TESIS
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO, KECIL
DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PENERIMAAN
BANTUAN PERMODALAN DARI PERUSAHAAN MODAL
VENTURA DENGAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN
KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP)
BILYET GIRO
I GUSTI AYU MADE ARYASTINI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
TESIS
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO, KECIL
DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PENERIMAAN
BANTUAN PERMODALAN DARI PERUSAHAAN MODAL
VENTURA DENGAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN
KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP)
BILYET GIRO
I GUSTI AYU MADE ARYASTINI NIM 1392461023
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO, KECIL
DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PENERIMAAN
BANTUAN PERMODALAN DARI PERUSAHAAN MODAL
VENTURA DENGAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN
KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP)
BILYET GIRO
Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Studi Kenotariatan,
Program Pascasarjana Universitas Udayana
I GUSTI AYU MADE ARYASTINI NIM 1392461023
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
iiLEMBAR PENGESAHAN
TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 23 FEBRUARI 2015
Pembimbing I, Pembimbing II
Prof. Dr. I Gst, Ngr. Wairocana, SH., MH Dr. I Made Sarjana, SH., MH.
NIP. 19530401 198003 1 004 NIP. 19611231 198601 1 001
Mengetahui :
Ketua Program Magister Kenotariatan Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH., M.Hum. NIP. 19640402 198911 2 001
Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana
Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K) NIP. 19590215 198510 2 001
Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal 13 April 2015
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana No. : 1119/UN14.4/HK/2015, Tanggal : 10 April 2015
Ketua : Prof. Dr. I Gst, Ngr. Wairocana, SH., MH Anggota : 1. Dr. I Made Sarjana, SH., MH. 2. Prof. Dr. Imbrahim. R.SH.,MH 3. Dr. I Wayan Wiryawan, SH.MH 4. Dr. I Ketut Westra, SH.MH iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Dengan ini saya menyatakan yang sebenarnya bahwa : Nama : I Gusti Ayu Made Aryastini
NIM : 1392461023
Program Studi : Kenotariatan
Judul Tesis : Perlindungan Hukum Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Penerimaan Bantuan Permodalan dari Perusahaan Modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet Giro.
Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah tesis ini bebas dari plagiat. Apabila di kemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 dan Perundang-undangan yang berlaku.
Denpasar, 2 Maret 2015 Yang membuat pernyataan,
I Gusti Ayu Made Aryastini
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan selesainya tesis ini. Adapun judul tesis ini adalah
”Perlindungan Hukum Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
dalam Penerimaan Bantuan Permodalan dari Perusahaan Modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet
Giro.” Tesis ini disusun untuk memenuhi kriteria sebagai salah satu syarat meraih
gelar Magister Kenotariatan pada Program Pascasarjana Universitas Udayana. Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dalam rangka penyusunan tesis ini, yang hanya berkat bantuan berbagai pihak, maka tesis ini selesai pada waktunya. Dalam kesempatan ini penulis dengan tulus menyampaikan terima kasih kepada Prof. I Gusti Ngurah Wairocana, SH., MH., selaku pembimbing pertama dan Dr. I Made Sarjana, SH., MH., selaku pembimbing kedua, yang telah memberikan bimbingan dan ide kepada penulis dalam proses penyelesaian tesis ini.
Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Universitas Udayana, kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswi Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas Udayana, kepada Prof. I Gusti Ngurah Wairocana, SH., MH., atas izin yang diberikan
kepada penulis untuk mengikuti Program Magister. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH., M.Hum., atas kesempatan dan dukungan yang telah diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana, kepada panitia penguji tesis, Prof. Dr. Ibrahim R., SH., MH, Dr. I Wayan Wiryawan, SH., MH, serta Dr. I Ketut Westra, SH., MH, yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis dalam proses penyelesaian tesis ini.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu dosen pengajar pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana atas ilmu yang telah diberikan, serta rekan-rekan mahasiswa Angkatan VI, Bapak dan Ibu staf berserta karyawan Magister Kenotariatan Universitas Udayana yang telah banyak membantu kelancaran proses administrasi.
Terima kasih juga penulis tujukan kepada orang tua dan mertua tercinta yaitu I Gusti Ketut Dardali dan I Gusti Ayu Supitha (Alm.) serta I Nyoman Alit (Alm.) dan Ni Wayan Indrawati yang senantiasa mendoakan, mendukung dan memberikan semangat selama penulis menjalani masa perkuliahan dan selama proses tesis ini. Terima kasih pula penulis ucapkan kepada suami tercinta I Ketut Ngurah Ananda dan putra tersayang Indra Bagus Ngurah David Ananda yang dengan penuh pengorbanan telah memberikan dukungan semangat juga kesempatan kepada penulis untuk berkonsentrasi dalam penyelesaian tesis ini.
Sebagai akhir kata penulis berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada kita semua dan semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah kepustakaan di bidang kenotariatan serta berguna bagi masyarakat.
Denpasar, 2 Maret 2015
Penulis
ABSTRAK
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DALAM PENERIMAAN BANTUAN PERMODALAN DARI PERUSAHAAN MODAL VENTURA DENGAN SURAT PERNYATAAN
JAMINAN KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP)
BILYET GIRO
Sanksi terhadap perusahaan modal Ventura bila Perusahaan Modal Ventura mengulur-ulur waktu pencairan bantuan modal setelah pemohon modal sudah menyetorkan kepesertaan modalnya, belum diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 18/PMK.010/2012 tentang Perusahaan Modal Ventura. Berdasarkan kekosongan norma tersebut permasalahan pertama dalam penelitian ini adalah tentang kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Permasalahan kedua adalah tentang tanggungjawab perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP).
Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian hukum normatif karena beranjak dari kekosongan norma dalam Permenkeu Nomor 18/PMK.010/2012 tentang Perusahaan Modal Ventura yang belum mengatur sanksi terhadap perusahaan modal Ventura bila perusahaan modal Ventura mengulur-ulur waktu pencairan bantuan modal. Pendekatan penelitian terdiri dari pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep dan pendekatan kasus. Sumber bahan hukum dalam penelitian ini terdiri dari: primer, sekunder dan tersier. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis yuridis, yaitu analisis yang mendasarkan pada teori-teori, konsep dan peraturan perundang-undangan.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kepastian Hukum dan Teori Hukum Perjanjian. Adapun konsep yang digunakan adalah Konsep Perlindungan Hukum, Konsep Modal Ventura, Konsep Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Konsep Pembiayaan pada Perusahaan Modal Ventura.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal tidak mempunyai kekuatan mengikat sehingga UMKM tidak dapat melakukan tuntutan atau ganti rugi atas gagalnya realisasi bantuan modal; dan (2) Tanggungjawab Perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) merupakan tanggungjawab karena adanya wanprestasi dari perusahaan modal Ventura sehingga seharusnya perusahaan modal Ventura membayar ganti rugi atas dasar gugatan dari UMKM yang berdasarkan Pasal 1365 BW/KUHPerdata oleh karena pihak perusahaan modal Ventura tidak mampu mencairkan bantuan modal terhadap UMKM.
