HASIL DAN PEMBAHASAN
Tahap 2: Penambahan Filtrat Enzim terhadap Nilai Nutrisi BIS
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, maka percobaan pada tahapan ini menggunakan filtrat enzim isolat F yang difermentasikan selama 11 hari. Penambahannya pada BIS dilakukan dengan beberapa taraf yaitu sebanyak 0; 0.5; 1.0; 1.5; dan 2.0 mL per g BIS.
Total Gula Terlarut
Hidrolisis substrat (BIS) dilakukan menggunakan filtrat enzim yang dihasilkan dari isolat kapang terpilih (isolat F; fermentasi 11 hari). Supernatan hasil ekstraksi untuk penentuan total gula terlarut mempunyai kisaran pH antara 5.25–5.56. Berdasarkan analisis ragam, perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap total gula terlarut pada BIS (Lampiran 2). Meskipun demikian, terdapat kecenderungan peningkatan total gula terlarut dengan adanya penambahan enzim jika dibandingkan dengan BIS tanpa penambahan enzim. Tabel 11 menunjukkan bahwa peningkatan tertinggi diberikan oleh perlakuan SAE–1.5 sebesar 84.95% jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (SAE–0), yaitu BIS tanpa penambahan enzim. Adanya peningkatan total gula terlarut menunjukkan bahwa enzim yang ditambahkan mampu mendegradasi ikatan serat pada BIS menjadi monomer yang lebih sederhana. Peningkatan total gula terlarut pada percobaan ini (38.3–84.95%)lebih tinggi dari hasil penelitian Chong (1999) yang menyatakan bahwa penggunaan enzim mannanase (PKC-ase) mampu meningkatkan gula yang tereduksi pada BIS dengan kisaran peningkatan sebesar 26.8–67.4% dibandingkan tanpa penambahan enzim.
Hasil yang diperoleh mengindikasikan adanya penurunan total gula terlarut yang dihasilkan pada perlakuan SAE–2.0. Hal ini diduga disebabkan oleh perubahan konsentrasi (substrat:enzim) sehingga mempengaruhi laju reaksi enzim sebagai katalis dalam proses hidrolisis substrat. Menurut Judoamidjojo et al.
(1992), bahwa laju reaksi enzim dipengaruhi oleh konsentrasi substrat mengikuti teori Michaelis-Menten. Selanjutnya dinyatakan, jika konsentrasi substrat lebih besar dari konstanta Michaelis (Km) maka laju reaksi akan maksimum, namun jika konsentrasi substrat sama Km, maka laju reaksi adalah setengah dari kecepatan maksimum.
Tabel 11 Pengaruh penambahan filtrat enzim terhadap total gula terlarut bungkil inti sawit
Perlakuan Total Gula (g /100 g BIS)
Peningkatan Total Gula Terlarut (%)*
SAE–0 2.02 ± 0.18 -
SAE–0.5 2.67 ± 1.88 38.30 SAE–1.0 3.53 ± 0.68 76.81 SAE–1.5 3.77 ± 0.89 84.95 SAE–2.0 3.18 ± 1.11 58.30
Keterangan: * nilai dibandingkan dengan kontrol; BIS = bungkil inti sawit; SAE–0 = BIS tanpa penambahan filtrat enzim; SAE–0.5 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 0.5 mL /g; SAE–1.0 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 1.0 mL /g; SAE–1.5 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 1.5 mL /g; SAE– 2.0 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 2.0 mL /g.
Penambahan filtrat enzim sebanyak 1.5 mL /g BIS meningkatkan ketersediaan total gula terlarut BIS sebanyak 3.77 g /100 g BIS. Hasil yang diperoleh ini lebih tinggi daripada yang dilaporkan Tafsin (2007) dengan perolehan sebesar 2.11 g /100 g BIS. Terdapat keterkaitan antara peningkatan kandungan gula yang terlarut pada satu jenis bahan pakan dengan ketersediaan nutrien (karbohidrat). Adanya peningkatan total gula terlarut pada pakan dengan penambahan enzim, menyebabkan peluang untuk dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber energi yang bisa dimanfaatkan menjadi semakin besar. Diduga bahwa hal ini akan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan oleh unggas karena keterbatasannya dalam mensekresikan enzim pencerna serat.
Untuk dapat menjawab dan menjelaskan hal tersebut, maka pada rangkaian percobaan selanjutnya adalah melakukan pengujian (in vivo). Hal ini dilakukan untuk mengetahui kandungan energi metabolis sampel perlakuan pada ayam pedaging.
