• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling) (Sugiarto et al. 2001; Sugiyono 2008). Pemilihan informan dalam mengkaji proses pembuatan dan implementasi kebijakan tentang cendana dilakukan dengan cara Snow-ball sampling yaitu dengan memilih informan secara berantai. Jika pengumpulan data dari informan kesatu sudah selesai, peneliti meminta agar informan tersebut memberikan rekomendasi untuk informan kedua, lalu informan kedua juga memberikan rekomendasi untuk informan ketiga, demikian seterusnya. Proses bola salju ini berlangsung terus sampai peneliti memperoleh data yang cukup sesuai kebutuhan (Affifuddin & Saebani 2009; Sugiarto et al. 2001). Untuk mengetahui implementasi dan dampak dari kebijakan pengelolaan cendana dilakukan wawancara dengan instansi terkait, pedagang/pengusaha cendana, penguruan tinggi, LSM dan tokoh masyarakat/adat. Jumlah informan dalam proses pembuatan dan implementasi Perda Provinsi NTT (Perda No. 16 Tahun 1986, Perda No. 2 Tahun 1999) dan Perda Kabupaten TTS sebanyak 27 orang.

Pemilihan responden dalam pengambilan keputusan rumahtangga dalam pengembangan cendana, responden yang dipilih adalah rumahtangga petani yang tinggal di lokasi penelitian sebagai unit analisis, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan mampu berpikir positif dan logis dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Dengan demikian diharapkan responden akan memahami dan mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Kriteria responden untuk petani dipilih 60 orang terdiri dari 30 petani yang memiliki cendana dan 30 petani tidak memiliki cendana pada lahan yang diusahakan. Sedangkan kriteria petani untuk mengetahui perilaku ekonomi

rumahtangga petani cendana dipilih petani yang sekarang masih memiliki cendana.

Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh di masyarakat terkait kepemilikan cendana (memiliki dan tidak memiliki) dan analisis perilaku ekonomi RT petani cendana. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan untuk melihat proses pembuatan kebijakan dan implementasi dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Propinsi NTT dan Kabupaten TTS terkait pengelolaan cendana. a. Analisis diskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan kegiatan sosialisasi

dan implemetasi kebijakan perda tentang cendana di Kabupaten TTS, pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap cendana, peran masyarakat, lembaga adat dalam perencanaan, perumusan dan pelaksanaan kebijakan serta karakteristik rumahtangga petani sebagai responden kemudian ditabulasi.

b. Analisis dengan model logit

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada peluang petani memiliki cendana dan tidak memiliki cendana dilakukan analisis dengan regresi logistik atau model logit ( Hosmer & Lemeshow 2000; Nachrowi & Usman 2005). Model regresi logistik (model logit) adalah suatu model yag mengukur seberapa besar peluang suatu kejadian satu dengan kejadian yang lainnya, di mana datanya mengikuti sebaran normal. Dua pilihan petani merupakan kejadian biner (dummy variable) yang bernilai 1 dan 0, di mana nilai 1 untuk petani yang memiliki cendana dan nilai 0 untuk petani yang tidak memiliki cendana. Faktor-faktor yang berpengaruh akan dilihat dari aspek ekonomi, sosial dan budaya yang terdapat pada petani sebagai variabel bebas dalam suatu model (Tabel 6).

Adapun bentuk persamaan model logit yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :

Ln Pi =  + 1 X1+ 2X2 + 3X3 + 4X4 + 5X5 +

Di mana:

Pi = peluang petani memiliki cendana 1- Pi = peluang petani tidak memiliki cendana

 = intersep X1 = Umur petani (tahun) X2 = Luas lahan (ha)

X3 = Jumlah anggota keluarga (orang) X4 = Jarak lahan (km)

X5 = Pendapatan rumahtangga (Rp/tahun)

I = koefisien regresi

= error/galat

Tabel 6 Variabel yang berpengaruh, definisi operasional, parameter pengukuran dan keterangan penilaian yang digunakan dalam Model Logit

Variabel Definisi operasional Parameter pengukuran

Keterangan Penilaian Umur

(X1)

Usia responden yang dihitung sejak lahir hingga saat dilakukan

wawancara dalam penelitian

Usia responden dinyatakan dalam tahun Tahun Luas lahan (X2)

Total luas lahan yang dikelola oleh responden untuk tujuan produksi usahatani. Luas lahan meliputi luas sawah, kebun, kolam, dan mamar/pekarangan.

