• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemimpin sebagai Pelatih Proses dan Manajer

Bagian III : KEPEMIMPINAN BERWAWASAN NUSANTARA …

4. Pemimpin sebagai Pelatih Proses dan Manajer

4. Pemimpin sebagai Pelatih Proses dan Manajer

52

Para pemimpin bukanlah penguasa yang tugasnya adalah mengajarkan para pengikutnya atau anggotanya, pandangan yang menurutnya benar tentang kenyataan. Sebaliknya, para pemimpin harus membantu, memfasilitasi semua orang di organisasi, termasuk mereka sendiri, untuk mendapatkan pandangan yang lebih mendalam tentang kenyataan yang ada saat ini. Tanggung jawab ini mengharuskan para pemimpin untuk tampil di depan para anggota atau pengikutnya, menyampaikan pengetahuan tentang obyek atau sistem yang ada untuk menumbuhkan pola berpikir yang lebih sistematis. Disini pemimpin berperan sebagai pelatih proses dan pengelola atau manajer, yang memiliki kemampuan untuk memprediksi dan mengelola penyelesaian suatu masalah.

Banyak pengaruh yang sebenarnya dapat dilakukan oleh para pemimpin dalam membantu orang mencapai pandangan realitas yang lebih akurat, lebih berwawasan luas, dan lebih memberdayakan melalui penggunaan pertanyaan yang tepat. Para pemimpin terbaik melangkah lebih jauh: mereka mengambil langkah-langkah untuk 52Ibid, hal. 219-253 LEVEL Top Management Middle Management First Line Supervisor Key hourly Employee EMPHASIS/Tekanan

RATIONALE · Analisis Situasi

· Potensi masalah dan analisis peluangpotensial

· Mengelola masalah kritis

· Menjamin kesuksesan masa depan · Menilai rekomendasi

· Analisis keputusan · Kreativitas

· Membuat rekomendasi · Menghasilkan opsi baru

· Menyiapkan rencana · Analisis masalah

· Analisis masalah potensial

· Mengidentifikasi masalah · Mendiagnosa masalah

· Memisahkan penyebab dari efek · Menerapkan tindakan korektif · Mencegah masalah

46

mengimplementasikan proses berpikir kritis yang diperlukan ke dalam struktur organisasi mereka. Mereka melatih para pengikutnya untuk berpikir kritis. Para pemimpin transformatif harus dengan jelas mengidentifikasi hasil akhir yang mereka cari dan memilih metode yang tepat untuk mencapainya.

Empat peranan penting pemimpin yang diuraikan dimuka, diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemimpin kader bela negara dalam upayanya mempengaruhi, mengajak dan mendorong para pengikutnya, mengimplementasikan nilai-nilai dasar bela negara di kehidupan sehara-hari di tengah masyarakat. Hal ini merupakan gerakan yang ditujukan untuk membela bangsa dan NKRI, agar kedaulatan NKRI, keutuhan wilayah NKRI serta keselamatan dan keseinambungan hidup segenap bangsa Indonesia dan NKRI tetap terjaga secara optimal.

47

Bagian V

KEPEMIMPINAN DALAM

PROGRAM AKSI NASIONAL BELA NEGARA DI ERA DIGITAL

Kepemimpinan merupakan factor utama dalam pencapaian tujuan dari program aksi nasional bela negara yang telah dicanangkan bagi seluruh bangsa Indonesia, sebagai wujud pelaksanaan kewajiban warga negara Indonesia yang diatur dalam pasal 27 ayat (3) UUD 1945, dan pasal 30 ayat (1) UUD 1945.

Pentingnya pemimpin dalam pelaksanaan program aksi bela negara dikarenakan pemimpin memiliki peran strategis dalam upaya mempengaruhi, mendorong dan menggerakan pengikutnya untuk membela bangsa dan negara dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan, yang berpengaruh pada kemajuan bangsa, kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia.

