Pada bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Definisi Konsep, dan Sistematika Penulisan
BAB II : METODE PENELITIAN
Pada bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan: Bentuk Penelitian, Lokasi Penelitian, Teknik Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data.
BAB III : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan: gambaran umum atau karakteristik lokasi penelitian yang mencakup sejarah singkat, visi dan misi, tugas dan fungsi,serta struktur organisasi.
BAB IV: PENYAJIAN DATA
Dalam bab ini penulis menguraikan tentang data-data yang diperoleh pada saat penelitian, dan membuatnya pada data penelitian ini.
BAB V: ANALISIS DATA
Dalam bab ini penulis menguraikan mengenai pembahasan yang berkaitan dengan perlindungan hukum dalam pelaksanaan bisnis waralaba, dan praktik pelaksanaan bisnis waralaba dimaksud.
BAB VI: PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran (melandasi) yang dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan bisnis waralaba.
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Sejarah Umum Perusahaan
Pada suatu panas di bulan Juni tahun 1919 di Lodi, California seorang pengusaha yang bernama Roy Allen berhasil meciptakan suatu minuman dingin berwarna krem atau lebih dikenal dengan nama Rootbeer. Allen memperoleh rumus untuk Rootbeer dari seorang apoteker ahli farmasi saat keduanya bertemu di Arizona. Rasanya memang khas. Selain itu, formula unik yang digunakannya membuat minuman itu beraroma khas, yang merupakan paduan dari sari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan beberapa campuran yang hingga kini tetap menjadi rahasia milik perusahaan.
Dengan keberhasilan Rootbeer yang pertama kali didirikan di Lodi, Allen segera membuka gerai kedua yang berdiri di dekat Sacramento. Lebih dari 70 tahun kemudian, A&W
Rootbeer menjadi penjual Rootbeer nomor satu di dunia, dan sampai saat ini terdapat ratusan
gerai restoran A&W di seluruh dunia.
A&W merupakan inisial nama belakang pendirinya, Roy Allen, yang kemudian memutuskan berkongsi dengan Frank Wright. A&W sendiri awalnya bukanlah sebuah restoran cepat saji sebagaimana yang kita saksikan saat ini. A&W pada awalnya terkenal sebagai merek minuman rasa sarsaparila, atau lebih dikenal dengan nama Rootbeer.
4.1.2 Sejarah Perkembangan Perusahaan
Kesuksesan dalam pemasaran minuman Rootbeer, oleh Allen sebagaimana dikemukakan di atas, maka untuk lebih memajukan pengelolaan usaha dengan market yang lebih luas lagi,
maka pada tahun 1922, Allen menjadikan Frank Wright , salah seorang bekas karyawannya di Lodi, California, menjadi mitra kerjanya dalam memperluas jaringan minuman khas sarsaparila tersebut. Dari sinilah kemudian muncul merk A&W, yang merupakan inisial dari dua nama mereka yakni "Allen & Wright". Minuman dan kedai itu pun akhirnya dinamai A&W Rootbeer, hingga saat ini.
Sejalan dengan bermitranya Allen dan Wright, A&W kemudian tidak hanya menjual produk minuman, melainkan juga makanan seperti burger, kentang, nugget, roti, waffle dan yang sejenisnya. Kombinasi yang kemudian semakin mendatangkan sukses kedua rekan kerja ini.
Penerapan logo A&W pun dilakukan sekitar tahun 1919 tersebut. Allen yang cerdas memulai pencitraan dengan memasang logo A&W pada gelas dan mug mereka. Dalam perkembangannya A&W mengalami beberapa kali perubahan, baik perubahan kepemilikan perusahaan maupun logo. Logo pertama A&W semula berupa lingkaran donat, inisial A&W, dengan tulisan "ice cold rootbeer" di dalamnya. Sebuah anak panah menancap tepat di tengah lingkaran donat tersebut. Logo ini juga memiliki beberapa versi, yakni hitam putih, hitam merah yang diperkenalkan 1948 dan seringkali disebut Red & Black Bulls Eye, serta dan coklat oranye yang diperkenalkan pada 1961, dengan nama "Brown & Orange Bulls Eye".
