• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Konsep Penyakit Malaria

2.3.5. Pencegahan Malaria

1. Tindakan terhadap manusia

a. Edukasi adalah faktor terpenting pencegahan malaria yang harus diberikan kepada setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis.

Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria,

risiko terkena malaria, dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan

b. Melakukan kegiatan sistem kewaspadaan dini, dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria.

c. Proteksi pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigitan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu,

memakai obat penolak nyamuk, dan menghindari untuk mengunjungi lokasi

yang rawan malaria.

d. Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh di saat nyamuk anopheles umumnya menggigit.

2. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp)

Walaupun upaya pencegahan gigitan nyamuk cukup efektif mengurangi paparan

dengan nyamuk, namun tidak dapat menghilangkan sepenuhnya risiko terkena

infeksi. Diperlukan upaya tambahan, yaitu kemoprofilaksis untuk mengurangi

risiko jatuh sakit jika telah digigit nyamuk infeksius. Beberapa obat-obat

antimalaria yang saat ini digunakan sebagai kemoprofilaksis adalah klorokuin,

meflokuin (belum tersedia di Indonesia), doksisiklin, primakuin dan sebagainya.

Dosis kumulatif maksimal untuk pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada

orang dewasa adalah 100 gram basa. Untuk mencegah terjadinya infeksi malaria

terhadap pendatang yang berkunjung ke daerah malaria pemberian obat dilakukan

setiap minggu; mulai minum obat 1-2 minggu sebelum mengadakan perjalanan

ke endemis malaria dan dilanjutkan setiap minggu selama dalam perjalanan atau

tinggal di daerah endemis malaria dan selama 4 minggu setelah kembali dari

daerah tersebut. Pengobatan pencegahan tidak diberikan dalam waktu lebih dari

risiko tinggi malaria dimana terjadi penularan malaria yang bersifat musiman

maka upaya pencegahan terhadap gigitan nyamuk perlu ditingkatkan sebagai

pertimbangan alternatif terhadap pemberian pengobatan profilaksis jangka

panjang dimana kemungkinan terjadi efek samping sangat besar.

3. Tindakan terhadap vektor

a. Pengendalian secara mekanis Dengan cara ini, sarang atau tempat

berkembang biak serangga dimusnahkan, misalnya dengan mengeringkan

genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Termasuk dalam pengendalian ini

adalah mengurangi kontak nyamuk dengan manusia, misalnya memberi

kawat nyamuk pada jendela dan jalan angin lainnya.

b. Pengendalian secara biologis Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup yang bersifat parasitik terhadap nyamuk atau

penggunaan hewan predator atau pemangsa serangga. Dengan pengendalian

secara biologis ini, penurunan populasi nyamuk terjadi secara alami tanpa

menimbulkan gangguan keseimbangan ekologi. Memelihara ikan pemangsa

jentik nyamuk, melakukan radiasi terhadap nyamuk jantan sehingga steril dan

tidak mampu membuahi nyamuk betina. Pada saat ini sudah dapat dibiakkan

dan diproduksi secara komersial berbagai mikroorganisme yang merupakan

parasit nyamuk. Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang

banyak digunakan, sedangkan Heterorhabditis termasuk golongan cacing

nematode yang mampu memeberantas serangga. Pengendalian nyamuk

dewasa dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki temak lembu, kerbau,

darah binatang (ternak) sebagai sumber mendapatkan darah, untuk itu ternak

dapat digunakan sebagai tameng untuk melindungi orang dari serangan An.

aconitus yaitu dengan menempatkan kandang ternak diluar rumah (bukan

dibawah kolong dekat dengan rumah).

c. Pengendalian secara kimiawi Pengendalaian secara kimiawi adalah

pengendalian serangga menggunakan insektisida. Dengan ditemukannya

berbagai jenis bahan kimia yang bersifat sebagai pembunuh serangga yang

dapat diproduksi secara besar-besaran, maka pengendalian serangga secara

kimiawi berkembang pesat.

2.3.5.2. Pencegahan Sekunder 1. Pencarian penderita malaria

Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita

malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis

(mikroskopis dan /atau RDT (Rapid Diagnosis Test)) dan secara pasif dengan cara

malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria.

2. Diagnosa dini

a. Gejala Klinis Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari

penderita tentang keluhan utama (demam, menggigil, berkeringat dan dapat

disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-pegal),

riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemis

riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir, riwayat mendapat transfusi

darah. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan fisik berupa :

1) Demam (pengukuran dengan thermometer ≥37.5°C) 2) Anemia

3) Pembesaran limpa (splenomegali) atau hati (hepatomegali)

b. Pemeriksaan Laboratorium

1) Pemeriksaan mikroskopis

2) Tes Diagnostik Cepat (RDT, Rapid Diagnostic Test)

c. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliput i

pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit dan

trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah, pemeriksaan foto

toraks, EKG (Electrokardiograff), dan pemeriksaan lainnya.

3. Pengobatan yang tepat dan adekuat

Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat

disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit.

Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam

tubuh manusia seumur hidup. Sejak 1638, malaria diobati dengan ekstrak kulit

tanaman cinchona. bahan ini sangat beracun tetapi dapat menekan pertumbuhan

protozoa dalam darah. Saat ini ada tiga jenis obat anti malaria, yaitu Chloroquine,

Doxycyline, dan Melfoquine. Tanpa pengobatan yang tepat akan dapat mengakibatkan

a. Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah dengan menggunakan chloroquine terhadap P. falciparum, P. vivax, P. malariae dan P. ovale yang

masih sensitif terhadap obat tersebut.

b. Untuk pengobatan darurat bagi orang dewasa yang terinfeksi malaria dengan

komplikasi berat atau untuk orang yang tidak memungkinkan diberikan obat

peroral dapat diberikan obat Quinine dihydrochloride.

c. Untuk infeksi malaria P. falciparum yang didapat di daerah dimana ditemukan strain yang resisten terhadap chloroquine, pengobatan dilakukan dengan

memberikan quinine.

d. Untuk pengobatan infeksi malaria P. vivax yang terjadi di Papua New Guinea atau Irian Jaya (Indonesia) digunakan mefloquine.

e. Untuk mencegah adanya infeksi ulang karena digigit nyamuk yang mengandung malaria P. vivax dan P. ovale berikan pengobatan dengan primaquine. Primaquine

tidak dianjurkan pemberiannya bagi orang yang terkena infeksi malaria bukan

oleh gigitan nyamuk (sebagai contoh karena transfusi darah) oleh karena dengan

cara penularan infeksi malaria seperti ini tidak ada fase hati.

2.3.5.3. Pencegahan Tertier

1. Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria

Kematian pada malaria pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena

infeksi P. falciparum. Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan

kesadaran sampai gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. Prinsip

a. Pemberian obat malaria yang efektif sedini mungkin

b. Penanganan kegagalan organ seperti tindakan dialisis terhadap gangguan fungsi ginjal, pemasangan ventilator pada gagal napas.

c. Tindakan suportif berupa pemberian cairan serta pemantauan tanda vital untuk

mencegah memburuknya fungsi organ vital.

2. Rehabilitasi mental/ psikologis

Pemulihan kondisi penderita malaria, memberikan dukungan moril kepada

penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria, melaksanakan

rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan tingkat lanjut.

Dokumen terkait