Kata Kunci: Modal Ventura, Bantuan Modal, Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP).
ABSTRACT
LEGAL PROTECTION FOR MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (SMEs) IN RECEIPT OF CAPITAL ASSISTANCE FROM VENTURE CAPITAL COMPANY WITH STATEMENT OF ASSURANCE STATEMENT
OF DISBURSEMENTS (SPJKP) GIRO BILYET
Sanctions against Venture Capital Company when a Venture Capital Company stalling of disbursement of capital assistance whereas the applicant has deposited capital participation, has not been regulated in the Regulation of the Minister of Finance (Finance Ministry Decree) No. 18 / PMK.010 / 2012 on the Venture Capital Company.This means that there are still empty norm in Finance Ministry Decree No. 18 / PMK.010 / 2012. Regarding these empty norm the first issue in this research is on the position of Security Assurance Statement of Disbursements (SPJKP) in the case of Venture Capital Company did not realize capital assistance to Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs). A second issue is the responsibility of Venture Capital Company which failed to realize the capital assistance to SMEs after issuing Security Assurance Statement of Disbursements (SPJKP).
This type of research is a normative legal research since there are still empty norm in Finance Ministry Decree No. 18/PMK.010/2012 on Venture Capital Company which has not been regulate the sanctions against Venture Capital Company when a Venture Capital Company stalling of disbursement of capital assistance.The research approach consists of statute approach, conceptual approach and case approach. Sources of legal materials in this study consisted of: primary, secondary and tertiary. The analysis technique used in this research is the juridical analysis, which is the analysis based on theories, concepts and legislation.
The theory used in this research are the Theory of Legal Certainty and Theory of Legal Agreement. The concept used are the Concept of Legal Protection, Concept of Venture Capital, Concept of Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs) and the concept of Corporate Venture Capital Financing.
The research result indicated that (1) position Statement of Assurance Guarantee Disbursement (SPMKP) in the case of Venture Capital Company did not realize capital has no binding force so that SMEs can not make claims or damages for failure of the realization of capital; and (2) Responsibility Venture Capital Company failed to realize capital assistance to SMEs after issuing a Statement Assurance Guarantee Disbursement (SPJKP) is the responsibility because of the default of Venture capital firm Venture capital firm that was supposed to pay compensation on the basis of a lawsuit of SMEs based on Article 1365 BW / Civil Code because the Venture capital firms are not able to disburse financial aid to SMEs.
Keywords: Venture Capital, Capital Assistance, Statement of Assurance Guarantee Disbursement (SPJKP).
RINGKASAN
Tesis ini menganalisis perlindungan hukum bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam penerimaan bantuan permodalan dari perusahaan Modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet Giro.
Bab I, menguraikan latar belakang masalah mengenai kekosongan norma dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 18/PMK.010/2012 tentang Perusahaan Modal Ventura, mengingat dalam Permenkeu Nomor 18/PMK.010/2012 tersebut belum diatur sanksi terhadap perusahaan modal Ventura bila perusahaan modal Ventura mengulur-ulur waktu pencairan bantuan modal setelah pemohon modal sudah menyetorkan kepesertaan modalnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pada sub ini juga diuraikan mengenai rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teoritis dan metode penelitian.
Bab II, menguraikan tentang Tinjauan Umum Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura Kepada Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah. Bab ini terdiri dari 4 Sub Bab yaitu Sub Bab pertama tentang Tinjauan Umum Modal Ventura, yang dijabarkan mengenai Pengertian Modal Ventura; Dasar Hukum Modal Ventura; Tujuan Pendirian Modal Ventura; Karakteristik Modal Ventura sebagai Lembaga Pembiayaan dan Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Pembiayaan Modal Ventura. Sub Bab kedua Tinjauan Umum Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil di Perusahaan Modal Ventura, yang meliputi Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil di Perusahaan Modal Ventura; Pihak-Pihak dalam Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil; Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil dan Isi Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil. Sub Bab ketiga tentang Tinjauan Umum tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sub Bab keempat mengenai Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura Kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang terdiri dari Sejarah Pembiayaan UMKM melalui Perusahaan Modal Ventura; Perkembangan Perusahaan Modal Ventura dan Implikasi Adanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 Tahun 2012 di Indonesia dan Implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2012 terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
Bab III merupakan hasil penelitian dan pembahasan rumusan masalah yang pertama, mengenai kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Bab ini dibagi menjadi 3 Sub Bab yaitu Sub Bab pertama mengenai Proses Pengajuan Bantuan Modal dari UMKM Kepada Perusahaan Modal Ventura. Sub Bab kedua tentang Pencairan Bantuan Modal dari Perusahaan Modal Ventura Kepada UMKM. Sub Bab ketiga membahas Kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam Hal Perusahaan Modal Ventura Tidak Merealisasikan Bantuan Modal Kepada UMKM.
Bab IV merupakan hasil penelitian dan pembahasan rumusan masalah kedua terkait dengan tanggungjawab perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP). Bab ini dibagi menjadi 3 Sub Bab yang terdiri dari Sub Bab pertama tentang Penyertaan Modal dari Para Pihak, UMKM dan Perusahaan Modal Ventura dalam Perjanjian Modal Ventura. Sub Bab kedua mengenai Potensi Kerugian UMKM yang Telah Menyerahkan Penyertaan Modal Namun Gagal Mendapat Bantuan dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera. Sub Bab ketiga membahas Tanggungjawab Perusahaan Modal Ventura yang Gagal Merealisasikan Bantuan Kepada UMKM Setelah Menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP).
