• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KRONOLOGI KONFLIK DAN PERAN PEMERINTAH

D. Proses Penyelesaian Konflik PSSI dan KPSI

Menurut Bagja waluya penanganan konflik di dalam konflik memiliki dua

kepentingan yang berbeda dan utama yaitu :

3. Kepentingan untuk mencapai tujuan pribadi.

4. Kepentingan untuk mencapai hubungan baik dengan kelompok lain.

Pada dasarnya manusia selalu ingin menjaga keharmonisan terhadap orang

lain atau kelompok namun dalam beberapa kesempatan setiap pihak meemliki

keinginan pibadi. Pihak yang berkonflik mempunyai tujuan yang berbeda dengan

kelompok yang lain yang kemudian perbedaan keinginan inilah yang membuat

pergesekan atau konflik terjadi. Adanya dua kepentingan yang berbeda dapat

memepengaruhi seseorang bertindak dalam suatu konflik. dengan melihat dua

perbedaan tersebut terdapat berbagai cara dalam menangani konflik. Pihak yang

berkonflik akan melakukan tindakan untuk mengatasi konflik atau dengan

menggunakan pihak ketiga dalam penyelesaian konflik.

Tawar menawar atau negoisasi. Metode ini biasanya mencari kompromi

yang mengorbankan sebagian tujuan pribadi dan membujuk pihak lain yang

berkonflik dengan dirinya agar ikut berkorban juga. Metode ini mencari

penyelesaian terhadap konflik yang menempatkan kedua belah pihak memperoleh

sesuatu. Ia ingin mengorbankan sebagian tujuan pribadinya dan sebagian hubungan

94

Proses penyelesaian konflik PSSI mebuka negosisasi kepada KPSI untuk

menyelesaikan konflik Dalam Proses negosisasi di Kuala Lumpur Malaysia PSSI

memberikan Lima penawaran kepada KPSI antara lain:

1. PSSI akan merujuk AFC Club Licensing Regulation (CLS) sebagai dasar

seleksi klub profesional. Semua peserta wajib mematuhi ketentuan CLR,

namun PSSI menyadari kesulitan yang akan dihadapi sehubungan dengan

status anggota klubnya saat ini dalam memenuhi ketentuan CLR tersebut.

PSSI terus berupaya dan berkonsultasi dengan AFC agar semua klub

peserta pada akhirnya dapat memenuhi semua ketentuan yang ditetapkan.

2. PSSI mengajukan nama baru untuk tingkat tertinggi kompetisi sepak bola

profesional. Untuk kompetisi selanjutnya nama ISL atau IPL tidak lagi

digunakan. Dikhawatirkan pemakaian salah satu dari kedua nama tersebut

dapat memicu resistensi klub peserta liga dalam upaya menggabungkan dua

liga menjadi satu liga tunggal.

3. PSSI menawarkan agar pemilihan CEO baru penyelenggara Liga

didasarkan pada kemampuan menguasai sistem. Calon harus memiliki

pengalaman luas dalam mengelola kompetisi sepak bola rofessional dan

jaringan internasional sehingga PSSI dapat bangkit kembali dan

membangun kembali liga rofessional yang baru.

4. PSSI mengijinkan ISL dan IPL menyelesaikan kompetisi di musim yang

berjalan sesuai jadwalnya masing-masing. Tetapi, PSSI harus memiliki

wewenang penuh mengatur dan mengelola pertandingan-pertandingan ISL

95

5. PSSI akan menghargai dan menghormati penawaran tertinggi sebagai

pemenang sponsor utama liga professional yang baru.

