BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.2. Landasan Teori
2.2.3 Pencegahan Kebakaran pada Bangunan Gedung
Persyaratan keselamatan bangunan gedung sebagai aspek utama dalam perlindungan bangunan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang mengatur tentang persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung di Indonesia. Dalam pasal 19 disebutkan bahwa “ Seluruh bangunan gedung selain rumah tinggal harus dilengkapi dengan sistem proteksi pasif dan aktif.” Peraturan kebakaran juga terdapat pada Kepmen PU Nomor : 10/KPTS/2000 tentang Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan serta Kepmen PU Nomor : 11/KPTS/2000 tentang Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan dan ditindaklanjuti dengan Keputusan Direktur
Jenderal Perumahan dan Permukiman Nomor : 58/KPTS/2002 tentang Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.
Pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan adalah segala upaya yang menyangkut ketentuan dan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung, termasuk dalam rangka proses perizinan, pelaksanaan dan pemanfaatan/pemeliharaan bangunan gedung, serta pemeriksaan kelayakan dan keandalan bangunan gedung terhadap bahaya kebakaran. Berdasarkan Kepmen PU Nomor : 10/KPTS/2000 standar pencegahan kebakaran pada bangunan dan lingkungan terdiri dari :
1. Sistem Kelengkapan Tapak
Bangunan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sekitarnya, bangunan dibuat untuk menampung dan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan manusia, untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam merespon kebutuhan sosial, ekonomi dan budaya. Sistem kelengkapan tapak antara lain :
a. Kepadatan bangunan, jarak bangunan satu dengan bangunan yang lain, menjadi salah satu tingkat kerawanan terhadap kebakaran. Tata letak bangunan seperti penataan blok-blok bangunan
b. Jalan lingkungan yang digunakan untuk akses dari luar, seperti jalur pemadam kebakaran, lebar jalan dan jenis perkerasan jalan.
c. Sistem penyediaan air hidran yang merupakan ketersediaan air dalam memadamkan api.
d. Sumber air yang dapat dijadikan pemadaman seperti air kolam, water tank, sungai maupun sumber yang lain.
Gambar 2.3. Sistem Pencegahan Kebakaran pada Kelengkapan Tapak Sumber : Dokumentasi Pribadi
Sarana jalan keluar bangunan merupakan bagian dari bangunan yang digunakan untuk penyelamatan manusia maupun kegiatan lain, agar terhindar dari ancaman kebakaran. Fungsi sarana penyelamatan agar penghuni bangunan memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman, dalam keadaan darurat. “Sarana penyelamatan adalah akses yang diberikan pada bangunan untuk mempermudah penyelamatan manusia keluar dari bangunan apabila terjadi kebakaran”, (Frick dkk. 2008. 163-164) Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam sarana evakuasi ini adalah :
a. Jalan keluar berupa tangga kebakaran dan jenisnya yang berhubungan dengan kemudahan pencapaian, tanda/penunjuk arah ke tangga darurat, lebar tangga darurat dan pintu kebakaran.
b. Konstruksi jalur keluar harus tahan api dan memberi kemudahan dalam evakuasi untuk memberikan rasa aman kepada penghuni
c. Landasan helikopter untuk penyelamatan, khusunya pada bangunan tinggi diatas 60 m, karena jangkauan penyelamatan sangat tinggi.
Gambar 2.4. Sarana penyelamatan pada bangunan Sumber : Dokumentasi Pribadi
3. Sistem Proteksi pasif
Sistem proteksi pasif kebakaran adalah sistem perlindungan bangunan terhadap kebakaran melalui sifat termal bahan bangunan, penerapan sistem kompartemenisasi dalam bangunan, serta persyaratan ketahanan api dalam struktur bangunan. Sistem proteksi pasif dalam bangunan mempunyai tujuan untuk : melindungi bangunan dari keruntuhan serentak, memberi waktu untuk menyelamatkan diri, menjamin keberlangsungan fungsi gedung dan melindungi keselamatan petugas pemadam kebakaran. Sistem proteksi pasif ditekankan pada aspek bahan bangunan, konstruksi
bangunan dan bentuk penataan ruang serta bukaan. Ada tiga hal yang berkaitan dengan ketahanan bahan bangunan terhadap api yang harus dipenuhi sebagai bahan konstruksi yaitu :
· ketahanan memikul beban (kelayakan struktur) yaitu kemampuan untuk memelihara stabilitas dan kelayakan kapasitas beban sesuai dengan standar yang dibutuhkan.
