Lower Bound
PEMERINTAHAN YANG BAIK Jhony Fredy Hahury
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kapuas Email: [email protected]
Abstrak: Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah dalam Menciptakan Pemerintahan Yang Baik (good governance) memberi ruang bagi Pemerintah Daerah untuk mengelola daerahnya sendiri tidak lain adalah dalam rangka Penyelenggaraan pemerintahan daerah guna memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Hal ini sangat penting dan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan optimalisasi sumber daya aparatur sesuai pelaksanaan konsep prinsip-prinsip good governance. Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Malang dalam hal ini sebagai pelaksana penyelenggaraan pemerintahan daerah dituntut adanya kemampuan aparatur pemerintahan yang memiliki kredibilitas, integritas, profesionalisme, bersih dari KKN dan moral yang baik guna mendukung kelancaran dan keterpaduan penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan dengan mempraktekkan prinsip-prinsip good governance. Dengan demikian, implementasi kebijakan otonomi daerah itu akan berjalan dengan baik sehingga akan mewujudkan pemerintahan yang adil dan demokratis.
Kata Kunci :Implementasi, Kebijakan, Pemerintahan yang Baik
Tujuan dikeluarkannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Sistem Pemerintahan Daerah adalah pemberian otonomi dalam rangka pencapaian peningkatan pelayanan, kesejahteraan masyarakat (social welfare) yang semakin baik, pengembangan kehidupan berdemokrasi, keadilan (justice), pemerataan (equality), dan pemeliharaan hubungan yang serasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional dalam rangka keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dala m konteks otonomi daerah, peningkatan kemampuan pemerintah daerah nampaknya menjadi topik yang sa ngat penting.Pemerintah daerah tidak hanya harus mampu mengatur daerahnya sendiri tetapi juga harus memupuk dan meningkatkan kemampuan dan ketahanannya sebagai suatu organisasi yang mandiri.Seja lan dengan sema kin besa rnya wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki oleh pemerintah daerah maka perlu adanya aparat birokrasi yang mempunyai kualitas dan kemampuan manajerial yang baik serta aparat birokrasi yang bertanggung jawab.
Semangat reformasi telah mewarnai pendayagunaan aparatur negara dengan tuntutan untuk mewujudkan administrasi negara yang mampu mendukung kelancaran dan keterpaduan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan negara dan pembangunan, dengan mempraktekkan prinsip-prinsip good governance.
Proses penyelenggara an kekua saan negara dalam menyediakan public goods and services disebut governance (pemerintahan atau kepemerintaha n yang baik). Agar good governance menjadi kenyataan dan sukses, dibutuhkan komitmen dari semua pihak, swasta, pemerintah dan masyarakat.Good governance yang efektif dituntut adanya koordinasi yang baik dan integritas, profesionalisme, etos kerja dan moral yang tinggi. Dengan demikian penerapan konsep dan penyelenggaraan good governance dalam kekuasaan pemeritah menjadi baik dan terarah.
Terselenggara nya good governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, nyata dan legitimate sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan berlangsung secara berkesinambungan, berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab serta bebas dari KKN. Perlu diperhatikan pula adanya mekanisme untuk meregulasi akuntabilitas pada setiap instansi pemerintah dan memperkuat peran dan kapasitas institusi parlemen, dan tersedianya akses yang sama pada informasi bagi masyarakat luas.
Terwujudnya penerapan prinsip-prinsip good governance tidak terlepas dari peran masyarakat, dan stakeholder yang berkepentingan (sektor swasta, LSM/NGO’s dan elit politik) demi
memajukan pembangunan serta pemerintahan daerah yang berguna bagi masyarakat.Dengan demikian, maka wujud good governance adalah pelaksanaan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang solid, kondusif dan bertangung jawab dengan menjaga kesinergisan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah, maka berkaitan dengan penyelengga raan pemerintahan di Pemerintah Kota Malang tentunya harus sesuai tuntutan dan kebutuhan serta kepentingan masyarakat.Pelayanan prima yang diharapkan oleh masyarakat menjadi penting dalam rangka mewujudkan pelayanan yang adil, terbuka dan akuntabel sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.Oleh karena itu, Ba gian Pemerintaha n Daera h Kota Malang yang merupakan bagian dari Pemerintahan Daerah tentunya dalam hal pelaksanaan kebijakan masih terdapat kekurangan yang menjadi kendala dalam pelayanan publik.
