• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DATA INTERPRETASI DATA

4.3 Profil Informan

4.3.3. Pemilik Ternak

1. Nama : Bapak Peno

Umur : 33 tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa Jenis kelamin : Laki – Laki

Bapak Peno merupakan warga asli Desa Purwosari Atas lama beliau tinggal di Desa ini sekitar 33 tahun. Bapak Peno memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta yang penghasilan setiap bulannya sekitar Rp 2.000.000.00 yang

digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan ketiga anaknya yang masih sekolah. Pendidikan terakhir Bapak Peno yaitu SMA.

Bapak Peno memang sejak kecil memiliki sapi dari orang tuanya namun karena kesibukan beliau sehingga, sapi – sapi yang dipelihara harus digaduhkan

kepada orang lain karena tidak adanya waktu luang untuk memeliharanya. Sapi yang digaduhkan kepada tetangganya berjumlah 10 ekor dan sudah digaduhkan

semenjak ia menikah sekitar delapan tahun yang lalu hingga sekarang, sedangkan sapi hasil gaduhan berjumlah lima ekor dan sebahagian lainnya telah ia jual.

Selama ini beliau menggadukan sapi kepada orang lain belum perna mengalami yang namanya kerugian yang diakibatkan karena keteledoran yang dilakukan oleh pihak penggaduh sapi miliknya. Hal ini dikarenakan kepedulian Bapak Peno yang setiap hari kadang turut serta membantu untuk memantau sapi diperkebunan jika ada waktu kosong.

Dalam usaha gaduh sapi yang dijalaninnya Bapak Peno belum perna melakukan perjanjian secara tertulis dengan pihak pemelihara sapi, sama dengan pemilik sapi lainnya. Hal ini dikarenakan keduanya sudah percaya dalam melakukan kerjasama tersebut dan sapi yang dipelihara akan baik – baik saja. Diperkuat dengan sapi yang sering pulang kerumah jadi beliau bisa melihat perkembangan sapi miliknya. Namun jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti kematian dan pencurian tidak ada orang yang menanggung biaya ganti rugi, karena beliau juga sudah iklas jika terjadi hal – hal yang demikian.

2. Nama : Bapak Parsikun

Umur : 55 tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Jenis kelamin : Laki – Laki

Bapak Parsikun merupakan warga asli Desa Purwosari Atas. Hingga saat ini beliau bekerja sebagai pencari Batu padas, usaha ini merupakan usaha pokoknya dan sudah lama ia tekuni bahkan sebelum berkeluarga. Penghasilan yang ia terimah dalam sebulannya mencapai Rp 2.500.000.00 pendapatan segitu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan istrinya. Sementara itu kelima anaknya telah lama menikah dan memiliki rumah masing – masing jadi tidak lagi tinggal bersamanya.

Jumlah ternak yang dimiliki oleh Bapak Parsikun terbilang lumayan benyak yaitu mencapai 45 ekor yang sebahagian digaduhkan kepada beberapa tetangga sekaligus rekan beliau dan para keluarganya. mengapa digaduhkan, karena beliau sudah tidak sanggup lagi untuk memelihara dengan jumlah yang besar. Jumlah ternak yang banyak itu merupakan hasil dari kegigihannya yang sejak remaja memelihara sapi dan ditambah lagi dari hasil tabungan yang ia peroleh.

Dalam bagi hasil ternak sapi tidak ada perjanjian yang dibuat antara dirinya dan peternak yang memelihara sapi miliknya. Hal ini dikarenakan beliau telah percaya sepenuhnya kepada pemelihara namun, jika sapi yang dimilikinya tetap dijual secara diam – diam tanpa sepengetahuan Bapak Parsikun atau mati maka beliau juga sudah iklas. Biar Tuhan yang membalas kalau pemelihara mau

berbohong kepada dirinya. Dalam usaha gaduh sapi masalah demikian sering muncul dan dianggap menjadi hal biasa, karena setiap usaha pasti memiliki resiko yang tinggi. Berikut penuturan Bapak Parsikun:

“Bapak sudah mengalami 2 kali kerugian dalam beternak sapi ketika itu sapi yang Bapak pelihara makan pupuk yang berjumlah 5 ekor sebahagian mati dan sebahagian masih dapat tertolong. Namun yang masih dapat tertolong itupun harus dijual dengan harganya tidak sebanding jika dijual dalam keadaan sehat. Walaupun begitu Bapak tidak perna menindak tegas pemelihara ternak semua hal ini Bapak anggap musibah dan bukan ada unsur kesengajaan hal ini dikarenakan, Bapak mengenal semua orang yang Bapak berikan amanah untuk memelihara ternak Bapak. Seperti adik Bapak sendiri dan tetangga yang terjalin melalui hubungan pertemanan jadi tidak mungkin kalau ini unsur kesengajaan”.

3. Nama : Bapak gimun

Umur : 39 tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa Jenis kelamin : Laki – Laki

Bapak Gimun merupakan penduduk asli Desa Purwosari Atas, bapak gimun memiliki pekerjaan sebagai tukang Bangunan yang penghasilan sebulannya Rp 2.700.000.00. dengan penghasilan segitu bapak gimun harus mencukupi kebutuhan istri dan kedua anaknya yang masih menempuh pendidikan. Ditambah lagi dengan pekerjaan yang tidak menetap kadang bangunan ada kadang tidak. Pendidikan terakhir Bapak Gimun adalah SMP sehingga untuk mencari pekerjaan yang lebih baik agak susah.

Walaupun beliau berpenghasilan pas – pasan tapi untuk kehidupan sehari – hari tidak perna kekurang. Bahkan bisa menggaduhkan sapi kepada orang lain yang mungkin kehidupannya tidak jauh berbeda darinya, tujuan beliau

yang begitu tinggi. Ditambah lagi jika sewaktu – waktu anak membutuhkan uang untuk sekolah dan biaya kesehatan lainnya.

Lama beliau menggaduhkan sapi yang dimilikinya kepada orang lain baru sekitar satu tahun yang lalu, selain itu bapak Gimun juga belum perna mengalami kerugian selama ia menggaduhkan sapinya kepada orang lain. Hasil ternak yang dimiliki dari proses gaduhan berjumlah dua ekor selain modal yang diberikan kepada peternak sapi.

Adapun cara Bapak Gimun untuk mengetahui jumlah ternak yang ia miliki adalah. Jika ternak yang dimilikinya telah lahir maka pemelihara akan memberikan informasi kepadanya, setelah itu ia akan melihat anaknya dan memberi tanda. Tujuannya adalah jika nanti sapi yang digaduhkan ingin dijual tidak salah dan tidak tertipu karena beliau tidak selalu memperhatikan sapinya.

4. Nama : Bapak Endra

Umur : 38 tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Jenis kelamin : Laki – Laki

Bapak Endra adalah penduduk pendatang yang merantau ke Desa Purwosari ini, beliau juga menerangkan kalau warga yang ada di Desa ini sangat baik dan ramah – tamah. Pekerjaan yang ditekuni oleh Bapak Endra adalah sebagai pedagang kedai sampah (sembako) omset dagangannya juga lumayan besar terlihat dari bangunan kedai yang dimilikinya. Penghasilan yang ia terima dari hasil berdagang mencapi Rp 2.000.000.00 setiap harinya. Penghasilan yang begitu besar digunakan untuk biaya menyekolahkan anak dan biaya kehidupan

sehari - hari yang diatur oleh istrinya. Pendidikan terakhir beliau adalah SMA dan kini ia berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya sampai keperguruan tinggi. Bapak Endra memiliki dua orang anak yang masih SMP dan satunya lagi kuliah di Universitas yang ada di Kota Medan.

Bapak Endra merupakan pemilik ternak yang telah lama mengembangkan usaha peternakan sebagai salah satu penopang kebutuhan keluarganya. Namun sapi yang dimilikinya diserahkan dan diamanahkan kepada orang lain. Lama beliau menggaduhkan sapi kepada orang lain sekitar empat sampai lima tahun yang lalu dan hasilnya saat ini sudah mulai bisa dirasakan olehnya dan keluarganya.

