• Tidak ada hasil yang ditemukan

pendampingan aktivitas produksi dan pemasaran

pADA kegIATAn ekSTRAkuRIkuleR keloMpok SISWA-SISWI kReATIF SMA negeRI 1 JIWAn

D. pendampingan aktivitas produksi dan pemasaran

Pendampingan dilakukan selain pada aspek produksi juga pada aspek pemasaran produk dan manajemen usaha. Dari aspek pemasaran, mitra akan didampingi mencari akses pasar, melalui media online (facebook dan instagram yang dibuat oleh mahasiswa), melalui koperasi mahasiswa dan koperasi wanita yang ada di kota maupun kabupaten

Madiun serta bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi dan Pariwisata yang berada di Kota maupun Kabupaten Madiun.

hASIl DAn peMbAhASAn

Permasalahan yang muncul dimasyarakat bahwa penderita HIV-AIDs atau yang biasa disebut ODHA merupakan sekian banyak penderita penyakit menular yang sangat memerlukan perhatian, hal ini dikarenakan banyaknya korban HIV dan AIDs yang meninggal dalam waktu relatif singkat bukan karena penyakit HIV dan AIDs melainkan karena beban psikologis, oleh karena itulah program pendampingan psikologis terhadap ODHA untuk memotivasi agar ODHA mem-punyai semangat hidup dan percaya diri serta merasa bermannfaat bagi orang lain harus selalu ditumbuhkan dalam kehidupan ODHA, karena HIV-AIDs adalah epidemi yang mengancam kesehatan dan kehidupan generasi penerus bangsa yang secara lang-sung membahayakan perkembangan sosial, ekonomi serta keamanan Negara, untuk itulah upaya penanggulangan harus dianggap sebagai hal yang penting dengan tingkat urgensi yang tinggi.Mengingat ODHA di Kabupaten Madiun selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun termasuk angka kematiannya juga mengalami pe-ningkatan,sesuai laporan KPA Kabupaten Madiun, sejak kasus AIDs pertama kali ditemukan pada tahun 2002 sampai dengan bulan Maret 2015 jumlah kumulatif penderita HIV-AIDs di Kabupaten Madiun sangat tinggi dengan angka mencapai 325 orang. Oleh karena itulah Penyuluhan penanggulangan HIV-AIDs kepada masyarakat dan ODHA untuk memberikan pemahaman terhadap bahaya penyakit dan penularan HIV-AIDs harus di-galakan agar masyarakat ikut menjaga, tanggap, dan waspada jangan sampai terjadi

IbM. Pemberdayaan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS ) Odha meningkatnya penyebaran penyakit HIV-AIDs.

di masyarakat.

Selain permasalahan tersebut diatas ada permasalahan yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan yaitu kurangnya perhatian terhadap ODHA dalam hal perawatan, lapangan kerja, beban ekonomi, diskriminisi dan pelatihan, maka program IbM dalam bentuk pemberian pelatihan ketrampilan kewirausahaan dengan tujuan membuat ODHA mandiri secara sosial dan ekonomi dengan kultur kewirausahaan melalui pem berdayaan sangat diperlukan, untuk men ciptakan produktivitas usaha yang berkelanjutan sehingga ODHA dapat mandiri tanpa bergantng pada bantuan program dari pemerintah atau instansi terkait dan dapat memberikan kontribusi pada ODHA yang lain. Bagi ODHA penyuluhan dan pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat baik secara psikologis maupun untuk peningkatan pendapatan, karena selama ini ODHA belum pernah mendapat pelatihan dari Instansi manapun, sehingga membuat ODHA dalam mengikuti penyuluhan dan pelatihan aneka ketrampilan begitu semangat, menjadikan suasana pelatihan terlihat menyenangkan dan mengasyikkan ,ODHA terlihat gembira dan menikmati pelatihan ,dan merasa tidak ada diskriminasi, tidak terbebani dan tidak ada stigma , bahkan ODHA merasa diperhatikan dan disayangi, sehingga dalam pelatihan tidak ada seorangpun yang ijin tidak mengikuti pelatihan .