Kebija kan (poli cy) ada lah sebuah instrumen pemerintahan, bukan saja dalam arti government yang hanya menyangkut aparatur nega ra, mela inkan pula governance ya ng menyentuh pengelolaan sumberdaya publik. Kebijakan pada intinya merupakan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumberdaya alam, finansial dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Hal ini dikatakan oleh Suharto (2007:3) bahwa kebijakan merupakan hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan-kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara.
Menurut Dye(dalam Widodo, 2001:189) mengartikan”publ ic policy is whatever governments choose to do or not to do” (kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan). Lebih lanjut oleh Dunn (dalam Pasolong, 2007:39) kebijakan publik adalah suatu rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintahan, seperti pertahanan keamanan, energi, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, kriminalitas dan lain-lain. Sementara itu Easton (dalam Santosa, 2008:27) mendefinisikan kebijakan publik sebagai pengalokasian nilai-nilai kepada seluruh masyarakat secara keseluruhan.
Dengan demikian dari beberapa definisi kebijakan publik di atas maka dapat disimpulkan bahwa : (1) kebijakan publik dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakan-tindakan pemerintah, (2) kebijakan publik harus berorientasi kepada kepentingan publik, (3) tindakan pemilihan alternatif untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah demi kepentingan publik. Jadi idealnya suatu kebijakan publik adalah (1) kebijakan publik untuk dilaksanakan dalam bentuk riil, bukan untuk sekedar dinyatakan, (2) kebijakan publik harus berorientasi kepada kepentingan publik, dan (3) kebijakan publik adalah tindakan pemilihan alternatif untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah demi kepentingan publik (Pasolong, 2007:39).
Fungsi utama dari negara adalah mewujudkan, menjalankan, dan melaksanakan kebijaksanaan bagi seluruh masyarakat. Menurut Sunggono (1994:12) hal ini berkaitan dengan tujuan-tujuan penting kebijakan pemerintah pada umumnya, yaitu : (1) memelihara ketertiban umum (negara sebagai stabilisator), (2) memajukan perkembangan dari masyarakat dalam berbagai hal (negara sebagai stimulator), (3) memadukan berbagai aktivitas (negara sebagai koordinator), (4) menunjuk dan membagi benda material dan material (negara sebagai distributor).
Menurut Kaho (1995:123) “Mula-mula otonom atau berotonomi berarti mempunyai hak, kekuasaan, atau kewenangan untuk membuat peraturan sendiri. Kemudian arti istilah otonomi ini berkembang menjadi pemerintah sendiri.Dengan demikian daerah otonom adalah daerah yang berhak dan berkewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri”.Sementara itu menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa “Otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.
Daerah otonom selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penegasan konsepsi da sar otonomi daerah menurut Sumadiyanto (dalam Juliantara, 2004) antara lain: (1) Pengembalian harga diri pemerintah dan masyarakat daerah, (2) di bidang politik otonomi
adalah buah dari desentralisasi dan demokratisasi, maka harus membuka peluang/ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis, memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan yang responsif pada kepentingan rakyat, (3) Memelihara suatu mekanisme pengambilan keputusan yang taat pada asas pertanggungjawaban publik, (4) Kesempatan membangun struktur pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah, (5) Membangun sistem dan pola kerja politik administrative, dan (6) Mengembangkam sistem manajemen pemerintahan yang efektif.
Tujuan utama penyelenggaraan otonomi daerah menurut Mardiasmo (2002:59) adalah untuk meningkatkan pelayanan publik (public service) dan memajukan perekonomian daerah.Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi yaitu, yaitu : (1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) Menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah, (3) Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (public) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Berkaitan dengan hal di atas, maka tujuan pemerintahan dapat terwujud apabila kebijakan di implementasikan dengan baik sebagaimana dijelaskan oleh Mazmanian dan Sabatier (dalam Wahab, 2001:65), mengatakan bahwa implementasi kebijakan pemerintahan mengandung makna tertentu, yaitu : memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasika nnya maupun untuk menimbulkan akibat /dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.
