• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Diabetes Melitus

2.2.3 Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2

Penatalaksanaan diabetes menurut (Depkes RI, 2005) memiliki tujuan

akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik

ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu:

a. Menjaga agar kadar glukosa plasma berada pada kisaran normal

b. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes

2.2.3.1 Terapi Non Farmakologi a. Pengaturan diet

Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes.

Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam

hal karbohidrat, protein dan lemak. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan,

status gizi, umur, stress akut dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan

untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Penurunan berat

badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki

respon sel-sel β terhadap stimulus glukosa. Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan dan masukan serat juga sebaiknya diperhatikan (Depkes RI,

2005).

b. Olahraga

Berolahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula

darah tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olahraga berat, olahraga ringan asal

Beberapa contoh olahraga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi,

bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Olahraga akan memperbanyak jumlah

dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (Depkes RI, 2005).

2.2.3.2 Terapi Farmakologi

Apabila penatalaksaan terapi obat (pengaturan diet dan olahraga) belum

berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu dilakukan

langkah berikutnya berupa penatalaksaan terapi obat, baik dalam bentuk terapi

obat hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi keduanya.

a. Insulin

Insulin merupakan protein kecil yang mengandung 51 asam amino

tersusun dalam 2 rantai (A dan B) yang dihubungkan oleh jembatan disulfida.

Insulin dilepaskan dari sel β pankreas dengan laju basal yang rendah dan dengan laju yang jauh lebih tinggi bila terstimulasi sebagai respon terhadap berbagai

rangsangan, terutama glukosa. Insulin meningkatkan simpanan lemak dan glukosa

di dalam sel target khusus dan mepengaruhi pertumbuhan sel dan fungsi

metabolik berbagai jaringan (Nolte dan Karam, 2012).

Sediaan insulin yang beredar di pasaran mengandung hanya peptida aktif

insulin. Ada empat jenis sediaan insulin injeksi antara lain:

i. Insulin kerja ultra pendek (rapid acting Insulin),

Insulin kerja ultra pendek mempuyai daya absorpsi pada tempat suntikan

lebih cepat (90% dalam 100 menit) dibandingkan dengan insulin regular (90%

dalam 150 menit). Onset kerja lebih cepat, puncak konsentrasi lebih tinggi dan

lebih dini, serta lama kerja lebih singkat (Deliana, et al., 2007). Contohnya insulin

5-6 jam. Insulin lispro dengan onset 15-30 menit dan masa kerja maksimum 4-6

jam (Triplitt, et al., 2008).

ii. Insulin kerja pendek (short acting insulin)

Potensi dan efek hipoglikemia insulin kerja pendek atau insulin regular,

hampir sama dengan insulin kerja ultra pendek. Selain dapat diberikan subkutan,

insulin regular adalah insulin yang dapat diberikan secara intra vena, oleh karena

itu insulin ini biasa dipakai untuk mengatasi keadaan akut seperti ketoasidosis,

pasien baru, dan tindakan bedah (Deliana, et al., 2007). Contohnya adalah insulin

regular yang memiliki onset 0,5-1 jam dengan masa kerja maksimum 6-8 jam

(Triplitt, et al., 2008).

iii. Insulin kerja menengah (intermediate insulin)

Insulin kerja menengah mempunyai onset yang lambat dan masa kerja

yang panjang tetapi masih kurang dari 24 jam. Insulin jenis ini dapat digunakan

dua kali sehari (Deliana, et al., 2007). Contohnya adalah insulin NPH (Neutral

Protamine Hagedorn) dengan onset 2-4 jam dan masa kerja maksimum 14-18 jam

(Triplitt, et al., 2008).

iv. Insulin kerja panjang (long acting insulin)

Mengingat masa kerja yang panjang, maka pemakaian insulin ini cukup

diberikan satu kali dalam satu hari. Penggunaan insulin kerja panjang secara

bermakna mengurangi kejadian hipoglikemia pada malam hari (nocturnal

hypoglycemia). Penggunaan insulin ini juga secara bermakna dapat menurunkan

kadar HbA1c serta frekuensi terjadinya hipoglikemia (Deliana, et al., 2007).

