• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRISIS SISTEM KEUANGAN

E. Penanganan Terhadap Bank Yang Berdampak Sistemik

Penetapan bank berdampak sistemik merupakan langkah mitigasi awal dalam menghadapi potensi krisis keuangan. Sebagian besar dana masyarakat saat ini dikelola oleh sektor perbankan khususnya bank sistemik. Penetapan tersebut dilakukan setelah Komite Stabilitas sistem Keuangan yang bernggotakan Menteri Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melakukan rapat secara reguler sejak UU PPKSK disahkan.124

Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan telah diresmikan oleh DPR RI Maret 2016, hadirnya Undang-Undang in bisa meminimalisir krisis keuangan di Indonesia lewat penanganan bank sistemik. Permasalahan sistemik ikut mempengaruhi gagalnya sistem keuangan dan perekonomian nasional.125

124

Firdaus, KKSK: Tertutup Diumumkan Ke Publik-Kategori Bank Berdampak Sistemik, www.neraca.co.id>article.com, diakses Selasa 18 Juli 2017, Pukul 13:02 WIB.

125

Ardan Adhi Chandra, https;//m.detik.com/finance/moneter/38268/begini-cara-selamatkan- bank-sstemik-selain-suntik-modal, diakses Rabu 19 Juli 2017, Jam 05:02 WIB.

Dalam hal penanganan permasalahan Bank Sistemik, baik dalam kondisi Stabilitas Sistem Keuangan normal maupun kondisis Krisis Sistem Keuangan merupakan tugas dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan terdapat dalam Pasal 5 ayat (c).

Adapun penetapan bank sistemik yang dilakukan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan terdapat dalam Pasal 17 Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan sebagai berikut:

(1) Untuk mencegah Krisis Sistem Keuangan di bidang perbankan, Otoritas Jasa Keuangan berkoordinasi dengan Bank Indonesia menetapkan Bank Sistemik.

(2) Penetapan Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pertama kali dilakukan pada kondisi Stabilitas Sistem Keuangan normal.

(3) Otoritas Jasa Keuangan berkoordinasi dengan Bank Indonesia melakukan pemutakhiran daftar Bank Sistemik secara berkala 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan. (4) Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan hasil penetapan dan pemutakhiran daftar Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan terdiri dari dari Menteri Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lebaga Penjain Simpanan hal ini terdapat dalam pasal 4 ayat (3). Undang-Undang ini memberikan kewenangan kepada Komite Stabilitas sistem Keuangan dalam hal penentuan suatu bank sistemik atau non sistemik. Fokus utama Undang-Undang ini adalah Pencegahan dan Penanganan bank sistemik, maka dari itu menurut Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan mekanisme yang tepat dalam penanganan bank sistemik adalah bail in. Artinya rencana aksi dalam mengatasi permasalahan solvabilitas bank gagal akan dilakukan dengan melibatkan sumber daya bank itu sendiri tanpa melibatkan APBN.

Sebelum menggunakan mekanisme bail in Indonesia pernah menggunakan mekanisme bail out yang mana mekanisme tersebut berpotensi menimbulkan moral hazard atau insentif negatif. Adanya jaminan bahwa bank sentral dan/atau pemerintah akan memberikan bantuan kepada institusi keuangan yang dillit persoalan likuiditas akan menyebabkan banyak institusi keuangan cenderung melakukan tindakan-tindakan yang tidak prudent dan berisiko tinggi hanya mengejar keuangan semata. Adapun dari beberapa negara, bail out yang diberikan Pemerintah menyebabkan keuangan publik yang tidak stabil yang mengancam solvabilitas dari bank-bank dengan pengenaan pajak yang berat pada surat jaminan utang yang dikeluarkan dan dijamin oleh pemerintah.126

