BAB III KEDUDUKAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN
3.2 Pencairan Bantuan Modal dari Perusahaan Modal Ventura Kepada
Berdasarkan proses dan prosedur pengajuan bantuan modal dari UMKM kepada perusahaan modal Ventura, maka pencairan bantuan modal dari perusahaan modal Ventura kepada UMKM dilakukan setelah pengajuan bantuan modal disetujui oleh perusahaan modal Ventura dan pihak UMKM telah menyerahkan penyertaan modal. Setelah ini terlaksana, maka dibuat perjanjian kerjasama antara perusahaan modal Ventura dengan UMKM. Setelah itu, barulah pencairan bantuan modal dari perusahaan modal Ventura dapat dilaksanakan.
Pencairan bantuan modal dari perusahaan modal Ventura yang satu berbeda dengan yang lainnya. Ada perusahaan modal Ventura yang melakukan pencairan bantuan modal dengan cara menyerahkan secara tunai lepada UMKM, ada juga yang melalui transfer perbankan. Namun ada juga perusahaan modal Ventura yang melaksanakan pencairan bantuan modalnya dengan check atau giro.
Dalam hal PT. Futurindo Ventura Sejahtera yang telah beroperasi di Bali sejak tahun 2011 telah mempunyai kurang lebih 2.000 (dua ribu) nasabah peminjam. Pada awalnya sistem pencairan bantuan modal dilakukan melalui bilyet giro yang berlaku mundur. Apabila syarat dan ketentuan pemohon yang dalam hal
ini adalah PPU untuk mengambil program bantuan modal dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera telah dipenuhi oleh PPU dan disetujui oleh PT. Futurindo Ventura Sejahtera, maka PPU diharuskan menyetorkan Jaminan Penilaian Manajemen (JPM). Bantuan modal akan diterima oleh pemohon maksimal 7 hari
kerja setelah menyetorkan Jaminan Penilaian Manajemen (JPM) dalam bentuk bilyet giro mundur.
Bilyet giro adalah surat perintah nasabah yang telah distandardisasi/dibakukan bentuknya kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebut namanya pada bank yang sama atau berlainan. Pembayaran dengan Bilyet Giro merupakan pembayaran secara pemindahbukuan dari bank penyimpan dana milik penerbit kepada bank penerima dana milik pihak lain yang namanya disebut dalam Bilyet Giro ini. Bilyet Giro tidak dapat dibayar secara tunai dan hanya dapat dibayarkan kepada orang yang namanya sudah tercantum dalam Bilyet Giro tersebut, sekalipun bank penerima dana dapat bank yang sama maupun bank yang berbeda. Pembayaran dengan Bilyet Giro, antara pihak pembayar sebagai penerbit dan pihak penerima masing-masing harus sebagai nasabah suatu bank, baik bank sejenis maupun berbeda, Bilyet Giro juga dapat dialihkan kepada orang lain.
Para pihak yang terlibat dalam peredaran bilyet giro adalah:
1. Penerbit, yaitu pihak yang telah menerbitkan bilyet giro. Penerbit harus mempunyai rekening giro pada suatu bank (disebut bank tertarik).
2. Bank tertarik, yaitu bank yang mempunyai dana di bawah pengawasannya guna kepentingan penarik.
3. Pemegang, yaitu pihak yang memegang bilyet giro pada saat menawarkan di bank tertarik
1. Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 : “Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan mengunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan.”
2. Surat Edaran Bank Indonesia No. 4/670/UPPB/Pb tanggal 24 Januari 1972 yang disempurnakan dengan:
a. Surat Keputusan Direksi No. 28/32/KEP/DIR tanggal 4 Juli 1995 b. Surat Edaran No. 28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995
c. Surat Edaran No. 2/10/DASP tanggal 8 Juni 2000
d. Surat Edaran Bank Indonesia No. SE 12/8/UPPB Tentang cek/bilyet giro kosong tanggal 9 Agustus 1979.
Namun digunakannya bilyet giro sebagai alat pembayaran dalam praktek perdagangan adalah :81
1. Lebih aman penggunaannya
Bilyet giro yang telah diisi lengkap nama dan bank penerima dana tidak
dapat digunakan oleh orang lain, seandainya hilang, dicuri, atau lepas dari kekuasaan pemiliknya. Selain itu, bilyet giro tidak dapat dibayar dengan uang tunai, tidak dapat dipindahtangankan secara endosemen.
