BAB V ASPEK KEUANGAN
5.2 Pemilihan Pola Usaha
5.2.1. Karakteristik Usaha kerupuk ikan
Usaha kerupuk ikan didukung oleh ketersedian bahan baku ikan. Sejauh ini, bahan baku tidak terlalu sulit untuk dipenuhi, hanya kuantitasnya yang berfluktuasi diperngaruhi oleh musim penangkapan ikan. Dengan demikian mengacu pada ketersedian bahan baku, keberlanjutan usaha kerupuk ikan relatif dapat dijalankan. Selain itu, usaha kerupuk ikan dapat dilakukan baik dengan peralatan sederhana maupun dengan bantuan teknologi. Oleh karena itu, usaha kerupuk ikan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga maupun industri.
Sedangkan untuk pasar kerupuk ikan masih terbuka lebar, hal ini mengingat kerupuk merupakan makanan pelengkap yang sangat digemari oleh masyarakat. Kegemaran akan kerupuk ini tidak hanya dari kalangan masyarakat domestik tetapi juga di luar negeri. Berdasarkan potensi pasarnya, maka usaha pengolajan kerupuk ikan memiliki prospek untuk dikembangkan.
5.2.2. Pola Pembiayaan
Pada umumnya seorang pengusaha kerupuk tidak hanya memproduksi satu jenis kerupuk saja, tetapi juga memproduksi kerupuk jenis yang lain. Pada dasarnya ini merupakan salah satu strategi untuk memperkecil resiko sekaligus pengembangan usaha yang lebih luas.
Untuk menganalisis aspek keuangan dari usaha kerupuk ikan sebenarnya dipengaruhi juga oleh jenis kerupuk lain yang diproduksi, akan tetapi dalam analisis ini hanya akan menganalisis aspek keuangan dari usaha yang hanya memproduksi jenis kerupuk ikan saja. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi adalah teknologi menengah dengan kapasitas produksi optimal 310 kg kerupuk setiap satu kali adonan.
Perhitungan analisis keuangan didasarkan pada kelayakan usaha kerupuk ikan. Model kelayakan usaha ini merupakan pengembangan usaha kerupuk ikan yang telah berjalan dan untuk menumbuhkan kemandirian usaha serta upaya replikasi usaha di wilayah lain.
Merujuk pada sistem keuangan syariah yang mempunyai banyak ragam produk pembiayaan, maka pada aspek keuangan ini akan disajikan contoh produk pembiayaan dengan cara murabahah (jual beli) baik untuk pembiayaan investasi maupun untuk pembiayaan modal kerja. Pertimbangannya adalah karena produk murabahah ini sudah banyak diterapkan dalam praktek LKS) dan masyarakat pemakai pun sudah mengenal serta mengakses pola pembiayaan tersebut.
Produk murabahah juga sebagai upaya untuk mitigasi resiko baik terhadap usaha maupun nasabah, karena pada produk pembiayaan ini margin secara pasti ditentukan diawal akad. Di samping itu, pembiayaan murabahah juga memberi pilihan pada bank maupun nasabah/pengusaha apakah pembiayaan akan digunakan untuk membiayai seluruh komponen usaha (biaya investasi dan modal kerja) atau hanya untuk komponen-komponen tertentu saja.
Pada contoh perhitungan, akan disampaikan pembiayaan untuk membeli komponen-komponen tertentu. Contoh yang disajikan diasumsikan untuk usaha baru atau peremajaan usaha. Pembiayaan investasi untuk pengadaan mesin molen, mesin cetak, mesin potong, jrebeng dan dryer/oven dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun. Sedangkan pembiayaan modal kerja dipergunakan untuk membeli bahan baku (tepung tapioka dan ikan) dalam jangka waktu satu tahun.
5.2.3. Produk Murabahah
Produk pembiayaan murabahah (jual beli) merupakan produk yang paling banyak dimanfaatkan baik oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) maupun oleh nasabah. Untuk mengenal produk murabahah lebih jauh, berikut disampaikan penjelasan tentang produk murabahah yang diambil dari Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional dan Peraturan Bank Indonesia No: 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana bagi Bank yang melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah.
Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan murabahah harus memenuhi rukun yaitu ada penjual (bai’), ada pembeli (musytari), obyek barang yang diperjual belikan jelas, harga (tsaman) dan ijab qabul (sighat).
Syarat-syarat yang berlaku pada murabahah antara lain:
1. Harga yang disepakati adalah harga jual, sedangkan harga beli harus diberitahukan.
2. Kesepakatan margin harus ditentukan satu kali pada awal akad dan tidak berubah selama periode akad.
3. Jangka waktu pembayaran harga barang oleh nasabah ke bank /Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan kesepakatan.
4. Bank dapat membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
5. Dalam hal bank mewakilkan kepada nasabah (wakalah) untuk membeli barang, maka akad murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.
Aspek Keuangan
7. Bank dapat meminta nasabah untuk membayar uang muka (urbun) saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan barang oleh nasabah. Dalam hal bank meminta nasabah untuk membayar uang muka maka berlaku ketentuan:
a. Jika nasabah menolak untuk membeli barang setelah membayar uang muka, maka biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut dan bank harus mengembalikan kelebihan uang muka kepada nasabah. Namun jika nilai uang muka kurang dari nilai kerugian yang ditanggung oleh bank, maka bank dapat meminta pembayaran sisa kerugiannya kepada nasabah,
b. Jika nasabah batal membeli barang, maka urbun yang telah dibayarkan nasabah menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. Jika urbun tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
5.3. Asumsi dan Parameter Untuk Analisis Keuangan
Analisis keuangan, proyeksi penerimaan dan biaya didasarkan pada asumsi yang terangkum dalam tabel 5.1. Periode proyek 5 (lima) tahun. Tahun ke nol sebagai dasar perhitungan adalah tahun ketika biaya investasi awal dikeluarkan. Dengan menggunakan mesin/peralatan dan jumlah tenaga kerja seperti yang tercantum dalam tabel asumsi, seorang pengusaha mampu memproduksi 310 kg kerupuk. Angka rendemen sebesar 79%. Harga kerupuk di pasar lokal sebesar Rp6.000,-. Hari kerja selama setahun sebanyak 285 hari. Tenaga kerja borongan bekerja selama 200 hari.
Tabel 5.1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan No Asumsi Satuan Jumlah/Nilai Keterangan
1 Periode proyek tahun 5 Periode 5 tahun 2 Luas tanah m2 2.000
- Luas bangunan m2 500 - Luas tanah penjemuran m2 1.500
3 Sarana Transportasi unit 1 Mobil box 4 Hari kerja selama 1 tahun
- tenaga kerja tetap hari 285 - tenaga borongan hari 200 5 Produksi dan Harga
- Produksi per hari kg 620 2 adonan per hari. produksi @310 kg kerupuk
No Asumsi Satuan Jumlah/Nilai Keterangan - Tenaga Manajerial orang 2
- Tenaga kerja tetap orang 14 - Tenaga kerja borongan orang 4 7 Upah tenaga kerja - Tenaga Manajerial Rp/hr 36.000 - Tenaga kerja tetap Rp/hr 18.000 - Tenaga kerja borongan Rp/hr 22.000
8 Penggunaan bahan baku Untuk satu kali adonan - Tepung tapioka kg 300 - Ikan kg 50 - Garam kg 10 - Gula kg 12,5 - Telur kg 10 - Penyedap kg 2 - Pewarna kg 0,25 Sumber: Lampiran 2
5.4. Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional
Komponen biaya dalam analisis kelayakan usaha kerupuk ikan dibedakan menjadi dua yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah komponen biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dana awal pendirian usaha. Sedangkan, biaya operasional adalah seluruh biaya yang harus dikeluarkan dalam proses produksi.
5.4.1. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya tetap yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan. Biaya investasi untuk usaha kerupuk ikan terdiri dari beberapa komponen diantaranya biaya perijinan, sewa tanah, pembelian mesin atau peralatan produksi, peralatan pendukung dan sarana transportasi.