Oleh karena itu, setiap kebijakan publik harus di implementasikan, sebagaimana ditegaskan oleh Van Meter dan Van Horn (dalam Winarno, 2005:102) bahwa implementasi kebijakan publik sebagai berikut: “tindakan-tindakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha -usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usah-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan
kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan”. Sedangkan Grindle(dalam Tachjan, 2006) bahwa implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Masih menurutnya bahwa proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran.
Dengan demikian, implementasi kebijakan sebagai proses kegiatan administratif yang dilakukan setelah kebijakan ditetapkan atau disetujui. Sehingga fungsi dan tujuan implementasi ialahuntuk membentuk suatu hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-sasaran kebijakan publik (politik) dapat diwujudkan sebagai “outcome” (hasil akhir) dari kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah (Tachjan, 2006:26).
Berdasarkan beberapa definisi yang disampaikan para ahli di atas, disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan dengan harapan akan memperoleh suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran dari suatu kebijakan itu sendiri. Hakikat utama implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. Pemahaman tersebut mencakup usaha-usaha untuk mengadministrasikannya dan menimbulkan dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian (Widodo, 2001:87).
Implementasi kebijakan juga tidak terlepas dari beberapa model yang menjadi sukses tidaknya suatu kebijakan.Model implementasi kebijakan menurut pandangan Edwards III (1980) (dalam Ekowati, 2008) dipengaruhi empat variabel, yakni; (1) komunikasi, (2) sumberdaya, (3) disposisi dan kemudian (4) struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama lain. Keempat variable tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Komunikasi. Implemetasi kebijakan publik agar dapat mencapai keberhasilan, mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan secara jelas. Oleh karena itu diperlukan a danya t iga hal, yaitu; (1) penyaluran (transmisi) yang baik akan menghasilkan implementasi yang baik pula (kejelasan); (2) adanya kejelasan yang diterima oleh pelaksana kebijakan sehingga tidak membingungkan dalam pelaksanaan kebijakan, dan (3) adanya konsistensi yang diberikan dalam pelaksanaan kebijakan. Jika yang dikomunikasikan berubah-ubah akan
membingungkan dalam pelaksanaan kebijakan yang bersangkutan.
2. Sumberdaya. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja tidak diwujudkan untuk member ikan pemecahan masalah yang ada di masyarakat dan upaya memberikan pelayan pada masyarakat. Sumberdaya tersebut dapat berwujud sumberda ya manusia, yakni kompetensi implementor dan sumberdaya finansial.
3. Disposisi. Suatu disposisi dalam implementasi dan karakteristik, sikap yang dimiliki oleh implementor kebijakan, seperti komitmen, kejujuran, komunikatif, cerdik dan sifat demokratis. Implementor baik harus memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan dan ditetapkan oleh pembuat kebijakan.
4. Struktur birokrasi. Organisasi, menyediakan peta sederhana untuk menunjukkan secara umum kegiatan-kegiatannya dan jarak dari puncak menunjukkan status relatifnya. Salah satu dari aspek struktur organisasi adalah adanya prosedur operasi yang sta ndar (standard operating procedures/SOP). Fungsi dari SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yakni birokrasi yang rumit dan kompleks. Hal demikian pada gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.
Secara konseptual pengertian kata baik (good) dalam istilah kepemerintahan yang baik (good governance) mengandung dua pemahaman.Pertama, nilai yang menjunjung tinggi keinginan atau kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian t ujuan na sional kemandir ian, pembangunan berkela njutan dan keadilan sosial.Kedua, aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut.