Selain penyelesaian dengan dua pihak yang berkonflik, adakalanya konflik

perlu diselesaikan oleh pihak ketiga. Beberapa kelompok yang disebut pihak ketiga

antara lain adalah Mediator, Abritator, Konsiliator dan konsultan, yang yang

bersikap netral dalam mengtasi konflik dan tidak terlibat konflik. Tim intervensi

dapat memainkan peran negosiasi, mediasi dan arbitrari. Dari beberapa proses

negosiasi dan mediasi yang dipimpin oleh tim task force bentukan FIFA. Tim Task

Force dipimpin oleh Wakil Presiden AFC yaitu Pangeran HRH Abdullah Ibni Sultan Ahmad Shah dan anggota Komite Eksekutif AFC Datoí Worawi

Makudithat, bertugas membantu PSSI mencari jalan keluar kekisruhan

penyelengaraan liga sepakbola di Indonesia. Satuan Kerja (Task Force) AFC

bertemu dengan PSSI dan wakil-wakil ISL. Pertemuan menghasilkan kesepakatan

kedua belah pihak untuk mengadakan diskusi lanjutan demi kepentingan

persepakbolaan Indonesia.

Tim Task Force AFC mengadakan pertemuan pada tanggal 6-7 Juni di

Kuala Lumpur, Malaysia. Dari pertemuan tersebut diperoleh kesepakatan antara

PSSI dan KPSI untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di persepakbolaan

Indonesia. Bentuk kesepakatan itu adalah dengan menandatangani nota

96

oleh wakil-wakil dari PSSI, KPSI, dan diketahui oleh perwakilan AFC dan FIFA.

Berikut isi MoU antara PSSI, ISL dan KPSI 90:

1. PSSI sepakat mengangkat kembali keempat anggota Komite Eksekutif

PSSI yang sudah diberhentikan: La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw,

Erwin Dwi Budiawan andi Tony Apriliani. Namun prosedur

pengangkatannya kembali akan ditetapkan oleh Komite Gabungan

PSSI.

2. ISL secepatnya menyatakan di bawah jurisdiksi PSSI, terutama

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kedisiplinan, administrasi dan

transfer pemain dan penunjukkan pengawas pertandingan sampai

satu-satunya liga sepak bola profesional Indonesia terbentuk. Sambil

menunggu, ISL diperbolehkan beroperasi secara mandiri.

3. Para pihak sepakat bahwa KPSI akan dibubarkan dan berhenti

beroperasi sebagai badan penyelenggara sepak bola nasional. Selain itu,

para pihak juga sepakat bahwa KPSI akan dilebur dan karena itu

dibubarkan sebagai sebuah badan segera setelah diadakannya konggres

PSSI yang akan datang.

4. Para pihak sepakat membentuk sebuah Komite Gabungan PSSI yang

beranggotakan dari masing-masing pihak bertugas mengevaluasi IPL

dan ISL dalam rangka membentuk sebuah dan satu-satunya liga sepak

bola profesional di Indonesia secepatnya. Komite tersebut bekerja di

bawah pengawasan dan kerjasama dengan Satuan Kerja (Task Force)

90

97

AFC Indonesia dan bertanggung jawab untuk bekerjasama dengan

FIFA dan AFC mengenai kajian statuta PSSI dan hal-hal terkait

lainnya.

Komite Gabungan PSSI terdiri dari:

I. Ketua: ditunjuk oleh PSSI

II. Wakil Ketua: ditunjuk oleh ISL/KPSI;

III. Anggota: 3 anggota ditunjuk oleh IPL dan 3 anggota lainnya

oleh ISL/KPSI;

5. Para pihak sepakat mengadakan Kongres PSSI paling lambat akhir

2012 termasuk adopsi statuta baru. Komposisi kongres PSSI tetap sama

seperti kongres PSSI yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2011

dengan dihadiri FIFA dan AFC dan agenda kongres wajib mendapat

persetujuan dari AFC Task Force Indonesia. Verifikasi komposisi

kongres tersebut akan dibahas dan ditetapkan oleh Komite Gabungan

PSSI untuk mencegah masuknya anggota illegal.

