• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

F. Penanganan Konflik

Untuk menyelesaikan koflik diperlukan konsesnsus. Konflik dan konsensus

merupakan gejala sosial yang selalu ada dalam masyarakat. Selama masyarakat ada

selama itu pula konflik dan konsensus ada dalam masyarakat. Hal ini berkaitan

dengan pandangan pendekatan konflik dan ilmu sosial, bahwa setiap masyarakat

mengandung konflik dalam dirinya,atau konflik merupakan gejala yang melekat di

setiap masyarakat. Konsensus diartikan sebagai penyelesaian konflik yaitu melalui

proses interaksi pihak-pihak yang terlibat konflik untuk tercapainya titik temu atau

kesepakatan bersama sehingga yang ada di dalamnya sama-sama mendapatkan

manfaat dan keuntungan yang wajar. Konsesus dapat dilakukan secara tidak

langsung atau melalui perantara (mediator) dan secara langsung, yang dilakukuan

29

menyediakan berbagai berbagai kemungkinan alternatif atau koersif dengan

pendekatan paksa baik berupa ancaman atau kekerasan fisik.

Menurut Maswadi Rauf ada empat model konsensus atau penanganan konflik

sebagai berikut:22

1. Menggabungkan butir-butir yang terdapat dari pihak yang terlibat konflik.

Model ini disebut konsensus internal yang dilakukuan secara persuasif

melalui butir-butir atau pendapat pihak-pihak yang berkonflik dan para

pihak yang berkonflik saling menawar dari butir-butir yang tersedia yang

akhirnya mencapai kesepakatan bersama.

2. Karena konflik terlalu tajam, salah satu pihak yang berkonflik mengambil

butir-butir pendapat dominan untuk menjadi konsensus.

3. konsensus dibentuk dari pendapat pihak luar, karena sulit mendapat

konsesnsus dari pihak yang berkonflik baik secara mediator maupun bukan

mediator.

4. Konsensus gabungan yaitu menggunakan butir-butir pendapat dari

pihak-pihak yang berkonflik dan butir-butir pendapat dari pihak-pihak yang tidak

terlibat konflik, apabila tidak mencapai konsensus, konflik dapat

diselesaikan melalui proses hukum di pengadilan. Selain itu konsensus

dapat dilakukan melalui pemungutan suara (voting). Jika satu pihak

memperoleh suara terbanyak pendapat itu akan menjadi hasil dari

penyelesaian konflik.

22

Maswardi Rauf, Konsensus Politik :Sebuah penjajakan Teoretis, (Jakarta: Dirjen pendidikan Tinggi DEPDIKNAS,2000) hal.2

30

Bagja waluya menegaskan penanganan konflik di dalam konflik memiliki

dua kepntingan yang berbeda dan utama yaitu23 :

1. Kepentingan untuk mencapai tujuan pribadi.

2. Kepentingan untuk menjcapai hubungan baik dengan kelompok lain.

Pada dasarnya manusia selalu ingin menjaga keharmonisan terhadap orang

lain atau kelompok namun dalam beberapa kesempatan setiap pihak memiliki

keinginan pibadi. pihak yang berkonflik mempunyai tujuan yang berbeda dengan

kelompok yang lain yang kemudian perbedaan keinginan inilah yang membuat

pergesekan atau konflik terjadi.

Adanya dua kepentingan yang berbeda dapat memepengaruhi seseorang

bertindak dalam suatu konflik. Dengan melihat dua perbedaan tersebut terdapat

lima cara dalam menangani konflik yaitu:24

1. Menghindar. Cara ini seolah-olah seperti kura-kura yang menarik kedalam

tempurungnya untuk menghindari konflik. Tipe ini mengorbankan

kepentingan pribadi dan hubungan antara orang lain karena tidak ada

gunanya untuk berkonflik dan berusaha untuk menyelsaikan konflik. Dia

memilih menghindari konflik dan orang yang bertentangan dengannya.