Biaya perijinan meliputi ijin usaha dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan Departemen Kesehatan dengan jumlah biaya Rp600.000,- dan masa berlaku selama 3 tahun. Sewa tanah dibayarkan tiap tahun, sehingga setiap tahun harus dikeluarkan biaya untuk komponen sewa tanah ini. Pada tahun-tahun tertentu dilakukan reinvestasi untuk pembelian mesin atau peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun. Jumlah biaya investasi keseluruhan pada tahun 0 adalah Rp299.339.000,-.
Aspek Keuangan
Tabel 5.2. Biaya Investasi Usaha Kerupuk Ikan
No Jenis Biaya Nilai Penyusutan
1 Perijinan 600.000 0
2 Sewa Tanah dan Bangunan 150.000.000 0
3 Mesin/Peralatan Produksi 107.030.000 43.994.750
4 Peralatan lain 1.709.000 221.800
5 Mobil box 40.000.000 4.000.000
Jumlah Biaya Investasi 299.339.000 48.216.550 Sumber: Lampiran 3
Komponen terbesar untuk biaya investasi ini adalah sewa tanah yang mencapai 50,11% dari total biaya investasi pada awal usaha. Komponen terbesar kedua adalah biaya pembelian mesin/peralatan produksi yaitu sebesar 35,74% dari total biaya investasi. Sedangkan 14,15% sisa biaya untuk investasi merupakan biaya investasi untuk pembelian peralatan lainnya, mobil angkutan dan perijinan.
5.4.2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya variabel yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi. Komponen dari biaya operasional adalah pengadaan bahan baku dan pembantu, peralatan operasional, biaya transportasi, listrik dan telepon, serta upah tenaga kerja.
Biaya operasional selama satu tahun dihitung berdasarkan jumlah hari untuk produksi kerupuk. Jumlah hari kerja dalam setahun sebanyak 285 hari (asumsi yang digunakan adalah 1 tahun=365 hari, dikurangi hari libur minggu dan libur nasional 64 hari dan jumlah hari tidak berproduksi selama 16 hari).
Biaya operasional yang diperlukan selama satu tahun mencapai Rp711.298.900,-. Biaya bahan baku menyerap sebesar 73,12% dari total biaya operasional per tahun. Komponen biaya terbesar kedua adalah biaya penggunaan tenaga kerja yang mencapai 15,45% dari total biaya operasional tiap tahunnya. Tenaga kerja yang digunakan terdiri dari tenaga kerja tetap dan borongan ditambah 2 orang tenaga kerja manajerial yang berasal dari anggota keluarga dengan upah/gaji tenaga manajerial diasumsikan dua kali lipat upah tenaga kerja tetap. Tenaga kerja borongan hanya digunakan dengan jumlah hari kerja yang lebih sedikit, karena hanya dibutuhkan pada saat terjadi kenaikan permintaan.
Tabel 5.3. Biaya Operasional Usaha Kerupuk Ikan per Tahun
No Jenis Biaya Nilai (Rp)
1 Bahan Baku 520.125.000 2 Bahan Pembantu 16.200.000 3 Peralatan Operasional 11.700.000 4 Biaya Transportasi 14.400.000 5 Biaya Listrik 7.200.000 6 Biaya telepon 1.800.000 7 Tenaga Kerja 109.940.000 8 Biaya Pemeliharaan 29.933.900
Jumlah Biaya Operasional Per Tahun 711.298.900 Sumber: Lampiran 4
5.5. Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja
Kebutuhan dana untuk usaha kerupuk ikan terdiri dari kebutuhan investasi dan modal kerja. Dana investasi dan modal kerja tersebut ada yang bersumber dari pembiayaan LKS dan dana milik sendiri.
Kebutuhan dana investasi, pada contoh untuk usaha baru (start up) atau peremajaan usaha, komponen biaya investasi yang memperoleh pembiayaan LKS hanya untuk pengadaan mesin mulen, mesin cetak, mesin pemotong, jrebeng dan dryer/oven. Sedangkan komponen yang lain diasumsikan telah dimiliki oleh pengusaha yang bersangkutan sebagai bagian dari kontribusinya dalam usaha.
