BAB IV. GAMBARAN UMUM MASA PEMERINTAHAN UDAYANA SAMPAI ANAK
4.1. Tinggalan Prasasti Masa Pemerintahan Udayana (989-1001 M)
Mahendradatta, dapat dijabarkan melalui tinggalan prasasti yang menyebutkan atau ditulis langsung pada jaman pemerintahan raja suami-istri yang memerintah di keraton Singhadwala3. Prasasti-prasasti raja zaman ini yang sekaligus merupakan sumber penyusunan raja suami istri ini adalah prasasti-prasasti nomer : 301. Bebetin All (Saka 91 l); 302. Seraii All (Saka 915); 303. Buahan A (Saka 916); 304. Sading A (Saka 923); 305a Besakih; Pura Batu Madeg (Saka 1393) Prasasti ini disebut Mpu Bradah dan di dalamnya disebutkan sebuah prasasti lebih tua dengan candra sangkala ‘nawa sanga apit lawang’ (Saka 929); 305b. Ujung, Pura Dalem (Saka 932); 305c. Abang, Pura Batur A (Saka 933 ). Perlu diperhatikan bahwa pada zaman inilah mulai didapati dipergunakannya bahasa Jawa Kuno dalam prasasti di Bali. Demikianlah di antara prasasti-prasasti tersebut di atas yang sudah berbahasa Jawa Kuno, ialah nomer-nomer: 303, 305a, 305b, dan 305c. Sedangkan yang lainnya masih tetap berbahasa Bali Kuno (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978, hal. 22). Prasasti-prasasti tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
3 Bukti-bukti awal yang lebih jelas tentang telah berdirinya suatu institusi kerajaan yang bercorak kebudayaan India adalah penemuan 7 prasasti antara tahun 804-836 Saka atau 882-914 Masehi yang menyebutkan nama raja Sang Ratu Sri Ugrasena yang berkedudukan di Singhamandawa. Raja-raja Bali selanjutnya berkedudukan di Singhadwala, antara lain raja Sri Kesari Warmadewa (Raharjo, Munandar, & Zuhdi, 1998)
29 1. Prasasti Bebetin.
Di desa Bebetin ditemukan dua buah prasasti yang diduga berkait erat dengan kisah raja Dharmodayana Warmadewa dengan permaisurinya Mahendradatta. Prasasti Bebetin yang pertama hanya menyuratkan angka tahun Saka, dan tidak menyuratkan nama raja. Berdasarkan tahun Saka yang disuratkannya, menunjukkan bahwa prasasti ini diterbitkan dalam masa pemerintahan Dharmodayana. Prasasti Bebetin yang kedua menyuratkan kalimat sebagai berikut: punah di saka 911 wulan posa kresna trayodasi rggas pasar bwijayakaranta, tatkala sang ratu luhur sri gunapriyadharmapatni, sang ratu maruhani sri dharmodayana wamadewa, umaungrahan tu anak banua di banwa bharu, dan seterusnya. Artinya : pada tahun Saka 911 (989 M), sasih ka nem (bulan ke-6 = Desember-Januari), tanggal 13 (hari ke tiga belas setelah bulan mati), pada hari pasaran di Wijayakranta, ketika itu Yang Mulia Sri Gunapriyadharmapatni bersama suaminya Yang Mulia Sri Dharmodayana Warmadewa, menganugerahkan kepada penduduk di desa Bharu, dan seterusnya.
Selain prasasti Bebetin, masih ada lagi sejumlah prasasti yang menyuratkan nama raja Dharmodayana Warmadewa dengan permaisuri Gunapriyadharmapatni. Prasasti itu (1) Prasasti Serai yang ditemukan di desa Serai yang menyuratkan tahun Saka 915 (993 M). (2) Prasasti yang ada di desa Buwahan yang menyuratkan tahun Saka 916 (994 M). (3) Prasasti yang ditemukan di desa Sading yang menyuratkan tahun Saka 923 (1001 M). (4) Prasasti desa Batur yang menyuratkan tahun Saka 933 (1011 M). (5) sebuah piagam yang ditemukan di Gunung Penulisan yang menyuratkan tahun Saka 933 (1011 M). (6) Prasasti Batu Calcutta yang menyuratkan angka tahun Saka 928 (1006 M), juga menyuratkan tentang perkawinan antara Dharmodayana Warmadewa dengan Gunapriyadharmapatni. Prasasti batu itu menerangkan bahwa seorang putri raja dari Jawa bernama Mahendradatta kawin dengan seorang pangeran dari Bali bernama Dharmodayana Warmadewa
30 2. Prasasti Serai.
Prasasti yang ditemukan di desa Serai ini menyuratkan (1) angka tahun Saka 915 (993 M). (2) Prasasti ini juga menyuratkan nama raja dan ratu, dengan cara lebih dahulu menyuratkan nama sang ratu Gunapriyadarmapatni dari pada suaminya Dharmodayana Warmadewa. (3) prasasti juga menyuratkan nama-nama desa seperti Bayung, Bunar, Linyongan, dan Srimuka. (4) Prasasti ini juga menerangkan terjadinya perubahan susunan badan penasihat raja. Di dalamnya juga disebutkan nama Senapati Kuturan sebagai salah satu badan penasihat raja itu. (5) Prasasti ini juga menyuratkan nama-nama wihara yang terdapat dalam wilayah kerajaan pada zaman itu, seperti Punyanta Kacaiwan Dang Acaryya Pali, Air Garudha Kacaiwan Dang Acaryya Dewangga, Binor Kacaiwan Dang Acaryya Widhyka, Canggihi Kasogatan Dang Upadhyaya Muni, dan Nalanda Kasogatan Dang Upadhyaya Dhanawan. Berdasarkan atas nama wihara dan pendetanya, tiga wihara yang tersebut lebih dahulu menunjuk pemujaan Agama Siwa dan dua berikutnya menunjuk pemujaan Agama Budha. Gerbang Canggi yang terdapat di desa Sakah disuratkan oleh prasasti ini sebagai pemujaan Budha. Akan tetapi di kompleks Gerbang Canggi tidak ditemukan artifak yang menunjukkan kebuddhaan.
3. Prasasti Buwahan.
Buwahan merupakan sebuah desa yang terdapat di tepian danau Batur. Prasasti yang ditemukan di Buwahan ini, menyuratkan (1) angka tahun Saka 916 (994 M). (2) Prasasti juga menyuratkan nama ratu dan raja dengan urutan seperti yang disuratkan oleh prasasti Serai. (3) Prasasti juga menyuratkan kebijakan raja dan ratu untuk menerapkan swatantra i kawaknya terhadap desa Kedisan dan Buwahan, dengan alasan kedua desa itu berseteru yang disebabkan karena masing-masing desa telah kehabisan lahan sawah dan tegalan sebagai lahan untuk mencari penghidupan. (4) Oleh karena tanah lahan desa Buwahan sudah habis, maka Raja dan Ratu mengijinkan desa Buwahan membeli sebidang tanah
31
hutan yang panjangnya 900 depa dan lebarnya 100 depa. Tanah hutan itu berstatus alas burwan haji (tempat berburu raja).
4. Prasasti Sading.
Prasasti yang terdapat di desa Sading (1) menyuratkan angka tahun Saka 923 (1001 M). (2) Prasasti juga menyuratkan nama ratu dan raja yang memerintah di Singhadwala. (3) Prasasti juga menyuratkan tentang kewajiban yang harus dilaksanakan oleh penjaga satra yang ada di desa Bantiran, seperti menyediakan tikar, makanan dan minuman bagi orang yang datang menginap di satra itu, karena kemalaman.
5. Prasasti Batur.
Prasasti yang ditemukan di desa Batur, yang ditemukan dalam sebuah pura bernama Pura Abang, menyuratkan (1) angka tahun Saka 933 (1011 M). (2) Prasasti ini hanya menyuratkan nama raja Dharmodayana Warmadewa, dan tidak menyuratkan nama permaisuri. Penyuratan isi yang agak berbeda ini memberitahukan bahwa permaisuri Gunapryadharmapatni sudah wafat lebih dahulu dari pada tahun terbitnya prasasti ini. (3) Prasasti yang berbahasa Jawa Kuno ini juga menyuratkan tentang konflik antara desa Air Hawang (desa Abang) dengan desa Trunyan. Pada mulanya dua desa ini menjadi satu. Oleh karena terjadi konflik, maka pemerintahan desa ini dipisahkan. Kepada penduduk desa Air Hawang ditugaskan memelihara kuda milik kerajaan yang digunakan untuk berburu. Kalau masyarakat lalai, maka akan dihukum denda.
Keputusan itu disaksikan oleh pejabat kerajaan terutama bidang religi, seperti dangacaryya Bayantika, Nisita, Bhacandra, dan Senapati Kuturan.
Sebagai saksi juga disebut nama mpukwing kasogatan di Nalanda, dangacaryya di Kusala, dangacaryya Manggopaya, samgat Sulpika, dangacaryya Blongkong (Balingkang), mpukwing kasaiwan Kanya, Widyut, Udayalaya, Samidha, Jala Tirtha, Gatreswara, Tiksua, Catura, dan Kesanten.
32 6. Piagam Gunung Penulisan.
Gunung Panulisan terletak di desa Sukawana. Di desa ini terdapat sebuah pura bernama Pura Tegeh Koripan. Pada pura ini terdapat patung dalam posisi berdiri laki perempuan di atas satu lapik. Pada nimbus belakang patung kembar itu terdapat tulisan yang sudah rapuh. Aksara yang masih terbaca menyuratkan angka tahun Saka 933 (1011 M). Oleh karena tahun Saka yang tersurat pada piagam batu ini masih menunjuk masa pemerintahan Dahrmodayana Warmadewa, maka patung kembar laki perempuan itu diduga untuk memuliakan ratu dan raja, Gunapriyadharmapatni dengan suaminya Dharmodayana.
Dalam prasasti dan batu piagam tersebut di atas, nyaris selalu disebutkan nama ratu Mahendradatta lebih dahulu dari pada suaminya Dharmodayana Warmadewa. Penyuratan urutan nama seperti ini diduga menunjukkan bahwa dalam pemerintahan, peranan ratu lebih menyolok dari pada peranan sang raja (Sidemen, 2011).
4.2. Prasasti Masa Pemerintahan Marakata sampai Anak Wungsu