• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.8. Pencegahan Cedera Kepala

2.8.1. Pencegahan Primordial

Pencegahan primordial adalah pencegahan yang dilakukan kepada orang- orang yang belum terkena faktor resiko yaitu berupa safety facilities: koridor (sidewalk), jembatan penyeberangan (over hedge bridge), rambu-rambu jalan (traffic signal), dan peraturan (law).

2.8.2. Pencegahan Primer1

Pencegahan primer adalah segala upaya yang dilakukan sebelum suatu peristiwa terjadi untuk mencegah faktor resiko yang mendukung terjadinya kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan cedera kepala seperti:

a. Tidak mengemudi dengan gangguan kesehatan (terlalu lelah, mengantuk, di bawah pengaruh obat-obatan dan alkohol)

b. Pengendalian kecepatan kendaraan/ tidak mengebut c. Penggunaan helm dan sabuk pengaman

d. Muatan penumpang tidak berlebihan

e. Membuat jalanan yang lebih aman dan nyaman (tidak macet, kondisi tidak berlubang-lubang, tidak berkelok-kelok)

2.8.3. Pencegahan Sekunder5

Pencegahan sekunder yaitu pencegahan untuk menghentikan atau mengurangi perkembangan penyakit atau cedera kepala ke arah kerusakan dan ketidakmampuan. Pada pencegahan sekunder dilakukan diagnosis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis, dan pemeriksaan radiologis.

a. Anamnesis

Sedapatnya dicatat apa yang terjadi, dimana, kapan waktu terjadinya kecelakaan yang dialami pasien. Selain itu perlu dicatat juga tentang kesadarannya, luka-luka yang diderita, muntah atau tidak, adanya kejang. Keluarga pasien diminta keterangan tentang apa yang terjadi.

b. Pemeriksaan Fisik Umum

Pada pemeriksaan fisik dicatat tanda-tanda vital yaitu kesadaran, nadi, tensi darah, frekuensi dan jenis pernapasan serta suhu tubuh. Tingkat kesadaran juga dicatat yaitu kompos mentis (kondisi segar bugar), apatis, somnolen (mengantuk), sopor (tidur), atau koma. Selain itu dapat pula ditentukan dengan GCS.

c. Pemeriksaan Neurologis

Pada pasien yang sadar dapat dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. Pada pasien yang berada dalam keadaan koma hanya dapat dilakukan pemeriksaan objektif. Bentuk pemeriksaan yang dilakukan adalah tanda perangsangan meningen, yang berupa tes kaku kuduk yang hanya boleh dilakukan bila kolumna vertebralis servikalis (ruas tulang leher) normal. Tes ini tidak boleh dilakukan bila ada fraktur atau dislokasi servikalis. Selain itu dilakukan perangsangan terhadap sel saraf motorik dan sensorik (nervus kranialis). Saraf yang diperiksa yaitu saraf 1 sampai saraf 12 yaitu: nervus I (olfaktoris), nervus II (optikus), nervus III (okulomotoris), nervus IV (troklealis), nervus V (trigeminus), nervus VI (abdusens), nervus VII (fasialis), nervus VIII (oktavus), nervus IX (glosofaringeus), nervus X (vagus), nervus XI (spinalis), nervus XII (hipoglous), nervus spinalis (pada otot lidah), dan nervus hipoglosus (pada otot belikat) berfungsi sebagai saraf sensorik dan motorik.

d. Pemeriksaan Radiologis d.1. Foto rontgen polos

Pada cedera kepala perlu dibuat foto rontgen kepala dan kolumna vertebralis servikalis. Film diletakkan pada sisi lesi akibat benturan. Bila lesi terdapat di daerah oksipital, buatkan foto anterior-posterior. Bila lesi terdapat di daerah frontal buatkan foto posterior-anterior. Bila lesi terdapat di daerah temporal, pariental atau frontal lateral kiri, film diletakkan pada sisi kiri dan dibuat foto dari kanan ke kiri. Kalau diduga ada fraktur basis kranii, maka dibuatkan foto basis kranii dengan kepala menggantung dan sinar rontgen terarah tegak lurus pada garis antar angulus mandibularis (tulang rahang bawah).

Foto kolumna vertebralis servikalis dibuat anterior-posterior dan lateral untuk melihat adanya fraktur atau dislokasi. Pada foto polos tengkorak mungkin dapat ditemukan garis fraktur atau fraktur impresi. Tekanan intrakranial yang tinggi mungkin menimbulkan impressions digitae.

d.2. Compute Tomografik Scan (CT-Scan)

CT-Scan diciptakan oleh Hounsfield dan Ambrose pada tahun 1972. Dengan pemeriksaan ini kita dapat melihat ke dalam rongga tengkorak. Potongan- potongan melintang tengkorak bersama isinya tergambar dalam foto dengan jelas.

CT-Scan kepala merupakan standard baku untuk mendeteksi perdarahan intrakranial. Semua pasien dengan GCS<12 sebaiknya menjalankan pemeriksaan CT-Scan, sedangkan pada pasien dengan GCS>12 CT-Scan dilakukan hanya dengan indikasi tertentu seperti: nyeri kepala hebat, adanya tanda-tanda fraktur basis kranii, adanya riwayat cedera yang berat, muntah lebih dari satu kali, penderita lansia (> 65 tahun) dengan penurunan kesadaran atau anamnesia, kejang, riwayat gangguan vaskuler atau menggunakan obat-obat anti koagulen, rasa baal pada tubuh, gangguan keseimbangan atau berjalan, gangguan orientasi, berbicara, membaca, dan menulis.

d.3. MRI (Magnetic Resonance Imaging)28

MRI adalah teknik pencitraan yang lebih sensitif dibandingkan dengan CT- Scan. Kelainan yang tidak tampak pada CT-Scan dapat dilihat dengan MRI. Namun, dibutuhkan waktu pemeriksaan lebih lama dibandingkan dengan CT- Scan sehingga tidak sesuai dengan situasi gawat darurat.

2.8.4. Pencegahan Tersier5

Pencegahan tersier yaitu upaya mencegah komplikasi cedera kepala yang lebih berat atau kematian. Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan melakukan rehabilitasi yang tepat, pemberian pendidikan kesehatan sekaligus konseling yang bertujuan untuk mengubah perilaku (terutama perilaku berlalu lintas) dan gaya hidup penderita. Rehabilitasi adalah bagian penting dari proses pemulihan penderita cedera kepala. Tujuan rehabilitasi setelah cedera kepala yaitu untuk meningkatkan kemampuan penderita untuk melaksanakan fungsinya di dalam keluarga dan di dalam masyarakat.

2.9. Kerangka Konsep

Karakteristik Penderita Cedera Kepala 1. Sosiodemografi Umur Jenis Kelamin Pekerjaan 2. Penyebab 3. Waktu kejadian 4. Tingkat keparahan 5. Lama rawatan rata-rata 6. Keadaan sewaktu pulang 7. Sumber biaya

8. CFR penderita cedera kepala 2.10. Definisi Operasional

2.10.1. Penderita cedera kepala adalah pasien yang mengalami suatu trauma mekanik pada kepala baik secara langsung atau tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial, baik temporer maupun permanen berdasarkan diagnosa

dokter dan dinyatakan menderita cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas darat yang tercatat pada kartu status.

2.10.2. Umur adalah usia penderita yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. ≤ 15 tahun 2. 16-24 tahun 3. 25-44 tahun 4. ≥ 45 tahun

2.10.3. Jenis kelamin adalah ciri khas (organ reproduksi) yang dimiliki penderita seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. Laki-laki 2. Perempuan

2.10.4. Pekerjaan adalah kegiatan utama yang dilakukan oleh penderita seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. PNS/TNI/Polri 2. Pegawai swasta 3. Wiraswasta 4. IRT 5. Pelajar/Mahasiswa 6. Tidak bekerja

2.10.5. Penyebab adalah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan terjadinya cedera kepala pada korban seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. Kecelakaan lalu lintas (KLL) roda dua 2. Kecelakaan lalu lintas (KLL) roda tiga

2.10.6. Waktu kejadian adalah jam terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh penderita cedera kepala seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. 00.01-06.00 WIB 2. 06.01-12.00 WIB 3. 12.01-18.00 WIB 4. 18.01-24.00 WIB

2.10.7. Hari kejadian adalah hari terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh penderita cedera kepala seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas: 1. Senin 2. Selasa 3. Rabu 4. Kamis 5. Jumat 6. Sabtu 7. Minggu

2.10.8. Tingkat keparahan adalah derajat keparahan yang dialami oleh penderita cedera kepala seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas: 1. Ringan (GCS 13-15)

2. Sedang (GCS 9-12) 3. Berat (GCS 3-8)

2.10.9. Lama rawatan rata-rata adalah jumlah hari rata-rata perawatan penderita cedera kepala seperti yang tertera pada kartu status.

2.10.10. Keadaan sewaktu pulang adalah kondisi penderita sewaktu keluar dari rumah sakit seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas:

1. Pulang Berobat Jalan (PBJ)

2. Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) 3. Meninggal

2.10.11.Sumber biaya adalah asal biaya yang digunakan penderita selama masa perawatan seperti yang tertera pada kartu status yang dikategorikan atas: 1. Askes

2. Jamkesmas 3. Jamkesda 4. Umum

Untuk analisa statistik dikategorikan menjadi:

1. Bukan biaya sendiri (Askes, Jamkesmas, dan Jamkesda) 2. Biaya sendiri (Umum)

2.10.12. CFR penderita cedera kepala adalah angka atau proporsi kefatalan akibat cedera kepala yang diperoleh dari hasil bagi antara jumlah kematian akibat cedera kepala dengan jumlah penderita cedera kepala dalam periode waktu yang sama (tahun) dikali dengan 100%.

Dokumen terkait