24 jam. Kemudian insulin glargine dengan onset 4-5 jam dan masa kerja

maksimum 24 jam (Triplitt, et al., 2008).

b. Obat Antidiabetik Oral

i. Golongan Sulfonilurea

Sulfonilurea digunakan sebagai salah satu terapi pada DM tipe 2 karena

dapat menstimulasi sekresi insulin. Mekanisme sekresi insulin terjadi karena

sulfonilurea dapat berikatan dengan subunit SUR1 pada kanal kalium yang

sensitif ATP (k-ATP) di sel β pankreas sehingga dapat menginduksi terjadinya penutupan kanal k-ATP. Penutupan kanal tersebut menyebabkan depolarisasi

membran sel β pankreas sehingga kanal Ca2+

yang sensitif tegangan terbuka dan

terjadi influks kalsium. Peningkatan kalsium intraseluler menstimulasi eksositosis

pelepasan granul insulin dan meningkatkan sekresi insulin (Triplitt, et al., 2008).

Obat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu glibenklamid, gliklazid,

glipizid, glikuidon, dan glimepirid. Efek samping obat golongan ini yang sering

terjadi, yaitu hipoglikemia dan peningkatan berat badan (Triplitt, et al., 2008).

ii. Golongan Biguanida

Golongan ini yang tersedia adalah metformin, metformin meningkatkan

sensitivitas insulin baik pada hati dan jaringan perifer. Metformin juga menekan

nafsu makan hingga berat badan tidak meningkat, sehingga layak diberikan pada

penderita yang overweight. Efek samping dari baguanida adalah gangguan

gastrointestinal meliputi diare dan rasa tidak nyaman pada perut (Triplitt, et al.,

iii. Golongan Tiazolidindion

Golongan obat baru ini memiliki kegiatan farmakologis yang luas dan

berupa penurunan kadar glukosa dan insulin dengan jalan meningkatkan kepekaan

bagi insulin dari otot, jaringan lemak dan hati, sebagai efeknya penyerapan

glukosa ke dalam jaringan lemak dan otot meningkat. Contoh: Pioglitazone,

Rosiglitazone (Triplitt, et al., 2008).

iv. Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase

Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim glukosidase

alfa di dalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan hiperglikemia

postprandrial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan

hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin. Contoh: Acarbose

dan Miglitol (Triplitt, et al., 2008).

v. Golongan DPP 4 Inhibitor

Penghambat Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP-4) menghambat kerja DPP-4

dalam menguraikan inkretin. Penghambat DPP-4 juga bekerja seperti GLP-1

(Glucagon like Peptide-1) yaitu menstimulasi insulin dan menghambat sekresi

glukagon, namun penghambat DPP-4 tidak menghambat pengosongan lambung.

Contoh penghambat DPP-4 adalah sitagliptin dan vildagliptin. Penghambat DPP-4

memiliki waktu paruh yang panjang kecuali Vildagliptin. Efek samping yang

sering terjadi pada penggunaan Penghambat DPP-4 adalah diare, mual, muntah

vi. Inhibitor ko-transporter natrium-glukosa 2 (Sodium-Glucose cotransporter

2 inhibitor/SGLT 2)

Inhibitor SGLT 2 menghadirkan penurunan glukosa tidak bergantung

insulin dengan memblok reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal ginjal dengan

menginhibisi SGLT 2. Agen ini menghadirkan penurunan berat badan sedang dan

penurunan tekanan darah. Contohnya adalah canagliflozin, depagliflozin,

empagliflozin. Obat ini meningkatkan glukosuria, sehingga efek samping yang

dapat timbul adalah infeksi genitourinary, poliuria, hipotensi, pusing, peningkatan

LDL-C dan peningkatan kreatinin (sementara) (ADA, 2015).

