DAN DI PERANTAUAN
3.3 Proses Pembuatan
3.3.3 Langkah-langkah pembuatan
3.3.3.3 Pemotongan ruas bambu
Ketika bambu sudah selesai ditebang, potonglah ruas-ruas bambu menjadi beberapa bagian sesuai dengan jumlah sulim yang direncanakan akan dibuat. Hal yang perlu diperhatikan dalam memotong ruas bambu adalah pemotongan dilakukan harus dari atas buku bambu. Sebab posisi lobang tiupan sulim yang baik adalah harus berada di bawah bukunya bukan di atas buku bambu tersebut.
66
Gambar-11. Ruas bambu sebagai bahan sulim
3.3.3.4 Pengeringan
Dalam proses pengeringan bambu, tidak terlalu memakan waktu yang begitu panjang sebab bambu yang telah dipilih sudah dalam kondisi tua dan matang artinya bambu dengan tingkat kekeringan 70% sd. 80% sudah cukup untuk dibentuk menjadi sulim. Tujuan pengeringan sebenarnya adalah agar ketahanan bambu lebih terjamin ketika nantinya sulim sudah siap dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama seperti yang diharapkan.
Tahapan pengeringan dilakukan dengan cara meletakkan bambu yang sudah dipotong menjadi beberapa ruas ke atas tungku perapian atau pun di suatu tempat kering yang tidak terkena langsung oleh teriknya sinar matahari.
67
3.3.3.5 Pelobangan
Inti dari tahapan pembuatan sulim adalah pembuatan lobang melalui proses pelobangan dengan mengikuti pola aturan pengukuran tertentu. Pelobangan dapat dilakukan dengan memakai pisau belati kecil yang ujungnya tajam ataupun dengan memakai besi bulat yang bagian ujungnya runcing dengan ukuran tertentu.
Tahapan pelobangan yang pertama dimulai dari lobang tiupan kemudian dilanjutkan ke lobang nada secara berurutan.
Gambar-12. Membuat lobang tiupan dengan besi yang dipanaskan
68
Gambar-14 Pelobangan lobang nada ke-2
69
Gambar-16. Pelobangan nada ke-4
70
Gambar-18. Pelobangan nada ke-6
Gambar-19. Sulim sederhana seusai tahapan pengelobangan
Pada saat lobang tiupan selesai dibuat sebenarnya situkang tersebut sudah dapat menafsirkan nada dasar dari sulim tersebut. Sebab pada sulim ditiup tanpa memiliki lobang, itu sama halnya dengan meniup sulim dengan menutup semua lobang nada, dimana akan menghasilkan nada do (1) yang menjadi nada dasar sulim tersebut. Hanya saja jika nada (pitch)nya kurang memenuhi atau kurang tinggi dari nada dasar yang diperkirakan maka solusi yang dilakukan adalah dengan sedikit demi sedikit memperbesar diameter lobang tiupan sesuai dengan nada yang diharapkan dan sampai pada batas besar lobang tiupan yang wajar. Sebab jika
71
lobang tiupan terlalu besar meskipun dengan nada (pitch) yang sudah memenuhi pada akhirnya tidak akan menjadi sulim yang ideal untuk dipakai, sebab lobang tiupan yang terlalu besar akan mengakibat pemborosan nafas pada saat peniupan. Oleh karena itu, perlu ketelitian dalam penentuan besar lobang tiupan.19
Kemudian setelah lobang tiupan selesai dibuat, maka lobang yang akan dibuat selanjutnya adalah keenam lobang nada. Dari keenam lobang nada yang akan dibuat, lobang nada pertama yang akan dibuat adalah lobang nada bawah, kemudian lobang nada bawah ke dua, dan seterusnya hingga lobang nada yang keenam. Biasanya setiap membuat lobang nada, sulim tersebut selalu ditiup dahulu untuk memastikan nada yang diinginkan. Demikianlah seterusnya hingga keseluruhan lobang nada selesai dibuat sesuai dengan ketentuan nada yang diinginkan.
Sebagai tambahan, lobang pemecah suara biasanya dibuat setelah lobang tiupan berikut dengan seluruh lobang nada selesai dibentuk. Setelah lobang pemecah terbentuk, kemudian dibalut dengan kertas tipis atau plastik tipis. Jika tahapan ini selesai, maka selesailah sudah tahapan pelobangan sulim. Adapun aturan-aturan atau pola pengukuran jarak antar lobang dalam membuat sebuah sulim adalah sebagai berikut :
19
Penetapan/penentuan nada (pitch) akan dibahas lebih mendalam pada bagian “sistem pelarasan nada” sub bab berikutnya.
72
Gambar-20. Pola jarak antar lobang sulim Keterangan gambar:
Jarak antara lobang tiupan (C) dengan ruas bambu = panjang diameter bambu (B)
Jarak antara lobang tiupan (C) dengan lobang nada atas (D) = 2 x keliling bambu (A)
Jarak antara lobang nada atas (D) dengan lobang nada bawah (E) = 2 x keliling bambu (A)
Jarak antara lobang nada bawah (E) dengan lobang tonika (F) = 1 x keliling bambu (A)
Jarak antara masing-masing keenam lobang nada = jarak antara lobang nada bawah dengan lobang nada atas kemudian dibagi 5 untuk mendapatkan 4 lobang nada berikutnya.
Posisi lobang yang ditutup oleh selembar kertas tipis (G) berada pada pertengahan jarak antara lobang tiupan (C) dengan lobang nada atas (D)
3.3.3.6 Ornamentasi
Setelah proses pelobangan selesai, sebenarnya tahap pembuatan sulim secara sederhana sudah dianggap selesai. Sebab tidak semua sulim yang dapat kita lihat secara umum memiliki ornamentasi. Ada tidaknya ornamentasi pada sulim tergantung pada selera sipemilik atau si pembuat. Tapi ada kalanya ornamentasi menjadi ciri khas dari seorang pembuat sulim yang bahkan itu bisa menjadi salah
E F G A C B D
73
satu faktor ketenarannya sebagai seorang pembuat sulim ternama disamping kualitas bunyi sulim yang dia ciptakan.
Bentuk pengornamentasian pada sulim sangat beragam tergantung kebiasaan dari sipembuat itu sendiri. Ada kalanya seorang pembuat sulim hanya memiliki satu jenis ornamentasi yang menjadikan itu sebagai ciri khas, tetapi ada juga orang yang mampu membuat sulim dengan beragam jenis ornamentasi sesuai seleranya. Sebab tidak ada aturan atau batasan-batasan tertentu dalam pembuatan ornamentasi sulim. Ada orang membuat ornamentasi berupa gorga (seni lukis atau seni ukir Batak Toba), ada juga yang membuat hanya dengan menambahkan lobang-lobang ornamentasi yang sama sekali tidak mempengaruhi kualitas bunyi, ada juga yang ornamentasi hanya dengan mengukir nama atau tulisan tertentu di bagian badan sulim tersebut, bahkan ada yang membuat dengan ketiga jenis ornamentasi tersebut, dan masih banyak jenis ornamentasi yang lain. Hal ini dapat kita lihat dari sekian banyaknya sulim yang beredar di tengah-tengah masyarakat yang menunjukkan bahwa setiap sulim tidak memiliki jenis ornamentasi yang sama kecuali ornamentasi tersebut dibuat oleh orang yang sama.
Berikut ini adalah jenis berbagai sulim dengan bentuk ornamentasi yang berbeda-beda.
74
Gambar-21. Sulim polos tanpa ornamentasi
75
Gambar-23. Ornamentasi gorga
Gambar-24. Ornamentasi nama
76