II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teoritis
2.1.2. Penataan Ruang Wilayah
Menurut Asyiawati (2002), bentuk-bentuk penataan ruang wilayah dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan, meliputi kawasan lindung
dan kawasan budidaya.
2. Penataan ruang berdasarkan aspek administrasi tata ruang administrasi
meliputi rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah
provinsi, dan tata ruang kabupaten/ kota.
3. Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi
kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu seperti kegiatan
pembangunan skala besar untuk kegiatan industri, pariwisata beserta sarana
dan prasarananya.
Sementara Misra (1981), mengatakan pengembangan spatial meliputi
dua faktor utama yaitu:
1. Adanya pola pemukiman di dalam wilayah.
2. Adanya tata guna lahan yang dikelola secara optimal dan eksploitasi
sumberdaya yang terkendali.
Menurut Wikantiyoso (1996), tantangan pembangunan wilayah pusat
terletak pada penciptaan keseimbangan wilayah sehingga diperlukan keterpaduan
pembangunan ekonomi dengan kebijakan pengembangan tata ruang (spatial)
wilayah dalam skala regional.
Parlindungan (1993), menjelaskan Undang-undang No.24 tahun 1992
1. Pencapaian tata ruang kawasan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang
dalam pembangunan.
2. Meningkatkan fungsi kawasan antara perkembangan lingkungan dengan tata
kehidupan masyarakat.
3. Menata atau mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran
rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif dari pengelolaan
lingkungan alam, lingkungan alam buatan dan lingkungan sosial.
Undang-undang penataan ruang wilayah nasional maupun provinsi secara
makro sudah mulai diperdebatkan sejak Desember tahun 1977 di kota Ambon.
Dalam perkembangannya kerangka teoretis penataan ruang wilayah didasarkan
pada sejumlah sistem yang telah berkembang sampai dewasa ini.
Dalam undang-undang penataan ruang wilayah yang dimaksudkan dengan:
1. Ruang adalah: wadah yang meliputi ruang daratan, ruang laut dan ruang udara
sebagai satu kesatuan wilayah. Tempat dimana manusia dan makhluk hidup
lainnya melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Tata Ruang adalah: wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik
direncanakan maupun tidak.
3. Penataan ruang adalah: proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
4. Rencana Tata Ruang adalah: hasil perencanaan tata ruang.
5. Wilayah adalah: ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur-unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratif dan atau aspek fungsional.
7. Kawasan Sentra Produksi adalah: wilayah yang kegiatan ekonominya
terkonsentrasi pada suatu aktivitas ekonomi tertentu dengan pemanfaatan
ruang serta unsur yang terkait padanya sesuai aspek fungsional dan potensi
lokal wilayahnya.
Sistematika undang-undang penataan ruang wilayah diatur berdasarkan:
1. Tata Ruang Administratif yakni, tata ruang nasional, tata ruang daerah
(provinsi, kabupaten dan kota).
2. Fungsi Kawasan yakni, fungsi yang didasarkan pada aspek kegiatan
kawasan yang meliputi, fungsi perdesaan, perkotaan dan fungsi kawasan
tertentu dengan memperhatikan aspek keserasian, keselarasan, keseimbangan
fungsi budi daya, pengelolaan secara terpadu dan fungsi lindung
(Parlindungan, 1993)
Wilayah kepulauan Provinsi Maluku adalah salah satu wilayah yang
penataan ruangnya harus berorientasi pada aspek ruang kelautan (bahari/maritim).
Hal ini disebabkan karena laut adalah matra ruang dari pola dasar pembangunan
daerah serta menjadi acuan untuk penyusunan berbagai kebijakan pembangunan
tentang pemanfaatan ruang wilayahnya.
