Pemerintahan nagari yang sekarang dilaksanakan berdasarkan peraturan terbaru yaitu Perda Kabupaten Agam No. 12 dan 13 tahun 2007 yang resmi disahkan tanggal 10 Desember 2007. Pemerintahan nagari saat ini terdiri dari lembaga wali nagari (beserta perangkat nagari) dan Lembaga Bamus Nagari.
1. Wali Nagari dan Perangkatnya
Dalam menjalankan pemerintahan nagari, wali nagari dibantu oleh perangkat-perangkat nagari yang telah ditentukan oleh peraturan daerah. Berdasarkan Perda Kabupaten Agam No 12 tahun 2007, wali nagari memiliki tugas dan wewenangan sebagai berikut:
1. Bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
$$$
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan nagari berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Bamus Nagari dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
b. Mengajukan rancangan peraturan nagari kepada Bamus Nagari
c. Menetapkan peraturan nagari yang telah mendapatkan persetujuan bersama Bamus Nagari.
d. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan nagari mengenai APB Nagari untuk dibahas dan ditetapkan bersama Bamus Nagari
e. Membina kehidupan masyarakat nagari f. Membina perekonomian nagari
g. Mengkoordinasikan pembangunan nagari secara partisipatif
h. Mewakili nagarinya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang- undangan
i. Mendukung kelangsungan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa wali nagari memiliki tugas dan wewenang yang sangat luas. Ini berpotensi membuatnya menjadi penguasa tunggal dalam nagari apa bila Bamus tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Kewenangan yang sangat luas itu apa bila tidak ditopang oleh sumberdaya yang memadai, maka bisa dipastikan tidak akan bisa dijalankan dengan optimal, selain juga harus dapat bekerja sama dengan lembaga lainnya. Misalnya untuk membuat peraturan nagari ia harus bekerjasama dengan Bamus, sementara anggota Bamus sendiri lebih banyak menangani urusan pekerjaannya (sebagian besar anggota Bamus adalah pegawai negeri) sendiri. Sedangkan untuk membuat peraturan nagari, Bamus harus mengetahui apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat nagari disamping juga harus menampung aspirasinya. Bahasan lebih lanjut fungsi Bamus dan wali nagari dalam menetapkan peraturan nagari diuraikan pada bagian otonomi nagari.
Tugas wali nagari mengkoordinasikan pembangunan nagari secara partisipatif, merupakan tugas yang cukup berat. Ini disebabkan karena selama 32 tahun pada zaman desa, masyarakat telah terbiasa dengan segala sesuatunya harus
$$%
datang dari atas sehingga mematikan daya kreatifitas mereka. Seperti diakui oleh beberapa tokoh yang diwawancarai, mereka mengatakan jangankan ikut serta atas kesadaran sendiri, diundang ikut gotong royong secara resmi saja mereka tidak mau. Selain itu pelaksanaan pembangunan juga terkendala oleh persoalan biaya, bisa dikatakan keuangan Nagari IV Koto Palembayan ini sepenuhnya tergantung dari DAUN karena sumberdaya nagari yang ada belum dikelola/dimanfaatkan.
Wali nagari dalam melaksanakan pemerintahan nagari terutama dalam melaksanakan urusan-urusan yang menyangkut kedinasan, dibantu oleh perangkat nagari yaitu Kepala Urusan (Kaur) yang mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Kaur Pemerintahan
a. Kepala urusan pemerintahan mempunyai tugas menyusun program pembinaan wilayah, keamanan dan ketertiban, menyelesaikan sengketa perdata yang menjadi wewenangnya, melaksanakan administrasi kependudukan, dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kesatuan bangsa dan politik.
b. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana Kepala Urusan Pemerintahan mempunyai fungsi :
1) Pengumpulan dan pengolahan data yang berhubungan dengan bidang tugas sebagai bahan acuan dalam rangka pembinaan masyarakat dan pembinaan wilayah.
2) Pelaksanaan tugas-tugas keagrarian sesuai dengan kewenangannya. 3) Pelaksanaan administrasi kependudukan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
4) Pengumpulan dan pengolahan data bidang ketentraman dan ketertiban dan mengiventarisir potensi rakyat dalam rangka memperkecil akibat bencana dan melaksanakan pembinaan keamanan dan ketertiban. 5) Pelaksanaan kegiatan dalam rangka pembinaan pertahanan bangsa
dan perlindungan masyarakat.
6) Pelaksanaan pembinaan kerukunan antar warga.
