1.1 . Latar Belakang
Perjuangan rakyat Bali tidak dilakukan berupa perjuangan fisik semata atau terbatas pada pembahasan perjuangan setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Bali setelah kemerdekaan merupakan bagian dari Provinsi Sunda Kecil bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) bersama Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi Bali dibentuk pertama kali pada 14 Agustus 1958. Pembentukannya ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ketika itu, ibukotanya adalah Singaraja dan pada tahun 1960 dipindah ke Kota Denpasar1. Sesuai dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Provinsi Bali merupakan bagian dari Republik Indonesia sampai sekarang.
Perjuangan panjang manusia yang mendiami pulau yang kelak dikenal dengan Bali, dengan segala narasi keberlangsungan hidupnya, juga merupakan sebuah perjuangan rakyat Bali. Narasi tersebut memberikan suatu jalinan sejarah bagaimana tumbuh kembang peradaban yang timbul di pulau dengan letak geografis di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″
Bujur Timur. Pulau tersebut dinamakan Bali, atau Balidwipa (‘dwipa’ berarti
‘pulau’ dalam bahasa Jawa kuno; pelafalan dari kata ‘dvipa’ dari bahasa Sansekerta). Nama Balidwipa telah disebut pada prasasti yang dikeluarkan oleh Kesariwarmadewa pada tahun 835 Saka atau 913 Masehi. Prasasti Tabanendra Warmadewa mencantumkan pula nama pulau Bali (Shastri, 1963, hal. 12). Pernyataan Shastri tersebut, memberikan gambaran bahwa nama ‘Bali’ sebagai nama pulau (dwipa) mulai dituliskan sejak pemerintahan dinasti Warmadewa. Tumbuh kembang peradaban juga menjadi gambaran suatu perjuangan multidimensi dalam melaksanakan
1 https://kompaspedia.kompas.id/baca/profil/daerah/provinsi-bali
2
praktik kehidupan sehingga bisa diwarisi ke generasi selanjutnya. Salah satu peletak dasar kebudayaan Bali adalah pada masa Bali kuno, khususnya pada masa pemerintahan Prabu Udayana sekitaran 989 Masehi sampai 1001 Masehi, Marakata sekitaran tahun 1022 M – 1025 Masehi, sampai Anak Wungsu sekitaran tahun 989-1011 Masehi, pemerintahan raja ayah-anak yang tinggalan arkeologis karya seninya masih eksis sampai masa sekarang.
Prabu Udayana sendiri merupakan kelanjutan hegemoni dinasti Warmadewa di Bali. Oleh kalangan sejarawan, kiprah Prabu Udayana dibayangi oleh Permaisurinya Mahendradatta (dari kerajaan Medang-Jawa Timur), sebagai salah raja suami istri dalam sejarah Bali kuno yang memulai pengaruh budaya Jawa kuno, ditandai dengan dimulainya penerapan aksara Jawa kuno di Bali. Namun dalam konteks sejarah seni, tinggalan yang masih eksis sekarang ini sebagai jejak sejarah Bali kuno, mayoritas disumbangkan oleh anak Prabu Udayana yaitu Anak Wungsu. Anak Wungsu sebagai salah satu raja yang selama 28 tahun pemerintahannya banyak mengeluarkan prasasti yaitu 27 buah. Prasasti yang dikeluarkannya banyak mengandung istilah seni yang merepresentasikan keadaan kehidupan kesenian pada jaman Bali kuno, khususnya abad 10-11 Masehi.
Pertalian pemerintahan ayah-anak tersebut, dipercaya telah meletakkan dasar kesenian Bali, sampai dapat diwariskan sampai masa sekarang.
Masa Bali kuno dalam periodisasi sejarah Bali mengacu ke peradaban Bali pada abad ke-8 sampai-13 Masehi. Sebelumnya dikatakan sebagai masa prasejarah (nirleka) Bali dan setelahnya dikatakan sebagai masa Bali Madya, ditandai dengan ditaklukannya kerajaan Singhadwala di Samprangan oleh bala tentara Majapahit. Kekalahan tersebut menyebabkan pulau Bali di bawah hegemoni kerajaan Majapahit yang berimbas pada perubahan seni budayanya sampai abad ke-19, sebagai awal masa kolonial di Bali. Boleh dikatakan, kesenian ‘asli’ Bali merupakan kesenian yang tumbuh pada masa Bali kuno, karena setelahnya kesenian Bali, meskipun mencapai kejayaannya pada masa Dalem Watur (Batur)
3
Enggong, merupakan kesenian Majapahit dari Jawa Timur yang mendominasi kesenian Bali sampai berabad-abad setelahnya.
Tabel 1. Periode Sejarah Bali
Jika merujuk ke pengertian ‘perjuangan’ dalam kamus besar Bahasa Indonesia yang berarti: (1) Perkelahian (merebut sesuatu); peperangan (2) Usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya (3) Salah satu wujud interaksi sosial, termasuk persaingan, pelanggaran, dan konflik2; maka tidak berlebihan menyatakan bahwa pergantian setiap masa dalam periodisasi sejarah Bali yang tampak pada tabel 1 adalah perjuangan rakyat Bali. Oleh karena pergantian sebuah masa dipengaruhi oleh pergantian tampuk pimpinan, yang mengubah peradaban suatu daerah. Maka dari itu pembahasan mengenai masa pemerintahan seorang Raja dalam suatu masa, akan memiliki identitas dan signifikansi tersendiri untuk menandakan hegemoninya, khususnya dalam bidang seni.
Prabu Udayana atau dalam prasasti disebutkan nama lengkapnya
‘Dharmma Udayana Warmmadewa’ (Dharmmodayana Warmmadewa)’
adalah raja yang berpermaisurikan Sri Gunapriya Dharmapatni yang dikenal juga dengan ‘Mahendradatta’, keturunan Isyanawamsa dari Jawa timur. Prabu Udayana melanjutkan pemerintahan Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi, dari namanya yang tidak mencantumkan titular ‘Warmmadewa’
yang menunjukkan bahwa beliau bukanlah kelanjutan dinasti
2 https://kbbi.web.id/juang
Sumber: (Maharani, 2018)
4
Warmmadewa, sama seperti raja-raja sebelumnya. Kiprah pemerintahan raja sebelum Udayana ini ditemukan pada prasasti nomor 210 Gobleg, Pura Desa II=D 18 yang bertahun Caka 905 (983 masehi) (Astra, 1977, hal. 15).
Purnawa Basundoro (2014) memaparkan bahwa kemungkinan besar Udayana dilahirkan di Bali sekitar tahun 885 saka. Karena suatu hal, Udayana kemudian pindah ke Jawa timur, kemungkinan besar adalah karena tahta kerajaan Bali dipegang oleh Sri Janasadhu Warmmadewa (897 saka), atau raja putri yang bukan wangsa warmmadewa, yaitu Sri Wijaya Mahadewi (905 saka). Pada saat ia berada di Jawa timur, Udayana menikah dengan Mahendradatta yang menurut perkiraan F. D. K. Bosch berlangsung sebelum tahun 911 Saka. Setelah Sri Wijaya Mahadewi tidak berkuasa lagi di Bali, Udayana dan permaisurinya, Mahendradatta, pulang ke Bali dan menjadi raja. Udayana naik tahta di Bali diperkirakan pada tahun 911 saka.
Udayana menjadi raja di Bali bersama permaisurinya diperkirakan berlangsung sampai tahun 923. Berdasarkan isi prasasti yang ditemukan, yaitu prasasti Air Hawang (933 Saka) kemungkinan besar Gunapriya meninggal dunia antara tahun 923-933 Saka, sedangkan Udayana meninggal dunia setelah tahun 933 Saka. Prasasti tersebut ternyata hanya menyebut-nyebut nama Udayana sendiri, padahal dalam prasasti lain yang berangka tahun 911, 915, 916 dan 923 Saka selalu disebutkan nama Udayana dan Gunapriya Dharmapatni. Yang menarik adalah, nama Gunapriya Dharmapatni selalu disebutkan lebih dahulu, baru kemudian nama Udayana. Hal tersebut kemungkinan besar menunjukkan bahwa kedudukan Gunapriya Dharmapatni lebih tinggi dibandingkan suaminya.
Pada saat Gunapriya Dharmapatni meninggal dunia, beliau dicandikan di Burwan (Bhatari Lumah I burwan) (Basundoro, 2014, hal. 111-112).
Kebesaran Prabu Udayana juga ditandai keberlanjutannya sebagai penanda jaman Bali kuno yang dilanjutkan oleh ketiga anaknya yaitu Airlangga, Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu. Anak sulungnya Airlangga, yang menjadi raja di Jawa Timur juga dikenal sebagai salah satu
5
raja besar di tanah Jawa. Begitu juga kedua anaknya yang melanjutkan tahtanya di Bali, yang membangun fondasi kebudayaan di Bali. Hal tersebut semakin menguatkan kiprah pemerintahan Prabu Udayana sebagai salah satu tokoh peletak dasar kebudayaan Bali pada jaman Bali kuno.
Tanda sebuah pemerintahan seorang raja yang besar, akan dilihat melalui bukti peninggalannya. Bukti peninggalannya tersebut digunakan sebagai suatu pijakan (milestones) yang monumental dalam perkembangan peradaban Bali, yang berperngaruh juga pada masa setelahnya. Salah satu pijakan tersebut adalah bidang kesenian, dimana seni Bali pada jaman kuno merupakan kesenian klasik Bali sebelum dipengaruhi oleh kesenian Majapahit, pada masa setelahnya. Boleh dikatakan untuk memahami seni Bali, akan mengacu ke masa Bali kuno.
Setelahnya kesenian Bali akan mengikuti langgam Majapahit, sebagai kerajaan yang menguatkan hegemoninya di Bali sampai era kolonial.
Proses penelusuran sejarah kesenian khususnya yang berjarak puluhan abad dari saat dilakukan penulisan buku ini, tentu memiliki tantangan tersendiri. Bukti-bukti sejarah khususnya artefak kesenian pada abad ke-10-11 Masehi hanya meninggalkan bukti sejarah yang yang berbahan batu, itupun dalam keadaan aus akibat dimakan waktu.
Sedangkan jenis-jenis kesenian yang terjadi masa itu, semisal seni pertunjukan dan bidang kesenian yang mungkin hidup, akan memiliki kesulitan tersendiri. Penulis terbantu dengan adanya beberapa penelitian sebelumnya yang membahas kiprah prabu Udayana. Prabu Udayana adalah salah satu objek penelitian yang telah jamak diteliti, hal tersebut menandakan bahwa pentingnya sosok ketokohan Prabu Udayana dalam sejarah Bali. Maka dari itu penulis cukup terbantu oleh massifnya penulisan tentang prabu Udayana. Bantuan tersebut seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Satu sisi penulis dapat membandingkan hasil temuan penelitian yang telah dilakukan, sehingga mampu menyusun historiografi kesenian Bali pada masa pemerintahan prabu Udayana. Hal tersebut menempatkan
6
penulis, hanya dapat menggunakan jenis sumber data sekunder bahkan tersier, yang mempengaruhi unsur kebaruan (novelty) penelitian.
Sisi yang lain, proses penemuan bukti-bukti baru tentu membutuhkan dana yang besar dan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu penulis menekankan kajian penelitianya, dengan menganalisis secara kritis sumber penelitian sebelumnya, menginterpretasi dengan perspektif keilmuan estetika dan menyusun historiografi kesenian Bali masa pemerintahan prabu Udayana sampai Anak Wungsu.
Historiografi kesenian masa pemerintahan prabu Udayana, merupakan ceruk yang masih jarang diteliti. Dimana pembahasan kesenian, dari penelitian sebelumnya hanya dijadikan suplemen dalam keseluruhan tulisan mengenai Prabu Udayana. Tercatat beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan membahas hal tersebut secara mengkhusus. Penelitian yang cukup komprehensif telah dilakukan dalam penulisan buku bunga rampai yang berjudul “Raja Udayana Warmadewa:
Nilai-Nilai Kearifan dalam Konteks Religi, Sejarah, Sosial Budaya, Ekonomi, Lingkungan, Hukum dan Pertahanan dalam Perspektif Lokal, Nasional dan Universal”, yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Pusat Kajian Bali Universitas Udayana tahun 2014. Pada buku tersebut khususnya pada bab VII Kesenian, terdapat beberapa penulis yang menuliskan artikel mengenai kesenian pada pemerintahan prabu Udayana.
Pertama, Anak Agung Gde Raka dengan tulisan yang berjudul ‘Seni Pada Masa Udayana’, I Wayan Dibia dengan tulisan yang berjudul ‘Kisah Prabu Udayana dalam Seni Pertunjukan Bali’ dan I Gusti Ngurah Seramasara dengan tulisan berjudul ‘Seni Pertunjukan Zaman Udayana dalam Perspektif Masa Kini’. meskipun masih bersifat pengantar, buku tersebut telah menggambarkan secara khusus mengenai gambaran kesenian pada masa prabu Udayana.
Maka dari itu, buku ini berusaha mengkaji secara mendetail dengan pendekatan berbasis artefak (artefactual approach) mengenai pembahasan seni pada masa pemerintahan Prabu Udayana. Selain menggunakan
7
pendekatan artefak, penulis juga menggunakan teori estetika dalam memaparkan prinsip-prinsip estetika dalam kesenian pada jaman tersebut.
Penelitian dirangkum dalam bentuk buku yang bersifat semi-popular, yang diberikan judul ‘Seni dan Prinsip Estetika Jaman Bali Kuno: Masa Pemerintahan Udayana dan Anak Wungsu (989-1077 M)’ Dari judul secara literal telah menggambarkan bahasan utama penulis tentang aspek seni dan estetika sebagai filsafat keindahan. Keberadaan tokoh Udayana sebagai pelaku sejarah menyebabkan penelitian ini adalah penelitian sejarah yang dilakukan secara interdisipliner melalui keilmuan lain seperti estetika, arkeologi, linguistik, sosiologi dan antropologi.
1.2 . Rumusan Masalah
Dari pemaparan sebelumnya telah dijabarkan objek dan topik penelitian yang difokuskan ke pembahasan aspek seni dan estetika masa pemerintahan Udayana sampai Anak Wungsu (989-1077 Msehi). Penelitian mengenai sejarah seni membutuhkan beberapa paradigma penelitian yang wajib dipahami oleh penulis, sebagai pijakan penelitian. Edi Sedyawati (1984) dalam artikel yang berjudul ‘Masalah Estetik dalam Arkeologi Indonesia’ menjelaskan bahwa posisi seni dalam penelitian arkeologi dan sejarah dilihat sebagai sub-sistem dari kebudayaan. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, seni dapat mempunyai kaitan-kaitan tertentu dengan unsur-unsur kebudayaan lain. Seni bisa berkait erat dengan agama, Seni bisa berkait erat dengan mata pencaharian, Seni bisa berkait erat dengan tata masyarakat, dan seterusnya. Adapun sebagai sub-sistem, seni mengandung berbagai unsur yang saling berkait: ada konsep keindahan yang menjadi arahan, ada teknik yang dicari, disebarkan dan dikembangkan untuk memberi bentuk kepada konsep-konsep keindahan, ada kelompok tenaga ahli yang mengelola pembuatan karya-karya seni, ada sistem penularan keahlian, dan seterusnya. Masing-masing unsur tersebut dapat menjadi obyek studi tersendiri (Sedyawati, 1987, hal. xiv).
8
Dari arahan tersebut maka disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana keberadaan seni pada masa pemerintahan prabu Udayana Sampai Anak Wungsu sekitaran tahun 989-1077 Masehi ?
2. Bagaimana prinsip estetika dari bentuk kesenian pada masa pemerintahan prabu Udayana Sampai Anak Wungsu sekitaran tahun 989-1077 Masehi?
1.3 . Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dan Manfaat penelitian yang diperoleh sebagai aplikasi azas kebermanfaatan pada penelitian ini. Penentuan tujuan dan manfaat penelitian dilakukan untuk dijadikan panduan dalam luaran (output) dan dampak (outcome) penelitian . Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mendokumentasikan, menginterepretasikan dan menyusun historiografi sejarah seni pada masa pemerintahan Prabu Udayana sampai Anak Wungsu sekitaran tahun 989-1077 Masehi.
2. Untuk mengkaji dan merumuskan prinsip estetika dari bentukan kesenian pada pemerintahan prabu Udayana sampai Anak Wungsu, sebagai gambaran sinkronik mengenai sejarah estetika Bali khususnya masa Bali kuno.
Manfaat penelitian antara lain:
1. Untuk Akademisi: dapat dijadikan rujukan, sumber pembelajaran, inspirasi (insight) dan pengayaan sumber literatur dalam konteks sejarah kesenian dan estetika Bali. Dalam cita-cita bersama melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.
2. Untuk Pemerintah: dapat dijadikan sumber informasi dalam hal komunikasi politik sebagai bagian dari program ketahanan budaya dan jati diri serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Penelitian ini dijadikan materi untuk menguatkan semangat bela negara dan mencintai bangsa dalam koridor mempertahanan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
9
3. Untuk Masyarakat Umum: dapat dijadikan sumber bacaan, yang menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa, memuaskan keingintahuan tentang kejadian bangsa pada masa lampau, sebagai motivasi dan pemantik untuk menumbuhkan semangat bela negara dan mencintai tanah air sendiri.
10