• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah selesai penanaman maka dimulai masa pemeliharaan

tanaman. Disini dibedakan tanaman belum menghasilkan atau disingkat

TBM dan tanaman menghasilkan atau TM. (Sastrosayono 2003).

Masa TBM ini berlangsung selama 2,5 tahun atau 30 bulan yaitu

sampai tanaman mulai dipanen. Pada Kegiatan di areal TBM

dilaksanakan selama 4 hari yaitu pada tanggal 24 Juli – 27 Juli 2012,

kegiatan di areal TBM difokuskan di areal kebun TBM afdeling II Unit

Usaha Rejosari. Jenis kegiatan di areal TM meliputi kegiatan sebagai

berikut :

a. Konsolidasi

Konsolidasi dimaksud adalah pemeriksaan situasi blok demi

blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian

memperbaikinya dengan cara menegakkan tanaman dan

memadatkan tanah serta pelepah kering diputus atau dipotong.

Sekaligus dilakukan inventarisasi tanaman dan permasalahn lainnya.

Bibit yang mati, abnormal, tumbang, terserang berat hama atau

penyakit harus disisip, teras yang rusak diperbaiki dan lain – lain.

Konsolidasi dilakukan pada saat TBM.

b. Penyisipan / Penyulaman

Tanaman yang mati, rusak berat, sakit dan abnormal perlu

disisipi dengan segera. Penyisipan maksudnya adalah mengganti

tanaman yang baru. Makin cepat disisipi makin baik agar

pertumbuhannya tidak ketinggalan dan sebaiknya digunakan bibit

yang telah khusus disiapkan untuk sisipan. Makin lama dilakukan

penyisipan maka biaya investasi akan meningkat karena

pemeliharaan akan lebih lama. Penyisipan hanya dilakukan pada

TBM 1 dan awal mula padaTBM2 dan tidak dianjurkan untuk TBM3.

Bibit abnormal akan baru terlihat setelah 6 – 12 bulan ditanam dan

harus diganti demikian pula dengan tanaman yang terserang landak,

babi dan gajah, tetapi di unit usaha rejosari tidak mengalami

serangan hama ini. Tanaman yang terserang oryctes dan tikus tidak

perlu untuk diganti karena akan pulih kembali. Tanaman yang sudah

terserang ditandai dengan ditancapkan pelepah yang tinggi di sekitar

pohon pokok sehingga pencarian dilapangan mudah karena letak

tanaman sisipan berserak.

c. Memelihara LCC

LCC (Legume Cover Crop) merupakan tanaman penutup tanah

dalam perkebunan kelapa sawit, pola tanam dapat monokultur

ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop

LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat

memperbaiki sifat-sifat fisika, menambah unsur N, kimia dan biologi

tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan

menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman

tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah

diperlukan perawatan intensif selama enam bulan pertama (Eka,

2006).

Dilapangan yang penulis temukan bahwa semua LCC yang

digunakan di unit usaha rejosari adalah jenis mucuna, dengan

sifatnya yang dapat tumbuh dengan cepat, dalam 1 hari mucuna

mampu bertambah panjang 20 – 30 cm dengan masa hidup 2 tahun.

Jenis – jenis LCC yang biasa digunakan pada perkebunan kelapa

sawit diantaranya : Centrosema pubescens, Pueraria javanica dan

Calopoginium mucunoides d. Merambet

Merambet adalah pekerjaan membersihkan tanaman mukuna

yang merembet ke tanaman kelapa sawit, karena perkembangan

mukuna yang sangat cepat, dalam interval 1 hari tanaman mukuna

yanhg berfungsi sebagai LCC bisa tumbuh dan bertambah panjang

20 – 30 cm, sehingga tanaman mukuna harus ditarik keluar dari

tanaman kelapa sawit. Tujuannya agar tanaman pokok tidak

terganggu dalam perkembagannya. Merambet hanya dilakukan pada

awal masa tanaman belum menghasilkan (TBM),Merambet

e. Bokor (Piringan)

Pada awal pembangunan Legume Cover Crop (LCC) biasanya

bokoran dikerjakan secara bersamaan. Bokoran atau yang biasa

disebut merumput piringan merupakan kegiatan penyiangan dengan

cara membersihkan piringan sekitar tanaman pokok dari gulma liar.