Total luas lahan dinyatakan dalam hektar Hektar Jumlah anggota keluarga (X3)

Jumlah anggota keluarga yang menetap dan menjadi tanggungan kepala keluarga dalam rumah

Jumlah orang dalam keluarga

Orang

Jarak lahan (X4)

Jarak tempuh yang dibutuhkan responden dari tempat tinggal ke areal lahan yang diusahakan untuk tanaman cendana Jarak tempuh dalam kilometer (Km) Km Pendapatan rumahtangga (X5)

Penghasilan rata-rata responden yang diperoleh dari berbagai

sumber baik yang berupa pekerjaan tetap maupun sampingan, yang diperhitungkan berdasarkan nilai tukar uang Jumlah pendapatan dinyatakan dalam rupiah/tahun Rp/tahun

c. Analisis pendapatan rumahtangga petani cendana

Untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan rumahtangga petani cendana seperti pada Tabel 7, dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda dengan delapan variabel yang dituliskan sebagai berikut:

Di mana:  = intersep

X1 = Umur petani (tahun) X2 = Pendidikan (tahun) X3 = Luas lahan (ha)

X4 = Jumlah anggota keluarga (orang) X5 = Pendapatan cendana (Rp/tahun) X6 = Jarak lahan (km)

X7 = Benih cendana (dummy)

X8 = Hama penyakit cendana (dummy)

I = Koefisien regresi

= error/galat

Tabel 7 Variabel yang berpengaruh terhadap pendapatan rumahtangga petani cendana, definisi operasional, parameter pengukuran dan keterangan penilaian

Variabel Definisi operasional Parameter

pengukuran Keterangan Penilaian Pendidikan

(X2)

Usia responden yang dihitung sejak lahir hingga saat dilakukan wawancara dalam penelitian Usia responden dinyatakan dalam tahun Tahun Pendapatan cendana (X5) Penghasilan rata-rata responden yang diperoleh dari usaha cendana, yang kemudian diperhitungkan berdasarkan nilai tukar uang Jumlah pendapatan dinyatakan dalam rupiah/tahun Rp/tahun Benih cendana (X7) Kemudahan responden mendapatkan bibit atau benih cendana sampai saat dilakukan wawancara dalam penelitian Dilihat dari aspek kemudahan mendapatkan benih/ bibit Dummy: Mudah mendapatkan benih/bibit (1) Sulit mendapatkan benih/bibit (0) Hama penyakit cendana (X8) Penangganan hama penyakit yang dilakukan terhadap cendana sampai saat dilakukan wawancara dalam penelitian Dilihat dari aspek adanya upaya penanganan terhadap hama penyakit cendana Dummy: Melakukan upaya penanganan hama penyakit (1) Tidak melakukan upaya penanganan hama penyakit (0)

d. Analisis pendapatan rumahtangga petani secara umum

Untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan rumahtangga petani secara umum di lokasi penelitian seperti pada Tabel 8, dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda dengan lima variabel yang dituliskan sebagai berikut:

Y =  + 1 X1+ 2X2 + 3X3 + 4X4 + 5X5 +

Di mana:  = intersep

X1 = Umur petani (tahun) X2 = Pendidikan (tahun)

X3 = Jumlah anggota keluarga produktif (orang) X4 = Jarak lahan (km)

X5 = Luas lahan (ha)

I = Koefisien regresi

= error/galat

Tabel 8 Variabel yang berpengaruh terhadap pendapatan rumahtangga petani secara umum, definisi operasional, parameter pengukuran dan keterangan penilaian

Variabel Definisi operasional Parameter pengukuran Keterangan penilaian Jumlah anggota keluarga produktif (X3)

Jumlah anggota keluarga yang berusia di atas 15 tahun sebagai tenaga yang siap bekerja pada berbagai bidang usaha

Jumlah orang dalam keluarga

Orang

Jarak lahan (X4)

Jarak tempuh yang

dibutuhkan responden dari tempat tinggal ke areal lahan yang diusahakan untuk usahatani Jarak tempuh dinyatakan dalam kilometer (Km) Km

e. Analisis perilaku ekonomi rumahtangga petani cendana

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan ekonomi rumahtangga petani memproduksi cendana terkait alokasi tenaga kerja, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga petani untuk konsumsi.

Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan dalam kegiatan ekonomi rumahtangga petani dalam kegiatan produksi dan konsumsi dilakukan dengan model ekonomi rumahtangga dengan menggunakan persamaan simultan dalam ekonometrika (Koutsyiannis 1977; Sitepu & Sinaga 2006). Model merupakan suatu penjelasan dari fenomena aktual sebagai suatu

sistem atau proses (Sinaga 1997). Persamaan simultan memiliki sejumlah persamaan yang membentuk suatu sistem persamaan yang menggambarkan ketergantungan di antara berbagai variabel dalam persamaan-persamaan tersebut. Persamaan simultan yang digunakan menggambarkan hubungan masing-masing peubah penjelas terhadap peubah endogen, khususnya mengenai tanda dan besaran dari parameter yang diduga secara apriori berdasarkan teori-teori ekonomi (Sitepu & Sinaga 2006).

Model ekonomi rumahtangga dirumuskan dalam sistem persamaan simultan terdiri dari persamaan struktural dan persamaan identitas. Persamaan struktural adalah persamaan yang menggambarkan struktur atau fenomena dari ekonomi yang diamati atau perilaku variabel endogen terhadap variabel penjelas dalam persamaan, sedangkan persamaan identitas adalah persamaan yang tidak dapat menunjukkan perilaku variabel endogen, dibentuk dari perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan beberapa variabel.

Persamaan simultan yang diajukan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1. Blok alokasi tenaga kerja

a. Alokasi tenaga kerja keluarga pada usaha cendana

Alokasi tenaga kerja keluarga pada usaha cendana merupakan jumlah tenaga kerja keluarga yang digunakan pada usaha cendana. Alokasi ini dipengaruhi oleh alokasi tenaga kerja (TK) sewa pada usaha cendana, produksi usaha cendana dan pendapatan dari luar usaha cendana, dengan persamaan struktural:

AKD = ao + a1 AKL + a2 PROD + a3 RUL + U1

Parameter dugaan yang diharapkan: a1 , a3<0; a2 >0 di mana: AKD = Alokasi TK keluarga pada usaha cendana (HOK/tahun). AKL = Alokasi TK sewa pada usaha cendana (HOK)

PROD = Produksi usaha cendana (Kg/tahun)

RUL = Pendapatan dari luar usaha cendana (Rp/tahun) U1 = Error term

b. Alokasi tenaga kerja keluarga pada kegiatan di luar usaha cendana

Alokasi tenaga kerja keluarga untuk kegiatan di luar usaha cendana adalah merupakan jumlah alokasi tenaga kerja keluarga pada kegiatan di

luar usaha cendana seperti buruh, guru, dagang, ojek dan lain-lain. Alokasi tenaga kerja keluarga untuk kegiatan di luar usaha cendana dipengaruhi oleh pendidikan suami, jumlah anggota keluarga produktif, dan total pengeluaran rumahtangga, yang diformulasikan dengan persamaan struktural:

AKDUL = b0 + b1 PDS + b2 JAP + b3TPRT + U2

Parameter dugaan yang diharapkan : b1, b2, b3, > 0; di mana:

AKDUL = Alokasi tenaga kerja keluarga di luar usaha cendana (HOK/tahun)

PDS = Pendidikan suami (Tahun)

JAP = Jumlah anggota keluarga produktif (Orang) TPRT = Total pengeluaran rumahtangga (Rp/tahun) U2 = Error term

c. Total alokasi tenaga kerja keluarga

Total alokasi tenaga kerja keluarga merupakan persamaan identitas sebagai penjumlahan dari alokasi tenaga kerja keluarga pada usaha cendana dengan alokasi tenaga kerja keluarga di luar kegiatan usaha cendana sebagai berikut:

TAK = AKD + AKDUL Di mana:

TAK = Total alokasi tenaga kerja keluarga (HOK/tahun).