Bab V merupakan bab penutup yaitu menguraikan tentang simpulan dan saran dari penulis. Penulis menyimpulkan bahwa (1) kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal tidak mempunyai kekuatan mengikat sehingga UMKM tidak dapat melakukan tuntutan atau ganti rugi atas gagalnya realisasi bantuan modal; dan (2) Tanggungjawab Perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) merupakan tanggungjawab karena adanya wanprestasi dari perusahaan modal Ventura sehingga seharusnya perusahaan modal Ventura membayar ganti rugi atas dasar gugatan dari UMKM yang berdasarkan Pasal 1365 BW/KUHPerdata oleh karena pihak perusahaan modal Ventura tidak mampu mencairkan bantuan modal terhadap UMKM. Sementara itu saran yang dapat disampaikan agar pihak Perusahaan Modal Ventura seharusnya membayar ganti rugi kepada UMKM pemohon modal karena potensi keuntungan yang hilang akibat mundurnya pencairan bantuan modal merupakan jumlah yang sangat berarti bagi UMKM. Pihak Perusahaan Modal Ventura agar memberikan tanggungjawabnya yang berupa ganti rugi sesuai dengan ganti rugi yang dialami oleh UMKM sedapat mungkin menghindari gugatan dari pihak UMKM untuk menuntut ganti kerugian berdasarkan Pasal 1365 BW/KUHPerdata.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
PRASYARAT GELAR ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
RINGKASAN ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 7 1.3 Tujuan Penelitian ... 8 1.3.1 Tujuan Umum ... 8 1.3.2 Tujuan Khusus ... 8 1.4 Manfaat Penelitian ... 8 1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9 1.4.2 Manfaat Praktis ... 9 1.5 Landasan Teoritis ... 9
1.5.1 Teori Kepastian Hukum ... 10
1.5.2 Teori Hukum Perjanjian ... 11
1.5.3 Konsep Perlindungan Hukum ... 15
1.5.4 Konsep Modal Ventura ... 18
1.5.4.1 Pengertian Modal Ventura ... 18
1.5.4.2 Pengaturan Modal Ventura ... 20
1.5.5 Konsep Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ... 26
1.5.6 Konsep Perjanjian Pembiayaan pada Perusahaan Modal Ventura ... 29
1.6 Metode Penelitian ... 32
1.6.1 Jenis Penelitian ... 32
1.6.2 Jenis Pendekatan ... 33
1.6.3 Sumber Bahan Hukum ... 34
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 36
1.6.5 Teknik Analisis Bahan Hukum ... 36
BAB II TINJAUAN UMUM PEMBIAYAAN PERUSAHAAN MODAL VENTURA KEPADA USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH ... 38
2.1 Tinjauan Umum Modal Ventura ... 38
2.1.1 Pengertian Modal Ventura ... 38
2.1.2 Dasar Hukum Modal Ventura ... 41
2.1.3 Tujuan Pendirian Modal Ventura ... 42
2.1.4 Karakteristik Modal Ventura sebagai Lembaga Pembiayaan 43
2.1.5 Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Pembiayaan Modal Ventura 47 2.2 Tinjauan Umum Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil di Perusahaan Modal Ventura ... 53
2.2.1 Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil di Perusahaan Modal Ventura ... 53
2.2.2 Pihak-Pihak dalam Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil ... 54
2.2.3 Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil ... 55
2.2.4 Isi Perjanjian Pembiayaan dengan Pola Bagi Hasil ... 57
2.3 Tinjauan Umum tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ... 58
2.4 Pembiayaan Perusahaan Modal Ventura Kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ... 61
2.4.1 Sejarah Pembiayaan UMKM melalui Perusahaan Modal Ventura ... 61
2.4.2 Perkembangan Perusahaan Modal Ventura dan Implikasi Adanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 Tahun 2012 di Indonesia ... 64
2.4.3 Implementasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2012 terhadap Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah ... 68
BAB III KEDUDUKAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP) DALAM HAL PERUSAHAAN MODAL VENTURA TIDAK MEREALISASIKAN BANTUAN MODAL KEPADA UMKM ... 74
3.1 Proses Pengajuan Bantuan Modal dari UMKM Kepada Perusahaan Modal Ventura ... 74
3.2 Pencairan Bantuan Modal dari Perusahaan Modal Ventura Kepada UMKM ... 86
3.3 Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dari Perusahaan Modal Ventura terhadap UMKM ... 96
BAB IV TANGGUNGJAWAB PERUSAHAAN MODAL VENTURA YANG GAGAL MEREALISASIKAN BANTUAN KEPADA UMKM SETELAH MENERBITKAN SURAT PERNYATAAN JAMINAN KEPASTIAN PENCAIRAN (SPJKP) ... 105
4.1 Penyertaan Modal dari Para Pihak, UMKM dan Perusahaan Modal Ventura dalam Perjanjian Modal Ventura ... 105
4.2 Potensi Kerugian UMKM yang Telah Menyerahkan Penyertaan Modal Namun Gagal Mendapat Bantuan dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera ... 130
4.3 Tanggungjawab Perusahaan Modal Ventura yang Gagal Merealisasikan Bantuan Kepada UMKM ... 134
BAB V PENUTUP ... 137
5.1 Simpulan ... 137
5.2 Saran ... 137
DAFTAR PUSTAKA ... 139
TABEL Tabel 2.1 Perbedaan Pengaturan Mengenai Perusahaan Modal Ventura ... 65
LAMPIRAN Lampiran Surat Pernyataan Jaminan Kepastian ... 144
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemerintah dalam memajukan kesejahteraan bangsa yang merupakan salah satu cita-cita bangsa yang termasuk di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ialah melalui peningkatan perekonomian dan penegakan hukum. Dalam hal Indonesia sebagai negara dengan sistem Civil Law menjadikan undang-undang sebagai sumber hukum utama.1 Undang-undang maupun peraturan perundang-undangan lainnya menjadi pengaruh besar dalam menentukan perkembangan perekonomian Indonesia.
Indonesia yang masih pada tingkatan negara berkembang, sedang giatnya membangun perekonomian melalui usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Berbagai macam kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan dan perkembangan UMKM salah satunya dalam bidang permodalan yakni lembaga keuangan, dalam hal ini khususnya lembaga pembiayaan (modal ventura).
Modal ventura banyak yang mengartikan sebagai penanaman modal yang mengandung resiko pada suatu usaha perusahaan.2 Di dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2012 tentang Perusahaan Modal Ventura pada
1Peter Mahmud Marzuki, 2009, Pengantar Ilmu Hukum, Prenada Media
Group, Jakarta, hal. 286.
2Hasanuddin Rahman, 2003, Segi-segi Hukum dan Manajemen Modal
Ventura serta pemikiran alternatif ke arah modal-modal ventura yang sesuai dengan kultur bisnis di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 15
intinya perusahaan modal ventura adalah usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu.
Keberadaan modal ventura sebagai salah satu alternatif pembiayaan, selain karena terbatasnya dana dari lembaga perbankan, juga karena tuntutan idealisme untuk mengembangakan usaha kecil dan menengah termasuk ekonomi kerakyatan yang jarang disentuh oleh kalangan perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya. Hal ini dilakukan dengan melihat kenyataan bahwa ternyata terdapat keberpihakan bank kepada usaha skala menengah ke atas.3
Munculnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2012 Tentang Perusahan Modal Ventura mengatur pembaharuan-pembaharuan mengenai hal-hal yang terkait dengan modal ventura termasuk pencabutan Keputusan Menteri Keuangan No. 469/KMK.017/1995 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1998, implementasi kebijakan ini akan membawa perubahan dalam meningkatkan sektor UMKM. Perubahan pengaturan mengenai perusahaan modal ventura memberi dampak yang sangat signifikan dalam implementasinya. Hasanuddin Rahman4 menyebutkan salah satu dari jenis pembiayaan oleh perusahaan modal ventura adalah penyertaan dana. Namun pada kenyataannya, seringkali mengalami hambatan dalam pencairannya, seperti yang dialami oleh UMKM yang mengajukan permohonan dana kepada perusahaan modal ventura PT. Futurindo Ventura Sejahtera di Kota Denpasar-Bali.
3 Ibid, hal. 10. 4
Pada awalnya sistem pencairan bantuan modal di PT. Futurindo Ventura Sejahtera dilakukan melalui bilyet giro yang berlaku mundur. Apabila syarat dan ketentuan pemohon yang dalam hal ini disebut dengan istilah Perusahaan Pasangan Usaha yang di sebut PPU untuk mengambil program bantuan modal dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera telah dipenuhi oleh PPU dan disetujui oleh PT. Futurindo Ventura Sejahtera, maka PPU diharuskan menyetorkan Jaminan Penilaian Manajemen (JPM). Bantuan modal akan diterima oleh pemohon maksimal 7 hari kerja setelah menyetorkan Jaminan Penilaian Manajemen (JPM) dalam bentuk bilyet giro mundur.