2. Pelaksanaan amanat sampai pada tujuan
Bilyet giro yang telah diisi lengkap tidak dapat diedarkan dan amanat
pemindahbukuan itu hanya untuk orang yang dimaksud sehingga rekening
81Iwan Bayu Aji, 2004, “Penggunaan Bilyet Giro dalam Lalu-lintas Pembayaran,” Makalah disajikan dalam Seminar Kajian Konstruksi Hukum Instrumen Pembayaran Giral di Indonesia, Oleh Tim PSS/PSPN, Jakarta.
yang dipindahkan hanya untuk orang tersebut sebagaimana yang dimaksudkan.
3. Amanat dapat dibatalkan
Penerbitan bilyet giro dapat dibatalkan setiap waktu apabila amanat belum dilaksanakan oleh bank. Hal ini dipergunakan sebagai upaya apabila pihak lawan tidak jujur.
4. Peran Pemerintah (Bank Indonesia)
Dorongan dan anjuran yang terus menerus untuk menggunakan bilyet giro melalui peningkatan jasa-jasa perbankan/peningkatan pelayanan mengingat penggunaan bilyet giro sangat mempengaruhi peredaran uang kartal serta dapat digunakan sebagai sarana pemupukan dana untuk biaya pembangunan.
Sama halnya dengan surat-surat berharga lainnya, maka bilyet giro juga harus ada syarat formalnya. Adapun syarat-syarat formal dalam bilyet giro antara lain :82
1. Nama dan Nomor Bilyet Giro
Nama dan nomor seri bilyet giro harus tercantum dalam bilyet giro. Nomor seri bilyet giro berguna untuk memudahkan kontrol bagi bank apakah bilyet giro yang diserahkan kepada pemilik dana sudah diterbitkan sebagai mestinya dan sudah diterima.
82Moch. Chidir Ali, Mashudi, 2007, Surat Berharga-Cek, Wesel dan GiroBilyet, CV Mandar Maju, Bandung, hal. 49.
2. Nama Bank Tertarik
Nama bank tertarik harus tercantum dalam bilyet giro. Hal ini menunjukkan bahwa penerbit adalah tersebut di mana dana sudah tersedia paling lambat pada saat amanat itu berlaku.
3. Perintah Tanpa Syarat Pemindahbukuan
Perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas beban rekening penerbit. Dana tersebut harus tersedia cukup pada saat berlakunya amanat yang terkandung dalam bilyet giro itu. Perintah pemindahbukan itu harus tanpa syarat, artinya perintah pemindahbukuan itu tidak boleh diikuti dengan syarat.
4. Nama dan Nomor Rekening Pemegang
Pemegang adalah pihak yang memperoleh pemindahbukuan dana sebagaimana diperintahkan oleh penerbit kepada bank tertarik. Agar dana dapat dipindahbukukan maka nomor dan nama rekening pemegang harus tertulis .
5. Nama Bank Penerima
Bank penerima adalah bank yang mengelola rekening pemegang. Bank penerima ini ada dua kemungkinannya, yaitu bank tertarik sendiri atau bank lain. Jika bank bank tertarik berarti pemindahbukuan itu hanya terjadi antar rekening nasabah pada bank yang sama. Tetapi apabila bank penerima itu bank lain, maka pemindahbukuan itu terjadi antar rekening dan antar bank, dan pemindahbukuannya melalui lembaga kliring.
6. Jumlah Dana yang Dipindahkan
Jumlah dana yang dipindahkan ditulis dalam bentuk angka maupun huruf selengkap-lengkapnya. Dalam hukum wesel dan cek ada ketentuan, jika terdapat selisih antara yang ditulis dalam angka dan yang ditulis dalam huruf, yang dipakai adalah yang ditulis dalam huruf. Demikian juga dalam bilyet giro ketentuan Pasal 8 Ayat (1) Surat Keputusan Direksi bank
Indonesia No. 28/32/Kep/Dir tahun1995 tentang Bilyet Giro. Alasannya adalah kemungkinan perubahan tulisan dalam huruf lebih sulit dibandingkan dengan perubahan angka.