AKD = Alokasi tenaga kerja keluarga pada usaha cendana HOK/tahun). AKDUL = Alokasi tenaga kerja keluarga di luar usaha cendana

(HOK/tahun) 2. Blok Produksi usaha cendana

Produksi usaha cendana dipengaruhi oleh alokasi tenaga kerja keluarga pada usaha cendana, pendidikan suami, alokasi tenaga kerja sewa, dan biaya sarana produksi cendana.

Persamaan strukturalnya dapat ditulis sebagai berikut: PROD = c0 + c1 AKD + c2 PDS + c3 AKL + c4 SPR + U3

Di mana :

PROD = Produksi usaha cendana (Kg/tahun).

AKD = Alokasi TK keluarga pada usaha cendana (HOK/tahun) PDS = Pendidikan suami (Tahun)

AKL = Alokasi TK sewa pada usaha cendana (HOK) SPR = Biaya sarana produksi yang digunakan (Rp/tahun) U3 = Error term

Biaya produksi usaha cendana

Merupakan penjumlahan biaya total tenaga kerja yang digunakan dalam usaha cendana dengan jumlah biaya sarana produksi yang digunakan, dihitung dengan persamaan identitas:

CPR = CTK + SPR , di mana:

CPR = Biaya produksi yang digunakan dalam usaha cendana (Rp/tahun)

CTK = Biaya tenaga kerja (Rp/tahun).

SPR = Biaya sarana produksi yang digunakan (Rp/tahun). 3. Blok pendapatan rumahtangga.

a. Pendapatan dari usaha cendana.

Pendapatan usaha cendana merupakan perkalian antara produksi usaha cendana yang diusahakan dengan harga jual cendana yang diusahakan dikurangi dengan biaya produksi. Pendapatan usaha cendana merupakan persamaan identitas.

RUD = HPR – CPR HPR = PROD * Hrg jual Di mana:

RUD = Penerimaan usaha cendana (Rp/tahun)

HPR = Penerimaan dari produksi usaha cendana (Rp/tahun) CPR = Biaya produksi usaha cendana (Rp/tahun)

b. Total pendapatan rumahtangga.

Total pendapatan rumahtangga merupakan persamaan struktural yang dipengaruhi oleh produksi usaha cendana, jumlah anggota keluarga

produktif, konsumsi total, investasi sumberdaya manusia, dan total alokasi tenaga kerja keluarga, sebagai berikut:

TR = d0 + d1 PROD + d2 JAP + d3 KT + d4 INV + d5 TAK + U4

Parameter dugaan adalah hipotesis : d1,d2, d3, d5> 0; , d4 <0. Di mana :

TR = Total pendapatan rumahtangga (Rp/tahun) PROD = Produksi usaha cendana (Kg/tahun).

JAP = Jumlah anggota keluarga produktif (Orang) KT = Konsumsi total (Rp/tahun)

INV = Investasi sumberdaya manusia (Rp/tahun)

TAK = Total alokasi tenaga kerja keluarga (HOK/tahun). U4 = Error term

4. Blok pengeluaran rumahtangga

Pengeluaran rumahtangga petani merupakan total pengeluaran dalam bentuk konsumsi yang dikeluarkan rumahtangga. Konsumsi total dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan istri, dan investasi sumberdaya manusia, dengan bentuk persamaan struktural sebagai berikut:

KT = e0 + e1 TR + e2 JAK + e3 PDDI + e4 INV + U5

Parameter dugaan adalah hipotesis : e1, e2, > 0 dan e3, e4 <0. Di mana:

KT = Konsumsi Total (Rp/tahun)

TR = Total pendapatan rumahtangga ((Rp/tahun) JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PDDI = Pendidikan istri (Tahun).

INV = Investasi sumberdaya manusia (Rp/tahun) U5 = Error term

a. Total pengeluaran rumahtangga

Total pengeluaran rumahtangga (TPRT) dirumuskan sebagai persamaan identitas yang merupakan penjumlahan dari konsumsi total dengan pengeluaran investasi.

