Transformasi sosial atau perubahan sosial merupakan hal yang pasti terjadi dalam masyarakat. Sebagian besar pakar sosiologi memandang penting perubahan
struktural dalam hubungan, organisasi, dan ikatan antara unsur-unsur masyarakat. Hal tersebut tampak pada pendefinisian perubahan sosial yang dirangkum oleh Sztompka (1994) berikut ini:
• Perubahan sosial adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berpikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu (Macionis, 1987:638). • Perubahan sosial adalah modifikasi atau transformasi dalam pengorganisasian
masyarakat (Persell, 1987:586).
• Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antar individu kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer, 1987:560). • Perubahan sosial adalah perubahan perilaku, hubungan sosial, lembaga dan
struktur sosial pada waktu tertentu (Farley, 1990:626).
Perubahan-perubahan sosial yang terjadi bisa dibagi ke dalam dua kategori yaitu perubahan sosial yang diharapkan (intended change) dan perubahan sosial yang tidak diharapkan (unintended change). Yang dimaksud dengan perubahan sosial yang diharapkan adalah perubahan yang telah diketahui dan direncanakan sebelumnya oleh para anggota masyarakat yang berperan sebagai pelopor perubahan. Perubahan yang tidak diharapkan, sebaliknya ialah perubahan yang terjadi tanpa diketahui atau direncanakan oleh anggota masyarakat atau pelopor perubahan (Selo Soemardjan, 1981).
Masih menurut Soemardjan (1981), proses perubahan yang diharapkan berada di bawah pengawasan para pelopor perubahan, akan tetapi proses perubahan yang tidak diharapkan berada di luar pengawasan suatu bagian masyarakat dan boleh jadi bisa menimbulkan akibat sosial yang tidak disangka sama sekali oleh masyarakat. Jika perubahan yang tidak diharapkan itu sejalan dengan perubahan yang diharapkan, ia akan sangat berpengaruh pada perubahan yang diharapkan sehingga ia tidak lagi bisa dicabut atau dirubah tanpa mengalami perlawanan dari masyarakat. Dengan kata lain, perubahan yang tidak diharapkan boleh jadi diterima oleh masyarakat yang telah menanggapi dengan memprakarsai perubahan-perubahan yang sejalan dengan itu, sehingga terwujud suatu lembaga sosial baru atau yang diperbarui. Sesungguhnya perubahan yang diharapkan dan yang tidak diharapkan seringkali cenderung saling memperkuat.
Berbagai teori dapat digunakan untuk menganalisa perubahan sosial di masyarakat seperti analisa konflik, teori kritis, teori struktural fungsional dan sebagainya. Untuk menganalisa perubahan sosial dalam kasus ini yaitu struktur pemerintahan nagari, maka kurang tepat jika menggunakan teori kritis. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa teori kritis bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kritis (dalam kasus ini kesadaran kritis dari para ninik mamak) untuk memperjuangkan hak mereka sebagai pemegang kekuasaan dalam nagari sebagai mana bentuk nagari yang asli. Jika hal itu terjadi, maka perjuangan tersebut akan sia-sia mengingat kekuasan mereka tidak lagi sekuat dulu dan kuatnya kekuasaan negara untuk memaksakan suatu peraturan. Peran ninik mamak/mamak saat ini hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan adat, bukan lagi sebagai pengatur dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebaliknya jika mengunakan teori struktural fungsional, yang menganggap masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium (keseimbangan), teori ini dikritik karena seolah-olah meniadakan konflik dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam penelitian ini, perubahan sosial dalam masyarakat akan dianalisa dengan menggunakan teori fungsionalisme konflik yang dikembangkan oleh Coser, karena menurut Ritzer dan Goodman (2004) teori Fungsionalisme Konflik mencoba untuk mengkombinasikan teori konflik dan struktural dengan asumsi teori itu akan menjadi lebih kuat ketimbang masing-masing berdiri sendiri. Fungsionalisme konflik menyatakan bahwa konflik dapat membantu mengeratkan ikatan kelompok yang terstruktur secara longgar.
