a. Pengertian pemutusan hubungan kerja
Munurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003, pemberhentian atau PHK adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha.
Manulang (1988) mengemukakan istilah PHK dapat diartikan dengan empat istilah, yaitu:
1) Termination, yaitu putusnya hubungan kerja karena selesainya atau berakhirnya kontrak kerja yang telah disepakati. Berakhirnya
kontrak tanpa adanya kesepakatan antara karyawan dan manajemen, karyawan harus meninggalkan pekerjaannya.
2) Dismissal, yaitu putusnya hubungan kerja karena karyawan melakukan tindakan pelanggaran disiplin yang telah ditetapkan. Misalnya karyawan melakukan kesalahan seperti mengkonsumsi alkohol atau obat-obat psikotropika, melakukan tindak kejahatan, merusak perlengkapan kerja milik pabrik.
3) Redundancy, yaitu PHK karena perusahaan melakukan pengembangan dengan menggunakan mesin-mesin berteknologi baru, seperti penggunaan robot-robot industri dalam proses produksi, penggunaan alat-alat berat yang cukup dioperasikan oleh satu atau dua orang untuk menggantikan sejumlah tenaga kerja. Hal ini berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
4) Retrenchment, yaitu PHK yang dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi, seperti resesi ekonomi, masalah pemasaran, sehingga perusahaan tidak mampu untuk memberikan upah kepada karyawannya.
b. Alasan Pemutusan Hubungan Kerja
Menurut UU No. 13 tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan, pihak perusahaan dapat melakukan PHK karena alasan berikut:
1) Pekerja melakukan kesalahan berat, di antaranya adalah:
a) Pekerja telah melakukan penipuan, pencurian, penggelapan barang dan atau uang milik perusahaan.
b) Pekerja memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan.
c) Pekerja mabuk, minum-minuma keras, memakai atau mengedarkan narkotika di lingkungan kerja.
d) Melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja. e) Menyerang, menganiaya, mengancam atau mengintimidasi
f) Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam hukuman pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. 2) Pekerja ditahan pihak yang berwajib
Perusahaan dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap pekerja setelah 6 (enam) bulan tidak melakukan pekerjaan yang disebabkan masih dalam proses pidana. Dalam ketentuan bahwa perusahaan wajib membayar kepada pekerja atau buruh uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ditambah uang pengganti hak.
Untuk Pemutusan Hubungan Kerja ini tanpa harus ada penetapan dari Lembaga Penyelesaian Hubungan Industrial tetapi apabila pengadilan memutuskan perkara pidana sebelum 6 (enam) bulan dan pekerja dinyatakan tidak bersalah, perusahaan wajib mempekerjakan kembali.
3) Perusahaan mengalami kerugian
Apabila perusahaan bangkrut dan ditutup karena mengalami kerugian secara terus-menerus selama 2 (dua) tahun, perusahaan dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap pekerja.
Syaratnya adalah harus membuktikan kerugian tersebut dengan laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan publik. Dan perusahaan wajib memberikan uang pesangon 1 (satu) kali ketentuan dan uang pengganti hak.
4) Pekerja mangkir terus-menerus
Perusahaan dapat memutuskan hubungan kerja apabila pekerja tidak masuk selama 5 hari berturut-turut tanpa keterangan tertulis yang dilengkapi bukti-bukti yang sah meskipun telah dipanggil 2 kali secara patut dan tertulis oleh perusahaan. Dalam situasi seperti ini, pekerja dianggap telah mengundurkan diri. Keterangan dan bukti yang sah yang menunjukkan alasan pekerja tidak masuk, harus diserahkan paling lambat pada hari pertama pekerja masuk kerja dan untuk panggilan patut diartikan bahwa panggilan dengan tenggang
waktu paling lama 3 hari kerja dengan di alamatkan pada alamat pekerja yang bersangkutan.
Pekerja yang di PHK akibat mangkir, berhak menerima uang pengganti hak dan uang pisah yang besarnya dalam pelaksanaannya diatur dalam perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja Bersama.
5) Pekerja meninggal dunia
Hubungan kerja berakhir ketika pekerja meninggal dunia. Perusahaan berkewajiban untuk memberikan uang yang besarnya dua kali uang pesangon, satu kali uang penghargaan masa kerja, dan uang pengganti hak kepada ahli waris janda/duda atau kalau tidak ada anak atau juga tidak ada keturunan garis lurus ke atas/ke bawah selama tidak diatur dalam perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama.
6) Pekerja melakukan pelanggaran
Di dalam hubungan kerja ada suatu ikatan antara pekerja dan perusahaan yang berupa perjanjian kerja, peraturan perusahaan, dan Perjanjian Kerja Bersama yang dibuat oleh perusahaan atau secara bersama-sama antar pekerja/serikat pekerja dengan perusahaan, yang isinya minimal hak dan kewajiban masing-masing pihak dan syarat-syarat kerja, dengan perjanjian yang telah disetujui oleh masing-masing pihak diharapkan dalam implementasinya tidak dilanggar oleh salah satu pihak.