· Ketahanan terhadap penjalaran api (integritas) yaitu kemampuan untuk menahan penjalaran api dan udara panas sebagaimana ditentukan oleh standar.
· Ketahanan terhadap penjalaran panas yaitu kemampuan untuk memelihara temperatur pada permukaan yang tidak terkena panas langsung dari tungku kebakaran pada temperatur dibawah 1400 c sesuai dengan standar uji ketahanan api.
Dikaitkan dengan ketahanan terhadap api, struktur bangunan mempunyai 3 (tiga) tipe konstruksi, yaitu:
a. Tipe A: Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap beban bangunan. Pada konstruksi ini terdapat komponen pemisah pembentuk kompartemen untuk mencegah penjalaran api ke dan dari ruangan bersebelahan dan dinding yang mampu mencegah penjalaran panas pada dinding bangunan yang bersebelahan.
b. Tipe B: Konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen penahan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan, dan dinding luar mampu mencegah penjalaran kebakaran dari luar bangunan.
c. Tipe C: Konstruksi yang komponen struktur bangunannya adalah dari bahan yang dapat terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran.
Jumlah lantai dan tipe konstruksi yang dipersyaratkan pada bangunan dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Jumlah lantai bangunan
Kelas bangunan/tipe konstruksi
2,3,9 5,6,7,8 4 atau lebih A A 3 A B 2 B C 1 C C Sumber : SNI 03 – 1736 – 2000
Sistem proteksi pasif ditekankan pada aspek bahan bangunan, sikap bagian bangunan yang terbakar tidak bisa dipisahkan dari ketahanan bahan bangunan terhadap api, perubahan bahan bangunan oleh kebakaran dapat dilihat dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Ketahanan Material Terhadap Api
BAHAN SIFAT KETAHANAN TERHADAP API
Baja Mengubah bentuknya oleh
pengaruh panas dapat
dipengaruhi oleh jenis campuran pembentuknya
Krom (Cr) Molibdan (Mo), Nikel (Ni) atau Vanadium (V) menghasilkan baja yang memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap panas.
Beton Bahan bangunan yang tahan api Ketahanan api tergantung pada bahan tambahan yang digunakan dan apakah ada tulangan baja atau tidak. Kaca Bahan yang tidak menyala Bukan merupakan bahan yang tahan api karena kaca
memungkinkan radiasi kalor tembus, kaca sangat peka terhadap perubahan tegangan kalor, akibat kebakaran kaca cukup cepat pecah
Kayu Pembakaran kayu merupakan oksidasi atas unsur asalnya yaitu H2o dan CO2 degan O2
Bahan yang tahan api, bila tidak terkena api secara langsung.
Bahan sintetis
Merupakan bahan yang mudah terbakar dan menyala
Dalam keadaan menyala, bahan sintetis mengakibatkan tetes cairan yang sulit untuk dipadamkan, menghasilkan asap tebal dan atau melepaskan gas beracun.
Sumber : Koesmartadi, “ Desain Bangunan yang mengantisipasi Bahaya Kebakaran” , 2008.
4. Sistem proteksi aktif
Sistem proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual ataupun otomatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti springkler, pipa tegak dan slang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan kimia, seperti APAR, pemadam khusus, peralatan pengendali asap, sistem daya listrik, lift, pencahayaan darurat dan ruang pengendali operasi.
Gambar 2.5. Beberapa contoh sistem proteksi aktif pada bangunan gedung Sumber : Dokumentasi Pribadi
5. Pengawasan dan pengendalian
Mengatur tentang pengawasan dan pengendalian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan/pemeliharaan.