Sumber : Perdes Sungai Ringin, 2012
PEMERINTAH KECAMATAN Martinus Syamsudin
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kapuas Email: [email protected]
Abstrak:Upaya pembinaan yang dilakukan dengan pengembangan pegawai serta dalam meningkatkan kinerja pelayanan penegak displin sangatlah penting dengan diberikan sangsi bagi pegawai yang melanggar peraturan kedisplinan dan yang mempengaruhi adalah kesadaran yang ada pada setiap pegawai kecamatan sepauk, motivasi yang telah terbangunan serta pentingnya sarana dan prasarana kerja yang memadai. Peningkatan Kemampuan dan Keterampilan serta Penegakan Aturan Disiplin Pegawai telah ditegakan serta yang mempengaruhi upaya pembinaan disiplin kerja pegawai di Kantor Camat Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang adalah Tingkat Kesadaran Pegawai bahwa pegawai telah memiliki kesadaran dalam bekerja, Pemberian Penghargaan belum pernah ada dan belum diberikan penghargaan dan dari aspek Sarana dan Prasarana Kerja masih belum sesuai dengan kenyamanan untuk berkerja dan memberikan pelayanan. Saran yang dapat penulis sampaikan adalah agar dimasa yang akan datang adanya pembinaan secara terus menerus dan perlu ada perbaikan sarana dan prasarana kantor sebagai tempat berkerja aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kata Kunci : Pembinaan, Displin pegawai Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah serta bersatu padu, bermental baik, berwibawa, berdayaguna, berhasilguna, bersih, bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawa bnya mer upakan syarat dalam penyelenggar aan tugas pemerintahan dan pembangunan. Untuk mencapai tujuan kepemerinta han yang baik dan menjadi kepercayaan masyarakat dalam peningkatan pelayanan publik serta pencapaian tujuan pembangunan nasional, maka diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin tinggi dan berdedikasi tinggi, profesional serta terus meningkatkan kinerjanya.
Pegawai Negeri Sipil diharapkan dapat menjalankan kewajiban dengan baik, oleh karena itu hak-haknya juga harus diperhatikan. Perhatian terhadap hak-hak tersebut tidak terlepas dari berbagai kebutuhannya. Pegawai Negeri Sipil mempunyai beragam kebutuhan yang mewarnai pelaksanaan tugasnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam diri sikap pegawai negeri dimanapun ia bertugas dan posisi apapun yang dijabatnya, pemerintah sangat mengharapkan supaya tugas-tugas yang diembannya dapat dilaksanakan dengan baik.
Dalam suatu organisasi seorang pemimpin harus mampu menjadi penggerak, pendorong/
motivasi agar para bawahannya mau melaksankan tuga s yang diembankan kepa danya. Untuk mewujudkan pegawai negeri yang dapat diharapkan, diperlukan adanya pembinaan yang sebaik-baiknya berdasarkan sistem dan program kerja. Pembinaan tersebut tidak terlepas dari tugas-tugas pimpinan agar bawahan dapat bekerja dengan semangat yang tinggi sehingga dapat mencapai prestasi kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Untuk menciptakan Pegawai Negeri Sipil yang dapat mencapai prestasi kerja dan berdisiplin kerja tanpa adanya rasa pa ksaan dalam melaksanakan tugasnya, maka pimpinan harus memperhatikan pula hak-hak pegawai. Sebab pegawai tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugas dan kewajibannya saja, namun juga untuk memenuhi kebutuhan hidup serta karir kerjanya. Adanya perhatian kesejahteraan tersebut terhadap Pega wai Negeri Sipil dihar apkan dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Untuk lebih meningkatkan peran Pegawai Negeri Sipil agar lebih efisien dan efektif dalam pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan, Pegawai Negeri Sipil harus dibina sebaik-baiknya. Efektifitas dan efisiensi setiap Pegawai Negeri Sipil harus selalu berhasil melaksanakan tugas secara berdaya dan berhasil guna dengan mengedepankan pelayanan kepada masyarakat yang pada gilirannya meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraannya.
Kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) sering mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Bahkan, berbagai media massa hampir setiap hari memberitakan tentang buruknya kinerja PNS. Pasalnya, para PNS dinilai kurang produktif, menghamburkan uang negara, dan kurang berdisiplin serta beretos kerja rendah. Stigma buruk itu umumnya ditujukan kepada para PNS di hampir seluruh instansi pemerintah.