Perubahan sosial yang terjadi bergerak membentuk pola tertentu. Pola perubahan sosial dapat dianalisa dengan menggunakan dua pandangan. Pandangan pertama, melihat bahwa perubahan sosial berlangsung seperti garis lurus (teori evolusi sosial atau evolusionisme). Masyarakat akan bergerak menuju tujuan yang seragam. Teori ini didukung oleh tokoh-tokoh seperti Plato, Comte , Mao Tse Tung hingga Marx. Pandangan ini disebut juga “paham perkembangan” (developmentalisme). Memahami perubahan sosial dari “kaca mata perkembangan”, berarti kita melihat masyarakat akan bergerak maju dimulai dari titik yang dianggap terendah hingga mencapai keadaan yang lebih “sempurna”.
Dalam analisa perkembangan dengan dimensi waktu dan kesejarahan, kita akan melihat, bahwa masyarakat akan bergerak dari suatu titik ke titik lain yang lebih tinggi – keadaan yang lebih baik (Sztompka, 1994 dan Lauer, 2003).
Pandang yang kedua menganalisa perubahan sebagai sebuah proses melingkar (teori siklus). Pareto sebagai salah satu pendukung dalam teori ini mengatakan bahwa masyarakat sebagai satu kesatuan maupun unsur-unsur yang membentuknya (politik, ekonomi, ideologi) berkembang melaui proses: seimbang – tak stabil – tak seimbang – keseimbangan baru, semuanya terjadi dalam proses melingkar. Masyarakat mewujudkan prinsip heterogenitas: anggotanya terdiri dari orang tak sederajad. Dalam setiap masyarakat selalu ada elit tertentu: elit politik (pemerintah), elit ekonomi dan elit ideologi. Ciri-ciri elit tergantung pada distribusi kecenderungan diantara anggotanya. Perubahan sosial dan historis dilukiskan sebagai lingkaran pergantian elit: berkuasa – lemah – digantikan.
Mekanisme pergantian elit ini berdasarkan gelombang pertukaran kecen derungan dan lenyapnya dominasi di dalam elit (Sztopmka, 1994)
Kedua teori ini mengacu pada satu tujuan yaitu: bawa pada akhirnya masyarakat akan menuju suatu keseimbangan, dan masing-masing teori sama- sama menggunakan dimensi waktu dalam menjelaskan perubahan yang terjadi. Perbedaan kedua teori terletak pada pandangan akhir dari perubahan sosial yang terjadi. Teori perkembangan melihat titik akhir dari proses perubahan (disemua masyarakat) adalah suatu keadaan yang lebih baik, misalnya dibidang ekonomi maka bentuk akhir yang dicapai adalah kapitalisme tinggi. Sementara teori siklus melihat bahwa perubahan yang terjadi bisa kemajuan atau bahkan kemunduran yang bisa terjadi silih berganti.
Teori evolusionisme atau paham developmentalisme bisa digunakan hanya untuk menganalisa perubahan masyarakat dalam kurun waktu tertentu saja, karena dalam perkembangan sejarah peradaban manusia kita dapat melihat jatuh bangunnya suatu peradaban. Kelemahan lain dari teori evolusionisme adalah asumsi yang digunakannya tidak dapat diterima karena bertentangan dengan kenyataan empiris. Untuk menjelaskan perubahan sosial dengan rentang waktu yang sangat panjang, maka teori siklus lebih bisa diandalkan sebagai alat analisa.
Nagari sebagai kesatuan hukum masyarakat adat dan pemerintah, dalam perkembangannya berkali-kali mengalami perubahan baik struktur maupun lembaga-lembaga yang ada di dalamnya. Berdasarkan perbandingan kedua pandangan di atas, maka perubahan sosial dalam nagari ini akan dijelaskan dengan menggunakan model siklus (Cyclical Model).