7) Pengumpulan bahan dan menyusun laporan pelaksanaan tugas.
8) Pelaksanaan pemungutan pajak-pajak daerah seperti PBB dan pajak daerah serta retribusi daerah lainnya sesuai dengan ketentuan.
$$&
9) Pengiventarisasian segala permasalah yang berhubungan dengan tugas urusan pemerintahan dan menyusun kebijakan pemecahannya. 10) Pelaksanaan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan petunjuk
dan kebijakan pimpinan. 2. Kaur Pembangunan
a. Kepala Urusan Pembangunan mempunyai tugas menyusun program kerja, mengolah data bidang pembangunan, meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat, mengadministrasikan bantuan pembangunan yang masuk di nagari, menyiapkan bahan dalam rangka musyawarah perencanaan pembangunan nagari.
b. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana Kepala Urusan Pembangunan mempunyai fungsi :
1) Pendataan sarana dan prasarana serta potensi pembangunan nagari. 2) Pelaksanaan pembinaan tehadap perencanaan pelaksanaan
pembangunan.
3) Pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong - royong.
4) Pendataan terhadap jumlah dan jenis bantuan yang ada di nagari.
5) Penyiapan bahan dalam rangka pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan nagari.
3. Kaur Sosial Kemasyarakatan
Kepala Urusan Sosial Masyarakat mempunyai fungsi :
a. Penyusunan rencana program dalam rangka pelaksanaan pembinaan keagamaan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, pemuda dan olah raga serta pemberdayaan perempuan.
b. Pelaksanaan pelayanan masyarakat di bidang kesejahteraan sosial. c. Pengumpulan dan penyaluran bantuan-bantuan terhadap korban bencana
dan penyandang masalah sosial.
d. Pembinaan terhadap kegiatan kesejahteraan keluarga, pemuda dan olah raga dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
e. Pembina terhadap organisasi keagamaan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
$$'
f. Pelaksanaan segala usaha dalam rangka meningkatkan peranan perempuan dan pemberdayaan perempuan.
g. Monitoringdan pembinaan pelayanan kesehatan masyarakat. h. Penginventarisasian segala permasalah yang berhubungan dengan
kesejahteraan sosial dan menyusun rencana kebijakan pemecahannya. 4. Kaur Keuangan dan Aset
a. Kepala Urusan Keuangan dan Aset mempunyai tugas melaksanakan pengolahan keuangan nagari, administrasi keuangan nagari, menerima, menghimpun dan membuat laporan pertanggung jawaban keuangan dan mengumpul bahan untuk penyusunan Rancangan APB Nagari serta melaksanakan tugas lain sesuai bidang tugasnya.
b. Untuk melaksanakan tugas Kepala Urusan Keuangan dan Aset mempunyai fungsi :
1) Pelaksanaan administrasi keuangan nagari.
2) Pengumpulan bahan-bahan penyusunan rencana APB Nagari. 3) Pembuatan laporan pertanggung jawaban keuangan.
4) Pengelolaan keuangan nagari.
5) Penerimaan dan penyaluran bantuan keuangan dari pemerintah daerah 6) Penyusunan rencana penggunaan uang
7) Pelaksanaan penataan administrasi keuangan nagari 8) Pelaksanaan pengelolaan inventaris dan kekayaan nagari. 9) Pelaksanaan pemeliharaan inventaris nagari.
5. Bendahara
a. Bendahara mempunyai tugas melaksanakan administrasi keuangan nagari, menerima, mengeluarkan, menghimpun dan membuat laporan
pertanggung jawaban keuangan, serta melaksanakan tugas lain sesuai bidang tugasnya.
b. Untuk melaksanakan tugas Bendahara mempunyai fungsi : 1) Pelaksanaan administrasi keuangan nagari.
2) Pembuatan laporan pertanggung jawaban keuangan.
$$(
4) Mengajukan dokumen Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP), Surat Permintaan Pembayaran Ganti Uang (SPP-GU), Surat Permintaan Pembayaran Tambahan Uang (SPP-TU), Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) untuk di setujui Wali Nagari.
5) Menerima, memeriksa dan mencatat surat pertanggung jawaban keuangan.
6) Menandatangani kwitansi pembayaran uang. 7) Penyusunan rencana penggunaan uang.
