• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

2.8 Pemeliharaan Bahan Pustaka

Pemeliharaan bahan bacaan merupakan aktivitas guna merawati, melindungi serta melestarikannya bahan bacaan supaya tetap kondisinya bagus.

Pemeliharaan bahan bacaan bisa dilaksanakan beserta caranya penjilidan, menambal, fumigasinya, reproduksian, serta perawatannya.

a. Jilidan

Menurut Muhamadin Razak dkk dalam bukunya Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip (1922), di tuturkan bahwa “Penjilidan ialah menyatukan atau memadukan lembaranan lepasan yang diamankan dengan sampul”

Jilidan adalah salah satu aktivitas yang utama dalam perpustakaan.

Dikarenakan usia, keadaan ruangan simpanan yang tidak serasi, penggunaan yang relatif keseringan dan tidak benar, dimakani serangga atau jamur, dan lainnya yang bisa berakibatkan bahan pustaka jadi hancur. Jilidan ialah aktivitas yang dilaksanakan dengan perbaikan fisik. Usaha ini nisbi makin ekonomis juga efektifitas. Bahan bacaan yang bisa dijilidkan ialah bahan bacaan yang telah hancur dan majalah/jurnal yang dilanggankan serta telah komplit.

1. Bahan bacaan yang harus dijilid yaitu:

a) Bahan bacaan yang sampulannya hancur ataupun amat tipis.

b) Yang tali jahitan buat mengikatkan lembar-lembarannya telah terlepas.

c) Yang mempunyai halamanan tak berderetan jadi harus dijilid ulang.

2. Bahan bacaan yang bentuknya majalahan hendak dijilidkan, jika seluruh angka buat 1 volume sudah komplit.

3. Laminasi

Manuskrip, naskah, dokumen jadul lazimnya gampang rapuh serta rusak jadi butuh diawetin dengan disemprotkan bahan kimia (coating) ataupun dinamakan prosedur laminasi. Laminasi berarti membungkusi bahan bacaan pakai plano terkhusus, supaya bahan bacaan jadi makin awetan. Reaksi keasamannya yang timbul pada kertas, ataupun bahan pustaka bisa diberhentikan dengan pembungkus bahan bacaan yang mencangkup film oplas, kertasan cromton, dan juga plano pembungkus lain. Bungkusan bahan bacaan menahankan cemaran ataupun abu yang melekat pada bahan bacaan sehinnga tak beroksida oleh pollutant.

Prosesan pelaminasian pada umumnya dipakai buat kertasan yang telah tak bisa dibetulkan oleh langkah lainnya seperti menjilidkan, menambalkan, disambung, dan lainnya. Naskah, manuskrip, dokumen kuno kertas yang lazimnya digunkan gampang busuk dan berhancuran jadi mesti diabadikan dengan disemprotkan bahan kimia (coating) ataupun prosedur laminasi (Almah, 2012: 167).

b. Menambal

Menambal merupakan kegiatan pemeliharaan dengan langkah perbaikan fisik bahan bacaan. Menambal atau menutup bagian yang bolong bisa dikerjakan pakai kertasnya Jepang, plano “hand made” juga lem kanji atau CMC (Carboxyl Methly Cellulose). Menutup bisa dibuat pakai buburan kertasan (pulp), ataupun pakai plano tissue yang berperekatkan serta dibantui sama mesin “tacking iron”.

c. Fumigasi

Fumigasi ialah salah satu langkah lestarikan bahan bacaan pakai langkah pengasapan bahan bacaan supaya tidak ditumbuhi jamuram, hewan tak bernyawa, serta penghancur bahan bacaan lain terbunuhkan (Martoatmodjo, 2008: 96). Pest Tech Control juga menyampaikan bahwasannya fumigasi adalah suatu langkah

guna mengarahkan kuman menggunakan fumigan, yakni fase gas bersifat beripuh (toxic).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka disimpulkan bahwa fumigasi adalah cara perawatan bahan pustaka dengan menggunakan suatu gas yang sifatnya beracun.