MoU berjalan tidak lama karena PSSI dak KPSI terlibat perselisihan, di

pihak yang lain pemerintah mendapat tamparah keras karena Menpora Andi

Malarangeng terlibat kasus korupsi dana proyek Hambalang. Jabatan Menpora

sementara dimandatkan kepada Menkokesra Agung Laksono sebagai pejabat

sementara. Dalam periode singkat ini menpora melakukan berbagai sikap antara

lain adalah mengesahkan digulirnya ISL (Liga Super Indonesia) yang sebelumnya

dianggap PSSI sebagai kompetisi illegal karena ISL diikuti Tim papan atas

98

1. Adanya komitmen untuk menghilangkan dualisme kepengurusan organisasi

sepakbola nasional dan penyatuan kompetisi.

2. Komitmen untuk membentuk satu Timnas yang mewakili kekuatan

nasional. Karena sebelumnya pihak KPSI membentuk timnas tandingan

dan melarang para pemain dari ISL untuk memperkuat timnas PSSI.

3. Komitmen untuk menyelesaikan segala bentuk kewajiban klub-klub

terhadap pemain, pelatih dan ofisial lainya yang tertunda pada kompetisi

2011-2012.

Jika tiga syarat tersebut tidak bisa dipenuhi, maka pemerintah melalui

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) bersama POLRI akan mencabut

rekomendasi tersebut dan semua kompetisi wajib untuk dihentikan.

Tanggal 11 januari 2013, Menteri Pemuda dan Olahraga dijabat oleh kader

partai Demokrat Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo atau

disingkat KRMT Roy Suryo Notodiprojo atau lebih dikenal sebagai Roy Suryo.

Roy Suryo lebih berani melakukuan intervensi langsung terhadap PSSI. Pada

periode ini PSSI lebih koperatif terhadap pemerintah berbeda dengan periode

Nurdin Halid yang menolak bentuk intervensi dari pihak manapun diluar PSSI.

Pemerintah langsung dan cepat mencari solusi terbaik untuk mengatasi konflik

PSSI jadi proses mediasi dan konsiliasi tidak menemui kendala yang berarti.

Metode mediasi dan langkah awal periode Roy Suryo dalam mengatasi

permasalahan Tim Nasional adalah membentuk BTN (Badan Tim Nasional). BTN

99

bersatu membela Indonesia. Keputusan pembentukan BTN menuai Pro dan Kontra

karena statuta FIFA dan PSSI tidak membahas tentang BTN bila pembentukan

dipaksakan akan melanggar Statuta. Menpora mengungkapkan rencana

membentuk BTN bukan untuk mengintervensi PSSI. Badan ini hanya akan

memfasilitasi pemanggilan pemain. Menpora juga mengaku sudah mendapat

dukungan dari Presiden AFC Zhang Jilong untuk menyelesaikan polemik yang

terjadi di sepak bola Indonesia.91

Pemerintah tidak peduli dengan perkataan pihak-pihak yang mengangggap

Roy Suryo terlalu mengintervensi karena bila tidak secepatnya PSSI juga akan

menunggu terkena sanksi dari FIFA dan mencoreng muka Indonesia di

internasional. FIFA akhirnya secara langsung untuk meminta pemerintah

melakukan mediasi dan konsiliasi untuk mengakhiri konflik PSSI. Alasan FIFA

meminta pemerintah karena pemerintah sangat tahu dengan kondisi di Indonesia

dan FIFA seakan tidak percaya lagi dengan pengurus PSSI dan pihak yang

berkonflik di PSSI, dan untuk mengatas konflik dibutuhkan pihak ketiga yaitu

pemerintah untuk membantu mengatasi konflik. Proses mediasi dimulai Tanggal

18 Februari Menpora mengadakan pertemuan dengan PSSI, KPSI dan KONI

untuk membahas kongres tanggal 17 Maret 2013 serta kesepakatan PSSI dan KPSI

empat solusi penyelesaian konflik rekomendasi FIFA antara lain :

1. Revisi Statuta PSSI.

2. Pengembalian empat EXCO.

91

Lihat, http://soccer.sindonews.com/read/2013/02/13/58/717416/pssi-btn-bentuk-intervensi pemerintah, (diakses tanggal 7 September 2013) pukul 08.04 WIB

100 3. Unifikasi Liga.

4. Kongres dengan voter Solo.

Dokumen terkait