Pegawai mangkir saat jam kantor atau usai hari libur nasional hingga kini memang masih menjadi persoalan di berbagai instansi pemerintah lain. Hal ini mengindikasikan bahwa sikap dan budaya kerja di kalangan PNS belum tumbuh dan menjadi kesadaran kolektif. Kultur kerja PNS tampaknya sulit untuk dielakkan di setiap instansi pemerintah. Pasalnya , budaya dan sistem lingkungan kerja di instansi pemerintah umumnya lebih berorientasi kepada pelayanan publik dan bukan kepada produk. Akibatnya, kinerja dan disiplin pegawai pun tak jauh dari tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi) serta tata aturan birokrasi yang sudah baku.
Untuk itulah pembinaan disiplin kerja PNS harus terus dilakukan secara kontinyu dan komprehensif. Pembinaan disiplin kerja PNS dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan pengetahuan PNS serta penegakaan aturan disiplin pega wai. Dengan ada nya pembinaan maka diharapkan PNS kembali kepada fungsi utama yaitu memberikan pelayanan umum kepada masyarakat secara efektif, efisien dan profesional.
Salah satu instansi pemerintah yang memberikan pelayanan publik adalah Kantor Camat Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang. Pelayanan umum yang diberikan PNS di Kantor Camat Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang diantaranya adalah memberikan pengesahan dan rekomendasi surat keterangan tanah, surat izin mendirikan bangunan, surat keterangan kematian, kelahiran, pindah tempat, rekomendasi surat izin tempat usaha, rekomendasi surat izin usaha perdagangan serta memberikan legalisir dokumen pemerintahan yang telah dikeluarkan.
Oleh sebab itu PNS Kantor C amat Kecamatan Sepauk perlu mendapatkan pembinaan Camat untuk selalu meningkatkan disiplin kerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk itu pemberian pembinaan oleh Camat merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan untuk menimbulkan disiplin kerja dalam diri pegawai, sebab disiplin kerja pegawai sangat tergantung dari pembinaan yang diberikan oleh
Camat selain karena adanya tingkat kesadaran dari diri pegawai.
Namun upaya pembinaan itu belum terlalu nampak. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang peneliti lakukan di Kantor Camat Kecamatan Sepauk mulai pukul 10.00 WIB, masih terlihat pegawai justru banyak menganggur daripada menyelesaikan pekerjaannya. Pada saat jam kerja, masih ada pegawai yang tidak bekerja justru santai merokok di teras kantor. Selain itu juga masih adanya beberapa orang pegawai yang terlambat datang ke kantor dan meninggalkan kantor sebelum jam kerja. Padahal peraturannya sudah jelas bahwa masuk kantor pukul 07.00 WIB dan pulang kantor pukul 14.00 WIB. Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan ini jelas bukan merupakan yang diharapkan sebagai abdi negara maupun abdi masyarakat.
Selain itu, dari hasil pengamatan sementara juga terlihat masih banyak pekerjaan yang belum cepat diselesaikan, contohnya untuk mengurus rekomendasi kartu t anda penduduk harus menunggu sampai 2 (dua) hari padahal bisa dilakukan tidak lebih dari 2 (dua) jam. Di samping itu juga masih terlihat pegawai kurang cekatan dalam menyelesaikan pekerjaannya dan terlihat lambat, ini terlihat dari pengurusan surat keterangan ijin mendirikan bangunan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu satu hari namun harus menunggu sampai tiga hari.