Bahan kimia lazimnya dipakai pada proses fumigasian yakni gas vikane (Sulfuryl Flouride) juga Methyl Bromide.

Fumigasi dilaksanakan pakai langkah:

1. Setidaknya sekali per 3 tahunan

2. Terdapat insekta juga hewan pengeratnya berupa tikus serta sebagainya (Almah, 2012:168).

d. Reproduksi

Reproduksi merupakan tipe preservasi yang dilaksanakan melalui memproduksikan kembali bahan bacaan pada bentuk fotocopy ataupun mikro seraya tujuannya pengduplikasian juga pertambahan supaya koleksi yang terbilang sulit bisa dilestarikannya

Reproduksi dibuat guna merawati bahan bacaan yang susah juga cepat hancur. Reproduksi dikerjakan pakai langkah:

1. Menghasilkan bahan bacaan seraya membuatkan duplikatnya.

Bahan bacaan yang hancur, tapi tulisannya masihan bisa terbaca, sebagaimana bahan pustaka yang beberapa lembaran lamannya telah berhilangan, pembentukan salinan buku pakai prosedur membuatkan pertinggalnya tak bisa diperdagangkan sebab melanggari perundang-undangan hak cipta.

2. Perjudulan banyaknya dimanfaatin tapi tak dipublikasikan lagi (out of print).

3. Membuat kembali bahan bacaan ke wujud lainnya. Pelestarian ini biasanya berwujud mikro, berupa microfilm juga mikrofish.

Terlebih sekarang bisa dipindahkan berwujud CD-ROM.

4. Bahan bacaan berwujud mikro seraya frekuensi pemakaian tertinggi selayaknya dibuat salinannya. Mastercopy-nya disimpankan.

5. Bahan bacaan berwujud CD, pita rekamanan audionya, videonya, slidenya, juga lainnya.

e. Perawatan

Merupakan langkah sederhana yang biasanya dikerjakan perhari dalam teratur seraya pembersihan abu yang menempel di bahan bacaan.

Dari pemaparan diatas, bisa simpulkan bahwa perawatan bahan pustaka bisa dilaksanakan dengan proses penjilidan, menambal, fumigasi, reproduksi, dan perawatan.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Dalam riset ini memakai jenis riset deskriptif pendekatan kualitatif.

Sugiyono (2013:7-9) mengungkapkan metodologi riset kualitatif ialah cara pengkajian yang berdasarkan dengan pandangan postpositivisme (pandangan yang positif), dapat dipakai guna menelitian pada keadaan objek yang saintifik, (ibarat bandingannya ialah percobaan) dimana peneliti merupakan seperti instrument kunci, tekniks pemungutan data dikerjakan menurut triangulasi (penggabungan), analiys data sifatnya induktif ataupun kualitatif, serta perolehan riset kualitatif terlebih memfokuskan maksud dari pada generalisasi.

Dalam penelitian ini, pengkaji mengumpulkan data dari perolehan wawancara maupun perdataan tercatat yang lain. Wawancara dilakukan untuk mengetahui lebih dalam masalah yang diteliti. Hasil data penelitian kualitatif ditampakkan dalam wujud verbal atau kata-kata serta dataan tersebut dianalisis oleh peneliti.

3.2 Sumber Data 3.2.1 Data Primer

Data primer merupakan data yang diterima langsungan dari responden yang terikat pada aktivitas pelestarian bahan perpustakaan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakan Kota Pematangsiantar. Dalam hal ini, penulis mencari data

dengan mewawancarai pegawai yang terlibat dalam kegiatan pelestarian bahan perpustakaan.

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang didapatkan guna memenuhi data primer berupa kumpulan buku, asal mula arsip, dokumenan pribadi, serta dokumen legal lainnya yang membantu bahasan didalam penelitian tersebut.

