Pembuktian dalam hukum pidana merupakan sistem kebijakan kriminal yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Pembuktian adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan atau upaya untuk meyakinkan hakim dalam hubungannya dengan hukum yang sebenarnya antara
para pihak dalam suatu perkara.66 Para pihak menggunakan alat bukti untuk membuktikan dalil-dalilnya dan meyakinkan hakim akan kebenaran dalil tersebut. Hakim patut menerima dalil para pihak baik jaksa maupun terdakwa tanpa harus dibatasi alat-alat bukti sepanjang dalil tersebut memenuhi prinsip logika. Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan dalam proses pemeriksaan sidang pengadilan.67
Hukum Acara Pidana mengenal lima alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP. Di luar alat-alat bukti ini, tidak dibenarkan digunakan sebagai alat bukti untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Hakim ketua sidang, penuntut umum, terdakwa atau penasehat umum terikat dan terbatas hanya diperbolehkan menggunakan alat-alat bukti ini saja. Mereka tidak leluasa menggunakan alat bukti yang dikehendaki di luar alat bukti yang ditentukan.68 Pasal 185 Ayat (1) KUHAP merumuskan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti adalah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Dalam penjelasan KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari orang lain (testimonium de auditu). Pasal 1 angka 27 KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar, lihat dan alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.
66 Subekti, Hukum Pembuktian, Jakarta: Pradnya Paramita, 1983, hal. 7.
67 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan
Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Jakarta: Sinar Grafika, 2000, Edisi Kedua, hal. 252.
Pasal 186 KUHAP merumuskan bahwa keterangan seorang ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di dalam sidang pengadilan. Selanjutnya penjelasan Pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan. KUHAP membedakan keterangan seorang ahli di persidangan sebagai alat bukti keterangan ahli dan keterangan seorang ahli secara tertulis di luar sidang pengadilan sebagai alat bukti surat. Menurut teori hukum pidana yang dimaksud dengan keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan seseorang berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya.
Alat bukti surat diatur dalam Pasal 187 KUHAP, dibedakan atas empat macam surat.69 Jenis surat pertama yaitu berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri disertai dengan alasan tentang keterangan itu. Jenis surat kedua adalah surat yang dibuat menurut peraturan undang-undang atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau keadaan. Jenis surat ketiga ialah surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau keadaan yang
69 M.Karjadi dan R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dengan
Penjelasan Resmi dan Komentar serta Peraturan Pemerintah R.I No. 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaannya, Bogor: Politeia, 1997, hal. 166.
diminta secara resmi dari padanya. Jenis surat keempat merupakan surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari pembuktian yang lain.
Pasal 188 Ayat (1) KUHAP merumuskan petunjuk sebagai perbuatan, kejadian atau keadaan karena penyesuaiannya baik antara yang satu dengan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Selanjutnya dalam Pasal 188 Ayat (3) KUHAP merumuskan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif dan bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan berdasarkan hati nuraninya. Keterangan terdakwa berdasarkan Pasal 189 Ayat (1) dirumuskan apa yang terdakwa nyatakan di dalam sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri. Keterangan terdakwa tidak perlu sama seperti pengakuan karena pengakuan sebagai alat bukti mempunyai syarat. Syarat tersebut adalah bahwa ia yang melakukan delik yang didakwakan dan mengaku ia bersalah.
Hukum pembuktian dalam tindak pidana siber adalah bersifat khusus (Lex Specialis).70 Dalam sistem pembuktian terdapat empat macam sistem atau teori pembuktian.71 Teori pembuktian pertama, berdasarkan undang-undang secara positif adalah keyakinan hakim diabaikan jika tidak terbukti suatu perbuatan sesuai alat-alat bukti yang disebut undang-undang. Teori pembuktian kedua, berdasarkan undang-undang secara negatif menjelaskan bahwa teori ini menyadarkan hakim
70 Dikdik M. Arif Mansyur, dan Elisatris Gultom, Op.Cit., hal. 104.
dalam mengambil keputusan tentang salah atau tidaknya seorang terdakwa terikat oleh alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang dan keyakinan hakim sendiri. Dalam sistem ini ada dua hal yang merupakan syarat untuk membuktikan kesalahan terdakwa yakni adanya alat bukti yang sah yang telah diterapkan dan adanya keyakinan hakim berdasarkan bukti-bukti tersebut hakim meyakini kesalahan terdakwa. Berdasarkan Pasal 183 KUHAP, sistem pembuktian yang dianut dalam KUHAP adalah sistem atau teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif. Teori pembuktian yang ketiga berdasarkan keyakinan hakim di dalam menjatuhkan putusannya Hakim tidak terikat dengan alat bukti yang ada. Darimana hakim menyimpulkan putusannya tidaklah menjadi masalah karena ia dapat menyimpulkan dari alat bukti yang ada dalam persidangan atau mengabaikan alat bukti yang ada dalam persidangan. Teori pembuktian yang keempat berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis yaitu hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinannya. Keyakinan didasarkan pada dasar-dasar pembuktian disertai dengan suatu alasan-alasan logis. Teori pembuktian ini disebut juga pembuktian bebas karena hakim bebas untuk menyebut alasan-alasan keyakinnya.
Pengungkapan suatu perkara pidana paling tidak ada tiga hal yang tidak dapat dipisahkan karena menyangkut keabsahan suatu putusan pengadilan yaitu sistem pembuktian yang dianut oleh hukum acara, alat bukti dan kekuatan pembuktian serta barang bukti yang akan memperkuat alat bukti yang dihadirkan dalam sidang pengadilan. Sehingga membuktikan berarti memberi kepastian kepada hakim tentang adanya peristiwa tertentu. Dalam hukum acara pidana, pembuktian
memegang peranan yang sangat sentral.72 Hukum pidana menganggap bahwa pembukian merupakan bagian yang sangat esensial untuk menentukan nasib seorang terdakwa.73 Bersalah atau tidaknya seorang terdakwa sebagaimana yang didakwakan dalam surat dakwaan ditentukan pada proses pembuktiannya. Dengan kata lain, pembuktian merupakan suatu upaya untuk membuktikan kebenaran dari isi surat dakwaan yang disampaikan oleh para jaksa penuntut umum, yang berguna untuk memperoleh kebenaran materiil terhadap perbuatan manakah yang dianggap terbukti menurut pemeriksaan persidangan, apakah telah terbukti bahwa terdakwa bersalah atas perbuatan yang didakwakan, tindak pidana apakah yang dilakukan sehubungan dengan perbuatan itu dan hukuman apa yang harus dijatuhkan kepada terdakwa.74