Sistem pencairan bantuan modal dengan bilyet giro mundur ini ternyata bermasalah, yaitu ketika bilyet giro hendak dicairkan ternyata bilyet giro tersebut adalah giro kosong. Alasan manajemen PT. Futurindo Ventura Sejahtera karena uang belum terkumpul, mengingat perputaran uang di perusahaan tersebut berasal dari pembayaran cicilan dan penanaman modal dari nasabah investor baru. Oleh sebab itu sistem pencairan melalui bilyet giro dihentikan setelah PT. Futurindo Ventura Sejahtera menerbitkan 400 buah bilyet giro.
Sistem pembayaran bantuan modal kemudian diganti dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dimana setelah 7 hari menandatangani perjanjian bantuan modal, PPU akan menerima Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP). Dasar hukum penerbitan SPJKP ini mengacu pada Pasal 41 Permenkeu Nomor 18/PMK.010/2012 yang menyatakan perusahaan modal ventura dapat menerbitkan surat sanggup bayar. Dengan demikian, SPJKP dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera ini merupakan jaminan
pernyataan sanggup bayar dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera kepada UMKM pemohon modal yang telah menyerahkan persyaratan termasuk penyertaan modal. Esensi sosiologis dari SPJKP ini adalah memberi kepastian bagi UMKM pemohon modal untuk mendapatkan bantuan modal sebagai pengembangan usaha dalam rangka meningkatkan keuntungannya. Namun pada kenyataannya permasalahan juga timbul di saat PPU hendak mengurus pencairan bantuan modal tetap mengalami hambatan yakni pemberitahuan dari pihak PT. Futurindo Ventura Sejahtera yang menyatakan pencairan bantuan modal yang telah disetujui, diundur pencairannya.
Dalam kasus Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dari PT. Futurindo Ventura Sejahtera tersebut, kegagalan merealisasikan akibat mundurnya pencairan bantuan modal, terhapus dengan sendirinya bila realisasi pencairan bantuan modal tersebut sudah dilaksanakan. Dalam kasus demikian PT. Futurindo Ventura Sejahtera tidak pernah memberi ganti rugi atas mundurnya pencairan bantuan modal tersebut. Padahal dengan terlambatnya pencairan bantuan modal ini, pengembangan usaha PPU yang dalam hal ini pengusaha kecil atau UMKM akan mengalami keterlambatan sehingga menjadi kehilangan keuntungan potensial yang mereka terima seandainya bantuan modal tersebut mereka terima tepat pada saat dijanjikan. Disebutkan oleh Soedikno Mertokoesumo bahwa dalam transaksi bisnis faktor waktu memegang peranan penting5. Misalnya saja pengusaha roti telah memesan mesin pembuat roti, namun mesin tersebut mengalami keterlambatan 7 hari dari waktu yang dijanjikan, maka
5 Soedikno Mertokoesumo, 2004, Hukum Perdata, Fakultas Hukum
pengusaha roti tersebut akan kehilangan 7 hari produksi yang berarti kehilangan juga keuntungan potensialnya.
Perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata, hukum kontrak tidak begitu membedakan apakah suatu perbuatan tidak dilaksanakan karena adanya unsur kesalahan dari para pihak atau tidak.6 Akibat umumnya tetap sama, yakni pemberian ganti rugi dengan perhitungan-perhitungan tertentu. Kecuali kegagalan merealisasikan kontrak tersebut karena alasan-alasan force majeure, yang umumnya memang membebaskan pihak yang tidak memenuhi prestasi (untuk sementara atau selama-lamanya).
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa sanksi terhadap perusahaan modal Ventura bila perusahaan modal Ventura mengulur-ulur waktu pencairan bantuan modal padahal pemohon modal sudah menyetorkan kepesertaan modalnya, belum diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 18/PMK.010/2012 Tentang Perusahaan Modal Ventura. Hal ini berarti masih terdapat norma kosong dalam Permenkeu Nomor 18/PMK.010/2012 tersebut.
Hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang menyangkut masalah “Perlindungan Hukum dalam Penerimaan Bantuan Permodalan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) oleh Perusahaan Modal Ventura Dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet Giro”, tidak ditemukan Tesis maupun karya tulis lainnya dengan judul yang sama. Namun dapat dibandingkan dengan dua (2) penelitian yang menyangkut
6Rosa Agustina dkk. 2012, Hukum perikatan (Law of Obligations),
permasalahan tentang perjanjian antara perusahaan modal Ventura dengan perusahaan pasangan usaha, yaitu :
a. Penelitian yang dilakukan oleh Made Ayu Fransisca Yusi Megasari, SH. pada tahun 2008 dari Program Pascasarjana Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang, melakukan penelitian dengan judul “Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan dengan Bagi Hasil di PT. Sarana Jateng Ventura-Semarang” dengan menggunakan metode yuridis empiris, dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pelaksanaan perjanjian pembiayaan dengan pola bagi hasil di PT. Sarana Jateng Ventura-Semarang?
2. Bagaimanakah penyelesaian yang dilakukan PT. Sarana Jateng Ventura-Semarang terhadap Perusahaan Pasangan Usaha yang wanprestasi?
b. Penelitian yang dilakukan oleh Amelia Silvanny, SH. pada tahun 2011 dari Program Pascasarjana Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan, melakukan penelitian dengan judul “Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perjanjian Bagi Hasil Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Pasangan Usaha” dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana bentuk perjanjian antara Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Pasangan Usaha?
2. Bagaimana kedudukan para pihak dalam perjanjian bagi hasil antara Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Pasangan Usaha?
3. Bagaimana cara penyelesaian wanprestasi bagi para pihak dalam perjanjian bagi hasil antara Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Pasangan Usaha?
Dari hasil penelusuran orisinalitas penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka tidak ditemukan adanya kesamaan baik dari segi isi ataupun subtansi karya tulis yang telah dimuat sebelumnya sehingga tingkat orisinalitas penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk tesis dengan judul
“Perlindungan Hukum bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
dalam Penerimaan Bantuan Permodalan dari Perusahaan Modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet
Giro”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dikemukakan dalam research questions sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal kepada UMKM?
2. Bagaimana tanggungjawab perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP)?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan untuk mencari, menggali, menghubungkan dan memprediksi suatu kejadian. Setiap penelitian hukum yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan terarah. Adapun tujuan dari penelitian hukum ini adalah:
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perlindungan hukum bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam penerimaan bantuan permodalan dari perusahaan modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) Bilyet Giro.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian tesis ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan menganalisis kedudukan Surat Pernyataan Jaminan
Kepastian Pencairan (SPJKP) dalam hal Perusahaan Modal Ventura tidak merealisasikan bantuan modal kepada UMKM.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis tanggungjawab perusahaan Modal Ventura yang gagal merealisasikan bantuan modal kepada UMKM setelah menerbitkan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP).