3.3 Daftar Nama Informan

Berikut data yang menjadi narasumber pada riset ini : Tabel 3.1

Daftar Nama Informan

No. Nama Jabatan Keterangan

1. Muhammad Jukri A.Md Kepala bidang Pelestarian Bahan Pustaka

Informan 1

2. Nur Amin Staf Informan 2

3.4 Metode PengumpulanData

Metodelogi penghimpunan data yang dilakukan pada riset ini ialah : 3.4.1 Observasi (pengamatan)

Cara ini memakai pemantauan langsungan akan objek, yakni langsung memantau kegiatan apa yang sedang dikerjakan juga dilaksanakan secara rinci oleh pengurus perpustakaan. Lalu muncul fakta dilapangan kemudian dijadikan data dan dikumpukan untuk dianalisis lebih lanjut (Hasnun,2004:24).

Observasi dilakukan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar.

3.4.2 Wawancara

Peneliti mewawancarai langsung kepada responden dengan mengajukan soal-soal verbal ataupun tercatat yang berkenaan dengan kasus yang hendak ditelitikan. Wawancara ini dilakukan guna maksud memperoleh data yang semaksimum sekali efektifan informasinya. Serta yang jadi informanan pengkaji ayaitu pustakawan/tenaga pengurus pada Dinas Kearsipan dan Perpustakan Kota Pematangsiantar.

3.4.3 Dokumentasi

Dalam teknis dokumentasi, peneliti menghimpun perdataan yang membantu dalam penelitian ini yang dapat berupa buku-bukuan, permajalahan, jurnal, dokumen, aturan-aturan, catatan rapat, notulen harian, serta lainnya (Arikunto,S 2013: 201).

3.5 InstrumenPenelitian

Instrumen penelitian ialah media yang dipakai guna menghimpun dataan juga informasi yang dibutuhkan pada penelitian. Adapun alat-alat tersebut meliputi:

3.5.1 Pedoman wawancara (pokok-pokok wawancara)

Pedoman ini memuat pertanyaan atau hal-hal inti yang hendak ditanya dilamana melaksanakan wawancara. Panduan wawancara dirangkai berlandaskan pada teori yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji.

3.5.2 Dokumentasi

Menghimpun data dengan memakai flash disk, notebook atau laptop guna mencatatkan dataan dalam buku, artikel, jurnal dan lainnya yang disangka berarti juga berhubungan dengan penelitiannya yang hendak diulas.

3.6 Teknik Analisis Data

Analisa data adalah prosesan untuk menata data yang didapatkan dari hasilan observasi, pewawancaraan, serta dokumentasi. Semua data yang terhimpun diolahkan serta analisis memakai metodean deskriptif kualitatif. Hasil analisis tersebut diuraikan berbentuk perkataan tercatat ataupun ucapan dari individu dan sikap yang diamatinya.

Prosesan analisa perdataan perolehan penelitian hendak dilaksanakan dengan beberapa langkah guna mendapatkan hasilan yang di harapkan serta serupa dengan faktanya, beberapa caranya antara lain :

3.6.1 Data Reduction (peringkasan data)

Mereduksi data (meringkaskan data) artinya menyingkatkan, memilah hal-hal yang inti, memusatkan pada hal-hal yang berarti, mencari pokok pikiran juga modelnya sehingga bakal menyampaikan paparan yang makin pasti (Sugiyono, 2013: 247).

Peneliti memilah dan merangkum data yang relevan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan.

3.6.2 Data Display (penyajian data)

Di dalam riset ini, sajian data dikerjakan dengan bentuk uraian ringkat.

Penyajian data dilakukan dengan tujuan guna menyampaikan hal-halnya yang memukau dari persoalan yang dikaji.