Untuk itu, Camat sebagai pimpinan tertinggi di Kantor Kecamatan harus berupaya membina disiplin kerja pegawai yang ber akhir pada meningkatnya kiner ja pega wai. Dengan meningkatnya disiplin kerja pegawai maka diharapkan dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Hingga saat ini belum ada sikap tegas dalam bentuk sanksi displin yang diberi kepada yang menurut pengamatan penulis prapenelitiuan sementara itu pegawai juga dituntut untuk bersikap profesional dan bertanggung jawab sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Pembinaan yang berupa peningkatan kemampuan pegawai dan penegakan aturan disiplin pegawai perlu dilakukan Camat guna meningkatkan disiplin kerja pegawai. Oleh sebab itu peneliti merasa tertarik untuk meneliti pembinaan disiplin kerja pegawai di Kantor Camat Kecamatan Sepauk Kabupaten S intang. Guna meningka tkan profesionalisme dan disiplin kerja pegawai maka perlu adanya upaya pembinaan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam rangka memberikan pelayanan publik. Thoha (1993:7) mengataka n bahwa “pembinaan
merupakan suatu tindakan, proses, hasil, atau pernyataan menjadi lebih baik. Pembinaan menunjukkan adanya kemajuan, peningkatan, perubahan, evolusi atas berbagai kemungkinan, berkembang, atau peningkatan atas sesuatu”.
Pengertian di atas mengandung dua hal, yaitu pertama, bahwa pembinaan itu sendiri bisa berupa tindakan, proses, atau pernyataan dari suatu tujuan; dan kedua, pembinaan bisa menunjukkan kepada perbaikan atas sesuatu. Pengertian lain dikemukakan oleh Raharjo (2000:21), bahwa “pembinaan dalam manajemen sumber daya manusia adalah upaya untuk menaikkan potensi dan kompetensi melalui pendidikan formal maupun informal”. Pembinaan menurut pengertian ini, bertujuan untuk menggali potensi dan kompetensi pegawai. Potensi dan kompetensi pegawai perlu terus dibina agar dapat meningkatkan kualitas kerja. Fost er dan Seeker (2001:1-10), menyatakan bahwa pembinaan (coaching) adalah “upaya berharga untuk membantu orang lain mencapai kinerja puncak”. Sementara Minor (2003:3) mengatakan bahwa membina adalah “proses mengarahkan yang dilakukan oleh seorang manajer untuk melatih dan memberikan orientasi kepada seorang karyawan tentang realitas di tempat kerja dan membantunya mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi optimum”. Erat kaitannya dengan kata membina, menurut Minor adalah kata membimbing (counseling), yaitu proses pemberian dukungan oleh manajer untuk membantu seorang karyawan mengatasi masalah pribadi di tempat kerja atau masalah yang muncul akibat perubahan organisasi yang berdampak pada prestasi kerja.
Berkaitan dengan pembinaan di atas, kemudian Foster dan Seeker (2001:11) mengatakan bahwa “tidak ada orang yang datang ke tempat kerja menginginkan kinerja buruk. Apabila diberi pilihan, orang ingin menjadi sukses di tempat kerja”. Dengan kalimatnya retoriknya, kedua ahli ini menyatakan, bahwa mengapa tidak menyusun keberhasilan pegawai tim dengan pembinaan? Setelah membuat dan memfinalkan rencana kinerja yang tepat, pembinaan sehari-hari menjadi faktor dalam menajemen kinerja.
Namun harus dijelaskan di sini, bahwa untuk melakukan pembinaan kinerja, pembina tidak berkewajiban untuk membetulkan individu. Pembina hanya memonitor dan memperbaiki perilaku individu di tempat kerja. Dijelaskan bahwa sebagai pembina tim, pimpinan organisasi bertanggung jawab terhadap kua litas kerja bawahan. Ja ngan beranggapan bahwa setelah seorang bawahan
mempelajari keterampilan tertentu, mereka tidak memerlukan pembinaan lagi.
Menurut Urwick (dalam Handoko, 2003:23) bahwa: “pembinaan adalah suatu komando untuk melihat bahwa kepentingan individu tidak mengganggu kepentingan umum, akan tetapi melindungi kepentingan umum dan akan menjamin masing-masing unit memiliki pemimpin yang kompeten dan energik. Keberhasilan kesatuan tersebut dalam manajemen modern disebut pembinaan atau directing”. Fungsi pembinaan adalah untuk membuat pegawai melakukan tugas sesuai dengan apa yang diinginkan untuk mencapai tujuan orga nisasi, dan meningka tkan profesionalisme pegawai. Roland dan Rowland (dalam Handoko, 2003:43) menyatakan bahwa:
Pembinaan dimulai dengan mempertahankan tindakan terhadap tujuan yang diinginkan yang saling terkait dengan kepemimpinan. Gaya kepemimpinan seorang pembina akan menjadi faktor utama dalam menjalankan fungsi pembinaan. Fungsi ini melibatkan gaya, kualitas dan kewenangan seorang pemimpin termasuk aktifitas lainnya seperti komunikasi, disiplin dan motivasi.
