• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DATA INTERPRETASI DATA

4.4 Sistem Gaduh Sapi di Desa Purwosari Atas

4.4.4. Cara Bagi Hasil Dalam Gaduh Sapi

4.4.4.3. Sistem Maro Pro Sepuluh dan Maro

Sistem ini merupakan penggabungan dari kedua cara sebelumnya, namun disini pemilik sapi menyerahkan sapi dalam keadaan kurus dan kecil atau dalam keadaan hamil, kepada orang yang dipercayanya. Sapi tersebut dimaksud untuk

dipelihara dan dikembangbiakkan. Setelah sapi menjadi banyak dan perjanjian di akhiri atau tidak maka semua sapi indukan dan anakan dijual. Harga jual sapi indukan sepersepuluhnya diberikan kepada pemelihara sapi dan sisanya untuk pemilik sapi. Sedangkan harga jual anak – anak dari sapi indukan dibagi dua antara pemilik sapi dan pemelihara sapi yang biasannya dikenal dengan maro. Seperti penjelasan informan dibawah ini:

Penjelasan informan 1 Bapak Kasiban:

“Bapak Kasiban menerapkan sistem pembagian ternak sapi dengan cara maro pro sepuluh yang mana anak – anak dari hasil ternak di bagi dua sementara indukan yang dipelihara jika dijual diberikan seper sepuluh bagian kepada pemelihara dan sisanya untuk pemilik sapi. Hal ini dikarenakan sapi yang digaduhkan kepada Bapak Kasiban adalah indukan sapi yang dibeli dalam keadaan kurus. Sementara itu waktu dan proses penggemukan memakan waktu yang sangat lama sebelum mulai produksi anak, sehingga mengakibatkan sistem ini bapak terapkan”.

Maksud maro pro sepuluh tujuannya adalah sapi yang digaduhkan pada posisi kurus harus digemukan terlebih dahulu, dan dibesarkan karena kondisi sapi yang tidak layak untuk dipelihara. Mengapa harus digemukan tujuannya adalah agar sapi dapat berkembangbiak dengan baik jika sapi ingin dipelihara dalam sehat. Dalam maro pro sepuluh sebenarnya terjadi dua cara pembagian hasil usaha yang pertama indukan sapi dibagi dengan catatan sepersepuluh harga sapi indukan menjadi milik pemelihara. Sedangkan yang kedua harga anak sapi yang dijual dibagi dua kepada pemelihara dan pemilik sapi.

Selain beberapa sistem diatas ada satu sistem pembagian yang peneliti temukan yaitu cara pembagian hasil yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Dalam pembagian hasil usaha ini melihat besar kecilnya sapi yaitu jika sapi yang dipelihara untuk di gaduh masih terlalu kecil maka anak pertama milik pemelihara, sedangkan anak kedua dari sapi indukan berikutnya baru dibagi dua

antara pemilik dan pemelihara. Hal ini dilakukan karena modal yang dikeluarkan terlalu besar dalam memelihara sapi hingga bisa produksi, sehingga pembagian anakan sapi tidak dibagi dua melainkan anak pertama miliki pemelihara seutuhnya.Berikut penjelasannya.

Penjelasan informan 1 Bapak Gimun:

“Sistem gaduh sapi yang Bapak lakukan tergantung besar kecilnya sapi dan sehat tidaknya sapi. Jika sapi yang Bapak berikan kecil maka anak pertama milik Bapak dan anak kedua baru dibagi dua antara Bapak dan pemelihara sapi. Hal ini dikarenakan kalau menggaduhkan sapi dalam keadaan sapinya masih kecil, menunggu proses pembesaran dan produksinya yang sangat lama. dibandingkan dengan sapi indukan yang proses produksi anaknya cepat. Maka dari itu mengapa anak pertama milik pemelihara karena proses menunggunya yang lama”.

Dipertegas oleh penjelasan Informan 2 berikut Bapak Endra:

“Bapak Endra juga menerangkan kalau sistem pembagian yang ia lakukan hampir sama dengan pemilik ternak lainnya yaitu melihat besar kecilnya sapi dan kurus tidaknya sapi. Sebab kalau sapinya tidak seperti biasannya maka sistem pembagiannya tidak hanya maro anak, Namun modal dari keuntungan juga dibagi dua”.

Selain itu perlu diketahui bahwa pemelihara yang berada di Desa Purwosari Atas, dalam menggaduh sapinya hanya dilakukan kepada satu atau dua orang saja tidak lebih. Tujuannya untuk memudahkan dalam menjalani hubungan kerja sama yang terwujud. Memang tidak menutup kemungkinan terkadang pemilik sapi menggaduhkan sapi yang dimilikinya lebih dari satu orang, tetapi itupun hanya orang yang dikenalnya seperti penjelasan beberapa informan dibawah ini.