3.6.3 Conclusion Drawing (verifikasi)

Tahap berikutnya membuat menarik simpulan dari hasil mereduksi data dan menyajikan data. Kesimpulan pada tahap awalan masihan sifatnya fana. Data pasti berganti jika data tersebut tidak dilengkapi dengan perbuktian yang kukuh dan menunjang untuk proses penghimpunan data selanjutnya.

3.6.4 Catatan Observasi

Yaitu melakukan pemantauan secara langsung guna menghimpun data dengan memakai notulen observasi seperti notebook, camera, perekam suara, handpone. Pengamatan tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi-informasi yang diperlukan guna meneruskan suatu penelitian.

3.7 Pengecekan Keabsahan Data (Validity of data)

Guna melindungi kebenaran data didalam riset ini, jadi pengkaji memakai beberapa metodelogi triangulasi, yakni tekniks yang dikerjakan beserta memohon keterangan lebih jauh. Seperti yang dikatakan Pawito (2007, 99-100) jenis teknik triangulasinya ialah:

3.7.1 Triangulasi Metode

Triangulasi metodelogi dilaksanakan menggunakan langkah mecocokkan informasi ataupun perdataan dengan langkah yang berlainan, didalam pengkajian ini pengkaji memakai metodelogi pewawancaraan dan pengamatan.

3.7.2 Triangulasi Antar Peneliti

Jenisnya triangulasi antar penhkaji dilaksanakan memakai satu orang lebih didalam penghimpunan serta analisisan data. Manusia ataupun asal dari pengkajian ini yakni kepala dan staf pengelola koleksi tercetak di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yang jumlahnya dua orang.

3.7.3 Triangulasi Sumber Data

Memakai bermacam asal perdtaan data berupa perolehan pewawancaraan serta perolehan pengamatan. Pengkaji didalam situasi ini menginterview narasumber yaitu pengelolaan koleksi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar juga para pegawai fungsional guna memperoleh data yang lebih sempurna disertakan dengan observasi dan dokumentasi yang dikerjakan oleh peneliti di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar

3.7.4 Triangulasi Teori

Pemakaian bermacam teori yang berbeda guna membenarkan bahwa data yang dihimpun telah memenuhi persyaratan. Dalam pengkajian ini, bermacam teori yang sudah dipaparkan pada bab II guna dipakai juga menukur terakumulasinya data tersebut dan diperkuatkan dengan artikel, jurnal, dan buku yang membahas mengenai preservasi bahan pustaka.

3.8 Waktu dan Tempat Penelitian

Pengkajian dikerjakan sekitar 1 bulan, yakni dimulai 18 Januari – 18 Februari 2020. Letak pengkajian ini berada di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan

Kota Pematangsiantar, dengan alasan sebagai halnya yang sudah dijabarkan pada latar belakang sebelumnya, dalam observasi pertama pengkaji memandang bahwa banyaknya buku-buku yang rusak, pelaksanaan kegiatan preservasi yang masih tahap sederhana, peletakan buku yang berantakan dirak, serta peneliti ingin mengetahui dan mengevaluasi sejauh mana kegiatan pelestarian yang dilakukan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yang berlokasi di Jl. Merdeka No.3 tepatnya dikompleks Taman Bunga Kota Pematangsiantar.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Informan

Narasumber didalam pengkajian ini ialah Kepala bidang preservasi pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dan staf bagian Preservasi bahan pustaka. Mengenai spesifikasi narasumber tersebut ialah seperti berikut :

Tabel 4.1 : Karakteristik Informan

Dalam proses wawancara berlangsung secara informal. Wawancaranya sifatnya alamiah tidak dibuat-buatkan dan apa adanya menggunakan bahasan yang tidak resmi (informalitas). Pada saat proses pewawancaraan, jika peneliti mengalami kendala dari segi penyampaian informan maka peneliti menanyakan kembali untuk memperjelas jawaban dari informan.