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik yang bersifat teoritis maupun praktis sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan hukum perjanjian pada khususnya mengenai wanprestasi dari Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan bukan bank yang mundur pencairannya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi pihak lembaga keuangan bukan bank untuk memperbaiki sistem pencairan bantuan modalnya sehingga tidak merugikan pihak penerima modal. Selain itu dapat menjadi pertimbangan notaris untuk melegalisasi Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan bantuan modal tersebut.
1.5 Landasan Teoritis
Teori memiliki peranan yang sangat penting untuk memandu penelitian sehingga penelitian yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun teori-teori yang digunakan untuk melihat dan menganalisis perlindungan hukum bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam penerimaan bantuan permodalan dari perusahaan modal Ventura dengan Surat Pernyataan Jaminan Kepastian Pencairan (SPJKP) bilyet giro adalah dengan Teori Hukum Perjanjian dan Teori Kepastian Hukum. Sedangkan konsep yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Konsep Wanprestasi, Konsep Modal Ventura, Konsep Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Konsep Perjanjian Pembiayaan pada Perusahaan Modal Ventura dan Konsep Perlindungan Hukum.
1.5.1 Teori Kepastian Hukum
Kepastian hukum merupakan ciri yang tak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Kepastian hukum disebut sebagai salah satu tujuan dari hukum. Keteraturan masyarakat berkaitan erat dengan kepastian dalam hukum, karena keteraturan merupakan inti dari kepastian itu sendiri.
Ajaran kepastian hukum berasal dari ajaran yuridis dogmatik yang didasarkan pada pemikiran positivis di dunia hukum, melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom, mandiri karena hukum bagi aliran ini hanya sekumpulan aturan. Tujuan hukum yang utama adalah kepastian hukum. Kepastian hukum diwujudkan dengan membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum yang membuktikan bahwa tujuan hukum itu semata-mata untuk kepastian hukum.7
Gustav Radbruch menyebut keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum sebagai tiga ide dasar hukum atau tiga nilai dasar hukum, yang berarti dapat dipersamakan dengan asas hukum.8 Terkait dengan kepastian hukum, Gustav Radburch mengemukakan empat hal yang mendasar berhubungan dengan kepastian hukum, yaitu:
Pertama, bahwa hukum itu positif, artinya bahwa ia adalah perundang-undangan (gesetzliches Recht). Kedua, bahwa hukum ini didasarkan pada fakta (Tatsachen), bukan suatu rumusan tentang penilaian yang nanti akan dilakukan oleh hakim, seperti ”kemauan baik”, “kesopanan”. Ketiga, bahwa fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping juga mudah dijalankan. Keempat, hukum positif itu tidak boleh sering diubah-ubah…..9
7Achmad Ali, 2008, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan
Sosiologis), Ghalia Indonesia, Bogor, hal.67.
8Gustav Radbruch, 1990, Legal Philosophy, in The Legal Philosophy of
Lask, Radbruch, Massachusetts, Harvard University Press, hal. 107.
9
Pendapat Gustav Radburch tersebut didasarkan pada pandangannya bahwa kepastian hukum adalah kepastian tentang hukum itu sendiri. Kepastian hukum merupakan produk dari hukum atau lebih khusus perundang-undangan.
Berdasarkan teori kepastian hukum yang telah diuraikan di atas, maka penulis berpendapat bahwa dalam kepastian hukum terkandung beberapa arti, yakni adanya kejelasan, dan tidak menimbulkan salah tafsir atau multi tafsir. Selain itu kepastian hukum juga mengandung arti tidak menimbulkan kontradiktif dan dapat dilaksanakan.
1.5.2 Teori Hukum Perjanjian
Menurut Abdulkadir Muhammad, perjanjian adalah hubungan hukum, hubungan hukum itu timbul karena adanya peristiwa hukum yang dapat berupa perbuatan, kejadian, keadaan dalam lingkup harta kekayaan.10 Mengenai pengertian perjanjian ini, J. Satrio mengemukakan pendapatnya bahwa, perjanjian adalah peristiwa yang menimbulkan dan berisi ketentuan-ketentuan hak dan kewajiban antara dua pihak atau dengan perkataan lain bahwa perjanjian berisi perikatan.11 Scanlon menyatakan bahwa perjanjian merupakan janji antara para pihak yang membuatnya yang mempunyai aspek moral dan aspek kekuatan memaksa sebagai kekuatan mengikatnya.12
10
Abdulkadir Muhammad, 2003, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 199.
11
J. Satrio, 1995, Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 5.
12T.M., Scanlon, 2001, Promise and Contracts, dalam Peter Benson (ed),
Menurut Pasal 1313 BW (Indonesie) Staatsblad 1847 Nomor 23 (diterjemahkan R. Subekti selanjutnya disebut BW/KUHPerdata), suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Dari peristiwa ini, muncul suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatanya. Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Dengan demikian, hubungan antara perikatan dan perjanjian, adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan. Perjanjian, adalah sumber perikatan.13
Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih. Berdasarkan kata sepakat atau saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.
Dalam hukum perjanjian berlaku beberapa asas. Asas-asas hukum perjanjian terdapat dalam Buku Ketiga KUHPerdata, yaitu :14
1. Asas kebebasan berkontrak
Adalah setiap orang bebas mengadakan perjanjian. Hal ini dikarenakan hukum perjanjian menganut sistem terbuka, yaitu memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Setiap orang bebas untuk mengadakan suatu perjanjian yang berupa apa saja, baik itu
13
Subekti, 1996, Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung, hal. 1. 14
Salim H. S., 2003, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 9-13.
bentuknya, isinya serta pada siapa perjanjian itu hendak ditujukan. Asas ini merupakan kesimpulan dari isi Pasal 1338 BW/KUHPerdata, yang berbunyi :
Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undangundang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Berdasarkan ini Pasal 1338 BW/KUHPerdata tersebut dia atas, maka dapat dinyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah menurut undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang paling penting dalam hukum perjanjian, karena dari asas inilah tampak adanya pernyataan dan ungkapan hak asasi manusia dalam mengadakan perjanjian sekaligus memberikan peluang bagi perkembangan hukum perjanjian. Selain itu asas ini juga merupakan dasar dari hukum perjanjian. Asas kebebasan berkontrak tidak tertulis dengan kata-kata yang banyak dalam Undang-undang, tetapi seluruh hukum perdata kita didasarkan padanya.15
2. Asas konsensualisme
Perjanjian sudah dapat dikatakan ada atau lahir dengan adanya kata sepakat dari pihak yang membuat perjanjian. Asas ini terdapat dalam Pasal 1320 BW/KUHPerdata yang menyebutkan adanya empat syarat sahnya perjanjian, salah satunya adalah kesepakatan bagi mereka yang mengikatkan diri.
15
Purwahid Patrik, 2006, Asas Itikad Baik dan Kepatutan dalam Perjanjian, Badan Penerbit UNDIP, Semarang, hal. 4.