Mekanisme bail in ini berbeda dengan konsep bail out yang pada era krisis 1998. Konsep bail out berarti mekanisme penyelamatan bank gagal lebih banyak meng guna kan sumber daya dari luar bank, yang notabene lebih banyak ber- sumber dari negara (APBN). Pengutamaan mekanisme bail in ini adalah untuk mencegah terjadinya moral hazard yang dapat merugikan keuangan negara. Dengan mewajibkan mekanisme auto recovery melalui bail in ini, manajemen bank diharapkan dapat menjalankan bisnisnya secara hati-hati (prudent). Namun, apabila mekanisme bail in ini Penyelamatan Bank Sistemik menggunakan mekanisme bail-out pernah dilakukan oleh Indonesia terhadap Bank Century. Dimana hal ini memicu terjadinya gejolak dalam perekonomian nasional pada saat itu. Maka dengan itu lahirnya Undang-Undaang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan mendandai lahirnya mekanisme bail-in.

126

Lembaga Pembinaan Hukum Indonesia ( Bina Hukum), Proposal Penelitian Hukum “Bail-In Sebagai Alternatif Restrukturisasi Bank Bermasalah, hal 1.

belum mampu menyelesaikan masalah solvabilitas bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengalihkan penanganannya kepada LPS. Menurut UU PPKSK, LPS dimungkinkan menerapkan konsep bridge bank (BB) dan purchase and assumption (P&A) untuk menangani permasalahan solvabilitas sehingga penggunaan dana LPS dapat diminimalkan.127

Salah satu konsekuensi penting diberlakukannya UU PPKSK adalah terkait dengan penetapan bank sistemik. Penetapan bank sistemik ini penting, karena akan menjadi acuan untuk mengukur risiko sistem keuangan, juga sebagai acuan bagi pemilik dan manajemen bank yang masuk sebagai bank sistemik. Kriteria penetapan bank sistemik juga harus jelas dan tegas. Menurut UU PPKSK, penetapan bank sistemik dilakukan pada kondisi normal dan hanya dapat dimutakhirkan secara berkala setiap enam bulan sekali. Kepastian terkait kriteria bank sistemik ini penting terutama untuk menghindari terjadinya beragam penafsiran, sebagaimana yang terjadi pada kasus Bank Century. Dan yang lebih penting, kepastian ini juga diperlukan untuk menghindari pot ensi moral hazard apabila pemutakhiran tersebut dapat dilakukan sewaktu-waktu.128

Dalam hal penanganan permasalahan solvabilitas bank sistemik Komite Stabilitas Sistem Keuangan berwenang menyerahkan penanganannya kepada Lembaga Penjamin Simpanan terdapat dalam Pasal 6 ayat (h).

127

Sunarsip, UU PPKSK; Era Baru Penanganan Bank Gagal, finansial.bisnis.com/read/20160328/90/531790/uu-ppksk-era-baru-penanganan-bank-gagal,diakses Rabu, 19 Juli 2017.

128

Sunarsip, UU PPKSK; Era Baru Penanganan Bank Gagal, finansial.bisnis.com/read/20160328/90/531790/uu-ppksk-era-baru-penanganan-bank-gagal,diakses Rabu, 19 Juli 2017

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan UU No. 24 Tahun 2004. Lembaga ini bertanggungjawab kepada Presiden. Organ LPS terdiri atas Dewan Komisioner (DK) dan Kepala Eksekutif (KE) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Berdasarkan Pasal 81 UU No. 24/2004, kekayaan LPS merupakan asset negara yang dipisahkan, dan karena itu pengelolaan dan penatausahaan kekayaannya terpisah dari mekanisme APBN. Konsideran UU No.24/2004 menyatakan bahwa dibentuknya UU tentang Lembaga Penjamin Simpanan ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan program penjaminan simpanan nasabah bank dalam rangka mendukung sistem perbankan yang sehat dan stabil guna menunjang terwujudnya perekonomian nasional yang stabil dan tangguh. Untuk maksud demikian itulah negara membentuk LPS sebagai instrumen kelembagaan yang dilengkapi dengan fungsi (a) menjamin simpanan nasabah penyimpan, dan (b) turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya, di samping dan bersama-sama dengan otoritas lainnya, yaitu bank sentral. Adapun tugas LPS terdapat dalm Pasal 5 ayat (2) adalah: (a) merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan; (b) merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik; dan (c) melaksanakan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik.129