Setiap orang memiliki potensi kepemimpinan di dalam dirinya, namun untuk mampu menghadapi tantangan dan ancaman bangsa dan negara saat ini, yang semangkin meningkat, diperlukan pengembangan kemampuan kepemimpinan yang sesuai dengan perubahan jaman saat ini, yang didorong oleh perubahan teknologi yang sangat pesat. Pemahaman kepemimpinan di masa lalu sudah tidak memadai lagi, perlu peningkatan kapabilitas kognitif, afektif dan keterampilan motorik yang lebih tinggi.

Keberhasilan pemimpin dalam memimpin pelaksanaan program aksi bela negara di berbagai komunitas baik di lingkup pendidikan, lingkup masyarakat maupun di lingkup pekerjaan, selain ditentukan oleh kemampuan menciptakan visi dan strategi yang tepat, juga penting sekali memiliki kemampuan dalam mengelola dan memberdayakan keanekaragaman pengikutnya agar pelaksanaan program aksi berdaya hasil optimal dan terhindar dari konflik.

Pemimpin harus memiliki pengetahuan luas tentang dimensi keragaman dan kesadaran akan isu multikultural. Para pemimpin membutuhkan pengetahuan dasar tentang dimensi utama keanekaragaman: usia atau generasi, ras, etnis, jenis kelamin, kemampuan mental atau fisik, dan orientasi seksual, serta beberapa pemahaman tentang

48

dimensi sekunder. Pengetahuan juga diterapkan melalui penggunaan bahasa inklusif dan menunjukkan rasa hormat terhadap perbedaan.

Selain itu, berikut ini beberapa kemampuan yang menurut beberapa pakar53 harus dimiliki oleh para pemimpin di era digital agar berhasil memimpin beragam generasi yang memiliki karakteristik berbeda, di berbagai lingkungan tempat kerja atau tempat kegiatan berlangsung, dalam pelaksanaan program aksi bela negara, yaitu:

1. Pemimpin di era ini harus memiliki kepekaan dan kecepatan dalam melihat dan menilai suatu perubahan dan mengintegrasikan informasi tersebut menjadi keputusan dalam menjalankan kegiatannya. Pemimpin harus cerdas melihat peluang, cepat beradaptasi, dan lincah dalam memfasilitasi perubahan, serta memiliki kemampuan mengajak anggotanya untuk dengan cepat mengakomo-dasi perubahan. Gaya kepemimpinan yang memiliki kesadaran untuk mema-hami isu-isu yang melibatkan etika, kekuasaan, dan nilai-nilai, serta melihat situasi dari posisi yang seimbang yang lebih terintegrasi. Pemimpin memiliki kejelian atau ketelitian dalam memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat ini, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa depan.

2. Selain kemampuan berkomunikasi secara verbal atau bertatap muka, pemim-pin dituntut juga memiliki kemampuan berkomunikasi melalui berbagai saluran berbasis teknologi yang dapat menunjang efektivitas dan efisiensi, seperti misalnya: melalui email, aplikasi, hingga chat messenger seperfti WhatsApp (WA). Artinya, pemimpin memiliki digital mindset, yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menghadirkan proses kerja yang efisien dan efektif di lingkungan kerjanya, misal mengadakan pertemuan atau diskusi melalui WA atau Anywhere Pad.

3. Seorang pemimpin harus memiliki pemikiran terbuka untuk memberikan kesempatan bagi anggotanya dalam melakukan pekerjaannya dengan metode sesuai dengan budaya dan cara kerjanya masing-masing, selama hasil yang disampaikan tetap sesuai dengan standar yang akan ditetapkan perusahaan tersebut. Dengan kata lain pemimpin haruslah menjadi seorang pengamat dan

53Eric Mary, Country Manager dari Robert Walters Indonesia, persh spesialis rekrutmen professional berskala global, disari dan dikutip dari : Kepemimpinan di Era Digital, http://www.industry.co.id/read/51773/kepemimpinan-di-era-digital; dan https://money.kompas.com?read/2019/08/04/134200326/kepemimpinan-di-era-milenial?page=all

49

pendengar yang aktif. Jika mayoritas timnya adalah kaum milenial yang tumbuh seiring dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka kecanduan untuk diperhatikan. Mereka sangat menghargai dan termotivasi jika diberikan kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi ide-idenya. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyu-kai untuk berbagi pengalaman. Penerapan gaya kepemimpinan yang menekankan pada keterbukaan dan persuasi, artinya pemimpin mau mendengarkan dengan penuh perhatian ide-ide pengikutnya, mengide-identifikasi dan membantu memperjelas keinginan pengikutnya selain mendengarkan suara hati dirinya sendiri, serta berusaha meyakinkan pengikutnya daripada memaksa kepatuhan.