7. Tempat dan Tanggal Penarikan
Tempat ini penting untuk mengetahui dimana perbuatan itu dilakukan. Tempat penarikan biasanya juga tempat dilakukan pembayaran, yaitu penyerahan bilyet giro kepada pemegang. Penyebutan tanggal penarikan juga penting sehubungan dengan tanggal efektif. Jika tanggal efektif tidak disebutkan, maka tanggal efektif adalah tanggal penarikan. 8. Tanda Tangan Penerbit
Tanda tangan penerbit diikuti dengan nama jelas dan/atau dilengkapi dengan persyaratan pembukaan rekening. Tanda tangan penerbit adalah mutlak adanya guna menentukan bahwa penerbit terikat dengan perbuatan hukum pemindahbukuan dana sebagai pemenuhan perjanjian (perikatan dasar) antara penerbit dan pemegang bilyet giro.
9. Tanggal Efektif
Pencantuman tanggal efektif merupakan syarat alternatif, artinya boleh dicantumkan dan boleh tidak dicantumkan. Namun jika dicantumkan maka tanggal efektif harus dalam tenggang waktu penawaran. Jika tidak dicantumkan maka tanggal efektif sama dengan tanggal penarikan. Dalam angka IV Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 2/10/DASP tanggal 8 Juni 2000 menentukan bahwa bank tertarik wajib menolak apabila suatu bilyet giro tidak memenuhi persyaratan formal tersebut.
Ketentuan No. 1 SEBI No. 4/670/UPPB/PbB tahun 1972 mengenai pengertian bilyet giro telah memberikan gambaran bahwa bilyet giro tidak dapat dialihkan atau dipindahtangankan dari tangan ke tangan maupun melalui endosemen.83
Ketentuan ini juga ditegaskan dengan pernyataan yang terdapat pada bagian belakang lembaran bilyet giro yang memuat kata-kata “endosemen/penyerahan tidak diakui”, dengan demikian jelas bahwa bilyet giro tidak dapat dialihkan. Tentunya kita sudah mengetahui bahwa endosemen adalah suatu pernyataan memperalihkan suatu hak menagih atas surat piutang dari orang yang disebut dalam surat sebagai berhak menagih kepada penggantinya.84
Apabila surat perniagaan tersebut mudah pengalihannya, yang mana cukup dilakukan dengan penyerahan fisik dari surat perniagaan atau dengan endorsement maka surat tersebut tergolong ke dalam surat berharga, sedangkan apabila sulit
83 Ketentuan No. 1 SEBI No. 4/670/UPPB/PbB tentang Endosemen.
84M. Bahsan, 2005, Giro dan Bilyet Giro Perbankan Indonesia, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 39.
pengalihannya harus secara cessie, maka surat tersebut tergolong ke dalam surat yang berharga. Di samping itu, dari syarat formil bilyet giro tercermin bahwa pemindahbukuan pada bilyet giro dilakukan atas nama, hal ini tercantum dalam syarat formil yang mengharuskan agar dicantumkannya nama pihak yang harus menerima pemindahbukuan dana dan jika perlu beserta alamatnya.85
Jadi jelas dari sini terlihat bahwa pembayaran bilyet giro dilakukan atas nama, bukan atas unjuk, artinya hanya yang namanya tercantum di dalam bilyet giro itu sebagai penerima yang berhak menerima pembayaran melalui
pemindahbukuan.
Selain itu, pada syarat formil bilyet giro menyebutkan bahwa harus tercantum nama bank dimana penerima bilyet giro mempunyai rekening giro, sepanjang nama bank/penerima diketahui oleh penerbit. Jadi syarat ini boleh tidak dicantumkan dengan anggapan bahwa penerbit menyetujui dananya dipindahkan ke bank mana saja atas nama penerima.86
Pada prakteknya, kedua ketentuan di atas telah memberikan celah bagi para pengguna bilyet giro untuk mengalihkan bilyet giro ini. Pengalihan bilyet giro ini hanya dimungkinkan apabila nama penerima dan nama bank dimana pihak penerima mempunyai rekening belum dicantumkan dalam bilyet giro tersebut.87
Dalam praktek biasanya bilyet giro sengaja diterbitkan oleh penerbit dengan tidak mencantumkan nama penerima dan nama bank penerima rekening gironya. Apabila kondisi ini terjadi, maka ini memungkinkan pihak yang pertama
85
Ibid, hal.41.