Menurut Soffian Effendi (dalam Azhari, dkk., 2002:187)dalam bahasa Indonesia good governance diterjemahkan secara berbeda-beda. Ada yang menerjemahkan good governance sebagai tata pemerintahan yang baik.Ada juga yang menerjemahkan sebagai penyelengga raan pemerintahan yang baik.Akan tetapi ada pula yang menerjemahkan good governance seba gai pemerintahan yang a manah.Jika good
governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan pemerintahan yang amanah, maka good governance dapat didefinisikan sebagai penyelenggaraan pemerintahan secara partisipatif, efektif, jujur, adil, transparan dan bertanggungjawab kepada semua level pemerintahan.
Definisi good governance menurut World Bankialah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran terhadap kemungkinan salah alokasi dan investasi, dan pencegahan korupsi baik yang secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha (Mardiasmo, 2002:23).
Sementara itu Uni ted Nat ions Development Program (UNDP) dalam dokumen kebijakannya yang berjudul “Governance for sust ainable human development”(1997), mendefinisikan kepemerintahan (governance) adalah pelaksanaan kewenangan/kekuasaan di bidang ekonomi, politik dan administratif untuk mengelola berbagai urusan negara pada setiap tingkatannya dan merupakan instrumen kebijakan negara untuk mendorong terciptanya kondisi kesejahteraan integritas, dan kohesivitas sosial dalam masyarakat. United Nations Development Program (UNDP) juga mendefinisikan good governance sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif di antara negara, sektor swasta dan masyarakat (society). Selanjutnya menurut Kooiman (dalam Sedarmayanti, 2004:2) bahwa governance merupakan serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintahan dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut. Denga n demikian good governance dimaksudkan agar kinerja pemerintahan daerah lebih terarah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang memadai guna mencapai hasil yang lebih baik dan terciptanya struktur pemerintahan yang ideal yang berorientasi pada tujuan pembangunan nasional.Sehingga good governance berorientasi pada pertama;Orientasi ideal, negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional. Orientasi ini bertitik tolak pada demokratisasi dalam kehidupan bernegara dengan elemen konstituennya. Kedua; Pemerintahan yang berfungsi secara ideal, secara efektif dan efisien dalam melakukan upaya mencapai tujuan nasional.Orientasi kedua ini tergantung pada sejauhmana pemerintah mempunyai kompetensi, dan sejauhmana struktur serta mekanisme politik serta administratif berfungsi secara efektif dan efisien.
Lembaga Administrasi Negara (2000) menyimpulkan bahwa wujud good governance penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggungjawab, serta efisien dan efektif, dengan menjaga “kesinergisan” interaksi yang konstruktif diantara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat.
Menurut UNDP (dalam Mardiasmo, 2002:23) mengemukakan bahwa karakteristik atau prinsip pada pelaksanaan good governancemeliputi :
1. Partisipasi (participation), keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta ber partisipasi secara konstruktif.
2. Aturan hukum (rule of law), kerangka aturan hukum dan perundang-undangan yang berkeadilan dan dilaksanakan secara utuh, terutama tentang hak asasi manusia.
3. Transparansi (transparency), transparansi dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan. 4. Daya tanggap (responsivennes), setiap
inst itusi/lembaga-lembaga publik dan prosesnya harus diarahkan pada upaya untuk melayani berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders).
5. Berorientasi konsensus (consensus orientation), Pemerintahan yang baik akan bertindak sebagai penengah bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai konsensus atau kesempatan yang terbaik bagi kepentingan masing-masing pihak, dan jika dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap berbagai kebijakan dan prosedur yang diteta pkan oleh pemer intah serta berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
6. Keadilan (equity), setiap masyarakat memiliki kesempatan sama untuk memper oleh kesejahteraan dan keadilan.
7. Efektivitas dan Efisiensi (Efficiency and Effectivennes), setiap proses kegiatan dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang sebaik-baiknya berbagai sumber-sumber yang tersedia serta pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).
8. Akuntabilit as (accountabili ty), pa ra pengambil keputusan dalam organisasi publik, swasta, dan masyarakat madani memiliki pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas kegiatan yang dilakukan.
9. Visi strategis (strategic vision), penyelenggara pemerintahan yang baik dan masyarakat harus memiliki visi yang jauh ke depan agar bersamaan dirasaka nnya kebutuhan untuk pembangunan tersebut.