4.2 Kategori

4.2.1 Preservasi Bahan Pustaka Tercetak (Buku)

Preservasi bahan pustaka tercetak (buku) yang dilaksanakan oleh seksi pelestarian bahan bacaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar melalui wawancara oleh informan I1, I2, sebagai berikut:

Kode Status

I1 Kepala bidang Pelestarian

Bahan Pustaka

I2 Staf

Pertanyaannya : Bagaimana proses kegiatan preservasi bahan pustaka tercetak (buku) pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar?

Berikut hasil wawancara oelh informan I1 dan I2 :

I1 : “Preservasi atau juga pelestarian yang kita laksanakan guna melindungi keadaan wujud buku yakni dengan jaga kejernihan ruangannya, membersihkan buku juga mengelap lemari. Jika ada buku yang rusak seperti sampul/cover buku terlepas maka staf preservasi melakukan perbaikan dengan mengelem cover buku menggunakan lem buku. Kami juga mengatur suhu dalam ruangan untuk menghindari proses kerusakan pada buku.

Membuat peraturan larangan seperti dilarang merokok, membawa makanan minuman, serta kami menegaskan kepada pengunjung agar tetap menggunakan buku dengan baik dan benar”.

I2 : “Kegiatan preservasi yang kami lakukan yaitu membersihkan debu di rak penyimpanan buku, membersihkan ruangan koleksi buku setiap hari, melakukan perbaikan buku seperti mengelem sampul buku yang lepas, menyampul buku sebelum dilayankan kepada pengguna, sering kali menaburkan kapur barus di sisi penyimpanan rak buku”

Beralaskan hasil penjelasan tersebut, maka disimpulkan bahwasannya proses aktivitas preservasi bahan bacaan tercetak (buku) yang dilakukan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar adalah

membersihkan ruangan koleksi, mengatur suhu ruangan, membersihkan buku dan rak buku dari debu menggunakan kemoceng, menyampul buku, mengelem cover buku yang terlepas atau rusak, membuat peraturan larangan merokok dan mambawa makanan minuman ke dalam perpustakaan, memberikan himbauan kepada pengunjung untuk menggunakan buku dengan baik dan benar. Pihak perpustakaan belum melakukan kegiatan preservasi lainnya seperti fumigasi, laminasi, penjilidan, reproduksi karena keterbatasan dana dan alatnya.

4.2.2 Metode Preservasi pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar

Pertanyaan : Bagaimana metode preservasi yang dilakukan pada Dinas Kearsipan dan PerpustakaanKota Pematangiantar memiliki pedoman dalam melakukan preservasi bahan pustaka tercetak (buku)?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1, I2 :

I1 : “Kami melakukan metode preservasinya masih tahap sederhana, melakukan perawatan dengan cara membersihkan debu dan kotoran menggunakan kemoceng, menyampul buku,beberapa kali menabur kapur barus rak penyimpanan buku,mengatur cahaya”

I2 : “Metode yang kami lakukukan dalam preservasi bahan pustaka yaitu mengatur suhu dan kelembapan ruangan, seperti mengatur suhu AC 18˚-28˚ C, melakukan pengawasan menggunakan kamera CCTV di ruang membaca, menempelkan larangan untuk tidak merokok dan membawa makanan minuman kedalam

perpustakaan, dan pihak perpustakaan sedang dalam proses mengalih mediakan koleksi perpustakaan dalam bentuk digital ”.

Beralaskan hasil wawancara diatas maka bisa disimpulkan bahwa metode preservasi bahan pustaka (buku) yang dilaksanakan pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yaitu masihan sederhana dengan membersihkan debu dan kotoran menggunakan kemoceng, menyampul buku, beberapa kali menabur kapur barus rak penyimpanan buku,mengatur cahaya, mengatur suhu dan kelembapan ruangan, seperti mengatur suhu AC 18˚ -28˚ C, melakukan pengawasan menggunakan kamera CCTV di ruang membaca, menempelkan larangan untuk tidak merokok dan membawa makanan minuman kedalam perpustakaan, dan pihak perpustakaan sedang dalam proses mengalih mediakan koleksi perpustakaan dalam bentuk digital.