3. Asas kekuatan mengikat atau asas Pacta Sunt Servanda
Merupakan asas dalam perjanjian yang berhubungan dengan mengikatnya suatu perjanjian. Perjanjian yang dibuat secara sah oleh para pihak mengikat mereka yang membuatnya dan perjanjian tersebut berlaku seperti Undang-undang. Asas ini berarti bahwa perjanjian hanya berlaku bagi para pihak yang membuatnya. Hal ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) BW/KUHPerdata yang menyatakan: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuat”.
4. Asas itikad baik
Bahwa orang yang akan membuat perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik. Itikad baik dalam pengertian yang subyektif dapat diartikan sebagai kejujuran seseorang yaitu apa yang terletak pada seorang pada waktu perbuatan hukum. Sedangkan itikad baik dalam pengertian obyektif, adalah bahwa pelaksanaan suatu perjanjian hukum harus didasarkan pada norma kepatuhan atau apa-apa yang dirasa sesuai dengan yang patut dalam masyarakat. Asas ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (3) BW/KUHPerdata. 5. Asas kepribadian atau personalitas
Merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat perjanjian hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat diketahui dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 BW/KUHPerdata yang menyebutkan pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.
1.5.3 Konsep Perlindungan Hukum
Konsep perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupakan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan prilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat. Lili Rasjidi dan I.B Wysa Putra berpendapat bahwa hukum dapat difungsikan untuk mewujudkan perlindungan yang sifatnya tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melainkan juga prediktif dan antisipatif.16 Pendapat Sunaryati Hartono mengatakan bahwa hukum dibutuhkan untuk mereka yang lemah dan belum kuat secara sosial, ekonomi dan politik untuk memperoleh keadilan sosial.17
Upaya untuk mendapatkan perlindungan hukum tentunya yang diinginkan oleh manusia adalah ketertiban dan keteraturan antara nilai dasar dari hukum yakni adanya kepastian hukum, kegunaan hukum serta keadilan hukum. Meskipun pada umumnya dalam praktek ketiga nilai dasar tersebut bersitegang, namun haruslah diusahakan untuk ketiga nilai dasar tersebut bersamaan.18
Fungsi primer hukum, yakni melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun penguasa. Di samping itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Perlindungan,
16
Lili Rasjidi dan I.B Wysa Putra, 2003, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Remaja Rusdakarya, Bandung, hal. 118.
17
Hartono, Sunaryati, 2001, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Penerbit Alumni, Bandung, hal. 29.
18Satjipto Raharjo, 2000, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
keadilan, dan kesejahteraan tersebut ditujukan pada subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban.19 Menurut pendapat Lili Rasjidi dan B. Arief Sidharta tentang fungsi hukum untuk memberi perlindungan adalah bahwa hukum itu ditumbuhkan dan dibutuhkan manusia justru berdasarkan produk penilaian manusia untuk menciptakan kondisi yang melindungi dan memajukan martabat manusia serta untuk memungkinkan manusia menjalani kehidupan yang wajar sesuai dengan martabatnya.20
Perlindungan terhadap masyarakat mempunyai banyak dimensi yang salah satunya adalah perlindungan hukum. Perlindungan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali, dapat ditemukan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), untuk itu setiap produk yang dihasilkan oleh legislatif harus senantiasa mampu memberikan jaminan perlindungan hukum bagi semua orang, bahkan harus mampu menangkap aspirasi-aspirasi hukum dan keadilan yang berkembang di masyarakat. Hal tersebut, dapat dilihat dari ketentuan yang mengatur tentang adanya persamaan kedudukan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali. Dalam konteks Ilmu Hukum, konsep perlindungan hukum sering dimaknai sebagai suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun mental, kepada korban dan saksi dari ancaman, gangguan, terror, dan kekerasan dari pihak manapun yang diberikan pada proses litigasi dan/atau non litigasi.
19
Supanto, 2014, Perlindungan Hukum Wanita,
http://supanto.staff.hukum.uns.ac.id/, diakses tanggal 17 September 2014. 20
Lili Rasjidi dan B Arief Sidharta, 2004, Filsafat Hukum Madzab dan Refleksi, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, hal. 64.
Dengan demikian Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:21
1. Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.
2. Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa salah satu sifat dan sekaligus merupakan tujuan dari hukum adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap masyarakat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk adanya kepastian hukum. Selanjutnya hukum dapat melindungi hak dan kewajiban setiap individu dalam masyarakat.
21Musrihah, 2000, Dasar dan Toeri Ilmu Hukum, PT. Grafika Persada,
1.5.4 Konsep Modal Ventura 1.5.4.1 Pengertian Modal Ventura
Dalam melakukan suatu kegiatan investasi tidak semua investasi dapat dilakukan dengan mudah, karena hampir semua investasi mengandung suatu risiko kerugian. Bagi investasi yang mempunyai risiko rendah, hampir semua investor ingin melakukannya. Akan tetapi, jika investasi tersebut memiliki risiko tinggi, maka tidak mudah untuk mencari investor yang mau melakukannya, yang berani melakukan investasi dimana investasi tersebut mengandung suatu risiko tinggi adalah perusahaan modal ventura.
Istilah modal ventura merupakan terjemahan dari terminologi bahasa Inggris yaitu Venture Capital. Venture sendiri berarti usaha mengandung risiko, sehingga modal ventura banyak yang mengartikan sebagai penanaman modal yang mengandung risiko pada suatu usaha atau perusahaan,22 atau dapat pula diartikan sebagai usaha. Secara sempit, modal ventura dapat diartikan sebagai modal yang ditanamkan pada usaha yang mengandung risiko dengan tujuan memperoleh pendapatan berupa bunga atau deviden.23
Modal Ventura, adalah suatu pembiayaan oleh perusahaan modal ventura (investor) dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (perusahaan pasangan usaha) untuk jangka waktu tertentu, di mana setelah jangka waktu tersebut lewat, pihak investor akan melakukan divestasi atas saham-sahamnya itu.24
22
Hasanuddin Rahman, Op.Cit, hal. 21. 23
Martono, 2004, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Ekonasia Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, hal. 127.
24
Munir Fuady, 2005, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 125.
Menurut Dictionary of Business, dalam bukunya Munir Fuady, modal ventura adalah suatu sumber pembiayaan yang penting untuk memulai suatu perusahaan yang melibatkan risiko investasi, tetapi juga menyimpan potensi keuntungan di atas keuntungan rata-rata dari investasi dalam bentuk lain. Karena itu, modal ventura disebut juga sebagai modal yang berisiko tinggi.25
Menurut Neil Cross, dalam bukunya O. P. Simorangkir, yang dimaksud dengan modal ventura adalah suatu pembiayaan yang mengandung risiko, biasanya dilakukan dalam bentuk partisipasi modal terhadap perusahaan-perusahaan yang mempunyai potensi berkembang yang tinggi. Dan perusahaan-perusahaan modal ventura menyediakan beberapa nilai tambah dalam bentuk masukan manajemen dan memberikan kontribusinya terhadap keseluruhan strategi perusahaan yang bersangkutan. Risiko yang relatif tinggi ini akan dikompensasikan dengan kemungkinan hasil yang tinggi pula, yang biasanya didapatkan melalui keuntungan yang didapat dari hasil penjualan dan penanaman modal yang bersifat jangka menengah.26
Pendapat lain tentang pengertian modal ventura dikemukakan oleh Handowo Dipo, dalam bukunya Hasanuddin Rahman, yang menyatakan bahwa modal ventura adalah suatu dana usaha dalam bentuk saham atau pinjaman yang bisa dialihkan menjadi saham. Sumber dana tersebut adalah perusahaan modal ventura yang mengharapkan keuntungan dari investasinya tersebut.27
25
Munir Fuady, 2002, Hukum Tentang Pembiayaan (Dalam Teori dan Praktek). PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 109.