Energi Metabolis
Kandungan energi yang termetabolis dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memilih jenis pakan yang akan diberikan pada unggas. Nilai energi yang dapat termetabolis mengindikasikan ketersediaan energi pakan yang dapat digunakan oleh ternak. Tabel 12 memperlihatkan rataan energi termetabolis yang dilakukan pada ayam pedaging jantan umur 6 minggu. Bobot badan ayam yang digunakan berkisar antara 875–1 370 g/ekor.
Berdasarkan analisis yang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB (2009), bungkil inti sawit yang digunakan pada percobaan ini mempunyai kandungan energi bruto sebesar 2627 kkal/kg; protein kasar 12.75%; dan bahan kering 90.17%. Hasil ini lebih rendah dari laporan Aletor dan Ojelabi (2007), bahwa BIS mempunyai kandungan energi bruto sebesar 3100 kkal/kg; protein kasar 25.2%; dan bahan kering 85%. Sementara Jaelani (2007) menyatakan bahwa energi bruto BIS sebesar 3 968 kkal/kg.
Tabel 12 Rataaan energi termetabolis (kkal/kg)* bungkil inti sawit pada ayam pedaging jantan
Perlakuan Peubah yang Diamati
EMS EMSn EMM EMMn
SAE–0 372.65b ± 203.19 374.78bc ± 197.68 789.63bc ± 203.19 791.75bc ± 197.68 SAE–0.5 143.21ab± 154.18 162.75c ± 154.94 562.46c ± 154.18 581.99c ± 154.94 SAE–1.0 641.60ab± 104.60 675.27ab ± 85.89 1 059.69ab ± 104.60 1 093.35ab ± 85.89 SAE–1.5 418.67b ± 359.60 434.22bc ± 355.24 835.97bc ± 359.60 851.52bc ± 355.24 SAE–2.0 959.75a ± 161.11 974.97a ± 136.21 1 379.05a ± 161.11 1 394.26a ± 136.21
Keterangan : Superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata
(p<0.05) menurut uji Beda Nyata Terkecil; * = berdasarkan bahan kering; SAE–0 = BIS tanpa penambahan filtrat enzim; SAE–0.5 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 0.5 mL /g; SAE–1.0 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 1.0 mL /g; SAE–1.5 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 1.5 mL /g; SAE–2.0 = BIS dengan penambahan filtrat enzim sebanyak 2.0 mL /g; EMS = energi metabolis semu; EMSn = energi metabolis semu terkoreksi nitrogen; EMM = energi metabolis murni; EMMn = energi metabolis murni terkoreksi nitrogen.
Berdasarkan analisis ragam, diperoleh hasil bahwa perlakuan penambahan enzim berpengaruh nyata (p<0.05) pada energi metabolis semu (Lampiran 3); perlakuan berpengaruh sangat nyata (p<0.01) terhadap energi metabolis semu terkoreksi nitrogen, energi metabolis murni dan energi metabolis murni terkoreksi nitrogen BIS (Lampiran 4, 5 dan 6).
Uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan bahwa perlakuan penambahan enzim sebanyak 2.0 mL /g BIS (SAE–2.0) secara nyata (p<0.05) meningkatkan energi metabolis semu, energi metabolis semu terkoreksi nitrogen, energi metabolis murni dan energi metabolis murni terkoreksi nitrogen BIS jika dibandingkan dengan BIS tanpa penambahan enzim (SAE–0). Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa perlakuan SAE–2.0 mampu meningkatkan penggunaan energi oleh ayam percobaan. Perlakuan SAE–2.0 mampu
meningkatkan energi termetabolis semu (EMS) sebesar 157%, energi termetabolis semu terkoreksi nitrogen (EMSn) sebesar 160%, energi metabolis murni (EMM) sebesar 74.6% dan energi metabolis murni terkoreksi nitrogen (EMMn) BIS sebesar 76.1%. Penambahan enzim ternyata lebih efektif untuk meningkatkan kualitas nutrisi BIS, dilihat dari peningkatan kandungan energi yang termetabolis. Hal ini sesuai dengan Chong (1999), bahwa penambahan enzim (PKC-ase) meningkatkan energi metabolis BIS.