Lebih lanjut Roland dan Rowland (dalam Handoko, 2003:45) mengemukakan beberapa fungsi dari pembinaan yaitu:
1. Menerapkan teori pengetahuan yang diterima.
2. Membuat dan menggunakan rencana strategis dan taktis dengan menerima masukan dari staf untuk memudahkan perencanaan operasional. 3. Memudahkan pencapaian visi, misi, tujuan
dan sasaran organisasi.
4. Memfasilitasi dan mempertahankan sumber-sumber yang ada (SDM, alat/fasilitas) 5. Menjaga atau mempertahankan moral yang
baik.
6. Memfasilitasi dan memberikan program pelatihan atau pendidikan berkelanjutan untuk mempertahankan kompetensi.
7. Menyediakan dan mempertahankan standar dalam bentuk kebijakan, prosedur, peraturan dan regulasi.
8. Mengkoordinasikan disiplin dalam semua aspek kegiatan.
9. Memudahkan dan mempertahankan hubungan interpersonal.
10. Memberikan kesempatan untuk konseling. 11. Membangun dan mempertahankan
kepercayaan dan kerja tim.
12. Mengatasi atau me-manage konflik. 13. Mengorganisir sumber daya manusia
14. Mendelegasikan wewenang.
Pembinaan merupakan salah satu aspek pent ing dala m mengelola pegawai ka rena mempunyai fungsi yang dapat menggerakkan pegawai ke arah pencapaian tujuan yaitu kesadaran akan arti penting kedisiplinan. Keberhasilan pembinaan kedisiplinan juga tergantung dari bagaimana cara pimpinan memberikan pola komunikasi yang diterapkan dalam memberikan pembinaan. S elain itu kemampuan mengkoordinasikan pekerjaan menjadi bagian penting dari fungsi pembinaan kedisiplinan pegawai.
Heidjrachman dan Husnan, (2002: 15) mengungkapkan “Disiplin adalah setiap perseorangan dan juga kelompok yang menjamin adanya kepatuhan terhadap perintah dan berinisiatif untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan seandainya tidak ada perintah”. Disiplin itu sendiri diartikan sebagai kesediaan seseorang yang timbul dengan kesadaran sendiri unt uk mengikuti peraturan-peratuan yang berlaku dalam organisasi. Sedangkan Menurut Davis (2002: 112)
Disiplin adalah tindakan manajemen untuk memberikan semangat kepada pelaksanaan standar organisasi. Ini adalah pelatihan yang mengarah pada upaya membenarkan dan melibatkan pengetahuan-pengetahuan sikap dan perilaku pegawai sehingga ada kemauan pada diri pegawai untuk menuju pada kerjasama dan prestasi yang lebih baik.
Sastrohadiwiryo (2001:291) menyatakan bahwa: “disiplin dapat didefinisikan sebagai suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalanka nnya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya”. Sedangkan Hasibuan (2002:193) merumuskan bahwa:
Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar aka n tugas dan tanggung jawabnya, kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak.
Menurut Handoko (2003: 208) bahwa: “disiplin adalah kegiatan manajemen untuk
menjalankan standar-standar organisasional. Ada dua tipe kegiatan pendisiplinan yaitu preventif dan korektif”. Selain itu menurut Handoko (2003:221) bahwa: “pembinaan disiplin adalah upaya pimpinan/ atasan untuk menciptakan sikap ketaatan Pegawai terhadap suatu aturan atau ketentuan yang berlaku dalam organisasi atas dasar adanya kesadaran dan keinsafan, bukan karena adanya unsur paksaan”.
Menurut Siswanto (2005:112-113) secara umum tujuan pembinaan kedisiplinan yang ingin dicapai pada setiap organisasi adalah sebagai berikut:
1. Menjamin kontinuitas perencanaan.
Suatu perencanaan yang ditetapkan untuk dijadikan pedoman normatif dalam pencapaian tujuan. Suatu pengarahan dilakukan untuk menjamin kelansungan perencanaan. Artinya, perencanaan yang telah ditetapkan meskipun memiliki sifat fleksibel namun prinsip yang terkandung di dalamnya harus tetap dijamin kontinuitasnya.