Di mana:

TPRT = Total pengeluaran rumahtangga (Rp/tahun)

KT = Total pengeluaran konsumsi rumahtangga (Rp/tahun) INV = Pengeluaran investasi sumberdaya manusia (Rp/tahun) Identifikasi Model

Model persamaan rumahtangga terdiri dari 10 persamaan yang terdiri dari 5 persamaan struktural dan 5 persamaan identitas. Identifikasi model dilakukan berdasarkan order condition menurut Koutsoyiannis (1997) sebagai berikut:

(K – M) > (G - 1) Di mana :

K = Jumlah seluruh predetermined di dalam model (total jumlah variabel)

M = Jumlah peubah predetermined (endogen dan eksogen) dalam suatu persamaan tertentu dalam model

G = Jumlah persamaan dalam model (jumlah persamaan endogen) Apabila (K- M) = (G - 1) maka persamaan dalam model dikatakan exactly

identifited. Jika (K - M) < (G - 1) maka persamaan model dikatakan under identified dan jika (K - M) > (G - 1) maka persamaan dalam model

dikatakan over identified.

Berdasarkan hasil identifikasi model struktural yang dibentuk maka jumlah peubah endogen (G) diketahui sebanyak 10 buah, jumlah peubah predeterminan (K) sebanyak 21 buah, dan jumlah peubah predeterminan dalam suatu persamaan sebanyak 6 buah. Sesuai dengan prosedur order

condition, maka dapat diketahui bahwa setiap persamaan dalam model

yang telah disusun teridentifikasi berlebih (over identified), sehingga metode pendugaan yang digunakan adalah 2SLS (two stage least square) dengan bantuan aplikasi komputer Statistical Analysis System (SAS) 9.1. Data dianalisis berdasarkan: (1) nilai koefesien determinasi (R2) untuk mengukur proporsi keragaman peubah endogen yang dapat dijelaskan oleh peubah penjelas; (2) nilai statistik uji-F, untuk mengetahui pengaruh peubah penjelas secara bersama-sama terhadap peubah endogen; dan (3)

nilai statistik uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing peubah penjelas terhadap peubah endogen.

Untuk mengetahui derajat kepekaan (respon) peubah endogen terhadap peubah-peubah penjelas, dapat dilihat melalui nilai elastisitas dengan menggunakan rumus:

 = a X Y

Di mana :  = elastisitas

a = nilai parameter dugaan peubah penjelas X = nilai rata-rata peubah penjelas

Y = nilai rata-rata peubah endogen

Analisis proses pembuatan dan implementasi kebijakan pengelolaan cendana f. Analisis Isi Kebijakan (Content Analysis)

Analisis isi adalah satu teknik analisis terhadap berbagai sumber informasi termasuk bahan cetak (buku, artikel, novel, koran, majalah dan sebagainya) termasuk bahan non cetak seperti musik, gambar, benda-benda (Irawan 2007; Affifuddin & Saebani 2009).

Dalam penelitian ini, analisis isi akan dilakukan untuk mengkaji isi kebijakan-kebijakan terkait pengelolaan cendana di Propinsi NTT dan Kabupaten TTS. Beberapa kebijakan yang dianalisis yaitu Perda Propinsi NTT No. 16 tahun 1986 tentang Cendana, Perda Gubernur NTT No. 2 Tahun 1997 tentang Pencabutan Perda No. 16 tahun 1986, Perda Kabupaten TTS No. 25 Tahun 2001 tentang Cendana, dan peraturan terkait lainnya.

g. Analisis Para Pihak (Stakeholder Analysis)

Analisis para pihak dilakukan untuk mengetahui sejauhmana setiap pihak dalam hal ini masyarakat, swasta, pemerintah, politisi serta kelompok interest lainnya memainkan perannya dalam pembuatan dan implementasi kebijakan dan upaya pengembangan cendana di Kabupaten TTS serta menyikapi kebijakan yang ada dan kendala-kendala yang dihadapi.

h. Analisis proses pembuatan kebijakan

Analisis proses pembuatan kebijakan tentang cendana mengacu pada proses pembuatan kebijakan yang dilakukan Institute of Develovment Studies (IDS). IDS (2006) memandang bahwa proses pembuatan suatu kebijakan seringkali melibatkan berbagai politik/kepentingan, kerangka pikir (diskursus/narasi) serta aktor dan jaringan yang saling terkait.

1. Kerangka pikir dan narasi (apa narasi kebijakan? Bagaimana kerangka itu dibuat melalui ilmu pengetahuan, penelitian dan sebagainya?)