26
O. P. Simorangkir, 2004, Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, Ghalia Indonesia, Bogor, hal. 170.
27
Di dalam Pasal 1 angka 11 Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga Pembiayaan menyatakan, bahwa perusahaan modal ventura adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu. Definisi yang sama diulang kembali dalam Pasal 1 huruf (h) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1251/KMK.013/1988 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan.
Pada setiap kegiatan bisnis pembiayaan, termasuk modal ventura inisiatif untuk mengadakan hubungan kontraktuil berasal dari para pihak terutama perusahaan pasangan usaha. Kehendak para pihak tersebut dituangkan dalam bentuk tertulis berupa rumusan perjanjian yang menetapkan kewajiban dan hak masing-masing pihak dalam hubungan bisnis pembiayaan modal ventura.
Notaris merupakan salah satu pihak utama yang terlibat dalam membuatkan akta-akta atau perjanjian-perjanjian antara perusahaan modal ventura dengan perusahaan pasangan usaha sebagai alat bukti apa saja yang diperjanjikan antara perusahaan modal ventura dengan perusahaaan pasangan usaha. Notaris juga dapat berperan untuk memberikan saran apabila terjadi masalah-masalah hukum yang perlu dijembatani.
1.5.4.2 Pengaturan Modal Ventura
Modal ventura salah satu lembaga pembiayaan yang keberadaannya masih relative baru. Secara institusional dan formal usaha modal ventura ini baru ada setelahkeluarnya Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, dan
Keputusan Manteri Keuangan No. 1251/KMK. 013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Kedua peraturan ini merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum modal ventura.
Di samping kedua peraturan di atas, modal ventura sebagai lembaga bisnis di bidang pembiayaan juga bersumber dari berbagai peraturan perundangan baik yang bersifat perdata maupun yang bersifat publik. Abdulkadir Muhammad dan Rirda Murniati mengelompokkan sumber hukum modal Ventura ke dalam dua klasifikasi, yaitu dari hukum perdata, dan dari segi hukum publik. Dari segi perdata, perjanjian adalah hukum sumber utama hukum modal ventura, adapun dari segi public adalah peraturan perundangan sebagai sumber utama dalam hukum modal ventura.28
1. Segi Hukum Perdata
Hukum perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan-kepentingan perdata para pihak yang terikat dalam suatu hubungan hukum. Dari kegiatan bisnis modal ventura ini yang dimaksud para pihak adalah perusahaan modal ventura (venture capital company) dan perusahaan pasangan usaha (investe company). Dari segi hukum perdata, ada 2 (dua) sumber hukum yang mendasari usaha modal ventura, yaitu kebebasan berkontrak, dan perudang-undangan bidang hukum perdata.
a. Asas Kebebasan Berkontrak
Hubungan hukum yang terjadi dalam modal ventura selalu dibuat secara tertulis (kontrak) sebagai dokumen hukum yang menjadi
28 Abdulkadir Muhammad dan Rirda Murniati, 2000, Segi Hukum
dasar kepastian hukum (Legal Certanty). Kontrak modal ventura ini dibuat berdasarkan atas asas kebebasan berkontrak yang memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban dari pihak perusahaan modal ventura dari modal perusahaan dan pihak perusahaan pasangan usaha.
Kontrak modal ventura merupakan dokumen hukum utama (Main Legal Document) yang dibuat secara sah dengan memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam pasal 1320 KUH Perdata. Akibat hukum kontrak yang dibuat secara sah, maka akan berlaku sebagai undang-undang bagi perusahaan modal ventura dan pihak perusahaan pasangan usaha (Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata). Konsekuensi Yuridis selanjutnya, kontrak tersebut harus dilaksanakan dengan iktikad baik (In Good Faith) dan tidak dibatalkan secara sepihak (Unilateral Unvoiduble). Kontrak modal ventura berfungsi sebagai dokumen bukti yang sah bagi perusahaan modal ventura dan perusahaan pasangan usaha.
b. Undang-Undang di Bidang Hukum Perdata
Sumber hukum modal ventura yang berupa undang-undang di bidang hukum perdata adalah KUH Perdata, Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tetang Perkoperasian, dan UNdang-UNdang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasal Modal.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) hingga sekarang masih berlaku sebagai sumber hukum utama, khususnya
ketetuan-ketentuan tentang perikatan/pernjanjian dalam Buku III KUH Perdata yang relevan dengan kontrak modal ventura. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 dan peraturan pelaksanaannya menjadi sumber hukum dalam modal ventura karena bentuk badan usaha perusahaan modal ventura dapat berupa Perseroan Terbatas (PT). dengan demikian, cara pendirian Perusahaan Modal Ventura, dan kegiatan pembiayaan yang dilakukan, yaitu berupa penyertaan modal dalam bentuk pembelian saham Perusahaan Pasangan Usaha harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 dan peraturan pelaksanaan.29
Adapun Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 berlaku bagi usaha modal ventura apabila bentuk badan usaha perusahaan modal ventura tersebut adalah koperasi, sehingga di dalam pendirian dan kegiatan juga harus mematuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam undang-undang tersebut. Selanjutnya apabila perusahaan modal ventura melakukan jual beli saham di pasar modal, maka Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 mnejadi sumber hukum modal Ventura.30
2. Segi Hukum Publik
Sebagai usaha yang bergerak di bidang jasa pembiayaan, modal ventura banyak menyangkut kepentingan public terutama yang bersifat administratif. Oleh karena itu, perundang-undangan yang bersfiat public
29 Sunaryo, 2013, Hukum Lembaga Pembiayaan, Sinar Grafika, Jakarta,
hal. 36.
30
yang relevan berlaku pula pada usaha modal ventura. Perundang-undangan tersebut terdiri atas undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan Presiden, dan keputusan menteri.31
a. Undang-Undang di Bidang Hukum Publik
Berbagai undang-undang di bidang administrasi negara yang menjadi sumber hukum utama modal ventura adalah sebagai berikut : 1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok
Agraria dan peraturan pelaksanaannya. Berlakunya undang-undang ini apabila perusahaan modal ventura mengadakan perjanjian mengenai dan atau berusaha dengan hak-hal atas tanah.