Peserta pelatihan terdiri dari perempuan dan laki-laki, dan yang sangat mengharukan sebagian para ODHA dalam pelatihan banyak juga yang mengajak anak2nya sehingga suasana pelatihan penuh kekeluargaan. Bagi tim pelaksana program IbM susana yang demikian ini sangatlah diharapkan , karena sangat mendukung berhasilnya tujuan program IbM.

Tim pelaksana program IbM yang ber-jumlah 4 orang terdiri dari 2 orang dosen dan 2 orang mahasiswa dalam pelaksanaannya bertambah menjadi 8 orang terdiri dari 2 dosen dan 6 orang mahasiswa, penambahan tim pelaksana program dikarenakan tingkat kemampuan ketrampilan ODHA dalam meng-ikuti pelatihan satu dengan yang lainnya tidak sama, ada yang dilatih sekali sudah bisa membuat produk ketrampilan yang dilatihkan , tetapi ada yang beberapa kali dilatih baru bisa membuat produk ketrampilan dan bahkan ada juga yang memerlukan waktu berhari-hari dilatih untuk bisa menghasilkan produk.

Produk yang dihasilkan ODHA adalah sepatu dan dompet rajut, batik jumputan, tas dan kain sulam pita, aneka ketrampilan dari kain flanel seperti bros, gantungan kunci, sandal hias. Hasil yang telah dihasilkan ODHA sangat bagus, terlihat para ODHA mempunyai talenta dalam membuat produk karena ODHA bisa berkreasi sendiri untuk meperindah dan mempercantik produk agar mempunyai nilai yang lebih tinggi, baik produk tas dan dompet rajut, tas dan kain sulam pita, batik jumputan dan aneka ketrampilan dari kain flanel,meski selama ini ODHA belum pernah mendapatkan pelatihan ketrampilan sekalipun. Dari ber-bagai ketramipilan yang telah dilatihkan diharapkan akan dapat menjadikan ODHA mandiri dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ODHA.

keSIMpulAn

Kegiatan pelatihan ketrampilan bagi ODHA mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan pendapatan serta kepercayaan diri bagi ODHA dalam hidup bermasyarakat.

1. Pelatihan pembuatan tas /kain sulam pita sangat diminati oleh peserta karena membuatnya mudah dan bahannyajuga mudah didapat serta, dapat dikreasi untuk berbagai hiasan seperti hiasan

Tatik Mulyati & Ninik Srijani

118

Daya Mas

, Volume 1 Nomor 2 September 2016 untuk jilbab,sarung bantal,taplak

meja,sandal,sepatu dan insyaaallah banyak peminatnya dsb.

2. Pelatihan membuat sepatu rajut sangat diminati oleh peserta karena sepatu rajut mempunyai prospek yang sangat bagus dalam pemasaran dan harga nilai jual tinggi meski proses membuat sepatu rajut agak sulit, hal ini justru membuat peserta semangat untuk berlatih bahkan jadwal pelatihan untuk sepatu rajut ini minta ditambah dan yg lebih memperbesar semangat adalah sudah adanya pemesan sepatu rajut.

DAFTAR puSTAkA

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010.

Statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia.

[Online]. http://www.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 2 April 2014.

Djoerban, Z. 2000. Membidik AIDS: Ikhtiar

Memahami HIV dan ODHA. Yogyakarta:

Galang Press

Widjajanti, W. 2009. Pendidikan Pencegahan

HIV – Kit Informasi Guru. Jakarta: Komisi

Nasional Indonesia untuk UNESCO Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional RI. Buku Saku Suku Dinas Kesehatan Masyarakat

IbM. Pemberdayaan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS ) Odha

International Congrees on AIDS in Asia and Pasific (ICAAP) ke 2 Memberdayakan Manusia,Memperkuat Jejaring. Jakarata :

Dinas Kesehatan Masyarakat Kotamadya Jakarta Utara

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. 2012.