Adapun penanganan permasalahan bank sistemik meliputi penanganan permasalahan likuiditas dan solvabilitas bank. Bank sistemik yang mengalami kesulitan likuiditas dapat mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia untuk mendapatkan

129

Jimly Asshiddiqie, Penanganan Bank Gagal Oleh Lembaga Penjamin Simpanan ww.jimlyschool.com/read/analisis/324/penanganan-bank-gagal-oleh-lembaga-penjamin-simpanan,

pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah, dimana hal ini telah diatur dalam PBI No.19/4/PBI/2017 tentang pembiayaan Likuiditaas Jangka Pendek Syariah bagi Bank Umum Syariah. Pasal 20 ayat (2) menyebutkan bahwa :

a. Dalam pemberian pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1): b. Otoritas Jasa Keuangan melakukan penilaian mengenai pemenuhan persyaratan

solvabilitas dan tingkat kesehatan Bank Sistemik; dan

c. Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan melakukan penilaian mengenai pemenuhan persyaratan agunan dan perkiraan kemampuan Bank Sistemik untuk mengembalikan pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah.

3) Pemberian pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah harus dijamin dengan agunan yang berkualitas tinggi berupa surat berharga yang memiliki peringkat tinggi dan mudah dicairkan. (4) Dalam hal Bank Sistemik tidak memiliki agunan surat berharga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam jumlah yang cukup, Bank Sistemik dapat menggunakan aset kredit dengan kolektibilitas lancar sebagai agunan pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah.

(5) Berdasarkan hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Bank Indonesia memutuskan pemberian pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah.

(6) Pemberian pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan berdasarkan Undang-Undang ini dan Undang-Undang mengenai Bank Indonesia.

(7) Otoritas Jasa Keuangan berkoordinasi dengan Bank Indonesia melakukan pengawasan terhadap Bank Sistemik yang menerima pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan likuiditas jangka pendek berdasarkan prinsip syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk memastikan penggunaannya dan pelaksanaan rencana pembayarannya kembali sesuai dengan perjanjian.

Penanganan permasalahan solvabilitas bank sistemik berdasarkan pasal 21 adalah sebagai berikut :

(1) Dalam hal terdapat Bank Sistemik yang mengalami permasalahan solvabilitas, Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan wewenangnya melakukan penanganan permasalahan solvabilitas, termasuk memastikan pelaksanaan rencana aksi Bank Sistemik.

(2) Otoritas Jasa Keuangan memberitahukan kepada Lembaga Penjamin Simpanan untuk melakukan persiapan penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Dalam hal Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kondisinya memburuk dan ditetapkan sebagai Bank dalam pengawasan khusus, Otoritas Jasa Keuangan meminta Lembaga Penjamin Simpanan meningkatkan intensitas persiapan penanganan Bank Sistemik.

(4) Dalam meningkatkan intensitas persiapan penanganan Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan koordinasi dengan Lembaga Penjamin Simpanan:

a. meminta pengurus Bank untuk menjaga kondisi keuangan Bank sehingga tidak terjadi penurunan aset dan/atau peningkatan kewajiban Bank Sistemik secara material;

b. meminta pengurus Bank untuk mendukung pelaksanaan pengalihan aset dan kewajiban Bank Sistemik; dan/atau

c. memfasilitasi Lembaga Penjamin Simpanan dalam melakukan pemasaran atas aset dan/atau kewajiban Bank Sistemik dan memfasilitasi calon Bank penerima untuk melakukan uji tuntas dalam hal akan dilakukan pengalihan aset dan/atau kewajiban Bank Sistemik.

(5) Dalam hal penanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) tidak dapat mengatasi permasalahan solvabilitas Bank Sistemik, Otoritas Jasa Keuangan meminta penyelenggaraan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan disertai dengan rekomendasi langkah penanganan permasalahan Bank Sistemik.