4.2.3 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka Tercetak (Buku)

Pertanyaan : Faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan bahan pustaka tercetak (Buku)?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1, I2 :

I1 : “Komponen perusak kerusakan bahan pustaka pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar adalah dari segi faktor internal dan ekternalnya. Faktor-faktor penyebab kerusakan tersebut terdiri dari jenis bahan buku tersebut, serangga, jamur, pencahayaan, asap kendaraan, asap rokok, debu dan juga manusia (pengguna)”.

I2 : “Penyebab kerusakan bahan pustaka tercetak (buku) diperpustakaan yaitu terdiri dari jenis bahan pustakanya, tinta, iklim, suhu dan kelembapan udara, serangga dan hama, jamur, pencahayaan, zat polutan (asap kendaraan,asap rokok, kondisi udara yang panas, debu) dan juga manusia (pengguna) terutama anak-anak. ”

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka disimpulkan bahwasannya faktoran pemicu kehancuran bahan bacaan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar ialah faktor internal dan eksternal. Faktor internal diakibatkan oleh jenis bahan pustaka, tinta, dan faktor ekternalnya disebabkan oleh faktor iklim, suhu dan kelembapan udara, serangga dan hama, jamur, pencahayaan, zat polutan (asap kendaraan,asap rokok, kondisi udara yang panas, debu) dan juga manusia (pengguna) terutama anak-anak.

4.2.4 Upaya Pencegahan Kerusakan bahan pustaka tercetak (buku) pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar

Pertanyaan : Bagaimana upaya pencegahan kerusakan bahan pustaka tercetak (buku) pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1, I2 :

I1 : “Upaya pencegahan yang dilakukan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yaitu mengatur suhu ruangan, membersihkan buku. menjaga kebersihan ruangan, menempelkan larangan-larangan peringatan berupa dilarang

merokok serta tidak dibolehkan bawa makanan dan minuman diruangan. Pencegahan dilakukan juga terkadang dengan menaburkan kapur barus di sudut atau dipinggiran rak buku tidak setiap hari dan dalam jangka waktu tertentu”.

I2 : “Kami melakukan upaya pencegahan kerusakan buku diperpustakaan dengan mengatur suhu udara. Pencegahan dilakukan juga terkadang dengan menaburkan kapur barus di sudut atau dipinggiran rak buku tetapi tidak setiap hari dan dalam jangka waktu tertentu, menempelkan peraturan perpustakaan diruang perpustakaan dan melakukan sosialisasi kepada pengunjung untuk menggunakan koleksi dengan baik dan benar.”

Beralaskan hasilan pewawancaraan diatas jadi disimpulkannya bahwasannya upaya pencegahan yang dilaksanakan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yaitu dengan cara mengatur suhu ruangan, menempelkan tanda peringatan berupa larangan mengisap rokok serta larangan bawa makanan dan minuman diruangan, serta mensosialisasikan kepada pengunjung untuk menggunakan koleksi dengan baik dan benar. Pihak perpustakaan melakukan upaya pencegahan koleksi bahan pustaka tercetak masih simpel, belum melihat sejumlah unsur pentingnya berupa dampak cahaya ruang, serta peralatan pencegah kebakaran.

4.2.5 Upaya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam memperbaiki bahan pustaka yang rusak

Pertanyaan : Bagaimana upaya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam memperbaiki bahan pustaka yang rusak?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1, I2 :

I1 : “Dalam upaya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota pematangsiantar dalam hal memperbaiki bahan pustaka yaitu sebisa mungkin kami memperbaiki buku tapi dengan cara masih sederhana. Karena keterbatasan dana, alat dan bahan sehingga upaya pencegahannya masih belum maksimal atau optimal.