Persentase peningkatan energi metabolis yang diperoleh pada penelitian ini lebih tinggi (yaitu sebesar 76.1%.) dibandingkan hasil penelitian Jaelani (2007), yang melakukan pengujian energi metabolis BIS yang difermentasi dengan Trichoderma reesei. Dinyatakan bahwa peningkatan EMSn dan EMMn BIS sesudah fermentasi masing-masing sebesar 5.81% dan 5.94%. Nilai EMMn yang diperoleh pada percobaan ini (SAE–2.0 = 1 394 kkal/kg) lebih rendah dibandingkan nilai yang dilaporkan Jaelani (2007) yaitu sebesar 1 924 kkal/kg. Diduga bahwa hal ini disebabkan perbedaan bahan (BIS) yang digunakan. Kandungan energi bruto BIS yang digunakan pada percobaan ini lebih rendah dari penelitian Jaelani (2007) (2 627 vs 3 968 kkal/kg), sehingga hasil (EMMn) yang diperoleh pada percobaan ini juga relatif lebih rendah. Nilai energi metabolis BIS yang rendah, diduga berkaitan dengan tingginya kandungan serat yang terdapat pada BIS, sehingga menyebabkan nilai nutrisi yang rendah jika diberikan sebagai pakan tunggal.
Khanongnuch et al. (2006) menyatakan bahwa penggunaan enzim yang diproduksi oleh bakteri Bacillus subtilis strain 5H pada bungkil kelapa sejumlah 15 mL /g (200 IU mannanase per kg) mampu meningkatkan energi metabolis dari 3 220 kkal/kg menjadi 3 750 kkal/kg atau meningkat sebesar 16.46% pada ayam pedaging. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini masih lebih rendah dari pernyataan Khanongnuch et al. (2006) jika dilihat dari jumlah kalori yang dapat dimetabolis oleh ayam. Meskipun konsentrasi penggunaan enzim pada BIS (perlakuan SAE–2.0) pada percobaan ini tergolong rendah (68.8 IU FP-ase per kg BIS dan 0.27 IU mannanase per kg BIS), namun hasil yang diperoleh memperlihatkan persentase peningkatan energi metabolis yang lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian Khanongnuch et al. (2006).
Hasil yang diperoleh pada pengujian energi metabolis ini sedikit berbeda dengan hasil yang diperoleh pada pengukuran total gula terlarut (Tabel 11), bahwa penambahan 1.5 mL filtrat enzim per g BIS (SAE–1.5) memiliki nilai yang tertinggi. Data total gula terlarut ternyata tidak bisa menjadi patokan dalam memprediksi energi yang bisa dimanfaatkan oleh unggas. Peningkatan energi metabolis (in vivo) tertinggi justru dihasilkan pada perlakuan SAE–2.0. Diduga bahwa total gula terlarut yang diperoleh tidak semuanya berupa gula sederhana atau polisakarida bukan pati (PBP) yang dapat/mudah dicerna oleh ayam, diduga masih berupa polisakarida bukan pati yang tidak dapat dicerna. Hal ini terjadi kemungkinan karena sampel uji pada pengukuran total gula terlarut diekstraksi menggunakan pecahan kaca dan hot water exraction, sehingga sampel yang diperoleh bukan hanya karena kemampuan enzim memecah serat BIS. Sementara pada pengujian in vivo, peningkatan pencernaan sampel pakan perlakuan diduga lebih disebabkan oleh kemampuan enzim yang telah mendegradasi serat BIS menjadi komponen yang lebih mudah dicerna oleh ayam. Polisakarida bukan pati yang terdapat pada BIS (yang tidak dapat dicerna) jika diberikan pada unggas akan mempengaruhi penyerapan nutrien lainnya. Menurut Choct et al. (1996), meningkatnya kandungan PBP yang tidak dapat dicerna dalam ransum akan menurunkan nilai energi metabolis ransum, hal ini terjadi karena PBP menyebabkan viskositas pakan meningkat sehingga kesempatan penyerapan nutrien menjadi semakin singkat. Hasil pengujian energi metabolis pada percobaan ini menunjukkan bahwa pada perlakuan SAE–2.0, enzim yang ditambahkan mampu mendegradasi serat BIS. Hal ini terlihat dari nilai energi metabolis yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Penambahan enzim mampu memecah ikatan serat BIS berupa ikatan selulosa dan ikatan polisakarida (galaktomannan) dengan baik menjadi komponen gula sederhana yang lebih mudah dicerna oleh unggas sebagai sumber energi. Buchanan et al. (2007a) dan Bernabé et al. (2006) menyatakan bahwa penggunaan enzim pendegradasi
nonstarch polysaccharides (NSP) dan mannanase pada ransum ayam pedaging dapat meningkatkan energi yang termetabolis. Hal ini senada dengan pernyataan Ng dan Chong (2002); Sekoni et al. (2008); dan Zhou et al. (2009), bahwa penggunaan enzim mannanase dapat meningkatkan nilai nutrisi bungkil inti sawit.
Tahap 3: Penggunaan BIS yang Ditambahkan Enzim dalam Ransum Ayam