2) Undang-Undang No. 3 Tahun 1983 tentang Wajib Daftar Perusahan dan peraturan pelaksanaannya. Berlakunya undang-undang ini apabila perusahaan modal ventura berurusan dengan pendaftaran perusahaan pada waktu pendirian, pendaftaran ulang, dan pendaftaran likuidasi perusahaan.
3) Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 Undang-Undang No. 7 Tahun 1991, Undang-Undang No. 8 Tahun 1991 dan peraturan pelaksanaannya, semuanya tentang Perpajakan. Berlakunya undang-undang ini karena perusahaan modal ventura wajib membayar pajak bumi dan bangunan, penghasilan, dan pertambahan nilai serta pajak jenis lainnya.
31
b. Peraturan tentang Lembaga Pembiayaan
Peraturan tentang lembaga pembiayaan yang mengatur usaha modal vetura antara lain adalah :
1) Peraturan Pemerintah NO. 18 Tahun 1973 yang mengatur tentang pendirian PT (persero) Bahana Pembinaan Usaha Indonesia. ini adalah perusahaan modal ventura yang pertama di Indonesia yang sahamnya dipegang oleh Departemen Keuangan dan Bank Indonesia.
2) Keputusan Presiden No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan. Di dalamnya memuat tentang pengakuan bahwa modal ventura sebagai salah satu bentuk model penyaluran pembiayaan. Bentuk hukum perusahaan modal vetura adalah Perseroan terbatas atau Koperasi, dan dalam kegiatannya dilarang menarik dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito, tabungan, dan surat sanggup bayar (promissory note). 3) Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK. 013/1988 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan, yang kemudian diubah dan disempurnakan dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 468 Tahun 1995 dalam Keputusan Menteri Keuangan ini mengatur tentang sasaran kegiatan perusahaan modal ventura, jangka waktu penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha, izin usaha, besaran modal, pembinaan dan pengawasan, serta sanksi apabila perusahaan modal ventura
melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dari Keputusan Menteri Keuangan tersebut.32
1.5.5 Konsep Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Pengertian dan kriteria Usaha Mikro dan Kecil (UMK) menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (selanjutnya disebut Undang-Undang UMKM). Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang. Sedangkan Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha.
Sedangkan Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Tentang kriteria usaha mikro, kecil dan menengah dijelaskan dalam Pasal 6, yaitu :
32
1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
4. Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan ayat (2) huruf a, huruf b, serta ayat (3) huruf a, huruf b nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian yang diatur dengan Peraturan Presiden.
Sebelum undang-undang tersebut diberlakukan, kriteria UMKM dijelaskan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 37/M-IND/PER/6/2006 tentang Pengembangan Jasa Konsultansi Industri Kecil dan Menengah (IKM) Menteri Perindustrian Republik Indonesia, menyatakan bahwa Perusahaan Industri Menengah yang selanjutnya disebut Industri Menengah (IM) adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang industri dengan nilai investasi lebih besar dari Rp. 200.000.000,-(dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Pasal 1 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 254/MPP/Kep/7/1977 Tentang Kriteria Industri dan Perdagangan Kecil di Lingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan menetapkan kriteria Industri Kecil dan Perdagangan Kecil di lingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, yaitu : nilai investasi perusahaan seluruhnya sampai dengan Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan pemiliknya adalah Warga Negara Indonesia.
Dengan berlakunya Undang Undang Nomor 20 tahun 2008 tersebut, maka kriteria industri dan perdagangan kecil sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 254/MPP/Kep/7/1977 dan No. 37/M-IND/PER/6/2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. Dalam perkembangannya UMKM berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi sangat penting, seperti dinyatakan dalam laporan penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2005 distribusi UKM terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp. 1.480 trilyun (54 persen), sementara dari usaha besar sebesar Rp. 1.249 Trilyun (46 persen). Data juga menunjukkan bahwa tenaga kerja yang dapat diserap dari sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) cukup besar bila dibandingkan dengan usaha skala besar.33
1.5.6 Konsep Perjanjian Pembiayaan pada Perusahaan Modal Ventura
Sebagaimana halnya dengan pembiayaan lainnya, maka dalam realisasi pembiayaan modal ventura pun harus selalu didahului dengan suatu perjanjian antara perusahaan modal ventura dengan perusahaan pasangan usaha. Menurut Andi Maradang Mackulau, perjanjian pembiayaan dengan pola bagi hasil merupakan suatu perjanjian dalam hal mana pihak yang satu (pihak pertama) berkewajiban menyerahkan sejumlah uang dan atau barang tertentu kepada dan untuk dipergunakan oleh pihak yang lain (pihak kedua) sebagai modal atau tambahan modal usaha, dengan kewajiban bagi pihak lainnya itu untuk pada waktunya membayar kembali dan memberi imbalan pada pihak pertama menurut bentuk, cara, jumlah, jangka waktu serta syarat yang telah disepakati.34
Pembiayaan dengan pola bagi hasil adalah merupakan suatu perjanjian, oleh karena itu ketentuan umum mengenai hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam Buku Ketiga KUHPerdata, antara lain yang menyangkut syarat sahnya perjanjian serta asas-asas hukum perjanjian. Perusahaan Modal Ventura sebagai pihak yang memberikan fasilitas pembiayaan dan perusahaan pasangan usaha
33Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Republik Indonesia, 2006,
Rencana Strategis (RENSTRA) Satuan Tugas (SATGAS) Konsultasi Keuangan/Pendampingan UMKM Mitra Bank (KKMB), hal. i.
34
Andi Maradang Mackulau, 2003, “Tinjauan Hukum Pembiayaan Bagi Hasil Modal Ventura” Rapat Executive Committee, hal. 2.
sebagai pihak yang menerima pembiayaan perlu memperhatikan syarat-syarat perjanjian yang ditentukan dalam Pasal 1320 BW/KUHPerdata, yaitu :
1. Adanya kesepakatan dari para pihak; 2. Kecakapan untuk membuat perjanjian; 3. Obyek yang diperjanjikan; dan
4. Sebab yang halal.
Sedangkan asas-asas hukum perjanjian yang perlu diperhatikan, yakni : 1. Asas konsensualitas (Pasal 1320 BW/KUHPerdata)
2. Asas kebebasan berkontrak (Pasal 1338 ayat (1) BW/KUHPerdata) 3. Asas Itikad baik (Pasal 1338, Pasal 1320, Pasal 1321 BW/KUHPerdata).
Di dalam perjanjian pembiayaan dengan pola bagi hasil terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembiayaan modal ventura, yaitu :
1. Perusahaan modal ventura
Perusahaan modal ventura merupakan salah satu pihak dalam suatu perjanjian, yakni pihak yang memberikan dana kepada pihak lainnya, yaitu pihak perusahaan pasangan usaha yang dapat menjalankan perusahaan modal ventura adalah hanya perusahaan pembiayaan.
2. Perusahaan pasangan usaha
Perusahaan pasangan usaha haruslah berbentuk perusahaan. Dengan demikian, pihak perorangan tidak mungkin mendapatkan bantuan modal melalui bisnis modal ventura