Tujuannya agar penyerapan unsur hara dan pupuk oleh tanaman

penggarukan piringan ini maka lebar radiusnya diperbesar menurut

perkembangan tajuk (0,6m – 3m). Diameter yang digunakan pada

TBM adalah 1 – 1,5m. Pembokoran biasanya digunakan dengan 2

metode,dengan cara manual (menggunakan cangkul) dan chemis

(bahan kimia seperti glphosate dan herbisisda). Pembersihan

piringan tanaman kelapa sawit secara manual menggunakan cangkul

lebih baik dari pada menggunakan bahan kimia,karena tidak

mematikan perakaran disekitar bokoran kelapa sawit.

f. Ablasi / Kastrasi

Ablasi atau kastrasi kegiatan membuang bunga-bunga muda

baik jantan maupun betina pada tanaman belum menghasilkan

sebelum panen perdana dimulai. Tujuannya adalah untuk memacu

pertumbuhan vegetatif tanaman induk,sehingga setelah memasuki

TM1 akan menghasilkan tandan yang sempurna dan beratnya

optimal, kondisi tanaman menjadi lebih bersih sehingga mengurangi

kemungkinan serangan hama penyakit seperti marasmius dan tikus.

Ablasi atau kastrasi dimulai pada tanaman berumur 14 bulan dan

berlangsung selama 10 -12 bulan. Tanaman yang baik biasanya

berbungan paada umur 8 – 14 bulan. Bunga muda umumnya masih

kecil belum sempurna sering aborsi dan tidak efisien dipertahankan

untuk menghasilkan tandan. Pada proses ablasi alat yang digunakan

adalah kaki kambing dengan rotasi 1 kali dalam 1 bulan selama 30

bulan. 6 bulan sebelum tanaman menghasilkan dilakukan kegiatan

tunas pasir,tunas pada pelepah tua tanaman kelapa sawit yang tidak

menggunakan dodos. Dalam melaksanakan kastrasi dan abslasi ini

pelepah dauh diusahakan tidak terluka dan terpotong,karena pelepah

harus terjaga minimal 64 sampai 72 pelepah.

g. Pemupukan

Pemupukan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan

membutuhkan biaya yang cukup besar yaitu sekitar 40% – 60% dari

total pemeliharaan. Oleh karena itu, agar tercapai hasil pemupukan

yang optimal maka pupuk yang digunakan harus sesuai dengan

rekomendasi yang telah ditetapkan. Jenis pupuk yang digunakan

adalah pupuk majemuk NPK Mg, dengan rotasi pemupukan dibagi

menjadi 2 periode dalam waktu 1 tahun. Agar pupuk yang diberikan

unsur hanya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal maka

perlu diperhatikan pengaplikasiannya sesuai dengan pengertian 4

tepat yaitu :

a. Tepat Jenis : Pupuk yang diberikan sesuai unsur hara yang

diperlukan oleh tanaman.

b. Tepat Dosis : Jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengan

kebutuhan tanaman.

c. Tepat Waktu dan Frekuensi : Pelaksanaan pemupukan harus

sesuai jadwal yang telah ditetapkan

d. Tepat Cara : Penempatan pupuk harus sesuai dengan ketentuan

sehingga penyerapan unsur hara akan maksimal.

Ada dua cara aplikasi pupuk yaitu sistem pocket (benam) dan

sistem tebar. Sistem benam dengan membuat 4 lubang pada

dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dan setelah itu lubang

ditutup kembali. Sistem tebar cukup hanya dengan menebarkan

pupuk di dalam piringan pokok 1 meter dari pangkal batang tanaman.

Menentukan jenis pupuk yang akan diberikan pada tanaman

kelapa sawit menghasilkan dengan melakukan penelitian seperti

analisa daun yang biasa disebut Leaf Sample Unit (LSU) untuk

mengetahui unsur – unsur yang kurang , analisa tanah dengan

memperhatikan kondisi alam yang dilakukan oleh dengan dosis pada

setiap blok dan pemakaian pupuk sesuai dengan hasil dari analisa

tanah dan daun.

Dokumen terkait