I2 : “Kami melakukan upaya perbaikan buku masih tahap sederhana, dengan alat dan bahan yang ada, seperti mengganti sampul buku yang telah rusak, membersihkan buku dari debu dan noda”.

Berlandasan dari pewawancaraan tersebut, maka simpulannya bahwasannya upaya pencegahan yang dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota pematangsiantar masih belum maksimal atau optimum yaitu masih pada tahap sederhana dengan membersihkan buku dari debu dan noda.

4.2.6 Kendala yang dihadapi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam preservasi bahan pustaka

Pertanyaan : Apa saja hambatan yang dialami Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam preservasi bahan pustaka?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1, I2 :

I1 : “Kendala yang dihadapi pihak perpustakaan dalam hal preservasi yaitu dana/anggaran, SDM (Sumber Daya Manusia), bahan dan alat preservainya”.

I2 : “Kami mengalami kendala dalam bidang preservasi yaitu dananya, kurangnya manusia yang paham dalam bidang preservasinya”.

Beralaskan hasil wawancara diatas maka disimpulkan bahwa hambatan yang dihadapian Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam preservasi bahan pustaka yaitu SDM (Sumber Daya Manusia), dana/biaya, bahan dan alat-alat preservasi.

4.2.7 Pemeliharaan bahan pustaka yang dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar

Pertanyaan : Bagaimana pemeliharaan bahan bacaan yang dilaksanakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar?

Berikut hasil wawancara oleh informan I1,I2:

I1 : “Pemeliharaan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar masih tahap sederhana belum pernah melakukan baik itu berupa penjilidan, penambalan, fumigasi, reproduksi dan juga perawatan. Kami membuat himbauan kepada pengguna mengenai kebijakan perpustakaan agar dapat dipatuhi oleh pengguna perpustakaan”.

I2 : “Kami melakukan pemeliharaannya hanya sekedar membersihkan debu dan noda, menyampul buku, mengatur suhu.”

Dari penjabaran wawancaraan di atas itu, maka bisa dirangkum bahwasannya pemeliharaan yang dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar masih tahap sederhana belum maksimal, hanya sekedar membersihkan debu dan noda, menyampul buku, mengatur suhu dan cahaya.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut beroleh simpulan bahwasannya aktivitas preservasi/pelestariannya bahan bacaan yang dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar masih sederhana yaitu mengatur intesitas cahaya dan suhu kelembapan udara, membersihkan debu, mengeratkan cover buku yang terlepas menggunakann lem khusus buku, serta menghilangkan noda.

Karena keadaan akomodasi yang terdapat di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar belum mencukupi sehingga aktifitas pelestarian bahan pustakanya sekedar dilaksanakan ala kadarnya dan juga menggunakan bahanan apa adanya.

Kegiatan pelestarian bahan bacaan yang belum dilakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yaitu :

1. Fumigasi 2. Deasidifikasi 3. Laminasi dan 4. Reproduksi

4.3 Rangkuman Hasil Penelitian

Dari perolehan wawancara yang intensif dengan para narasumber, menempuh prosesan analisa data yang melindungi kebenaran data, sehingga di dapat beberapa bagian Preservasi Bahan Pustaka Tercetak (Buku) pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar antara lain :

Tabel 4.2 Rangkuman perolehan Penelitian

No

Kategori Keterangan

1. Kegiatan Preservasi Bahan Pustaka Tercetak (Buku)

Kegiatan preservasi bahan pustaka tercetak (buku) yang dilakukan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar adalah:

➢ Mengatur suhu ruangan

➢ Membersihkan ruangan koleksi, membersihkan buku dan rak buku dari debu menggunakan kemoceng

➢ menyampul buku,

➢ mengelem cover buku yang terlepas atau rusak,

➢ membuat peraturan larangan

➢ membuat peraturan larangan

Dokumen terkait