Untuk mewujudkan keterkaitan, keselarasan dan keseimbangan
perkembangan wilayah maka salah satu pengembangan kawasan di daerah ini di
arahkan pada pengembangan kawasan sentara produksi yang berorientasi pada
pemanfaatan kawasan yang disesuaikan dengan aspek sosial budaya, ekonomi dan
aspek keuntungan lokasi (locational) berbasis kapasitas dan potensi lokal (local
Provinsi Maluku di era otonomi memiliki beberapa wilayah otonomnya
(kabupaten/kota) dengan otonomi yang luas maka sesegera mungkin melakukan
berbagai model perubahan arah dan strategi kebijakan dalam pengembangan
wilayahnya. Berkaitan dengan hal tersebut Provinsi Maluku secara makro
memiliki kemampuan untuk mengembangkan wilayahnya dengan memanfaatkan
peluang-peluang yang bersifat lokal, nasional maupun global. Peluang wilayah
lokal tersebut seperti kapasitas dan potensi lokal wilayah (local spesific) dengan
berbasis pada keunggulan sektoral wilayahnya seperti sektor bahari/maritim.
Pada umumnya penataan ruang wilayah diarahkan untuk dapat:
1. Menyusun arahan pengembangan wilayah.
2. Memanfaatkan pedoman pemanfaatan ruang secara terpadu dan menjadi acuan
pembangunan.
3. Memadukan keserasian penataan ruang kabupaten, kota dan provinsi.
4. Melakukan revisi terhadap rencana-rencana tata ruang wilayah atau arah dan
strategi kebijakan pembangunan ekonomi wilayah yang tidak sesuai dengan
kapasitas dan potensi lokal (local spesific) wilayah.
Sasaran yang dicapai dalam penataan ruang wilayah berfungsi untuk:
1. Merumuskan arahan pengelolaan kawasan seperti, kawasan lindung,
budidaya/sentra produksi.
2. Merumuskan arahan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan kawasan
tertentu.
3. Merumuskan arahan pengembangan kawasan-kawasan yang menjadi prioritas
4. Merumuskan arahan kebijakan penatagunaan lahan/tanah, air, udara, hutan,
mineral dan sumber daya alam lainnya.
Keberhasilan pengembangan kawasan sentra produksi akan memfasilitasi
pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota untuk memacu dan menerapkan
prinsip-prinsip otonomi yang didasarkan pada kapasitas dan potensi lokal (local
spesific). Orientasi wilayah dengan menerapkan prinsip otonomi haruslah
didasarkan pada keunggulan spasial dan potensi lokal wilayah tersebut. Prinsip
seperti ini didukung oleh karakteristik setiap wilayah yang heterogen dan
memiliki potensi atau keunggulan yang besar antarwilayah (interregional
linkages) dengan wilayah lainnya serta intersectoral linkages. Keunggulan potensi
local (local spesific) tersebut seharusnya mampu menjadi modal dasar sebagai
penggerak utama (prime mover) pembangunan ekonomi wilayah .
Penetapan 21 Kawasan Strategis Nasional (KSN) oleh Direktur Penataan
Ruang Wilayah dari sudut kepentingan ekonomi nasional belum memperlihatkan
peran yang menonjol dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Kawasan Strategis Nasional dimaksud hanya memperhatikan berbagai kebijakan
pengembangan wilayah pada Kawasan Barat Indonesia dengan penetapan
kawasan andalan darat dan laut di Kawasan ini. Dengan penetapan kawasan
strategis tanpa memperhatikan potensi jangka panjang wilayah maka sudah tentu
akan menimbulkan kecemburuan di antara wilayah khususnya Kawasan Barat
Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia.
Kawasan Strategis Nasional sebaiknya tidak diarahkan hanya pada salah
satu wilayah tetapi harus didasarkan pada kapasitas atau potensi wilayah yang
wilayah timur dengan laut sebagai andalannya dan wilayah barat dengan potensi
daratnya. Sehingga wilayah-wilayah ini akan berada pada suatu kawasan yang
saling membutuhkan dengan tidak merugikan wilayah lain atau saling
menguntungkan.
Pengembangan seperti hal di atas biasanya lebih dikenal dengan istilah
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) namun sampai saat ini
konsep-konsep yang bagus belum dan tidak mendapat respon karena banyak
pengambil kebijakan di pusat maupun di daerah tidak memahami betapa
pentingnya suatu konsep dalam mengembangkan wilayahnya maupun wilayah
di sekitarnya dengan lebih dulu menemukenali atau mengidentifikasi dan
menentukan potensi lokal wilayah (local spesific) berbasis karakteristik wilayah
itu sendiri.