• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: UPAYA MENGEMBANGKAN MISI KONGREGASI PIJ DALAM

B. Usulan Program Pastoral Pendampingan Iman Bagi

2. Pemilihan Tema dan Penjabaran Tema

Pemilihan tema untuk program pendampingan sesuai dengan situasi dan kebutuhan yang menjadi subyek pendampingan. Pendampingan iman di Asrama Putri Sang Timur bertujuan untuk mendampingi remaja menjadi pribadi yang dewasa, bertanggungjawab, jujur, disiplin, dan beriman. Penulis merumuskan tema dalam usulan program ini berdasarkan hasil penelitian, wawancara bersama pembina asrama dan pengamatan. Maka di bawah ini penulis mencantumkan beberapa tema yang cocok untuk situasi remaja di Asrama Putri Sang Timur, Pakel. Adapun tema umum usulan program katekese model SCP ini adalah sebagai berikut; “Bersyukur dan berkembang menjadi pribadi yang matang serta menghargai perbedaan”. Tujuan dari tema ini yakni mengajak para remaja Asrama Putri Sang Timur untuk bersyukur atas apa yang dimiliki, berkembang dalam hal kepribadian dan kerohanian serta menghargai dan menerima perbedaan yang ada dalam Komunitas asrama. Maka dari rumusan tema dan tujuan umum diatas, penulis akan menjabarkan dalam beberapa judul pertemuan

a. Mengembangkan Potensi Diri

Potensi atau kemampuan adalah anugerah Tuhan, dalam Kitab suci sering disebut sebagai talenta. Setiap orang memiliki potensi/kemampuan dengan kadar yang berbeda. Tuhan menghendaki agar potensi atau talenta itu dikembangkan dan dapat bermafaat bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Dalam

injil Matius 25:14-30, dikisahkan tentang seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan memberi mereka sejumlah talenta untuk “dikembangkan” dan “digunakan”. Tuan yang telah memberi talenta itu ternyata bertindak tegas terhadap hamba yang tidak mengembangkan dan menggunakan talenta itu dengan baik.

Setiap orang termasuk kaum remaja diberi talenta oleh Tuhan. Maka tema yang diangkat kali ini bertujuan untuk mengajak remaja menyadari potensi yang ada dalam dirinya dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu mereka juga didorong agar mampu mengembangkan dan menggunakan talenta itu sebagaimana mestinya sehingga dapat berguna bagi dirinya, sesama dan demi kemuliaan nama Tuhan.

b. Hidup dalam Keberagaman

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri atau dengan kata lain membutuhkan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang pasti mengalami perjumpaan dengan sesama entah yang dikenal ataupun tidak, baik dilingkup kerja, sekolah, masyarakat, gereja, dll. Ketika seseorang diperjumpakan dengan sesama yang belum dikenal, seringkali diam dan tidak menyapa. Bahkan terkadang terjadi bahwa seseorang menyapa sesamanya karena melihat status, kenal atau tidak, seagama, sesuku, dsb.

Keberagaman dalam asrama menjadi sebuah kekayaan tersendiri karena dengan adanya situasi yang demikian semakin membantu anak-anak asrama menghargai perbedaan, mencintai dan mengasihi sesama tanpa ada perbedaan. Kebetulan anak-anak asrama putri ada yang beragama Katolik dan Protestan,

mereka juga berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Meski tidak jarang juga bahwa kebergaman bisa membuat orang bermusuhan.

Kisah orang samaria yang baik hati memberikan gambaran yang jelas tentang cara pandang terhadap sesama (Luk 10:25-37). Yesus menunjukkan bahwa semua adalah saudara dan sesama tanpa melihat latar belakang dan segala perbedaan yang ada. Maka penulis mengusulkan subtema “Hidup Dalam Keberagaman”. Tujuan dari pertemuan ini adalah bersama pendamping, peserta yakni kaum remaja menyadari bahwa sesama adalah saudara yang harus dihargai dan dikasihi karena sesama adalah ciptaan Tuhan serta menyadari bahwa keberagaman adalah sebuah kekayaan yang harus disyukuri dan di hargai. Maka dengan demikian dalam kehidupan sehari-hari kaum remaja semakin mampu melihat sesama sebagai saudara yang harus dihargai dan dikasihi baik di asrama, sekolah dan masyarakat.

c. Membangun Asrama sebagai Komunitas yang Gembira.

Asrama adalah salah satu wadah untuk belajar hidup bersama. Setiap asrama selalu memiliki peraturan yang berlaku untuk semua warga asrama. Warga asrama pastinya berasal dari berbagai tempat dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Sebuah asrama dapat menjadi sebuah komunitas yang baik tergantung dari semua warga yang ada di dalamnya. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti "kesamaan"

Peraturan di asrama menjadi patokan yang tepat untuk membangun sebuah komunitas. Peraturan tersebut dilakukan bukan dengan terpaksa tetapi dengan

penuh sukacita. Namun tidak jarang bahwa perturan yang ada dijalankan dengan terpaksa. Masih kurang adanya kesadaran bahwa pertauran-peraturan itu sangat membantu mereka untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.

Tentunya semua warga asrama memiliki tujuan dan harapan yang sama dengan memilih tinggal di asrama. Maka penulis merumuskan tema “Membangun Asrama Sebagai Komunitas yang Gembira”. Tujuan dari pertemuan ini, setiap warga asrama semakin menyadari bahwa setiap aturan yang ditetapkan menjadi sebuah wadah dalam pembentukan diri mereka. Selain itu juga, tumbuhnya kesadaran bahwa asrama adalah sebuah komunitas yang menggembirakan. Ada begitu banyak hal yang diperoleh dan dialami di asrama yang mungkin tidak ditemui serta tidak dialami ketika tidak tinggal di asrama.

Bacaan yang akan digunakan yakni dari Kis 2:41-47 “Cara Hidup Jemaat yang Pertama”. Para warga asrama akan diajak untuk belajar dari cara hidup jemaat pertama khususnya dalam membangun komunitas yang gembira.

d. Aku menjadi Dewasa

Pembinaan, sebagai bidang khas pastoral kaum muda bertujuan mendampingi dan membantu kaum muda termasuk para remaja untuk menemukan diri, mengembangkan kemampuan dan kemauan mereka (Tangdilintin 1984:48). Semua manusia, termasuk kaum remaja mendambakan untuk menjadi orang yang dewasa dan beriman. Semua itu melalui proses perjuangan dan keterbukaan hati setiap pribadi yang ingin berkembang. Maka penulis merumuskan tema “Aku menjadi Dewasa”. Tujuan dari dari pertemuan tersebut yakni bersama pendamping peserta menyadari bahwa menjadi pribadi yang dewasa dan beriman merupakan proses

yang selalu diperjuangkan terus menerus setiap hari. Dengan demikian remaja semakin mampu menghargai, menerima apa yang menjadi bagian dari proses terebut dalam kehidupan setiap hari baik di asrama maupun di sekolah. Menerima setiap proses yang ada dengan hati yang sederhana dan sikap yang semakin matang.

Dokumen terkait