Selama menggaduhkan sapi, beliau belum perna mengalami kerugian baik kematian maupun pencurian, karena sapi yang dipelihara berada dirumahnya jadi tidak begitu banyak resiko yang akan muncul. Sampai sekarang beliau memiliki sembilan ekor sapi dari awalnya hanya tiga ekor sapi indukan, dan Bapak Endra ingin terus menambah ternaknya karena hasilnya sangat lumayan besar untuk setiap tahunnya.

Yang menanggung modal utama dalam gaduh sapi seperti pembelian bibit adalah Bapak Endra seperti penuturannya berikut ini:

“bapak yang menaggung biaya untuk pembelian bibitan sapi, sedangkan biaya pembuatan kandang dibagi dua sebab pemelihara sapi juga akan mendapatkan keuntungan jadi kandang dibagi dua modalnya. Sementara biaya perawatan kembali kepada pemelihara sapi namun kadang Bapak juga membantu biaya perawatan mana tau sapi sakit dan butuh dipanggil dokter hewan”.

5. Nama : Bapak Jumiren

Umur : 35 tahun

Suku : Jawa Jenis kelamin : Laki – Laki

Bapak Jumirin adalah warga asli Desa Purwosari Atas, selain itu juga beliau salah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan swasta yang ada dekat dengan perkampungan. Penghasilan yang ia terima setiap bulannya mencapai Rp 2.500.000.00. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari keluarganya. Bapak Jumiren memiliki dua orang anak yang masih bersekolah dibangku pendidikan SD dan SMA ,yang saat ini membutuhkan dana untuk lanjut kejenjang yang lebih tinggi. Selain itu pendidikan terakhir yang Bapak Jumiren adalah jenjang pendidikan SMA. Beliau sengaja tidak melanjut ke perguruan tinggi karena ada keinginan untuk langsung bekerja dan membantu meringankan beban orang tua.

Agar kehidupannya kedepan tidak susah maka sebelum menikah bapak jumiren memutuskan untuk memiliki ternak sebagai tabungan keluarga namun tidak dipelihara sendiri melainkan digaduhkan kepada orang lain. Selama ini beliau belum perna mengalami kerugian yang disebabkan karena sesuatu keteledoran yang dilakukan pemelihara ternak miliknya. Lama beliau menggaduhkan sapi miliknya kepada rekan sekaligus tetangga sekitar lima tahun. Saat ini beliau memiliki ternak sendiri sekitar enam ekor hasil gaduhan. Berikut penjelasan bapak jumirin:

“Alasan Bapak menggaduhkan sapi kepada rekan kerja Bapak adalah sebagai tabungan dan ingin meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga tanpa harus susah paya lagi untuk memelihara ternak. Seperti tidak perlu setiap hari keperkebunan untuk menggembalakan sapi dan tidak lagi merawat ternak. Bapak tinggal berikan sapi kepada orang lain sambil mengawasinya dari jauh lalu mendapatkan sapi. Sedangkan alasan Bapak menggaduhkan kepada rekan kerja agar tidak menimbulkan kecurangan dan menimbulkan ketidak jujuran”.

Bagi Bapak Jumirin sistem gaduh sapi sangat menguntungkan jika sistem pembagiannya jelas dan orang yang memelihara mau jujur. Namun harus selalu waspada jika melakukan sistem bagi hasil ini, Karena bisa saja sapi yang kita miliki dijual secara diam – diam jadi yang dibutuhkan adalah kejujuran sebagai faktor utama.

Dalam usaha yang dijalani beliau landasan utama adalah kepercayaan agar gaduh sapi dapat terwujud dengan baik, antara Bapak Jumirin dengan pemelihara ternak yang telah terjalin sudah sejak lama. Selain itu juga perjanjian secara terang – terangan harus jelas bagaimana bentuknya dan harus paham bagaimana cara pembagiannya.

Dokumen terkait