Besarnya kebutuhan modal kerja ditentukan berdasarkan kebutuhan dana awal untuk satu kali siklus produksi. Usaha kerupuk ikan mempunyai siklus produksi (dari pembuatan sampai memperoleh penerimaan dari penjualan) kurang lebih selama 30 hari atau 1 bulan. Sehingga jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah:
Kebutuhan modal kerja = (siklus produksi/hari kerja dalam setahun) x biaya operasional selama 1 tahun
= (30/285) x Rp711.298.900 = Rp74.873.568,-
Aspek Keuangan
Kebutuhan modal kerja yang dibiayai dari LKS hanya untuk pembeliaan bahan baku (ikan dan tepung tapioka) yaitu sebesar Rp. 44.400.000,-.. Kebutuhan komponen-komponen biaya modal kerja yang lainnya juga diasumsikan sebagai bagian dari kontribusi pengusaha yang bersangkutan.
Pengadaan mesin dan peralatan investasi serta pengadaan bahan baku yang dimaksud pada pembiayaan tersebut di atas, dalam hal ini diasumsikan sudah tersedia dan telah dimiliki oleh pihak LKS. Untuk mengadakan barang dan bahan ini pihak LKS dapat menggunakan pihak lain dengan akad yang terpisah dari akad murabahah ini.
Keperluan dana investasi dan modal kerja merujuk pada asumsi dari contoh pembiayaan syariah ditampilkan pada tabel 5.4 (lampiran 9)
Tabel 5.4. Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja
No Rincian Biaya Proyek Total Biaya (Rp)
I Kebutuhan Modal Investasi 299.339.000
a. Pembiayaan 103.500.000
b. Dana sendiri 195.839.000
II Kebutuhan Modal Kerja (1 bulan) 74.873.568
a. Pembiayaan 44.400.000
b. Dana sendiri 30.473.568
III Total dana proyek yang bersumber dari 374.212.568
a. Pembiayaan 147.900.000
b. Dana sendiri 226.312.568
Sumber: Lampiran 9
Jangka waktu pembiayaan untuk investasi selama tiga tahun tanpa grace period, sedangkan pembiayaan modal kerja yang digunakan dalam analisis ini berjangka waktu satu tahun. Pembiayaan modal kerja pada kenyataannya dapat diperpanjang lagi masa jatuh temponya disesuaikan dengan kemampuan pengusaha membayarnya. Tingkat margin pembiayaan yang digunakan untuk usaha baru (start up) adalah 9% (konvensional setara dengan suku bunga flat p.a)
Pembayaran angsuran pembiayaan dalam perhitungan kelayakan diasumsikan secara tetap dengan cara jumlah pembiayaan dibagi jangka waktu pembiayaan dengan mempertimbangkan siklus produksinya.
5.6. Proyeksi Produksi dan Pendapatan
Jumlah produksi selama satu tahun sebesar 176.700 kg. Jumlah ini diperoleh dari jumlah adonan per tahun dikalikan dengan jumlah produksi per adonan. Dalam satu tahun dilakukan adonan sebanyak 570 kali dengan jumlah produksi per adonan sebesar 310 kg kerupuk. Harga kerupuk ikan diasumsikan sebesar Rp6.000,- tiap kg, sehingga pendapatan dari produksi kerupuk per tahun sebesar Rp1.060.200.000,-. Pendapatan sampingan diperoleh dari penjualan kantong bekas tepung tapioka (sak) per tahun rata-rata Rp1.368.000,-. Tabel penerimaan kotor dalam setahun disajikan dalam tabel 5.5. berikut:
Tabel 5.5. Produksi dan Pendapatan Kotor per Tahun
No Uraian Satuan Jumlah
Harga
satuan Nilai (Rp)
1 Produksi per tahun Kg 176.700
2 Penjualan per tahun Kg 176.700 6.000 1.060.200.000
3 Penjualan sak per tahun Sak 3.420 400 1.368.000
4 Pendapatan kotor 1.061.568.000
Sumber: Lampiran 5
Dari Tabel 5.5. di atas diketahui bahwa aliran penerimaan usaha pengolajan kerupuk ikan adalah Rp1.061.568.000 per tahun.