(6) Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diselenggarakan untuk menetapkan langkah penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik.

(7) Langkah penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilakukan dengan:

a. memutuskan penyerahan Bank Sistemik kepada Lembaga Penjamin Simpanan untuk dilakukan penanganan berdasarkan Undang-Undang ini dan Undang-Undang mengenai Lembaga Penjamin Simpanan; dan

b. menetapkan langkah yang harus dilakukan oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan sesuai dengan wewenang masing-masing untuk mendukung pelaksanaan penanganan Bank Sistemik oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

(8) Ketentuan mengenai penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan persiapan penanganan Bank Sistemik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan

Pasal 22

(1) Penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik oleh Lembaga Penjamin Simpanan dilakukan dengan cara:

a. mengalihkan sebagian atau seluruh aset dan/atau kewajiban Bank Sistemik kepada Bank penerima;

b. mengalihkan sebagian atau seluruh aset dan/atau kewajiban Bank Sistemik kepada Bank Perantara; atau

c. melakukan penanganan Bank sesuai dengan Undang-Undang mengenai Lembaga Penjamin Simpanan.

(2) Ketentuan mengenai pemilihan cara penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik dan tata cara penanganan permasalahan solvabilitas Bank Sistemik

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan.

Dalam hal penanganan bank berdampak sistemik bukan hanya tugas dari Lembaga Penjamin Simpanan, namun juga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan. bank sistemik adalah bank yang dapat mengakibatkan gagalnya sebagian atau keseluruhan bank lain atau sektor jasa keuangan, jika bank tersebut mengalami gangguan atau gagal. Bank ditetapkan sistemik dengan mempertimbangkan ukuran aset, modal, dan kewajiban, luas jaringan atau kompleksitas transaksi, serta keterkaitan dengan sektor keuangan lain.Dalam hal penanganan bank sistemik, OJK merilis tiga aturan turunan yaitu pertama Peraturan OJK (POJK) Nomor 14 Tahun 2017 mengenai penetapan status dan tindak lanjut pengawasan bank umum. Aturan ini sesuai amanat Pasal 21 UU PPKSK yang mewajibkan OJK merumuskan kebijakan untuk penanganan permasalahan solvabilitas bank berdampak sistemik. Selanjutnya, POJK Nomor 15 Tahun 2017 mengenai rencana aksi (recovery plan) bagi bank berdampak sistemik. Aturan ini sesuai amanat Pasal 19 UU PPKSK, yang meminta OJK membuat detil terkait langkah penyehatan bank. Terakhir, POJK Nomor 16 Tahun 2017 mengenai bank perantara yang merupakan amanat dari pasal 22 UU PPKSK. Namun dalam hal ini apabila OJK tidak mampu menyelamatkan bank tersebut maka akan dilimpahkan ke Lembaga Penjamin Simpanan. Lembaga Penajamin Simpanan dalam hal penyelamatan bank sistemik memanfaatkan dana yang berasal dari pengumpulan premi dari perbankan, namun jika dana yang dimiliki LPS tidak memadai maka akan diadakan penerbitan surat utang.

OJK juga mewajibkan pemegang saham pengendali atau investor menambah modal bank sistemik dan mampu mengkonversi jenis utang atau investasi untuk menambah modal bank sistemik jika dihadapkan pada potensi krisis. Peran aktif pemegang saham atau internal bank ini yang menjadi salah satu perubahan mendasar melalui skema "bail out", dan berbeda dengan "bail in". Sedangkan, untuk POJK mengenai Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum, OJK akan mengkategorikan keadaan pengawasan bank menjadi tiga yakni pegawasan normal, pengawasan intensif, dan khusus.130

Purchase and Assumptions

Adapun cara penanganan Bank SIB oleh Lembaga Penjamin Simpanan sebagai beikut :

Bridge Bank Penanganan Sesuai UU LPS Pengalihan sebagian

atau seluruh aset dan/atau kewajiban bank kepada bank penerima. Apabila nilai kewaiban yang dialihkan lebih besar dibandingkan aset yg dialihkan,maka selisihnya ditutup secara cash oleh LPS.