Mengenal dan Menanggulangi HIV-AIDS infeksi Menular seksual dan Narkoba.

Jakarta: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

Daya Mas

Media Komunikasi dan Informasi Hasil Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Volume 1 Nomor 2 September 2016; ISSN : 2502-7034

pengelolAAn JeRAMI pADI DAn lIMbAh bAhAn oRgAnIk

DAlAM upAyA keMAnDIRIAn kebuTuhAn pupuk oRgAnIk

praptiningsih gamawati Adinurani1) & Wuryantoro2) 1 & 2Fakultas Pertanian, Universitas Merdeka Madiun

email: [email protected] email: [email protected]

Abstract

Until now, farmers still use waste straw as organic compost. Farmers prefer to burn straw rice yields to facilitate the processing of soil preparation for planting next season. This community service program aims to encourage farmers’ efforts to manage waste rice crop straw and other organic wastes into organic fertilizer. The method used is a discussion, participation, training and mentoring / demo plot. The results obtained are the partners can take advantage of waste straw and other local waste organic materials as organic fertilizer. Partner events can be for example modeling in situ composting. Compost made from chopped straw + EM4 took four weeks composting, straw intact + EM4 for seven weeks and chopped without EM4 takes nine weeks. Independence of farmers produces organic fertilizer can save the cost of fertilizer at least 900 000 IDR. ha–1

Keywords: compost, , fertilizer, organic, paddy, straw penDAhuluAn

Upaya untuk mengangkat kesejahteraan petani melalui perbaikan produktivitas tanaman padi dilakukan dengan berbagai metode. Keberhasilan upaya perbaikan produktivitas nampak pada peningkatan hasil panen. Produksi padi di Indonesia cenderung meningkat sejak tahun 2012. Berdasarkan data BPS (2016) produksi tahun 2014 adalah 70.85 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan tahun 2015 sekitar 75.40 juta ton GKG atau mengalami kenaikan 6.42%. Namun pada usaha tanaman padi, peningkatan hasil panen akan diikuti pula dengan peningkatan limbah tanaman padi. Menurut Makarim dkk (2007) bahwa perbandingan antara bobot gabah dan jerami (grain straw ratio) pada saat panen umumnya antara 2:3 Nampak

bahwa semakin meningkat hasil gabah akan meningkat pula limbah jerami yang dihasilkan. Petani belum memperlakukan jerami sebagai bagian integral dari usahatani padinya. Hal ini terlihat seusai panen, banyak yang melakukan pembakaran jerami di lahan. Pembakaran jerami di lahan sawah akan mematikan biota (mikroba) diatas permukaan dan dalam lapisan olah tanah, mengakibatkan kehilangan masa bahan organik dan hara serta menimbulkan polusi. Keterbatasan pengetahuan petani tentang manfaat jerami menjadikan petani tidak memanfaatkannya sebagai bahan organik.

Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia kekurangan bahan organik. Seperti yang dikemukakan Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian

Pengelolaan Jerami Padi dan Limbah Bahan Organik Pertanian, dalam Julianto (2014) mengatakan,

saat ini hampir 65% lahan pertanian memiliki kandungan organik tanah rendah  (< 2%). Sedangkan 29%  lahan memiliki kandungan organik sedang (2-3%) dan hanya 6%   lahan memiliki kandungan  organik tinggi di atas 3%.Padahal tanah dengan kandungan bahan organik kurang dari 2.5% akan menyebabkan proses pencucian hara sangat sulit diken-dalikan dan penurunan bahan organik dari 3% menjadi 2% akan menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan unsur nitrogen sebanyak 900 kg/ha ( Sipayung, 2010). Kondisi bahan organik yang rendah juga berdampak pada menurunnya efisiensi pupuk, aktivitas mikroba tanah, dan struktur tanah. Hal tersebut mengakibatkan produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Mengingat pentingnya bahan organik dalam tanah, pengembalian bahan organik dari limbah tanaman me rupakan keharusan dalam praktek setiap usahatani.