2. Aktor dan jaringan (siapa yang terlibat dan bagaimana mereka saling terkait)

3. Politik dan kepentingan (apa yang mendasari dinamika kekuatan)

Gambar 5 Analisis proses pembuatan kebijakan (IDS 2006)

Analisis diskursus adalah menguraikan mendekontruksikan dan memahami kerangka pikir yang digunakan dalam pembuatan kebijakan; diketahui berbagai perspektif yang diajukan serta ditemukan alternatif pendekatan terbaik untuk memecahkan kembali masalah kebijakan. Analisis diskursus berguna untuk mencari kesalahan-kesalahan cara berpikir dalam pembuatan suatu kebijakan, menggunakan kembali alternatif kebijakan yang dulu dibuang sehingga analisis tersebut dapat mengkontruksi kerangka pikir baru yang lebih sesuai (Apthorpe 1986 dalam Sutton 1999). Selain itu, analisis diskursus dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan diskursus itu sendiri, kemungkinan tidak sejalan dengan struktur sosial, maupun menguraikan ide-ide siapa dihilangkan pada saat suatu kebijakan dirumuskan (Escobar 1995 dalam Sutton 1999).

Definisi Operasional

Definisi dan konsep pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Rumahtangga adalah keluarga inti ditambah dengan orang lain, baik kerabat ataupun bukan yang tinggal di bawah satu atap. Anggota rumahtangga adalah semua orang yang biasanya tinggal di suatu rumhtangga, baik di rumah ataupun yang sedang berpergian kurang dari enam bulan.

2. Usia kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun atau lebih dengan tidak membedakan antara yang sedang bersekolah, mengurus rumahtangga, pensiun, dan melaksanakan kegiatan lain.

3. Anggota keluarga produktif adalah penduduk usia kerja (15 tahun atau lebih) dengan tidak membedakan antara yang sedang bersekolah, mengurus rumahtangga, pensiun, dan melaksanakan kegiatan lainnya.

4. Bekerja adalah semua penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih yang dalam periode pengamatan ikut terlibat dalam memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan.

5. Curahan kerja adalah jumlah jam kerja yang dicurahkan anggota keluarga yang digunakan untuk kegiatan mencari pendapatan (mencari nafkah) atau keuntungan, baik dari kegiatan usaha cendana maupun di luar usaha cendana. 6. Kegiatan usaha cendana adalah alokasi waktu yang digunakan seseorang untuk

kegiatan usaha cendana (on-farm)

7. Kegiatan di luar usaha cendana adalah alokasi waktu yang digunakan seseorang untuk kegiatan usahatani lainnya (kehutanan, pertanian, perkebunan, dan peternakan) dan kegiatan di luar usahatani (off-farm) seperti berdagang, mengajar, melakukan jasa ojek, menjadi buruh (bangunan) dan lain-lain. 8. Faktor produksi adalah semua unsur masukan produksi berupa lahan, tenaga

kerja, teknologi, dan atau modal, yang dapat mendukung terjadinya proses produksi dalam pengelolaan usaha cendana

9. Petani cendana adalah masyarakat/ petani yang sekarang/saat penelitian masih memiliki, mengembangkan atau budidaya cendana di lahan yang diusahakan.

Geografi

Kabupaten TTS merupakan salah satu dari 19 kabupaten di Provinsi NTT. Secara geografis Kabupaten TTS terletak pada kordinat 124° 49‟0‟‟ BT – 124 ° 4‟ 00” BT dan 9° 28‟ 13” LS - 10° 10‟ 26” LS. Secara administratif Kabupaten TTS berbatasan dengan daerah lain sebagai berikut:

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Utara

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Timor

 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Kupang

 Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Belu .

Luas wilayah Kabupaten TTS adalah 3947 km2 atau 8.34% dari luas wilayah Proivinsi NTT secara keseluruhan wilayahnya adalah daratan dengan topografi berbukit dan bergunung-gunung. Kabupaten TTS tahun 2007 terbagi menjadi 21 kecamatan. Kecamatan Molo Selatan merupakan kecamatan terluas sedangkan Kecamatan Kota SoE merupakan kecamatan dengan luasan terkecil.