Penjelasan informan 1 Bapak Parsikun:

“Bapak memang sengaja menggaduhkan sapi tidak hanya kepada satu orang melainkan kepada 3 orang, tujuannya adalah ingin menolong karena ketiganya adalah teman Bapak. Selain alasan Bapak menggaduhkan sapi

, kepadanya dikarenakan, kehidupan ekonominya sangat susah dibandingkan Bapak. Jadi teman – teman Bapak datang kepada Bapak meminta untuk diberikan modal usaha walaupun itu satu ekor sebagai tabungan. Tapi ketiga orang ini sudah Bapak kenal lama bahkan sejak kecil”.

Diikuti oleh penjelasan informan 2 Bapak Endra

“Bapak hanya menggaduhkan sapi kepada dua orang saja yang juga merupakan karyawan Bapak yang bekerja di kedai Bapak ini. tujuan Bapak hanya menggaduhkan sapi kepada satu orang adalah tidak mau menimbulkan masalah dibelakang. Apabila dalam menggaduh sapi bukan orang yang dikenal bisa saja masalah itu muncul yang tidak terduga. Karena Bapak perna ditipu oleh pemelihara ternak sebelumnya, maka dari itu sekarang Bapak tidak mau memberikan kepada sembarang orang dan kepada banyak orang.

Interpretasi yang peneliti dapatkan mengenai cara pembagian hasil usaha adalah kebanyakan warga Desa Purwosari Atas banyak menerapkan cara pembagian hasil usaha dengan sistem maro anak. Hal ini dikarenakan rata – rata sapi yang dibesarkan adalah untuk dikembangbiakkan, bukan sebagi bisnis usaha pembesaran sapi atau untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi. Maka dari itu kebanyakan para peternak dan pemilik sapi menerapkan sistem gaduh sapi dengan bagi hasil anakan sapi, karena usaha yang dikembangkan untuk meningkatkan jumlah populasi ternak mereka.

Sedangkan mosher (dalam tarigan 1996), mendefenisikan bahwa “ bagi hasil adalah kerjasama yang diikat dengan perjanjian bagi hasil dengan ketentuan 50% - 50 %. Sistem ini banyak dilakukan karena kemiskinan dan kesukaran mendapatkan modal usaha yang memaksa seseorang menerima naib mengerjakan ternak atau lahan pertanian milik orang lain”.

Pembagian hasil usaha sapi yang diterapkan oleh warga desa sangatlah beragam misalnya, ada yang menerapkan besarnya berkisar antara 1, 1, 1 2 dari

4 3 2 3

nilai pertambahan bobot badan selama pemeliharaannya. Dalam bagi hasil usaha ternak, Scheltema (1985) menyatakan:

“bahwa perjanjian-perjanjian dengan pembagian keuntungan dapat dibagi seperti berikut : perjanjian-perjanjian dengan penyerahan ternak kepada seseorang selama waktu tertentu untuk dipelihara dengan maksud untuk kemudian dijual dan dibagi keuntungannya, atau nilainya diperkirakan pada awal dan akhir perjanjian dan nilai tambah atau nilai kurangnya dibagi, dan perjanjian-perjanjian di mana anak-anak ternak yang dilahirkan dijual dan keuntungannya dibagi. Lebih lanjut menurut Scheltema (1985) kecuali syarat pembagian, dalam bagi usaha ternak yang penting ialah arti ekonominya, bagaimana pengaturannya, siapa yang menaggung risiko bila terjadi kematian, pencurian, dan kehilangan karena hal lari, dalam hal ini juga terdapat banyak variasi”.

Adanya fariasi dalam pembagian hasil usaha memberikan keuntungan tersendiri dari masing – masing pelaku usaha, tinggal tergantung pemilik sapi dan pemelihara sapi mau menerapkan sistem yang mana. Karena semua cara yang dilakukan diatas ada sebab dan tujuan mengapa pembagian hasil usaha yang beragam itu dilakukan. Apakah usaha sapi yang dijalankan hanya sebatas pembagian usaha atau kegiatan bagi hasil, atau usaha ini dijadikan sebagai bisnis dan peluang usaha baru karena ada juga pemelihara ternak dan pemilik ternak yang tidak perlu menunggu sampai sapi melahirkan atau berkembang biak cukup sapi gemuk saja lalu dijual.

Dokumen terkait