2.2.3.3 Algoritma Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2

American Diabetes Association (2015) telah mengeluarkan algoritma

penatalaksanaan DM tipe 2 dengan tahapan sebagai berikut:

a. Tahap 1

Kebanyakan pasien harus memulai dengan perubahan gaya hidup

(konseling gaya hidup, edukasi penurunan berat badan, olahraga, dll.). Apabila

perubahan gaya hidup saja tidak cukup untuk mempertahankan tujuan glikemik,

monoterapi metformin harus ditambahkan apabila tidak intoleransi dan

dikontraindikasikan. Metformin adalah agen farmakologis awal yang lebih disukai

untuk DM tipe 2.

b. Tahap 2

Apabila target HbA1C tidak tercapai dalam 3 bulan dengan monoterapi,

metformin dapat digunakan kombinasi dengan salah satu dari agen berikut:

Sulfonilurea, Thiazolidindion, inhibitor DPP-4, agonis reseptor GLP-1,

pada variasi pasien, penyakit, karakteristik obat, dengan sasaran menurunkan

KGD dan meminimalisir efek samping, terutama hipoglikemia. Obat golongan

lain tidak ditampilkan pada Gambar 2.1 misalnya α-glukosidase inhibitor, kolesevelam, bromokriptin, pramlintide karena biasa digunakan pada keadaan

spesifik, tetapi tidak diutamakan disebabkan efikasinya sederhana, frekuensi

pemberian, dan/atau efek sampingnya. Mulai terapi dengan kombinasi saat

HbA1C ≥9%. c. Tahap 3

DM tipe 2 merupakan penyakit degeneratif yang semakin lama akan

semakin parah dikarenakan progres alaminya sehingga terapi insulin akhirnya

banyak diindikasikan untuk pasien ini. Pertimbangan terapi kombinasi dengan

insulin dimulai saat KGD ≥300-350mg/dL (16,7-19,4 mmol/L) dan/atau HbA1C

≥10-12%. Insulin basal sendiri adalah regimen insulin awal yang cocok. Insulin basal biasanya diresepkan dengan metformin dan kemungkinan dengan satu

tambahan agen noninsulin. Apabila insulin basal yang telah dititrasi untuk KGD

puasa dapat diterima, tetapi kadar HbA1C masih diatas target, kombinasi terapi

injeksi dapat dipertimbangkan untuk dimulai guna menangani fluktuasi glukosa

postprandial. Pilihan menambahkan agonis reseptor GLP1-1 atau insulin saat

makan, yang terdiri dari satu sampai tiga injeksi analog insulin kerja ultra pendek

(lispro, aspart, glulisine) dapat diberikan saat sebelum makan. Atau juga dapat

menggunakan insulin campuran (formulasi NPH-regular premixed 70/30, 70/30

asprat mix). Alternatif terapi “basal-bolus” dengan multipel injeksi harian (insulin pump) jarang digunakan dan relatif lebih mahal.

Pemilihan agen farmakologis didasarkan pada individu dan pertimbangan

seperti efikasi, biaya, efek samping yang potensial, resiko hipoglikemia, dan

preferensi pasien.

Gambar 2.1Terapi antihiperglikemik pada pasien DM tipe 2: rekomendasi umum. Keterangan: DPP-4-i, inhibitor DPP-4; fx, fraktur; GI, gastrointestinal; GLP-1-RA, reseptor agonis GLP-1; GU, genitourinari; HF, heart failure (gagal jantung); Hipo, hipoglikemia; SGLT2-i, inhibitor SGLT 2; SU, sulfonilurea; TZD, thiazolidindion. * Pertimbangkan memulai tahap ini saat A1C ≥9%.

** Pertimbangkan mulai tahap ini saat KGD ≥300 -350 mg/dL (16,7-19,4 mmol/L) dan/atau A1C ≥10-12%, terutama apabila tanda atau ciri katabolik muncul (penurunan berat badan, ketosis), dalam hal ini insulin basal + insulin waktu

Dokumen terkait