8) Pelaksanaan penataan administrasi keuangan nagari.
c. Memungut dan menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke Rekening Kas Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dapat dilihat, bahwa masing-masing posisi memiliki tugas yang jelas, ini sebelumnya tidak ada pada masa pemerintahan desa. Pembagian tugas dan kewenangan yang jelas bagi masing-masing unsur dalam sebuah organisasi, merupakan salah satu ciri dari organisasi modern. Inilah yang tengah dicoba untuk dimasukan ke dalam pemerintahan nagari dalam kaitannya menjalankan fungsi administrasi. Pelaksanaan administrasi yang lebih baik pada masa pemerintahan nagari saat ini salah satunya tampak pada sistem pengarsipan yang rapi.
Webber mengemukakan tiga tipe otoritas yaitu tradisional, karismatik dan rasional-legal dan percaya bahwa kecenderungan dunia adalah menuju ke sistem otoritas rasional-legal. Yakni otoritas yang diperoleh dari aturan-aturan yang dibuat secara legal dan rasional. Merujuk pada pendapat Webber tersebut, maka otoritas wali nagari saat ini adalah rasional-legal. Ini sama dengan tipe otoritas pada kepala desa. Sedangkan wali nagari sebelum tahun 1979 merupakan gabungan dari tipe tradisional dan rasional-legal, karena selain ditunjuk berdasarkan aturan formal ia juga harus sesuai dengan kriteria berdasarkan hukum adat yang diantaranya harus seorang penghulu (ninik mamak) artinya bukan pendatang di nagari tersebut dan perempuan tidak akan bisa terpilih sebagai wali nagari. Itu sesuai dengan tugas wali nagari yaitu selain mengurus administrasi pemerintahan, ia juga mengurus hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat.
$$
Wali nagari saat ini tidak harus seorang penghulu, karena pemilihannya berdasarkan peraturan formal melalui mekanisme pemilihan umum, maka siapa saja, baik pendatang maupun penduduk asli, laki-laki bahkan perempuan sekalipun, mempunyai kesempatan untuk dipilih. Sementara terpilihnya wali nagari saat ini telah mencerminkan sebuah keputusan yang rasional karena ia memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi (sarjana ekonomi), yang sebelumnya aktif dari organisasi pemuda, meskipun bukan seorang yang bergelar datuk.
2. Bamus Nagari
Disamping Wali Nagari dan perangkatnya, terdapat lembaga Bamus Nagari yang menjalankan fungsi legislasi, dengan susunan anggota masih sama dengan yang sebelumnya. Anggota-anggota Bamus Nagari merupakan perwakilan dari ninik mamak, cerdik pandai, alim ulama, bundo kandung dan pemuda. Dalam kenyataannya, anggota-anggota Bamus Nagari IV Koto Palembayan adalah tokoh-tokah masyarakat yang dianggap memiliki pengetahuan yang lebih dibanding masyarakat lainnya. Pada waktu rapat pemilihan anggota Bamus, setelah para undangan datang, baru mereka kemudian dikelompokan ke dalam kelima unsur yang disebutkan di atas. Jadi sebenarnya mereka tidak mewakili unsur-unsur tersebut. Berdasarkan Perda Kabupaten Agam No. 12 tahun 2007, Bamus memiliki kewenangan sebagai berikut:
1. Membahas Rancangan Peraturan Nagari bersama wali nagari
2. Melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pemerintah nagari dan pelaksanaan peraturan nagari serta Peraturan Wali nagari
3. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian wali nagari 4. Membentuk panitia pemilihan wali nagari
5. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
6. Menyusun tata tertib Bamus Nagari
Menurut pemahaman para anggota Bamus tugas dan fungsinya adalah mengawasi kinerja wali nagari. Fungsi untuk menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi dilaksanakan dengan membagi anggota Bamus Nagari ke dalam beberapa wilayah dalam Nagari IV
$$
Koto Palembayan, namun dalam kenyataannya tidak semua anggota Bamus menjalankan kesepakatan tersebut. Meskipun Lembaga Bamus telah berjalan lebih dari satu tahun sejak diresmikan namun mereka baru melaksanakan rapat sekitar 8 kali (wawancara dengan Bapak Rus.St.M, salah seorang anggota Bamus) teruangkap bahwa semestinya rapat tersebut diadakan sekali seminggu untuk membahas permasalahan yang ada dalam nagari dan mencarikan solusi atau jalan keluarnya, jadi dapat dikatakan Bamus belum dapat berfungsi secara optimal, karena:
1. Anggota Bamus sebagian besar (sebanyak 6 dari 9 orang) adalah pegawai negeri yang memiliki pekerjaan tetap sehingga seolah-olah menjadi anggota Bamus hanya pekerjaan sambilan, sangat sulit untuk menyatukan jadwal untuk mengadakan diskusi atau rapat, bahkan ada anggota Bamus yang tinggal di luar Kabupaten Agam.