86 Ibid, hal.41.
87http://legalbanking.wordpress.com/materi-hukum/hukum-surat-berharga. diakses tanggal 2 Desember 2014.
menerima bilyet giro dari penerbit untuk mengalihkan bilyet giro ini kepada pihak lain dan biasanya pihak yang mengalihkan bilyet giro ini membubuhkan tandatangan dan cap/stempel pada bagian belakang bilyet giro tersebut yang membenarkan bahwa bilyet giro itu berasal dari dia dan dia akan bertanggungjawab terhadap pihak yang menerima pengalihan apabila terjadi sesuatu hal yang menghambat pembayaran terhadap bilyet giro tersebut misalnya terjadi bilyet giro kosong.88
Setelah terjadi pengalihan ini, pengalihan berikut masih dimungkinkan sepanjang nama penerima dan nama bank penerima pada bilyet giro tersebut belum terisi, namun biasanya pengalihan hanya terjadi sekali saja karena pada dasarnya pengalihan dalam bilyet giro adalah tidak diperkenankan dan biasanya pengalihan hanya terjadi di antara orang-orang yang sudah kenal dekat atau saling percaya.89
Apabila penerima terakhir bilyet giro ini hendak menuntut pembayaran terhadap bilyet giro yang diterimanya, maka penerima ini baru mencantumkan namanya dan nama bank yang akan menerima dana pemindahbukuan dalam bilyet giro ini. Dalam hal ini, bank tertarik tidak perlu melakukan pengecekan apakah pengisian bilyet giro dilakukan oleh penerbit sendiri atau orang lain, karena telah ada ketentuan yang membenarkan pengisian bilyet giro oleh orang lain selain dari pada penerbit sendiri.90
Bilyet giro itu tetap sah adanya walaupun pengisiannya dilakukan oleh
orang lain selain penerbit asalkan terdapat tandatangan yang sah dari penerbit
88 Zulkifli, 2009, “Surat Berhaga debagai Alat Transaksi dalam Penerbangan Internasional,” Makalah (Lecture Papers), Jurnal Ilmiah USU tentang Miscelineaous Letter.
89 Ibid.
90
dalam bilyet giro tersebut dan apabila terdapat pengisian yang sifatnya merupakan suatu perubahan amanat, maka perubahan itu haruslah disahkan oleh penerbit yang bersangkutan yang ditandai dengan adanya tandatangan sah dari penerbit di dekat penulisan perubahan tersebut.91
Namun perlu diperhatikan bahwa terdapat kelemahan untuk mendeteksi kebenaran pihak yang melakukan pengalihan karena dalam pengalihan tidak ada keharusan untuk mencantumkan identitas dari pihak pengalih seperti Kartu Tanda Penduduk, sehingga tidak ada dasar specimen untuk pencocokan tanda tangan. Dan hal ini akan menyulitkan apabila timbul permasalahan di kemudian hari. Hal inilah yang menyebabkan pengalihan hanya sering terjadi diantara orang-orang yang telah saling percaya.
Sistem pencairan bantuan modal dengan bilyet giro mundur ini ternyata bermasalah, yaitu ketika bilyet giro hendak dicairkan ternyata bilyet giro tersebut adalah giro kosong. Alasan manajemen PT. Futurindo Ventura Sejahtera karena uang belum terkumpul, mengingat perputaran uang di perusahaan tersebut berasal dari pembayaran cicilan dan penanaman modal dari nasabah investor baru. Oleh sebab itu sistem pencairan melalui bilyet giro dihentikan setelah PT. Futurindo Ventura Sejahtera menerbitkan 400 buah bilyet giro. Sistem pembayaran bantuan modal kemudian diganti dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dimana setelah 7 hari menandatangai perjanjian bantuan modal, PPU akan menerima Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP). Dengan sistem Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP permasalahan juga
91Abdul Marhainis Hay, 1995, Hukum Perbankan di Indonesia, Pradnya Pramita, Jakarta, hal. 18.
timbul di saat PPU hendak mengurus pencairan bantuan modal tetap mengalami hambatan yakni pemberitahuan dari pihak PT. Futurindo Ventura Sejahtera yang menyatakan pencairan bantuan modal yang telah disetujui, diundur pencairannya.
3.3 Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dari