Pada tahun 1950, setelah sukses membangun jaringan restoran nasional sebanyak 450 gerai, akhirnya Allen merasa telah tiba waktunya untuk pensiun. Pada tahun itu juga Allen menemukan seorang pengusaha muda yang agresif asal Nebraska, bernama Gene Hurtz. Pada pengusaha inilah A&W kemudian dijualnya. Di tangan Hurtz pula berdiri A&W Rootbeer Company.
Semakin berkembangnya bisnis A&W Rootbeer Company tersebut, pada 1956 A&W mulai semakin dikenali di dunia dan memasuki negara Kanada. Kanada merupakan gerai pertama A&W diluar Amerika Serikat, tepatnya di daerah Winnipeg, Manitoba.
Saat berulang tahun ke-75 yaitu pada tahun 1994, A&W kembali berganti logo. Bentuk donat semula diubah oval dengan tetap menggunakan inisial A&W di tengahnya. Simbol anak panah juga dilepas, sehingga A&W lebih simpel dan mudah diingat. Kini setelah lebih dari 90 tahun, A&W menjadi salah satu restoran cepat saji terbesar di dunia.
Tabel 1: Logo A&W dari awal terbentuk hingga logo akhir
1921- Huruf A&W ditulis dalam huruf besar pada sebuah cangkir kaca .
1948- Logo Red & Black Bulls Eye pada latar belakang putih .
1961-Logo Brown & Orange Bulls Eye pada latar belakang putih.
1968- Logo Orange & Brown oval pada latar belakang putih. 1969- Logo Orange & Brown oval diberi warna kuning berlian, dengan kata-kata “75 tahun” dan “Authenctic sejak 1919”
1994- Warna putih dihapus dari belakang warna logo Orange & Brown oval
1995- Kembali ke logo Orange & Brown oval dengan latar belakang warna putih.
SUMBER : http://en.wikipedia.org/wiki/A%26W_Restaurants
http://www.awrootbeer.com/hist_logo.htm di akses tanggal 14 Juni, Jam 15.43 Wib
Secara khusus di Indonesia, pada tahun 1985 seorang pengusaha bernama Mr. Zaina, membeli A&W dari negara asing dengan lisensi merk dan bersertifikat halal secara internasional. Hingga sekarang ada sekitar 200 gerai A&W yang tersebar di Indonesia sejak tahun 1985, antara lain di Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya dan Medan.
Restoran A&W Plaza Medan Fair Medan berdiri di atas nama PT. Biru Fast Food Nusantara pada tahun 1985 dan pada tahun 2012 berubah nama menjadi PT. Prima Usaha Era Mandiri. Pada awalnya bahan baku di Restoran A&W Plaza Medan Fair Medan berasal dari Amerika (import), tetapi sejak 3 tahun terakhir ini, yaitu mulai tahun 2010 bahan baku tersebut diperoleh dari supplier lokal. Perkembangan bisnis Restoran A&W Plaza Medan Fair Medan mengalami kesuksesan yang cukup baik, terbukti dengan semakin bertambah banyak pelanggan setia yang menjadi konsumen A&W, dan berasal dari berbagai segmen masyarakat.
4.1.3 Visi dan Misi Perusahaan a. Visi
Menjadi retsoran terbaik dan menjadi pemimpin restoran dalam kategori fast food . b. Misi
1. Mendapat keuntungan yang tinggi
3. Memberikan produk yang berkualitas kepada customer 4. Menjaga kebersihan area restoran dan equipment 4.1.4 Struktur Perusahaan
Struktur perusahaan adalah susunan atau perwujudan yang mencerminkan arus atau garis perintah, tugas, kewajiban serta tanggung jawab. Pada umumnya, suatu organisasi digambarkan dalam bentuk bagan tertentu, sehingga dengan bagan akan dapat dilihat kedudukan maisng-masing dalam organisasi. Berikut struktur organisasi di Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan.
SUSUNAN KEPEMIMPINAN A&W MEDAN FAIR
GAMBAR 3.1 : Strukur Organisasi Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan Sumber : Supervisor (Risdo. S) Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan (27 Mei 2013)
ERIKA DELIANA RIZKY.D SARTIKA AINI
MANAGER
ADI
ASISTEN MANAGER ASISTEN MANAGER
JONI
PUTRI
SUPERVISSUPERVISOR SUPERVISOR SUPERVI SUPERVIS
SUPERVISOR
SECTION
DINNING CASHI ER KITCHEN PREPARATI ON STOCKE R SOVIE RIZKY.B YUSNI PRASETIO ESTER SRI. A SINGGI H HARI CHANDR ARISDO. S FAUZI FADLI
4.1.5 Deskripsi Tugas dan Fungsi Bidang
Adapun tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian yang ada dalam struktur organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Manager
Manager adalah posisi tertinggi dalam struktur organisasi Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan. Wewenang dan tanggung jawab dari manager adalah sebagai berikut:
a. Briefing : Memberikan pengarahan terhadap bawahan
b. Administrasi : Memberikan laporan akan proses operasional restoran c. Brankas (Menyimpan dan mengambil uang)
d. Production (Menangani Stock Restoran)
e. Operasioanal ( pengawasan terhadap proses operasional restoran) f. Pembagian kerja karyawan
g. Pelaporan Penjualan 2. Asisten Manager
Wewenang dan tanggung jawab Asisten Manager adalah membantu manager, dan menggantikan tugas manager jika berhalangan hadir atau sibuk.
3. Supervisor (Supervisi)
Wewenang dan tanggung jawab dari supervisor adalah sebagai berikut: a. Administrasi
b. Check in and check out (baik barang ataupun karyawan)
c. Production (Stock Level) : ending, expired, used, day
d. Menangani stock yang belum habis diorder e. Cleaning teller machine ice cream
f. Menentukan/ mengatur hari kerja g. briefing
4. Dining
Dining seperti waitress yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: a. Menarik tamu dengan melakukan greeting
b. Cleaning area
c. Clean as to go : Jika menggunakan sesuatu harus langsung dibersihkan
d. Clean up table : Jika tamu telah meninggalkan restoran, dining bertugas dan harus segera
membersihkan meja tamu tersebut. e. Menjaga service/pelayanan
5. Chasier
Tugas dan tanggung jawab Chasier adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan pencapaian sales
b. Meningkatkan NS (sales)/CU (Customer) c. Menghitung transaksi
d. Taking order/promosi
e. Menerima pesanan
f. Melakukan transaksi dengan customer 6. Kitchen
Tugas dan tanggung jawab dari Kitchen adalah sebagai berikut: a. Memasak semua produk yang dipesan pembeli
b. Menjaga Product Quality c. Check stock
d. Labeling : Memberikan label pada produk yaitu nama produk, tanggal save, tanggal expired.
7. Prepation
Tugas dan tanggung jawab pada bagian prepation hampir sama dengan kitchen yaitu: a. Melakukan persiapan
b. Memasak nasi (tidak memasak menu) c. Menjaga product quality
d. Membuat MC (Marianet chicken)
e. Production f. Labeling
g. Menyimpan produk yang dikirim ke prepation ke bagian kitchen 8. Stocker
Tugas dan tanggung jawab stocker adalah:
a. Bagian gudang (biasanya penyimpanan bahan kering)
b. Packaging (in out packaging)
c. Membuat tepung/meracik
d. Ekspedisi baik bahan kering maupun bahan basah (produk yang akan dijual). 4.2Penyajian Data
4.2.1 Data Tentang Praktik Pelaksanaan Bisnis Waralaba 1. Pertanyaan: Bagaimana prosedur pendaftaran waralaba?
Jawaban:
a. Setiap franchisee atau franchisee lanjutan wajib mendaftarkan perjanjian franchise termasuk keterangan tertulis dari franchisor, pada Departemen Perindustrian dan
Perdangan pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba (STPUW).
b. Pendaftaran tersebut dilakukan dengan cara mengisi daftar isian permintaan STPUW yang dapat diminta secara cuma-cuma di Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri atau di Kantor Wilayah Deperindag setempat dan dilakukan dalam waktu selambat-lambatnya tiga puluh hari kerja terhitung mulai tanggal berlakunya perjanjian waralaba, dapat dilihat di pasal 10 ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004, sebagaima telah diubah dengan UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah.
c. Daftar isian permintaan STPUW dibuat dalam rangkap dua ditandatangani oleh
franchisee atau franchisee lanjutan dan kuasanya. Daftar isian permintaan STPUW yang
telah diisi dan ditandatangani diserahkan kepada pejabat yang berwenang menerbitkan STPUW dengan dilengkapi fotocopi masing-masing satu eksemplar terdiri atas:
1. Perjanjian franchise beserta keterangan tertulis.
2. Surat Izin Usaha Perdagangan atau Surat Izin Usaha dari Departemen Teknis lainnya.38
2. Pertanyaan: Apa persyaratan yang harus dimiliki suatu usaha apabila ingin diwaralabakan?
Jawaban:
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.42 Tahun 2007 tentang Waralaba dalam pasal 3 ada 6 syarat, yaitu:
a. Memiliki ciri khas usaha
Suatu usaha yang memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah
38Hasil wawancara dengan Asisten Manager Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan (Joni) pada tanggal 28 Mei 2013
ditiru dibandingkan dengan usaha lain sejenis, dan membuat konsumen selalu mencari ciri khas dimaksud. Misalnya sistem manajemen, cara penjualan dan pelayanan, atau penataan atau cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus dari pemberi waralaba.
b. Terbukti sudah memberikan keuntungan
Menunjuk pada pengalaman pemberi waralaba yang telah dimiliki yang kurang lebih 5 tahun dan telah mempunyai kiat – kiat bisnis untuk mengatasi masalah – masalah dalam perjalanan usahanya, dan ini terbukti dengan masih bertahan dan berkembangnya usaha tersebut dengan menguntungkan.
c. Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan / atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis.
Usaha tersebut sangat mebutuhkan standar secara tertulis supaya penerima waralaba dapat melaksanakan usaha dalam kerangka kerja yang jelas dan sama / Standard Operasional Prosedur.
d. Mudah diajarkan dan diaplikasikan
Mudah dilaksanakan sehingga penerima waralaba yang belum memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai usaha sejenis dapat melaksanakannya dengan baik sesuai dengan bimbingan operasional dan manajemen yang berkesinambungan yang diberikan oleh pemberi waralaba.
e. Adanya dukungan yang berkesinambungan
Dukungan dari pemberi waralaba kepada penerima waralaba secara terus – menerus seperti bimbingan operasional, pelatihan dan promosi.
Hak kekayaan intelektual yang terkait dengan usaha seperti merek, hak cipta atau paten atau lisensi dan / atau rahasia dagang sudah didaftarkan dan mempunyai sertifikat atau sedang dalam proses pendaftaran di instansi yang berwenang. Berdasarkan UU Tentang HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yaitu: UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Hak Merk. 39
3. Pertanyaan: Apa keuntungan dan kerugian bisnis waralaba? Jawaban:
1. Keuntungan bagi franchisee:
a. Model yang diperlukan untuk usaha waralaba lebih sedikit dibandingkan dengan usaha mandiri yang independen.
b. Kerapkali tidak harus memiliki pengetahuan temiliki pengetahuan tentang bisnis yang akan digeluti
c. Karena franchisor melakukan pelatihan.
d. Risiko bisnis berkurang karena nama dan produk franchisor sudah dikenal dan mempunyai goodwill .
e. Adanya hak untuk mengelola bisnis yang sudah mapan dan memiliki identitas atau merek dagang yang legal dan populer sehingga tidak harus mengembangkan ide dan citra produk atau jasa yang memerlukan waktu dan tenaga.
f. Franchisee hanya memerlukan proses belajar yang singkat, tujuan yang terarah, serta
kekuatan dalam kegiatan promosi yang efisien.
g. Produk atau jasa yang sudah terkenal serta merek dagang yang sudah besar.
39
Hasil wawancara dengan Asisten Manager Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan (Putri) pada tanggal 28 Mei 2013
h. Memperoleh pendampingan manajemen dan dukungan promosi. i. Memperoleh pelatihan manajemen.
j. Adanya kemudahan melakukan pinjaman kepada pihak ketiga, bila waralabanya sudah teruji dipasar.
k. Memiliki sistem pemasaran yang telah teruji. l. Risiko kegagalan bisnis yang relatif rendah. 2. Kerugian bagi franchisee adalah:
a. Meski usaha milik sendiri, kebijakan umumnya masih ditentukan oleh franchisor sehinga untuk membentuk sistem yang baku memerlukan proses yang birokratis. b. Biasanya franchisor mengontrol berbagai aspek pengoperasian bisnis, bahkan terlalu
membatasi.
c. Untuk mendapatkan hak waralaba, franchisee harus mempertimbangkan sumber dana untuk pembayaran royalti yang tinggi.
d. Keberhasilan dari setiap unit waralaba individu tergantung pada bekerjanya perusahaan induk (franchisor).
e. Kebijakan franchisor tidak selalu disampaikan kepada franchisee secara kontinyu serta perlu kreativitas dan pemahaman sendiri dalam segi manajemen usaha.
3. Keuntungan bagi franchisor adalah:
a. Modal sepenuhnya berasal dari franchisee, yang juga dipakai untuk menjalankan usaha tersebut.
b. Franchisor menerima persentase dari penghasilan kotor dan tidak memiliki kaitan
c. Franchisee atau orang yang ditunjuk franchisee terjun sendiri menangani operasional
usahanya.
d. Franchisee membayar biaya pelatihan.
e. Usaha dapat cepat berkembang tetapi dengan menggunakan modal dan motivasi dari
franchisee.
f. Jumlah karyawan franchisor relatif lebih sedikit. 4. Kerugian bagi franchisor adalah:
a. Jika ada kenaikan dari segi biaya, biasanya franchisor tidak mudah untuk meyakinkan franchisee.
b. Bisa menghancurkan reputasi franchisor jika franchisee yang dipilih ternyata tidak tepat.
c. Mengingat ikatan waralaba biasanya untuk jangka yang lama, maka apabila
franchisor ingin mengakhiri perjanjian waralaba secara sepihak, misalnya karena ada
kejadian yang tidak terantisipasi , tidak mudah mengakhiri perjanjian waralaba tanpa alasan-alasan yang sah.
4. Pertanyaan: Bagaimana mekanisme dan proses pelaksanaan perjanjian waralaba dalam praktik dalam rangka pengembangan kerja sama bisnis yang saling menguntungkan?
Jawaban:
Perjanjian waralaba mengatur hubungan hukum antara pemberi waralaba dengan penerima waralaba untuk menjalankan kegiatan waralaba. Pada dasarnya waralaba merupakan salah satu bentuk pemberian lisensi, hanya saja agak berbeda dengan pengertian lisensi pada umumnya, waralaba menekankan pada kewajiban untuk menggunakn sistem, metode, tata cara, prosedur, motode pemasaran dan penjualan maupun hal-hal lain yang ditentukan oleh pemberi
waralaba secara ekslusif, serta tidak boleh dilanggar maupun diabaikan oleh penerima lisensi. Hal ini mengakibatkan bahwa waralaba cenderung bersifat eksklusif. Seorang atau suatu pihak yang menerima waralaba tidaklah dimungkinkan untuk melakukan kegiatan lain yang sejenis atau yang berada dalam suatu lingkungan yang mungkin menimbulkan persaingan dengan kegiatan usaha waralaba yang diperoleh olehnya dari pemberi waralaba.
Berdasarkan pengertian di atas maka dalam pembuatan perjanjian atau kontrak harus dibuat secara terang dan sejelas-jelasnya hal ini disebabkan saling memberi kepercayaan dan mempunyai harapan keuntungan bagi kedua pihak akan diperoleh secara tepat. Karena itu perjanjian waralaba merupakan suatu dokumen yang di dalamnya berisi suatu transaksi yang dijabarkan secara terperinci. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2007 tentang waralaba, menyebutkan bahwa waralaba diselenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba dengan memperhatikan hukum Indonesia.
Dalam hal perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditulis dalam bahasa asing, perjanjian tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sebelum pembuatan perjanjian waralaba pemberi waralaba atau kuasanya wajib mendaftarkan prospektus penawaran waralaba sebelum membuat perjanjian waralaba dengan penerima waralaba. Pemberi waralaba juga harus memberikan prospektus penawaran waralaba kepada calon penerima waralaba paling singkat 2 (dua) minggu sebelum penandatanganan perjanjian waralaba.
Prospektus penawaran waralaba adalah keterangan tertulis dari pemberi waralaba yang sedikitnya menjelaskan tentang identitas, legalitas, sejarah kegiatan, struktur organisasi,
keuangan, jumlah tempat usaha, daftar penerima waralaba, hak dan kewajiban pemberi dan penerima waralaba.
5. Pertanyaan: Apa saja yang dimuat dalam perjanjian waralaba? Jawaban:
a. Hak yang diberikan oleh franchisor pada franchisee. Hak yang diberikan meliputi anatara lain penggunaan metode atau resep yang khusus, penggunaan merek, nama dagang, jangka waktu, perpanjangan serta wilayah kegiatan dan hak yang lain.
b. Kewajiban dari franchisee sebagai imbalan atas hak yang diterima dan kegiatan yang dilakukan oleh franchisor pada saat franchisor melakukan usaha.
c. Hal yang berkaitan dengan kasus penjualan hak franchisee kepada pihak lain. Bila franchisee tidak ingin meneruskan sendiri usaha tersebut dan ingin menjualnya kepada pihak lain, maka suatu tata cara perlu disepakati sebelumnya.
d. Hal yang berkaitan dengan pengakhiran perjanjian kerjasama. Perjanjian waralaba memuat klausula nama dan alamat para pihak, jenis hak atas kekayaan intelektual, kegiatan usaha, hak dan kewajiban semua pihak. Perjanjian tersebut juga mencantumkan wilayah usaha, jangka waktu perjanjian, tata cara pembayaran imbalan, kepemilikan dan ahli waris, penyelesaian sengketa, tata cara perpanjangan dan pemutusan perjanjian.40
6. Pertanyaan: Apa yang menjadi hak dan kewajiban franchisor dan franchisee dalam perjanjian waralaba?
Jawaban:
Secara umum kewajiban franchisor dapat dirumuskan sebagai berikut:
40
Hasil wawancara dengan Asisten Manager Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan (Joni) pada tanggal 28 Mei 2013
a. Memberikan semua informasi yang berhubungan dengan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dan ciri khas usaha misalnya sistem manajemen dan cara penjualan dan penataan serta distribusi yang merupakan karakteristik khas yang menjadi objek waralaba.
b. Memberikan bantuan pembinaan, bimbingan dan pelatihan kepada franchisee.
Hak franchisor dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Melakukan pengawasan jalannya pelaksanaan waralaba.
b. Memperoleh laporan-laporan secara berkala atas jalannya kegiatan usaha
franchisee.
c. Mewajibkan franchisee untuk menjaga kerahasiaan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dan ciri khas usaha.
d. Mewajibkan agar franchisee tidak melakukan kegiatan yang sejenis, serupa, ataupun yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan persaingan dengan kegiatan usaha yang diwaralabakan.
e. Menerima pembayaran royalti dalam bentuk, jenis dan jumlah yang dianggap layak olehnya.
f. Atas pengakhiran waralaba, meminta kepada franchisee untuk mengembalikan seluruh data, informasi maupun keterangan yang diperoleh franchisee selama masa pelaksanaan waralaba.
Kewajiban franchisee dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Melaksanakan seluruh instruksi yang diberikan oleh franchisor guna melaksanakan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dan ciri khas usaha misalnya merupakan karakteristik khusus yang menjadi objek waralaba.
b. Memberikan keleluasaan kepada franchisor untuk melakukan pengawasan maupun inspeksi berkala maupun secara tiba-tiba, guna memastikan franchisee telah melaksanakan waralaba yang diberikan dengan baik.
c. Memberikan laporan-laporan baik secara berkala maupun atas permintaan khusus dari
franchisor.
d. Membeli barang modal tertentu maupun barang-barang tertentu lainnya dalam rangka pelaksanaan waralaba dari franchisor.
e. Menjaga kerahasiaan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dan ciri khas. f. Melakukan pendaftaran waralaba
g. Melakukan pembayaran royalti dengan jumlah yang telah disepakati bersama.
h. Jika terjadi pengakhiran waralaba, maka wajib mengembalikan seluruh data, informasi, maupun keterangan yang diperoleh.
Hak franchisee dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Memperoleh segala macam informasi yang berhubungan dengan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dari ciri khas usaha misalnya sistem manajemen dan cara penjualan dan penataan dan cara distribusi yang merupakan karakteristik yang menjadi objek waralaba yang diperlukan untuk melaksanakan waralaba yang diberikan.
b. Memperoleh bantuan dari franchisor atas segala macam cara pemanfaatan dan penggunaan hak atas kekayaan intelektual serta penemuan dan ciri khas usaha misalnya sistem manajemen dan cara penjualan dan penataan dan cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus yang menjadi objek waralaba.
4.2.2 Data Tentang Restoran Khas Amerika A&W Plaza Medan Fair Medan 7. Pertanyaan: Siapakah pemilik Restoran A&W Plaza Medan Fair Medan?
Jawaban:
Pada tahun 1985 seorang pengusaha bernama Mr. Zaina, membeli A&W dari negara