2. Membudayakan prosedur.
Dengan adanya pengarahan diharapkan bahwa prosedur kerja yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga lambat laun menjadi suatu kebiasaan. Apabila sudah terbiasa dilaksanakan diharapkan dapat membudayakan di lingkungan sistem itu sendiri.
3. Menghindari kemangkiran yang tak berarti. Kemangkiran dapat diberikan batasan sebagai kondisi ketika seseorang tidak berada di tempat kerjanya di luar penyebab yang jelas dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun dalam praktiknya jarang ditemukan karyawan yang hadir mangkir tetapi kemangkirannya berarti.
4. Membina disiplin kerja.
Penerapan fungsi pengarahan adalah agar terbina disiplin kerja di lingkungan organisasi. Disiplin dapat diartikan sebagai suatu sikap mental yang menyatu dalam kehidupan yang mengandung pemahaman terhadap norma, nilai, dan peraturan dalam melaksanakan hak dan kewajiban kehidupan .
5. Membina motivasi yang terarah.
Penerapan fungsi pengarahan juga memiliki tujuan untuk membina motivasi kerja para pegawai yang terarah. Maksudnya, pegawai melaksanakan pekerjaan sambil dibimbing dan diarahkan untuk menghindari kesalahan prosedur yang berdampak terhadap keluarannya.
Suat u pembinaan menurut Sa ydam (1997:205) biasanya diarahkan dengan tujuan:
(1) Pegawai dapat melaksanakan tugas-tugas secara berdaya guna dan berhasilguna; (2) Mutu keterampilan pegawai meningkat
sehingga dapat menjamin semakin berpartisipasi dalam pelaksanaan tugas-tugas; (3) Diperolehnya para pegawai yang setia dan taat kepada kepentingan perusahaan (organisasi), negara dan pemerintah; dan
(4) Terciptanya iklim kerja yang harmonis, serasi dan mampu menghasilkan produk yang bermutu dan optimal.
Seja lan dengan terjadinya berbagai perubahan dalam organisasi, pembinaan berkelanjutan menjadi kebutuhan atau jalan hidup saat ini. Pembinaan yang berkelanjutan merupakan suatu cara untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan yang berkelanjutan. Ini berarti pembinaan disiplin kerja pegawai merupakan proses berkelanjutan dan harus terus menerus memberi berbagai arahan dan dukungan.
Namun secara tersirat dapat ditafsirkan bahwa pembinaan PNS merupakan bagian dari manajemen kepegawaian. Dalam perspektif yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa pembinaan pada dasarnya merupakan bagian dari manajemen sumber daya manusia, yang intinya adalah bagaimana memberikan treatment terhadap SDM yang ada agar sesuai dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi.
Pegawai yang memiliki disiplin kerja yang baik biasanya didukung oleh kemampuan dan keterampilan yang memadai. Dan sebaliknya, pegawai yang kurang disiplin kerja cenderung karena kurangnya kemampuan dan keterampilan. Oleh sebab itu, pembinaan kedisiplinan kerja pegawai dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan dan keterampilan pegawai.
Sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai sangat menunjang tercapainya kualitas pelayanan publik dalam rangka memberikan kepuasan publik. Kemampuan yang dimiliki seorang pegawai akan membuatnya berbeda dengan pegawai yang mempunyai kemampuan rata-rata atau biasa saja. Menurut Sofo (2003:150) istilah kemampuan didefinisikan dalam arti “apa yang diharapkan di tempat kerja, dan merujuk pada pengetahuan, keahlian, dan sikap yang dalam penerapannya harus konsisten dan sesuai sta ndar kinerja yang dipersyaratkan dalam pekerjaan”. Menurut Schumacher (dalam Sinamo, 2002:6) bahwa: “ada tiga komponen penting yang tidak tampak dalam kemampuan diri manusia yaitu; keterampilannya,
kema mpuannya dan et os kerjanya”. Tanpa ketiganya, semua sumber daya tetap terpendam, tidak dapat dimanfaatkan, dan tetap merupakan potensi belaka. Jika disimak ketiga komponen yang tidak kelihatan tersebut memang berada dalam diri manusia, tersimpan dalam bentuk kemampuan insani operasional (operational human abilities).