4. Karena perubahan terjadi sangat cepat, dan harus bertransformasi dalam beradaptasi dengan perubahan itu, maka seorang pemimpin harus berani mengambil resiko dengan bereksperimen mencoba cara baru dan menilai secara komprehensif cara mana yang paling efektif untuk diterapkan dalam kegiatannya. Dengan kata lain, pemimpin harus berani mengambil sebuah langkah atau keputusan penting dalam pencapaian cita-citanya meskipun bertentangan dengan kebiasaan orang-orang disekitarnya. Pemimpin harus berani berbeda, baik dari cara berpikir, kebijakan maupun penampilannya. Pemimpin memiliki kemampuan melihat masalah dari perspektif konsep-tualisasi berarti berpikir secara jangka panjang atau visioner dalam basis yang lebih luas.

5. Mengelola konflik antar generasi di tempat kerja. Agar para anggota yang berasal dari lintas generasi, yang berbeda karakteristiknya dapat bekerjasama secara baik, maka kemampuan mengelola konflik menjadi prioritas utama. Pemimpin harus memahami perbedaan cara pandang antar individu yang semakin kompleks, menghargai setiap pemikiran yang ada dan menggu-nakannya untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin harus memberikan pemahaman akan pentingnya nilai, budaya, visi dan misi organisasi kepada anggota timnya atau pengikutnya secara utuh. Penerapan gaya kepemimpinan yang berusaha memahami anggotanya, rekan sekerja dan mampu berempati dengan orang lain, serta memiliki kemampuan menciptakan penyembuhan emosional berhubungan dengan diri sendiri, dan

50

hubungan dengan orang lain dalam mengelola konflik, sebab hubungan merupakan kekuatan untuk mewujudkan transformasi dan integrasi.

6. Mengoptimalkan energi diri sendiri, artinya seorang pemimpin harus memiliki nilai atau prinsip moral yang sangat dipercaya dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Nilai inilah yang akan menunjukkan jatidiri pemimpin, merupakan sekumpulan nilai yang terus dipegang teguh dan diterapkan dalam kehidupan, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung. Dengan kata lain, pemimpin harus pantang menyerah terlebih jika menghadapi anggotanya yang berasal dari beragam generasi yang merasa paling benar sendiri, pemimpin wajib memiliki sikap berpikir positif dan semangat tinggi dalam mengejar goalnya, ulet dan menunjukkan kualitas diri.

7. Seorang pemimpin harus mampu memberdayakan dan memicu atusiasme orang lain, hingga dapat melahirkan pemimpin-pemimpin berikutnya atau regenerasi pemimpin. Pada tahap ini, pemimpin tidak lagi memikirkan perkembangan dirinya sendiri, namun juga kepentingan dan perkembangan pemimpin lain yang berada di bawah kepemimpinannya, meskipun harus rela berbagi kewenangan dan tanggung jawab dengan mereka. Gaya kepemimpinan yang mencerminkan rasa tanggung jawab untuk melakukan usaha dalam meningkatkan pertumbuhan prefesionalisme pengikutnya atau anggota organisasi.

8. Pemimpin harus secara proaktif dan berkelanjutan berupaya dalam membentuk strategi kegiatan, meliputi visi dan misi yang dapat dipahami dan diterima oleh seluruh anggotanya. Membangun struktur organisasi meliputi antara lain pemilihan talenta yang tepat di setiap posisi organisasi, hingga pengelolaan sistem dan prosedur di dalam organisasi, dan budaya di dalam organisasi meliputi filosofi, sistem apresiasi, nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi seluruh anggota di dalam organisasi tersebut.

51

Dokumen terkait