2. Memaksakan kehendak atau mendominasi (mendahulukan kemauan

sendiri). Cara ini digunakan untuk menguasai lawan-lawannya dengan cara

memaksa untuk menerima tawaran untuk menyelesaikan konlik seperti

23

Bagja waluya, Sosiologi, Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat (Bandung: PT Setia Purna Inves, 2004) hal. 41.

24

31

yang diinginkan. Kebutuhan pribadi dianggap sangat penting jadi menomor

duakan kebutuhan dan kepentingan bersama. Tipe ini tidak membutuhkan

pendapat orang lain, dia menganggap bahwa konflik harus diselesaikan

dengan cara satu pihak menang dan pihak lain kalah. Ia berusaha untuk

menang untuk menguasai, mengatasi dan mengintimidasi pihak yang kalah

dan sebaliknya pihak yang kalah akan merasa lemah dan tidak berdaya.

3. Menyesuaikan dengan keinginan orang lain atau placticing. Pada metode

ini hubungan dengan orang lain sangatlah penting. Orang tipe ini ingin

diterima dan disukai orang lain. Ia merasa konflik harus di hindari untuk

menjaga keharmonisan dan ia yakin bahwa konflik tidak apat dibicarakan

jika merusak hubungan baik. Ia mengorbankan hubugan pribadi untuk

mempertahankan hubungan dengan orang lain.orang yang menggunakan

cara ini seolah-olah mengatakan: aku mengorbankan tujuanku dan

membiarkanmu mendapatkan apa yang kau inginkan agar kau menyukai

diriku. Orang ini berusaha memperhalus situasi konflik yang terjadi.

4. Tawar menawar. Tawar menawar cukup memperhatikan tujuan bersama

dan tujuan pribadi. Metode ini biasanya mencari kompromi yang

mengorbnkan sebagian tujuan pribadi dan membujuk pihak lain yang

berkonflik dengan dirinya agar ikut berkorban juga. Metode ini mencari

penyelesaian terhadap konflik yang menempatkan kedua belah pihak

memperoleh sesuatu. Ia ingin mengorbankan sebgaian tujuan pribadinya

dan sebagian hubungan dengan orang lain untuk mencapai persetujuan

32

5. Kolaborasi. Metode ini menghargai tujuan pribadi dan hubungannya

dengan orang lain. Ia memandang konflik sebagai permasalahan yang harus

diselesaikan. Metode ini memandang bahwa konflik untuk meningkatkan

hubungan dengan cara mengurangi ketegangan kedua belah pihak. ia tidak

puas sampai menemukan suatu penyelesaian yang dapat mencapai tujuan

pribadinya dan tujuan orang lain, ia juga tidak puas sampai ketegangan dan

perasaan negatif sepenuhnya selesai.

Dari kelima metode tersebut semuanya dapat dijalankan tergantung situasi

dan kondisi. Adakalanya bila kebutuhan pribadi tidak begitu penting dan tidak

perlu menjaga keharmonisan dengan orang lain lebih baik menghindar seperti

masalah yang terjadi di tempat umum dengan menghindari permusuhan dengan

orang yang tidak kita kenal. Ketika kebutuhan pribadi sangat penting metode

pemaksaan dilakukan karena dapat merugikan kepentingan pribadi, seperti

tindakan perventif yang dilakukan PSSI yang melarang para pemain liga yang

tidak diakui oleh PSSI untuk mengikuti timnas dan pencekalan. Metode yang lain

seperti tawar-menawar dan kolaborasi dilakukan oleh pemerintah dan FIFA dalam

penanganan kasus PSSI dengan dibentuknya Komite Normalisasi yang dipimpin

Agum Gumelar yang bertugas mengatasi konflik PSSI yang kemudian dibetuknya

komite banding PSSI yamg bertugas mengiring konflik PSSI kearah kesepakatan

yang bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara serta peran pemerintah yang

terjun langsung dalam mengatasi konflik PSSI yang di lain pihak melanggar statuta

FIFA tetapi pemerintah bersikukuh untuk intervensi langsung proses mediasi PSSI

33

Dalam penenyelesaian konflik dapat dibantu pihak ketiga untuk

menyelesaikan konflik. Dibentuk tim intervensi dapat disebut mediator, arbitrator,

konsiliator dan konsultan, yang yang bersikap netral dalam mengtasi konflik dan

tidak terlibat konflik. Tim intervensi dapat memainkan peran negosiasi, mediasi

dan arbitrari.

