperhatikan pula reputasi

merek terkenal yang diperoleh karena promosi yang gencar dan

besar-besaran, investasi di beberapa negara di dunia yang dilakukan oleh

pemiliknya dan disertai bukti pendaftaran merek tersebut di beberapa

negara. Apabila hal-hal di atas belum dianggap cukup, Pengadilan Niaga

54

survei guna memperoleh kesimpulan mengenai terkenal atau tidaknya

merek yang menjadi dasar penolakan.”

Dokumen terkait