2. Kesepakatan menugaskan dan membagi anggota Bamus ke dalam beberapa wilayah tidak dilaksanaka oleh sebagian besar anggota Bamus selain disebabkan kesibukan masing-masing anggota, ada juga yang beralasan karena kesepakatan tersebut baru sebatas “kesepakatan lisan” dan belum dibuatkan surat tugas resmi, bahkan terdapat anggota Bamus yang tidak mengetahui ia ditempatkan untuk wilayah mana.
3. Ada komunikasi yang kurang lancar dalam tubuh Bamus. Terdapat sebagian anggota yang telah mengetahui ranperna (rancangan peraturan nagari) mengenai pendidikan sebelum disosialisasikan, namun ada juga anggota yang belum pernah melihatnya. Menurut salah seorang pengurus inti, Bamus saat ini telah memiliki rencana mengenai prioritas kerja, namun ternyata masih terdapat anggota Bamus tidak mengetahui adanya rencana kerja tersebut.
Salah seorang anggota Bamus dari unsur Bundo Kandung yaitu Ibu Mr. Ia tinggal di Jorong Bamban, tugasnya adalah menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Bamban ke pada pemerintah nagari. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Mar, Ia mengatakan bahwa:
“Masyarakat belum mengetahui fungsinya sebagai penyalur aspirasi, sehingga masyarakat yang merasa ada permasalahan menyangkut kebijakan dari pemerintah nagari maka mereka lansung saja menyampaikannya secara pribadi kepada wali nagari atau perangkat nagari tanpa melibatkan dirinya. Ketidaktahuan masyarakat ini menurutnya
$$!
karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat bahwa Bamus merupakan wakil mereka di pemerintahan nagari yang berfungsi untuk menampung permasalahan mereka, hal serupa juga terjadi di jorong lain. Kurangnya sosialisasi salah satunya disebabkan karena wilayah Nagari IV Koto Palembayan yang sangat luas dengan topografi yang berbukit-bukit sehingga sulit menjangkau masyarakat disemua wilayah. Oleh karena itu saya sangat berharap wali nagari beserta perangkatnya dapat mengatur jadwal untuk turun ke lapangan menjumpai masyarakat hingga ke pelosok guna memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai sistem pemerintahan nagari saat ini”.
Keengganan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kepada anggota Bamus, di samping karena sosialisasi yang kurang sehingga masyarakat tidak memahami fungsi Bamus, juga disebabkan karena masyarakat telah sangat terbiasa dengan sistem pemerintahan desa. Menurut pengakuan salah seorang mantan kepala desa, waktu zaman pemerintahan desa dulu, masyarakat bisa langsung mencari kepala desa untuk mengurus atau melaporkan berbagai urusan. Sekarang pun sebagian masih seperti itu, jika mereka ingin menyampaikan sesuatu, maka mereka akan langsung menemui wali nagari.
Pemerintahan desa dan nagari sebenarnya memiliki beberapa perbedaan. Hal itu dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Perbedaan pemerintahan desa dan nagari
No Perbandingan Pemerintahan desa Pemerintahan nagari
1 Basis kekuasaan Rakyat via pemilihan kepala desa
Rakyat via pemilihan wali nagari
2 Urusan pokok yang ditangani
Administrasi Administrasi, pembinaan kehidupan sosial hingga urusan adat
3 Unsur adat Tergabung dalam KAN,
tidak ada dalam struktur pemerintahan
Tergabung dalam KAN dan sebagai unsur dalam BPRN/Bamus (berada
dalam struktur
pemerintahan) 4 Pembagian kekuasaan Tertumpu pada satu
tangan, kepala desa sekaligus mengepalai LMD dan LKMD
Terpisah, wali nagari sebagai unsur eksekutif, DPRN sebagai unsur legis latif dan KAN sebagai unsur yudikatif
5 Proses pengambilan keputusan
Kepala desa dan “arahan” dari pemerintah kabupaten
Wali nagari atas persetujuan DPRN/Bamus dan KAN
$$"
5.3 Otonomi Nagari
Menurut Widjaja (2007), otonomi daerah dapat dipahami sebagai hak dan kewenangan daerah otonom untuk mengatur serta mengurus rumah tangga sendiri dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Otonomi merupakan penyerahan urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersifat operasional dalam rangka sistem birokrasi pemerintahan. Tujuan otonomi mencapai efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan kepada masyarakat. Secara umum bidang otonomi desa/nagari meliputi:
a. Penetapan organisasi pemerintah nagari b. Penetapan perangkat nagari
c. Penetapan pembentukan lembaga kemasyarakatan d. Penetapan pembentukan Bamus Nagari
e. Penetapan APB nagari
f. Pemberdayaan dan pelestarian budaya adat g. Penetapan peraturan nagari
h. Kerjasama antar nagari i. Penetapan batas nagari
j. Pembentukan badan usaha milik nagari
k. Pemberian rekomendasi izin pengelolaan dan pengusahaan potensi sumberdaya alam nagari
l. Penerapan retribusi pasar nagari
m. Penetapan pengelolaan tanah kas nagari, tanah adat dan asset nagari lain sesuai hak ulayah masyarakat setempat
Dari sejumlah kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada nagari tersebut terdapat beberapa kewenangan yang belum dilaksanakan secara optimal. Misalnya belum ada upaya untuk melakukan pengelolaan terhadap asset
$%#
nagari lainnya. Sementara itu penetapan batas nagari, saat ini ternyata menuai konflik, bagian ini akan dijelaskan pada sub bab tersendiri.
Secara umum berdasarkan hasil wawancara baik dengan aparat pemerintah di tingkat Kabupaten, Kecamatan hingga nagari, mereka memahami otonomi nagari sebagai suatu momentum untuk menghidupkan kembali adat salingka nagari (adat istiadat yang sesuai dengan nagari masing-masing) dan memulai gerakan kembali ke surau. Selain itu kembali ke nagari juga dimaksudkan untuk menguatkan kembali peran ninik mamak (kelompok genealogis). Hal ini terlihat dari beberapa urusan yang mewajibkan untuk menyertakan surat persetujuan dari mamak sebagai salah satu persyaratan administratif. Misalnya pengurusan surat nikah ke kantor camat atau pengajuan kredit dan lain-lain.
Untuk Nagari IV Koto Palembayan implementasi dari pelaksanaan adat salingka nagari dan gerakan kembali ke nagari dilakukan dengan difungsikannya kembali ninik mamak dalam berbagai urusan. Disamping itu wali jorong (kepala dusun) saat ini lebih mempunyai peran dibanding sebelumnya. Semua urusan sebelum sampai ke pemerintah nagari harus melewati (sepengetahuan) wali jorong. Dibarengi dengan kegiatan kembali ke surau selain menggiatkan berbagai pengajian dan wirid, surau juga dijadikan sebagai tempat penyebaran informasi dan tempat pertemuan antara warga dengan wali jorong dan tokoh masyarakat dalam membahas berbagai persoalan dalam masyarakat.
Pengakuan nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat berdasarkan hak asal usul setempat memungkinkan setiap nagari mengembangkan bentuk otonominya sesuai dengan tradisi mereka (sesuai UU No. 32/2004). Hal ini memungkinkan pemerintah nagari membuat peraturan sesuai dengan kebutuhan lokal. Pada bagian ini sebenarnya ada ketidak singkronan antara kata-kata “mengakui nagari (desa) sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan berdasarkan asal usul dan adat istiadat” (self-governing community), namun kenyataannya kewenangan nagari (desa) hanya menyangkut kewenangan yang diserahkan oleh Kabupaten. Mengakui kewenangan nagari (desa) berdasarkan asal usul dan adat istiadat seharusnya memberikan ruang bagi penyelenggaraan nagari (desa) berdasarkan kearifan dan kapasitas lokal. Jadi kenyataannya belum ada nagari (desa) yang melaksanakan kewenangan
$%$
berdasarkan asal usulnya, tapi baru terbatas pada apa yang diserahkan oleh pemerintah kabupaten saja. Oleh sebab itu sebenarnya otonomi nagari (desa) yang diamanatkan oleh UU No. 32/2004 masih jauh dari harapan..
Banyaknya lembaga yang harus dibentuk oleh nagari sesuai peraturan sebenarnya merupakan contoh bahwa pemerintah tetap ingin mempertahankan “keseragaman” guna memudahkan kontrol terhadap nagari. Contoh lain, sumberdaya tambang pasir yang seharusnya menjadi kewenangan nagari pun belum diserahkan kepada nagari untuk mengelolanya. Bagaimana nagari bisa otonom jika mereka tidak memiliki sumber dana sendiri atau masih sangat tergantung pada dana yang berasal dari DAUN.