Pelanggaran terhadap perjanjian dikenakan sanksi berupa teguran lisan atau surat tertulis, atau surat peringatan. Surat peringatan tertulis dapat diberikan selam tiga kali, yaitu surat peringatan pertama, surat peringatan kedua, dan surat peringatan ketiga.
7) Pekerja mengundurkan diri
Pekerja mengundurkan diri karena berbagai hal, di antaranya pindah kerja ke perusahaan lain, berhenti karena alasan pribadi, dan lainnya. Pekerja dapat mengajukan pengunduran diri pada
perusahaan tanpa paksaan, tetapi pada praktiknya, pengunduran diri terkadang diminta paksa oleh pihak perusahaannya meskipun Undang-Undang melarangnya.
Untuk mengundurkan diri, pekerja harus memenuhi persyaratan berikut:
Pekerja yang mengajukan pengunduran diri hanya berhak atas kompensasi uang pisah, uang penggantian hak cuti dan kesehatan, dan biaya pengembalian ke kota asal penerimaan. Akan tetapi, Undang-Undang tidak mengatur hak apa saja yang diterima pekerja yang mengundurkan diri. Semua itu diatur oleh perusahaan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Pekerja , atau perjanjian kerja bersama. Pekerja yang berhenti karena kemauan sendiri tidak mendapatkan uang pesangon ataupun uang penghargaan.
8) Pekerja yang habis masa kontraknya
Pekerja yang habis masa kontraknya adalah pekerja yang hubungan kerjanya telah berakhir seperti yang tertera dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Apabila pekerja tidak melanggar peraturan perusahaan dalam pelaksanaan PKWT ini, PHK yang terjadi termasuk kategori putus-putus demi hukum. PHK semacam ini tidak mewajibkan perusahaan untuk memberikan uang pesangon, uang penghargaan, ataupun uang penggantian hak.
9) PHK dengan alasan efisiensi
PHK dengan alasan efisiensi diatur secara terperinci dan jelas oleh Undang-Undang No.13 tahun 2003 Pasal 164 ayat (3) yang menyatakan, “Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan tutup bukan karena mengalami kerugian 2 (dua) tahun berturut-turut atau bukan karena keadaan memaksa tetapi perusahaan melakukan efisiensi, dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja
sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4)”.
Tujuan perusahaan melakukan PHK dengan alasan efisiensi dilatarbelakangi oleh tujuan untuk mengurangi beban perusahaan supaya dapat tetap beroperasi. Seperti dalam kondisi krisis global yang mengharuskan pengurangan pekerja, pengusaha tidak perlu khawatir melakukan PHK karena efisiensi sebab ada alasan hukum pasal 164 ayat (3) Undang-Undang No. 13 tahun 2003.
c. Jenis-jenis Pemutusan Hubungan Kerja
Menurut Kadar Nurjaman (2014: 344), ada beberapa jenis PHK, yaitu sebagai berikut:
1) PHK kondisi normal (sukarela)
Pemberhentian normal adalah apabila seseorang tidak lagi bekerja pada organisasi karena berhenti atas permintaan sendiri, berhenti karena sudah mencapai usia pensiun, dan karena meninggal dunia. Karyawan yang mengajukan pengunduran diri hanya berhak atas kompensasi seperti sisa cuti yang masih ada, biaya perumahan serta pengobatan dan perawatan.
2) PHK kondisi tidak normal (tidak sukarela) atau pemberhentian tidak atas permintaan sendiri.
Pemberhentain tidak atas permintaan sendiri adalah bentuk pemberhentian pegawai bukan atas kemaunannya sendiri, melainkan karean suatu organisasi terpaksa mengurangi jumlah karyawannya dan karena adanya sanksi berat kepada pegawai sehingga berakibat pemutusan hubungan kerja.
3) Discharge. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang menimbulkan perasaan paling tidak nyaman di antara beberapa jenis PHK yang ada. Kegiatan ini terjadi karena karyawan bersikap dan berperilaku kerja yang kurang memuaskan. Karyawan yang mengalami jenis PHK ini kemungkinan besar akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru ditempat atau perusahaan lain.
Menurut Sendjun H. Manulang (1988), ada empat jenis pemutusan hubungan kerja, yaitu:
1) Pemutusan hubungan kerja oleh pengusaha 2) Pemutusan hubungan kerja oleh pekerja 3) Pemutusan hubungan kerja demi hukum 4) Pemutusan hubungan kerja oleh pengadilan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada 3 jenis PHK, diantaranya PHK kondisi normal yaitu PHK yang dikarenakan karyawan sendiri yang mengundurkan diri, PHK kondisi tidak normal yaitu PHK yang dikarenakan perusahaan terpaksa mengurangi jumlah karyawan, dan discharge yaitu PHK yang terjadi karena karyawan bersikap dan berperilaku kerja yang kurang memuaskan.
B. Metode Pengamatan