Robbins dalam buku perilaku organisasi menjelaskan tentang mediator,

arbitrator, konsiliator dan konsultan.25

1. Mediator adalah pihak ketiga yang bersifat netral yang memfasilitasi

negosiasi solusi dengan menggunakan penalaran dan persuasi yang

menyodorkan alternatif dan semacamnya.

2. Arbitrator adalah pihak ketiga yang memiliki wewenang untuk

menentukan kesepakatan. Kelebihan abritrasi adalah selelu

menghasilkan peneyelesaian walaupun hasil kesepakatan berdampak

negatif maupun positif.

3. Konsiliator adalah pihak ketiga yang dipercaya untuk membangun

relasi komunikasi informal antara perunding dengan lawannya dalam

praktiknya, konsiliator bertindak lebih dari sekedar saluran komunikasi,

tetapi mereka terlibat dalam pencarian fakta, penafsiran pesan dan

usaha untuk membujuk pihak-pihak yang berkonflik untuk membentuk

kesepakatan.

4. Konsultan adalah pihak ketiga yang terlatih dan tidak berpihak yang

berupaya memfasilitasi pemecahan masalah melalui komunikasi dan

25

34

analisis, dengan dibantu oleh pengetahuan mereka menegenai

manajemen konflik. Berbeda dengan peran-peran sebelumnya, peran

konsultan bukanlah penyelesaian persoalan, melainkan memperbaiki

hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik sehingga mereka dapat

mencapai penyelesaian sendiri. Alih-alih menawarkan solusi-solusi

yang spesifik, konsultan membantu para pihak yang berkonflik saling

belajar memahami dan bekerjasama.

Taktik yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian konflik melalui

pihak ketiga dijelaskan Peg Pickering dalam buku How to Manage Conflict

menjelaskan metode yang dilakukan pihak ketiga antara lain:26

1. Negoisasi, dengan cara meminta pihak-pihak yang terlibat duduk

berhadap-hadapan dan berupaya bersama-sama mencari pemecahan dengan

disaksikan pihak luar.

2. Mediasi ,dengan cara kedua tim membeberkan persoalan kepada tim

intervensi. Metode ini akan mendorong diskusi dan mengusahakan agar

pihak-pihak yang bertikai terus berupaya mencari jalan keluar yang

disepakati bersama. Dalam proses mediasi biasanya pihak-pihak yang

bertikai bertanggung jawab mencari landasan yang sama dan jalan

keluarnya.

3. Arbirtari, metode ini menggunakan cara setiap pihak membeberkan

argumen terbaik tim abitrase memenangkan salah satu pihak. taktik ini jelas

membawa kerugian besar terhadap kedua belah pihak. namun, konflik

26

35

tahap tinggi dapat diselesaikan. Arbitrasi, terutama yang mengikat harus

ditegakkan. Semua pihak harus mematuhi dan menerima keputusan tim

arbitrasi.

Beberapa metode di atas dapat digunankan dalam mengatasi konflik

sebagaimana proses penyelesaian konflik PSSI yang menggunakan pihak ketiga

yaitu dibentuknya Komite Normalisasi yang dipimpin Agum Gumelar karena PSSI

dianggap oleh FIFA tidak bisa mengatasi persepakbolaan di Indonesia.dan juga

Banding yang memutuskan dijegalnya Arifin Panigoro George Toisuta dan

36

Dokumen terkait