Keseluruhan karakteristik atau prinsip good governance ter sebut adalah sa ling memperkuat dan saling terkait serta tidak bisa berdiri sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat empat prinsip utama yang dapat memberi gambaran adminisitrasi publik yang berciri kepemerintahan yang baik yaitu sebagai berikut : 1. Akuntabilitas, adanya kewajiban bagi aparatur
pemeritah untuk bertindak selaku penanggung jawab dan penanggung gugat atas segala tindakan dan kebijakan yang ditetapkannya. 2. Transparansi, kepemerintahan yang baik akan
bersifat transparan terhadap rakyatnya baik ditingkat pusat maupun daerah.
3. Keterbukaan, menghendaki terbukanya kesempatan bagi rakyat untuk mengajukan tanggapan dan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya tidak transparan.
4. Aturan hukum, kepemerintahan yang baik mempunyai karakteristik berupa jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap setiap kebijakan publik yang ditempuh.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan Pada Kantor Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Malang Jawa Timur.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif.Informan dalam penelitian dengan menggunakan purposive sampl ing.Purposive sampling ini dengan kecenderungan peneliti untuk memilih informan yang dianggap mengetahui informasi masalah secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang benar (Sut opo, 2002:56).Data dikumpulkan melalui teknik wawa ncara mendalam, dokumentasi dan observasi.Teknik data menggunakan analisis data kualitatif dengan model analisis data dari Miles dan Huberman (1992) yaitu model analisis interaktif. Dalam model ini terdapat tiga komponen analisis yaitu : reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah diupayakan mampu dibiayai sendiri melalui optimalisasi penggalian dan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia maupun potensi daerah lainnya. Penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilaksanakan di Pemerintah Kota Malang diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kota, baik secara materiil dan spirituil. Pelaksanaan pembangunan kota Malang tetap diupayakan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam da n kualit as lingkungan serta permukiman Kota Malang sesuai dengan Rencana Strategis Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Hal ini sebagai upaya mewujudkan tuntutan reformasi dalam tatanan sistem politik pemerintahan dan tatanan paradigma pembangunan berdasarkan pada wawasan kebangsaaan, prinsip-prinsip demokrasi, persatuan dan kesatuan, otonomi daerah dan keadilan sosial (Misi Kota Malang, 2010).
Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Kota Malang.Pengembangan dan pelaksanaan otonomi daer ah sebagai kebijakan yang ditera pkan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat. Pada era otonomi daerah saat ini penyelenggaraan pemerintahan di Kota Malang telah dilaksanakan berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Malang baik kewenangan wajib maupun kewenangan pilihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Pemerintah Kota Malang serta tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah maupun pemerintah propinsi.
Berdasarkan wawancara peneliti dengan Ketua Bagian Pemerintahan Daerah Pemerintah Kota yang mengatakan bahwa dengan adanya kebijakan otonomi daerah ini maka implementasi ataupun pelaksanaan sebuah kebijakan harus didasarkan pada kompetensi aparatur dari segi kualitas sumber daya manusia karena akan sangat berhubungan dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Lanjutnya bahwa kinerja aparatur pemerintah Kota Malang dari segi kuantitas dinilai sudah memenuhi, tetapi perlu diimbangi pula dari segi kualitasnya yang didukung dengan pendidikan dan pelatihan guna mendukung terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Pembangunan suatu daerah juga akan berpengaruh pada anggaran. Pelaksanaan kebijakan otonomi ini juga terkendala dengan keterbatasan dalam pembiayaan pembangunan merupakan tant angan yang har us diha dapi dengan mengoptimalkan potensi dan sumber-sumber pendapatan daerah, dalam rangka mewujudkan kemandirian untuk penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, agar otonomi daerah benar-benar dapat dilaksanakan secara luas dan secara nyata dapat meningka tkan kesejahteraan masyarakat Kota Malang.
Dari segi pelaksanaan kerja tentunya ada dasar hukum atau kebijakan yang digunakan. Oleh sebab itu, berdasarkan wawancara dengan Kepala