Bank umum yang didirikan oleh LPS yg digunakan sebagai sarana resolusi dengan menerima pengalihan sebagian atau seluruh aset dan/atau kewajiban Bank yang ditangani LPS. Apabila nilai kewaiban yang dialihkan lebih besar dibandingkan aset yg dialihkan, maka selisihnya ditutup secara cash oleh LPS

Cara penanganan bank sistemik yang dilakukan dengan penambahan modal oleh LPS ke dalam bank, dengan atau tanpa

mengikutsertakan pemegang saham lama 131

130

Nanda Narendra putra, Menelisik Kembali Skema Penanganan Bank Krisis, Beda Rezim Beda Kebijakan,

131

Setelah Komite Stabilitas Sistem Keuangan menyerahkan penanganan bak berdampak sistemik kepada LPS, maka demikian LPS dan Otoritas Jasa Keuangan saling berkoordinasi dalam penanganan Bank berdampak Sistemik.

Pengananan Bank Sistemik sekarang ini menggunakan mekanisme bail in sebagai alternatif penyelamatan bank sistemik bermasalah. Konsep bail-in diperkenalkan oleh Credit Suisse yang mengatakan bahwa cara terbaik penangan bank sistemik bermasalah adalah dengan memaksa kreditur, bukan pembayar pajak, menanggung kerugian bank. Terkait dengan pemikiran mengganti bail-out dengan bail-in, di Amerika Serikat, Undang-undang Dodd-Frank Wall Street Reform and Consumer Protection yang diterbitkan pada tahun 2010, sebagai reaksi krisis keuangan yang melanda AS tahun 2008, mengakhiri kebijakan bail-out bagi bank too big too fail. UU Dodd-Frank menetapkan tidak ada uang pembayar pajak yang akan digunakan untuk menyelamatkan atau menjamin biaya likuidasi bank yang too big too fail. UU tersebut antara lain menetapkan: i) Federal Reserve menerapkan persyaratan permodalan yang lebih tinggi dan manajemn risiko yang lebih ketat untuk membuat terlalu mahal bagi suatu bank menjadi too big too fail; ii) bank-bank besar secara berkala diwajibkan menyusun dan melaporkan rencana penutupan bank apabila bank mengalami kesulitan keuangan; iii) untuk mencegah terjadinya rush, Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) dapat menerbitkan jaminan dengan persyaratan ketat; iv) dibutuhkan persetujuan 2/3 suara Dewan FDIC untuk menetapkan bahwa terdapat ancaman terhadap stabilitas system

keuangan sehingga FDIC perlu menerbitkan jaminan; dan v) menteri keuangan harus menyetujui syarat dan ketentuan dan jumlah maksimal jaminan yang diterbitkan FDIC. konsep bail-in perlu didampingi dengan tiga pilar yaitu: pengawasan, internal governance dan disiplin pasar. Pengawasan yang dilakukan oleh bank sentral harus dilengkapi dengan disiplin internal dari perbankan dan displin eksternal (pasar). Tanpa disiplin tersebut, pengawasan tidak akan mampu berpacu dengan kecepatan liberalisasi, globalisasi dan kemajuan teknologi pada instrumen keuangan. Dengan melibatkan internal governance, berarti perbankan sendiri harus merupakan tempat terbaik dalam mengatur dan memelihara praktik manajemen yang sehat. Kehadiran disiplin pasar diperlukan, karena tanpa pasar yang kompetitif dan punitive ataskegagalan bersaing di pasar maka tidak cukup insentif bagi pemilik bank, pengurus dan nasabah untuk melakukan keputusan keuangan yang tepat. Disiplin pasar memerlukan iklim keterbukaan yang kondusif. 132

132

Zulkarnain Sitompul, BIL In : Meningkatkan Tanggung Jawab pemilik dan Kreditur Bank,

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN