• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni Relief dan Arsitektur

BAB V. KESENIAN DI JAMAN UDAYANA SAMPAI ANAK WUNGSU

5.3. SENI RUPA

5.3.1. Jenis Seni Rupa

5.3.1.1. Seni Relief dan Arsitektur

Relief adalah suatu hasil karya seni manusia dalam usahanya menggambarkan ide, yang dicurahkan lewat pahatan pada suatu bidang yang memperlihatkan perbedaan bentuk, sehingga pahatan tersebut seolah-olah mempunyai arti sebenarnya. Sebagaikarya seni, relief dimasukan dalam bidang seni hias. Pada umumnya setiap hasil budaya manusia masa lampau berupa seni bangunan, seni arca, relief (seni hias), dan lain-lain mengandung nilai tertentu bagi masyarakat pendukungnya (Badra, 2001, hal. 58-59).

Candi dilihat dari segi arsitektur adalah bangunan yang umumnya didirikan dengan mempergunakan material yang cukup kuat seperti: batu andesit, batu padas, batu bata dan batu kapur. Ciri-ciri lain yang biasa ditemukan pada bangunan candi, yaitu adanya penonjolan-penonjolan pilaster, adanya simbar (antefiks), pelipit, lekuk-lekuk dan panil-panil dinding. Bangunan candi biasanya dibagi menjadi tiga bagian pokok yaitu kaki candi yang terdiri atas: Perbingkaian bawah, batang/ tubuh, perbingkaian atas. Tubuh candi juga terdiri atas perbingkaian bawah, batang/tubuh, perbingkaian atas kemudian atap candi, terdiri atas atap tingkat ke-1, tingkat ke-2, tingkat ke-3 dan puncak atap. Dengan demikian secara arsitektur antara candi tebing atau candi padas memiliki persamaan bentuk dan bagian–bagian arsitektural dengan bangunan candi, tetapi memiliki perbedaan karena candi tebing atau candi padas lebih kecil dan berupa relief dan hanya dapat diamati dari satu sisi saja sedangkan bangunan candi wujudnya lebih besar; berupa struktur bangunan dan dapat diamati dari empat sisi (Suantika, 2020, hal. 5-6).

91 5.3.1.1.1. Candi Tebing Gunung Kawi

Lokasi percandian ini terletak di dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kec. Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Komplek candi tebing ini terdiri dari dua kelompok yaitu(1) Kelompok candi tebing (2) Kelompok wihara.

Kelompok candi tebing terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok sebelah timur yang terdiri dari lima buah candi yang menghadap ke barat, sedangkan kelompok barat terdiri dari empat buah candi yang menghadap ke timur dan sebuah lagi ada pada kelompok yang ketiga (candi ke-10), terletak di barat daya. Pada candi paing utara kelompk timur berisi tulisan tipe Kadiri kwadrat yang bernunyi “Haji lumah ing Jalu’ artinya raja yang didarmakan di Jalu. Kata Jalu dapat diartikan sebagai senjata tajam atau keris. Dari kata keris menjadi Pakerisan, sehingga ‘haji lumah ing jalu’

berarti ‘raja yang diharmakan di (sungai) Pakerisan’ (Badra, 1998).

Gambar 3. Site Plan Kawasan Candi Tebing Gunung Kawi Sumber: (Damste, 1921)

Pada candi nomor dua dari utara kelompok timur berisi tulisan yang berbunyi “rwanakira’ yang artinya dua putra beliau, kemungkinan besar

92

yang dimaksud adalah Marakata dan Anak Wungsu. Kelompok sebelah barat yang terletak di seberang sungai Pakerisan berhadapan dengan kelompok lima, namun tidak berisi tulisan. Selanjutnya kelompok candi ketiga (candi ke-10) berada agak jauh ke selatan dari kelompok barat. Pada candi ini terdapat tulisan yang berbunyi ‘rakryan’, diduga bermakna ‘pejabat pemerintahan (menteri kerajaan).

Gambar 4. Site Plan dan Keterangan Foto Sumber: (Prawirajaya R., Purwanto, & Titasari, 2020)

93

Banyak ahli mengungkapkan bahwa kompleks Pura Gunung Kawi Tampaksiring didirikan sekitar abad XI untuk pedharmaan Raja Udayana, istri, dan putra-putranya. Pembangunan kompleks candi pertama dapat dimulai pada masa pemerintahan Raja Marakata Pangkaja (944 -947 saka), dan kemudian ditambahkan dan direnovasi pada zaman Raja Anak Wungsu (971-999 saka). Kedua raja itu memang putra dari pasangan sajalu-stri (suami istri) Udayana-Gunapriyadharmapatni (Prawirajaya R., Purwanto, & Titasari, 2020).

Gambar 5. Denah Candi Gunung Kawi Sumber: (Damste, 1921)

Kelompok wihara berupa ceruk di tebing terletak disebelah selatan candi lima (kelompok timur). Jika dilihat dari utara, maka komplek pertapaan ini memiliki beberapa ceruk yang terdiri dari berbagai bentuk dengan tata ruang yang memiliki perbedaan dimensi dan bentuk. Adapun yang perlu mendapat perhatian adalah yang berlokasi paling selatan, karena terlihat adanya semacam kompleks bangunan yang hampir sama dengan

94

bangunan di sebelah selatan candi lima. Pertapaan yang lokasinya paling selatan di sebelah barat sungai yang dapat dicapai melalui jalan yang ada pada komplek candi ke sepuluh. Komplek ini memiliki tiga buah ceruk (pertapaan) yang masih utuh dan sebuah hanya bekasnya, sehingga dapat dipastikan dulunya pada komplek ini ada empat buah ceruk dan memiliki tata ruang yang berbeda dengan lainnya. Dari keseluruhan bangunan yang ada di komplek Gunung Kawi ini dapat diperkirakan, bahwa lokasi ini merupakan sebuah kawasan pemujaan. Apabila dilihat dari aliran sungainya, maka dapat dipastikan, bahwa bangunan-bangunan candi tersebut sebagian besar berada di bagian hulu sungai, sehingga sangat mungkin komplek lima candi dan empat candi ini adalah merupakan pusat pemujaan atau mandala. Jadi penempatan candi-candinya memang dibuat sedemikian rupa, karena bnagunan ini bukanlah suatu kebetulan tetapi dapat dipastikan, bahwa bentuk semacam ini dibuat berdasarkan konsep-konsep serta filsafat agama sebagai dasarnya (Badra, 1998).

Gambar 6. Foto Candi Kelompok Timur (5 Buah) Sumber: Dokumentasi Penulis 2021

95

Kompleks Candi Gunung Kawi Tampaksiring adalah salah satu jejak karya seni pahat Dinasti Warmadewa yang sangat mengagumkan karena seluruh bangunan dipahatkan pada tebing sungai. Model bangunan kompleks Candi Gunung Kawi ini mengingatkan pada model bangunan candi di India, seperti di Ellora yang dibangun abad ke-5 sampai 6 Masehi.

Gambar 7. Foto Candi Kelompok Barat (4 Buah) Sumber: Dokumentasi Penulis 2021

Kendati demikian, kompleks Candi Gunung Kawi Tampaksiring memiliki bentuk yang berbeda dengan candi yang ada di Ellora. Jika dibandingkan dengan candi-candi di Indonesia, Kompleks Candi Gunung Kawi merupakan jenis percandian yang hanya ditemukan di Bali. Berbeda halnya dengan di Pulau Jawa yang candi-candinya dibangun dengan bentuk tiga dimensi, beberapa candi yang ditemukan di Bali merupakan candi dua dimensi. Hal ini kemudian memberikan kekhasan tersendiri terhadap pembangunan candi-candi di Bali, khususnya pembangunan candi tebing. Kekhasan dalam pembangunan candi tebing ini merupakan suatu contoh dari kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungan alam secara arif dan bijak sehingga mampu menjadi cerminan kearifan lokal

96

masyarakat Bali pada masa lalu. Oleh karena itu, Kompleks Candi Gunung Kawi Tampaksiring dapat dikatakan sebagai tinggalan arkeologi yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal (Bagus & Prihatmoko, 2016)l.

Gambar 8. Peripih Candi Gunung Kawi

Sumber: (Gunawarman A. A., 2013)

Peti Nawasanga atau disebut juga peripih tersebut membuktikan bahwa situs Candi Gunung Kawi diposisikan sebagai tempat suci kerajaan.

Candi-97

candi tebing di Gunung Kawi memiliki genah pedagingan yang terletak tepat di bawah pintu semu. Genah pedagingan adalah tempat untuk menguburkan atau menyimpan lima macam jenis logam yang disimbolkan sebagai lima dasar kemuliaan saat ritual mapendeman panca datu (Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 1987, hal. 6). Peti nawasanga adalah tempat untuk meletakkan berbagai jenis logam dan benda lainnya yang disertai dengan saji-sajian. Benda-benda inilah yang juga disebut dengan pripih (Soekmono, 1988, hal. 81) (Gunawarman & Wijaya, 2018, hal. 3).

Candi Gunung Kawi besar dugaan dibangun sekitar abad XI atas perintah Raja Anak Wungsu untuk penghormatan terhadap ayahnya, Raja Udayana. Interpretasi ini didapat berdasarkan adanya inskripsi yang terdapat pada bagian atas ‘’pintu’’ pada pahatan-pahatan candi di kelompok timur. Inskripsi-inskripsi tersebut ditulis dengan tipe huruf Kadiri kuadrat dan berbunyi haji lumāh ing jalu dan rwanakira. Meskipun ada peneliti yang menyatakan bahwa mulai dibangun dari Marakata, namun karena masa pemerintahannya sangat singkat (3 tahun) maka dilanjutkan dan diselesaikan oleh Anak Wungsu yang memerintah setelahnya, selama 28 tahun. Inskripsi haji lumāh ing jalu dipahatkan pada satu buah pahatan candi paling utara. Pahatan candi ini merupakan pahatan candi paling tinggi dan diperkirakan merupakan pahatan candi untuk Raja Udayana. Adapun inskripsi rwanakira terbaca pada pahatan candi kedua sebelah selatan pahatan candi berinskripsi tadi. Inskripsi rwanakira ini merujuk pada dua orang anak Raja Udayana yang memerintah di Bali yaitu Marakata dan Anak Wungsu. Selain itu, pendapat lain yang bersifat kronologis pernah dikemukakan oleh Damais. Menurut Damais, inskripsi haji lumāh ing jalu sebagai suatu sengkalan yang menghasilkan angka tahun 1001 Saka atau 1079 M yang cocok dengan masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Empat buah pahatan candi pada tebing sebelah barat tidak memiliki inskripsi, akan tetapi sangat mungkin pada zaman dahulu terdapat pula inskripsi pada ambang pintunya namun telah hilang karena kerusakan-kerusakan alami (Sunjana, 2013).

98 Gambar 9. Foto Udara Komplek Candi Gunung Kawi

Sumber: Dokumentasi Penulis 2021

99

Candi gunung Kawi sebagai tempat suci kerajaan menyerahkan tugas pemeliharaannya kepada desa yang ditunjuk oleh raja. Prasasti Batuan yang berangka tahun 944 Saka (1022 Masehi) dan Prasasti Tengkulak A yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi) yang keduanya dikeluarkan oleh Raja Marakata. Prasasti Batuan menyebutkan

”...apan ikang karaman i baturan manghanakĕn pasanga ing pakrisan...”

yang berarti

‘...penduduk Desa Baturan (Batuan) berkewajiban melaksanakan upacara pada bangunan suci di Pakerisan...’ (Bagus & Prihatmoko, 2016, hal. 106).

Desa Batuan kala itu ditunjuk oleh Raja Marakata untuk mengurus pecandian tersebut. Desa Batuan sekarang, posisinya berjarak sekitar puluhan kilometer menuju ke Candi Gunung Kawi. Jadi membutuhkan akses transportasi yang representatif dari Desa Batuan ke percandian, dan hal tersebut menunjukan bahwa raja telah memenuhi infrastruktur jalan antar desa yang cukup baik, untuk komunikasi, mobilisasi masyarakat dan juga ekonomi. Diduga selain transportasi darat pada jaman tersebut, juga dikembangkan transportasi melalui sungai. Oleh karena itu peran sungai menjadi sentral, selain menjadi sumber pengairan untuk mendukung ekonomi agraris, sumber penghidupan, titik religius dan juga transportasi.

Penamaan Candi Gunung Kawi yang dikenal sekarang, berbeda dengan nama resmi situs tersebut pada jamannya. Prasasti Tengkulak A menyebutkan bahwa:

“...sambandhā ni panambahnya, mājaran mula kinon haji dewatā sang lumāh ring air wka sajalustrī, manganwaya ri sanghyang katyāgan ing pakrisan mangaran ring amarāwatī...”

yang berarti

‘...(adapun) alasan mereka menghadap baginda raja, untuk menyatakan bahwa mereka sudah sejak dahulu, yaitu sejak pemerintahan raja suami-istri yang telah dicandikan di Air Wka, sudah ditugaskan memelihara bangunan suci pertapaan di Pakerisan bernama Amarawati...’ (Bagus &

Prihatmoko, 2016)

Sebutan “sanghyang katyāgan ing pakrisan mangaran ring amarāwatī” di Prasasti Tengkulak A sebagai Kompleks Candi Gunung Kawi. (Bagus &

Prihatmoko, 2016, hal. 106). Besar dugaan bahwa nama kompleks percandian tersebut adalah ‘Katyagan Amarawati’.

100

Katyagan dapat diartikan sebagai sebuah pertapaan atau disebut juga dengan istilah patapan. Pada masa pemerintahan Prabu Udayana sampai Anak Wungsu terdapat beberapa prasasti yang menyebutkan istilah patapan sampai katyagan, beserta petugas penjaga pertapaan tersebut.

Pada jaman Prabu Udayana petugas pertapaan diistilahkansamgat tapa haji ditemukan pada prasasti Serai AII berangka tahun 915Śaka (993 Masehi). Adapun kutipan prasastinya sebagai berikut.

Va. 2. “lula tuha guņo, samgat tapa haji giņangça, samgat mañuratang ājña katlu mañjapara, dinākara surendra samgat adhikāraņa kranta pamas, samgat adhikā...” (Goris, 1954, hal. 82-83).

Artinya,

Va. 2. “(Ka)lula adalah Tuha Gano, samgat Tapahaji adalah Ginangsa, samgat juru tulis perintah raja jumlahnya tiga orang yaitu Manjapura, Dinakara, dan Surendra. Samgat Adhikaranakranta adalah Pamas, samgat Adhika... (Ardika & Beratha, 1996, hal. 135)”

Prasasti Serai AII menguraikan tentang kewajiban-kewajiban yang dibayarkan oleh masyarakat di sekitar tempat perburuan raja yang terlalu tinggi, kemudian masyarakat memohon kepada raja suami istri untuk menurunkan pajak yang harus dibayarkan. Raja mengabulkan permohonan masyarakat dan menganugrahkan prasasti agar dapat selalu dijaga dan ditaati. Salah satu saksi dalam penganugrahan prasasti tersebut adalah samgat tapa haji yang bernama Ginangsa. Samgat tapa haji dapat diartikan sebagai petugas yang bertanggungjawab atas tempat-tempat pertapaan raja. Daerah yang dianugrahkan prasasti ini diperbolehkan untuk membangun pertapaan dan batas-batasnya pun disesuaikan dengan daerah wilayah perburuan raja. Samgat tapa haji dalam hal ini merupakan pejabat kerajaan di tingkat pusat yang bertanggungjawab atas tempat pertapaan milik raja. Samgat tapa haji dapat disebut sebagai kepala dinas provinsi jika disetarakan dengan sistem pemerintahan pada masa kini, maka dari itu dalam penganugrahan prasasti yang memuat tentang pembangunan pertapaan, pejabat ini dilibatkan sebagai saksi (Wahyuni, 2016).

Pada pemerintahan Raja Marakata pertugas pertapaan disebut dengan istilah samgat wilang patapan ditemukan pada prasasti Batuan

101

yang dikeluarkan oleh Raja Marakata dan berangka tahun 944 Śaka (1022 Masehi). Adapun kutipan prasastinya sebagai berikut.

IIb. 1. “Nāyaka sakşi, mwang sawung tanggun, tan knana minta pamli, ring magha mahānāwami, patapānya maka limang patapan, tkap samgat wilang patapan, tuhun maweha pa

2. kuwuh sā 3 puspusan sā 3 pacaksu sā 3 angkĕn tahun juga ya, tan kna pabharu, pawaruga, tan pamwātakna tukuban i samgat wilang patapan, yan ha 3. na amahĕt ring patapan, kunang yan hanāgaņḍing, aboñjing, amukul, masuling, manngahana ya parmāsan i nāyakanya, nguniweḥ yan krangan mu...” (Goris, 1954, hal. 97)

Artinya,

IIb. 1) “Nayaka Saksi, dan Sawung Tanggur. Tidak dikenai pajak pembelian pada bulan Magha dihari kesembilan, pada kelima pertapaannya oleh Samgat tiap- tiap pertapaan. Tetapi mereka memberi

2) pajak pakuwuh 3 saga, puspusan 3 saga, pacaksu 3 saga setiap tahun, tidak dikenakan pajak pabharu, pajak pawaruga, tidak harus membawa atap kepada Samgat Wilang Patapan. Jika

3) ada yang memahat di pertapaan, adapun jika penyanyi, pemain angklung, penabuh gamelan, peniup seruling, membayar mas kepada pemimpinnya (Nayakan), terutama suami istri...” (Ardika & Beratha, 1996, hal. 64).

Pada prasasti di atas disebutkan bahwa kewajiban-kewajiban yang dibayarkan oleh masyarakat sekitar pertapaan agar diserahkan kepada samgat wilang patapan. Berdasarkan hal tersebut, dapat diasumsikan bahwa pada masa pemerintahan Raja Marakata sudah terdapat beberapa bangunan pertapaan, kemudian ditugaskan seorang samgat pada setiap tempat pertapaan tersebut, oleh karena itu untuk menyebutkan para samgat yang ditugaskan pada masing-masing tempat pertapaan digunakanlah istilah samgat wilang patapan. Berdasarkan analisis, kedudukan samgat wilang patapan dalam birokrasi pemerintahan kerajaan Bali Kuno termasuk pada jabatan-jabatan pemerintahan di tingkat daerah.

Penggolongan samgat yang tergabung dalam jabatan di tingkat daerah adalah berdasarkan ranah keahliannya masing-masing. Kemungkinan samgat wilang patapan yang bertugas di tempat pertapaan merupakan orang-orang suci yang sekaligus memberikan pendidikan kerohanian di pertapaan sesuai dengan salah satu fungsi daerah pertapaan yakni sebagai asrama bagi para siswa yang mempelajari ilmu agama dan kerohanian pada masa Bali Kuno (Wahyuni, 2016)

102

Pernyataan di atas menguatkan bahwa Candi Gunung Kawi adalah tempat suci yang bercorak sinkretisme Hindu dan Buddha, yang juga dijadikan tempat pertapaan dan pendidikan pendidikan Agama.

Pembangunan bangunan suci menurut agama Hindu tidak sembarang dilakukan. Terdapat konsepsi yang melandasi setiap pembangunan bangunan suci, misalnya dibangun di daerah yang lebih tinggi atau di daerah yang dekat dengan sumber air. Pada masa lalu landasan pembuatan bangunan suci bersumber pada kitab India Kuno yakni Vatusastra (kitab tentang arsitektur) atau Silpasastra (kitab pegangan Siplin-seniman). Percandian dan bangunan suci di Indonesia menggunakan kitab manasara silpasastra yang berasal dari India Selatan karena memiliki keidentikkan. Kitab ini berisikan patokan pembuatan bangunan suci atau kuil, dan bangunan profan atau bentuk kota, desa, dan benteng-benteng.

Manasara mengungkapkan pembuatan bangunan suci sebaiknya didirikan di dekat tirtha atau sumber air, baik di sungai, terutama dekat pertemuan dua buah sungai, danau atau laut, bahkan apabila diperlukan harus dibuatkan kolam di halaman bangunan suci atau diletakkan jambangan berisi air di dekat gerbang masuk. Selain itu tempat ideal untuk mendirikan bangunan suci adalah di daerah ksetra meliputi puncak bukit, di lereng gunung, di hutan dan di lembah (Prajudi, 1999, hal. 35-37).

Oleh karena Candi Gunung Kawi adalah bangunan suci hindu maka pembahasan mengenai seni rupa dan prinsip estetika jaman pemerintahan Prabu Udayana sampai Anak Wungsu, tidak terlepas dari pembahasan elemen seni rupa yang dapat dianalisis melalui studi lapangan. Survey yang dilakukan penulis yang dikomparasikan dengan hasil penelitian akademik terdahulu, menunjukkan bahwa candi Gunung Kawi, mengalami perubahan baik pada situs in situ-nya yang tampak terjadi kerusakan dan juga pengembangan fasilitas pariwisata di dalamnya. Untuk dapat mengungkap unsur rupanya maka akan dipaparkan elemen seni rupa candi Gunung Kawi tersebut.

103 1. Proporsi

Proporsi pada candi tebing Gunung Kawi dibentuk oleh tiga elemen utama yaitu kaki, badan dan kepala. Setiap elemen utama juga disusun oleh elemen-elemen penyusun yang lebih detail sehingga terbentuklah proporsi pada candi tebing tersebut. Masing-masing candi di setiap kelompok memiliki pengulangan elemen pembentuk proporsi yang hampir sama, namun ada beberapa bagian yang berbeda (Gunawarman & Wijaya, 2018, hal. 5).

Gambar 10. Elemen Pembentuk Proporsi Candi Tebing Gunung Kawi Sumber: (Gunawarman & Wijaya, 2018)

Penelitian sebelumnya menjelaskan dengan pemahaman tukang dari jaman sekarang, sehingga besar kemungkinan terjadi ketidaktepatan istilah maupun dimensi analisis. Hal tersebut dikuatkan dengan kerusakan, renovasi dan pengembangan yang dilakukan pada lintas jaman, untuk menjauhkan elemen kerupaan situs dari jamannya. Berdasarkan kajian arsitektur, arsitektur Candi Gunung Kawi memiliki kemiripan dengan candi sejaman di Jawa timur, namun tampak usaha karakterisasi lokal terhadap proporsi dan detail candi.

104

Gambar 11. Tampak dan Dimensi Candi Sumber: (Damste, 1921)

105

Gambar 12. Kajian Proporsi Candi Gunung Kawi Sumber: (Gunawarman & Wijaya, 2018)

Keterangan :

T : tinggi keseluruhan candi, Tk : tinggi kaki candi, Tb : tinggi badan candi, Tkp: tinggi kepala candi, Tkp1: tinggi kepala tingkat 1, Tkp2: tinggi kepala tingkat 2, Tkp3: tinggi kepala tingkat 3, Tdm: tinggi dasar mahkota, Tm: tinggi mahkota, Tp : tinggi pintu semu,

Lp : lebar pintu semu, Lk : lebar dasar kaki candi, Lb : lebar dasar badan candi, Lkp : lebar dasar kepala candi.

Penelitian Raka Gunawarman dan Wijaya (2018) mengungkapkan bahwa elemen pembentuk proporsi (EPP) pada Candi Tebing Gunung Kawi secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu kaki, badan dan kepala. Detail EPP setiap bagian kaki, badan dan kepala masing-masing terdiri dari perbingkaian bawah, tubuh dan perbingkaian atas. Hasil perhitungan proporsi candi menunjukan hasil bahwa tinggi keseluruhan candi adalah 2 kali lebar kaki (Lk) atau bisa juga 2 kali tinggi kepala (Tkp).

Dalam teori manasara-silpasastra berkaitan dengan proporsi antar lebar dan tinggi terdapat lima pembagian perhitungan proporsi yaitu santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, dan sarvakamika. Santika

106

mempunyai arti saat tinggi dari bangunan adalah 2 1⁄4 dari lebar bangunan, paushtika adalah saat dimana tinggi bangunan merupakan 2 kali dari lebar bangunan, parshnika/jayada adalah saat tinggi bangunan adalah 1 3⁄4 dari lebar bangunan, adbhuta adalah saat tinggi bangunan adalah 1 1⁄2 dari lebar bangunan dan sarvakamika adalah saat tinggi bangunan adalah 1 1⁄4 dari lebar bangunan (Acharya, 1927, hal. 41). Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan pula bahwa perhitungan proporsi antara lebar dan tinggi pada Candi Tebing Gunung Kawi termasuk ke dalam paushtika (Gunawarman & Wijaya, 2018, hal. 12-13) .

2. Material dan Teknik Pembuatan

Candi tebing Gunung Kawi sebagai struktur arsitektur yang dipahatkan di tebing, tentu materialitasnya mengikuti stuktur tebing lokasinya. Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 4 tahun 2020 tentang Perubahan atas peraturan Daerah Kabupaten Ginayar Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Semesta Berencana Kabupaten Gianyar Tahun 2018-2023, khususnya pada bagian lampiran (II-4 sampai II-5) menjelaskan tentang susunan geologi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitaran Gianyar.

Struktur batuan wilayah Kabupaten Gianyar tersusun oleh formasi geologi yang sama di seluruh wilayah yaitu batuan gunung api muda kelompok Buyan-Beratan dan Batur yang terbentuk pada era kwarter. Batuan ini terdiri dari breksi vulkanik, tufa pasiran dan endapan laharik. Jenis tanah di Kabupaten Gianyar seluruhnya termasuk jenis regosol dengan bahan induk berupa endapan laut dan abu volkan intermedier (Pemerintah Kabupaten Gianyar, 2020, hal. II-4-II-5). Litologi secara umum di wilayah-wilayah Kompleks Candi Gunung Kawi dan sekitarnya berupa batuan tufa endapan gunung api Buyan-Bratan dan Batur purba yang berumur ± 1,8 juta tahun atau pada zaman Kuarter Kala Plistosen. Karakteristik endapan tufa di daerah tersebut berupa endapan pumice yang lazim disebut batuapung.

107

Batuapung memiliki rongga dan bertekstur seperti roti. Beberapa lokasi di daerah ini juga ditemukan litologi breksi dan konglomerat (Bagus &

Prihatmoko, 2016).

Oleh karena itu, maka jenis batuan di Kompleks Candi Gunung Kawi merupakan batuan tufa-breksi yang tidak mungkin digunakan untuk pembangunan dengan menggunakan teknik gosok karena karakternya merupakan batuan keras dan sulit diratakan. Jenis batuan yang biasanya menggunakan teknik gosok biasanya memiliki karakter yang lebih lunak, seperti batu padas yang digunakan dalam pembangunan Candi Pegulingan, Candi Mangening, dan Candi Wasan. Oleh karena itu, berdasarkan karakter batuannya, teknik pembangunan candi yang diadaptasi pada Kompleks Candi Gunung Kawi tidak menggunakan teknik gosok, tetapi menggunakan konsep candi tebing yaitu dengan melakukan pahatan langsung pada tebing lokasi.

Teknik pembangunan candi di Bali berbeda dengan di Jawa, khususnya untuk bangunan candi dengan konstruksi batu. Pembangunan candi dengan konstruksi batu di Jawa menggunakan sistem pasak–purus atau batu kait, sedangkan pembangunan candi di Bali menggunakan sistem teknik gosok. Namun, lingkungan tempat didirikannya Kompleks Candi Gunung Kawi memiliki keterbatasan jika harus membangun dalam bentuk tiga dimensi. Pada lingkungan Kompleks Candi Gunung Kawi, faktor geografi dan sumber daya alam yang menjadi bahan baku pembangunan

Teknik pembangunan candi di Bali berbeda dengan di Jawa, khususnya untuk bangunan candi dengan konstruksi batu. Pembangunan candi dengan konstruksi batu di Jawa menggunakan sistem pasak–purus atau batu kait, sedangkan pembangunan candi di Bali menggunakan sistem teknik gosok. Namun, lingkungan tempat didirikannya Kompleks Candi Gunung Kawi memiliki keterbatasan jika harus membangun dalam bentuk tiga dimensi. Pada lingkungan Kompleks Candi Gunung Kawi, faktor geografi dan sumber daya alam yang menjadi bahan baku pembangunan