Lowler dan Porter (dalam As’ad, 2000:61) mendefinisikan “kemampuan (ability) sebagai karakteristik individual seperti intelegensia, manual skill, traits yang merupakan kekuatan potensial seseorang untuk berbuat dan sifatnya stabil”. Selain itu, menurut Sedarmayanti (2003:127) bahwa: “kemampuan dinyata kan sebagai seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap ma mpu oleh masya rakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”. Sedangkan menurut As’ad (2000:60) bahwa:
Kemampuan pada individu tersebut paling tidak ditentukan oleh tiga aspek kondisi dasar yait u; kondisi sensoris da n kognitif, pengetahuan tentang cara respon yang benar, dan kemampuan melaksanakan respon tersebut. Jadi kemampuan (abil ity) merupakan suatu potensi untuk melakukan sesuatu. Atau dengan kata lain kemampuan (ability) adalah what one can do dan bukanlah what he does do.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa kemampuan merupakan potensi yang dimiliki oleh seorang pegawai dalam menyelesaiakan tugasnya secara cepat dan tepat, efektif dan efisien sesuai dengan metode atau standar kerja yang diwujudkan dalam pelaksanaan tugasnya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, pegawai dapat mengembangkan diri serta meningkatkan karir kerjanya.
Sementara itu, menurut Moenir (2002:116) bahwa: “kemampuan berarti dapat melakukan tugas atau pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan yang diharapkan”. Menurut Katz (dalam Moenir, 2002:116-117) bahwa: “ada 3 (tiga) jenis kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap manajer agar dapat melakukan tugasnya memimpin secara berdayaguna dan berhadil guna yaitu: kemampuan teknik (technical skill), kemampuan bersifat manusiawi (human skill) dan kemampuan membuat konsep (conceptual skill)”. Selanjutnya menurut Moenir (2002:117) bahwa: “ket erampila n adala h kemampuan melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan menggunakan pegawai badan dan peralatan kerja
yang tersedia”. Dengan pengertian ini dapat dijelaskan bahwa keterampilan lebih banyak menggunakan unsur pegawai badan daripada unsur lain. Moenir (1987:186) mengatakan bahwa: “orang bekerja selalu menggunakan paling tidak 4 (empat) unsur yang ada pada setiap orang yaitu: otot, syaraf, perasaan dan pikiran”.
Selain itu, menurut Handoko (dalam Waluyo, 2007:108) bahwa: untuk melaksanakan proses manajemen dalam memberikan pelayanan harus memiliki 3 (tiga) keterampilan yaitu:
1. Keterampilan teknis mencakup kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metode-metode, teknik-teknik dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas khusus, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan.
2. Keterampilan bekerja dengan manusia, meliputi kemampuan dan penilaian dalam hal bekerja dengan melalui organisasi, termasuk didalamnya suatu pemahaman tentang motivasi dan suatu aplikasi kepemimpinan efektif. 3. Keterampilan konseptual meliputi kemampuan
untuk memahami kompleksitas organisasi secara menyeluruh dan dimana pekerjaan seseorang terpadu dengan organisasi yang bersangkutan.
Dengan kemampuan dan keterampilan yang memadai maka pelaksanaan tugas atau pekerjaan dapat dilakukan dengan baik, cepat dan memenuhi keinginan semua pihak, baik manajemen itu sendiri maupun masyara kat. Dengan kemampuan dan keterampilan yang memadai maka akan mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan publik.
Upaya peningkatkan kemampuan dan keterampilan pegawai dapat dilakukan melalui pendidikan baik formal maupun infor mal. Sedangkan peningkatan pegawai dapat dilakukan dengan mengikuti seminar, lokakarya, workshop, studi banding maupun kursus keterampilan lainnya. Dengan peningkatan kemampuan dan keterampilan maka pegawai akan merasa mampu dan menguasai bidang kerjanya sehingga gairah kerja semakin meningkat yang akan berimbas pada meningkatnya disiplin kerja.
Disiplin adalah suatu bentuk ketaatan terhadap aturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang telah ditetapkan. Maksud ditumbuhkannya disiplin kerja adalah kepatuhan terhadap aturan juga