Menyangkut kewenangan untuk mengurus rumah tangga sendiri, saat ini pemerintah nagari telah diberikan kewenangan mengeluarkan peraturan guna mengatur warganya, namun kewenangan ini belum dijalankan secara optimal oleh pemerintah Nagari VI Koto Palembayan. Hingga tahun 2004 Nagari VI Koto Palembayan baru memiliki beberapa peraturan nagari yang sebelumnya telah disebutkan yaitu:
1. Perna Tentang Kehidupan Beragama yang disahkan pada tanggal 4 Agustus 2003
2. Perna Tentang Retribusi dan Administrasi, disahkan tanggal 4 agustus 2003 3. Perna Tentang Anggaran Pendapaan dan Belanja Nagari Ampek Koto
Palembayan Tahun Anggaran 2004, disahkan tanggal 21 April 2004
4. Perna tentang Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nagari (LPMN), disahkan bulan Mei 2004.
Perna tentang LPMN ini isinya sama persis dengan Perda Kabupaten Agam No. 10 tahun 2003 tentang Pedoman Pembentukan LPMN. Seharusnya perna ini sudah diganti karena di dalamnya masih tercantum pasal yang sudah tidak cocok lagi yaitu pasal 9 yang berbunyi: “perencanaan yang disusun oleh LPMN diserahkan kepada wali nagari untuk diteruskan kepada BPRN guna mendapat persetujuan”. Sejak tanggal 27 Desember 2007 berdasarkan keputusan Bupati Agam No. 811/2007 BPRN sudah resmi diberhentikan. Dari kenyataann ini dapat diduga sejak Januari 2008 hingga sekarang LPMN tidak mempunyai rencana pembangunan.
$%%
5. Peraturan Nagari tentang Kendaraan dinas Mantan Kepala Desa, disahkan bulan Mei 2004.
Keluarnya perna tentang Kendaraan Dinas Mantan Kepala Desa ini tidak lepas dari latar belakang bahwa terdapat permasalahan dalam pengalihan asset dari pemerintah desa ke pemerintah nagari salah satunya adalah asset kendaraan bermotor. Seperti yang diakui oleh berbagai pihak bahwa sebagian kepala desa menolak untuk mengembalikan kendaraan dinas tersebut. Akhirnya dicapailah jalan tengah bahwa para mantan kepala desa dapat terus memiliki kendaraan tersebut dengan mambayar harga sisa hutang yang masih terdapat di Bank Nagari beserta bunganya ditambah ganti rugi untuk kas nagari sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).
Sejak tahun 2004 hingga saat ini pemerintah nagari belum lagi mengeluarkan perna. Pada awal pembentukan Bamus, sempat terjadi kesalah pahaman antara Bamus dan wali Nagari mengenai siapa yang bertugas untuk membuat rancangan perna. Pihak Bamus berpendapat hal tersebut adalah tugas dari wali nagari, Bamus hanya mensahkannya saja, sementara pihak wali nagari berpendapat bahwa hal itu juga menjadi kewajiban Bamus.
Secara umum proses untuk mengeluarkan sebuah perna dapat mengikuti alur yang tampak pada Gambar 10.
$%&
Gambar 10. Alur Pembentukan dan Penetapan Peraturan Nagari
Sumber: dikembangkan dari Panduan Fasilitator Pelatihan Pemberdayaan Pemerintahan Desa bagi Pelatih Kabupaten (dalam Widjaja, 2003) a. Rancangan Peraturan Desa/nagari disusun oleh pemerintah desa/ nagari
dan BPD/Bamus Nagari.
b. Naskah rancangan peraturan Desa/Nagari disampaikan kepada para anggota BPD/Bamus Nagari selambat-lambatnya 3 (tiga) hari atau tiga kali 24 jam sebelum Rapat BPD/Bamus Nagari melaksanakan untuk menetapkan Peraturan Desa/Nagari
c. Dalam menyusun Rancangan Peraturan Desa/Nagari, Pemerintah Desa/Nagari dan atau BPD/Bamus Nagari dapat menghadirkan lembaga kemasyarakatan di desa/nagari atau pihak-pihak terkait untuk memberikan masukan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan materi peraturan desa/nagari tersebut. Sosialisai kepada masyarakat KEPENTINGAN MASYARAKAT RANCANGAN BAMUS NAGARI Pembahasan