Secara umum Kabupaten TTS berada pada ketinggian di atas permukaan laut (dpl) dari 0–500 meter dpl seluas 49.0%, ketinggian di atas 500–1000 meter dpl seluas 48.2% dan ketinggian di atas 1000 meter dpl seluas 2.8%. Kabupaten TTS memiliki wilayah kelerengan sedang sampai tinggi mencapai 75.99%. Jenis tanah yang mendominasi adalah kambisol berturut-turut adalah renzina, alluvial, mediteran, dan latosol.

Kecamatan Amanuban Barat terletak di sebelah Barat Kabupaten TTS dengan luas 229.3 km2 (5.80% dari luas Kabupaten TTS) dan terdiri dari 14 desa . Jarak antara kecamatan dengan ibukota kabupaten kurang lebih 8 km. Kecamatan Amanuban Barat berbatasan di sebelah utara dengan Kecamatan Mollo Selatan dan Kota SoE, di sebelah selatan dengan Kecamatan Amanuban Selatan dan Kuanfatu, di sebelah timur dengan Kecamatan Amanuban Tengah, dan di sebelah barat dengan Kecamatan Batu Putih.

Gambar 6 Lokasi Penelitian

Iklim dan Hidrologi

Kabupaten TTS beriklim tropis dan umumnya berubah-ubah setiap 6 bulan secara bergantian antara musim kemarau dan penghujan. Letak geografis yang dekat dengan Australia daripada Asia membuat Kabupaten TTS memiliki curah hujan rendah. Curah hujan di Kabupaten TTS bervariasi antara 1000 – 2500 mm per tahun. Sebaran volume dan intensitas hujan tidak merata yaitu di wilayah bagian barat dan bagian utara curah hujannya relatif tinggi, kemudian wilayah bagian tengah relatif sedang dan makin ke wilayah timur dan selatan semakin berkurang. Musim hujan berkisar selama 4 bulan yaitu pada bulan November sampai Februari, sedangkan bulan Maret sampai Oktober merupakan musim panas.

Penduduk dan Tenaga kerja

Penduduk Kabupaten TTS sebanyak 416 876 orang yang terdiri dari 206 963 orang laki-laki (49.64%) dan 209 913 orang perempuan (50.35%). Jumlah kepala keluarga adalah 106 595 KK dengan kepadatan penduduk 106 orang setiap km2 atau rata-rata 4 orang setiap rumahtangga (BPS Kabupaten TTS 2008). Data hasil SAKERNAS (2007) menunjukkan penduduk yang berusia 15 tahun ke atas berdasarkan jenis kegiatan berjumlah 256 206 orang yang terdiri atas angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja berjumlah 187 654 (67.6%) yang terdiri atas bekerja 181 571 orang dan pengangguran 8 083 orang. Sedangkan bukan angkatan kerja berjumlah 83 015 orang yang terdiri dari anak sekolah 18 118 orang, mengurus rumahtangga 59 250 orang dan lainnya 5647 orang.

Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk Kabupaten TTS hasil SUSENAS 2007 menurut pendidikan terakhir yang ditamatkan adalah: 1) tidak pernah sekolah sebanyak 107 650 orang atau 35.58%, 2) sekolah dasar sebanyak 121 578 orang atau 40.19%, 3) SMP umum sebanyak 36 440 orang atau 12.05%, 4) SMA dan Kejuruan sebanyak 23.816 orang atau 7.87%, 5) Diploma I, II, III sebanyak 3 898 orang atau 1.29%, dan Diploma IV//Universitas sebanyak 3.886 orang atau 1.28%. Kemampuan membaca dan menulis penduduk Kabupaten TTS yang berumur 10 tahun ke atas, yaitu: 1) dapat membaca dan menulis sebanyak 139 383 orang laki-laki (90.63%) dan 121 292 orang perempuan (81.54%), 2) buta huruf sebanyak 14 406 orang laki-laki (9.37%) dan 27 452 orang perempuan (18.46%).

Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten TTS terdiri atas 40% kawasan hutan negara dibandingkan penggunaan untuk sawah, padang pengembalaan, tegalan/kebun dan lainnya seperti pada Tabel 9. Padang pengembalaan dengan

Dokumen terkait