Permasalahan kandungan bahan organik pada lahan pertanian tersebut kurang dipahami oleh petani, sehingga tidak ada upaya petani untuk mengembalikan bahan organik ke dalam tanah. Sebenarnya petani padi dapat mengembalikan bahan organik secara langsung berupa jerami ke lahan sawahnya maupun tidak langsung berupa kompos jerami. Pemanfaatan jerami sisa panen padi untuk kompos secara bertahap dapat mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas padi.Dapat pula berupa pupuk organik dari limbah/bahan lokal disekelilingnya yang dapat dibuat sendiri untuk mengurangi kebutuhan pupuk anorganik.

Kegiatan program ini bertujuan me-ningkatkan pengelolaan limbah jerami dan pemanfaatan limbah/bahan lokal sebagai pupuk organik oleh petani dalam upaya kemandirian pupuk organik dan secara perlahan akan mengurangi ketergantungan

petani terhadap pupuk anorganik/pupuk kimia.

kAJIAn lITeRATuR

Jerami padi merupakan limbah paling banyak dibanding limbah pertanian lainnya. Limbah jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, mulsa, bahan baku bioetanol, alas lantai kandang, bahan media jamur, dan kompos. Kompos jerami berperan dalam menambah kadar bahan organik tanah sawah yang berdampak pada peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.

Kandungan unsur hara K cukup tinggi dalam kompos jerami. Jerami padi merupakan salah satu sumber K yang murah dan mudah tersedia di lahan sawah, pengembalian jerami ke tanah dapat memenuhi sebagian hara K yang dibutuhkan tanaman. Mengingat sifat K yang mudah hilang (mobil) dari dalam tanah, sehingga pemberian pupuk K perlu diberikan dalam dua jenis yaitu pupuk KCl dalam bentuk anorganik dan kompos jerami dalam bentuk organik (Hartatik, 2009). Selain unsur hara makro, kompos jerami juga menyimpan berbagai unsur hara mikro yang tidak ter-dapat dalam pupuk kimia. Kandungan beberapa unsur hara untuk 1 ton kompos jerami padi adalah : unsur makro Nitrogen (N) 2,11 %, Fosfor (P2O5) 0,64%, Kalium (K2O) 7,7%,  Kalsium (Ca) 4,2%, serta unsur mikro Magnesium (Mg) 0,5%, Cu 20 ppm, Mn 684 ppm dan Zn 144 ppm (Suryani, 2014).

Pengomposan dapat dilakukan dengan penambahan dekomposer berbahan lokal buatan petani sendiri. Beberapa dekomposer mampu menurunkan rasio C/N jerami dari 32:1 menjadi kurang dari 25:1 setelah 2 minggu masa pengomposan. Namun rasio C/N stabil untuk semua perlakuan dekomposer dicapai setelah minggu ke-4 dan ke-5 masa pengomposan dengan rasio C/N 10:1-16:1 (Husein dan Irawan, 2008). Secara alami, proses perombakan jerami membutuhkan waktu

122

Daya Mas

, Volume 1 Nomor 2 September 2016 Praptiningsih Gamawati Adinurani & Wuryantoro

relatif lama (2-3 bulan), padahal tenggang waktu masa tanam berikutnya sangat singkat tehingga pembenaman jerami sebagai bahan organik sering dianggap kurang praktis dan tidak efisien.

Sisworo (2006) menyatakan bahwa pengembalian jerami yang telah dikom-poskan kedalam sawah secara nyata dapat meningkatkan serapan N tanaman padi baik musim hujan ataupun musim kemarau. Demikian pula hasil penelitian Cut Salbiah dkk (2013) menunjukkan bahwa kompos jerami berpengaruh sangat nyata terhadap C-organik tanah, N-total tanah, KTK tanah, jumlah malai per rumpun dan hasil gabah per hektar pada kadar air 14% serta berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan umur 35 HST. Pemupukan kompos jerami yang dikombinasi dengan pupuk NPK berpengaruh nyata meningkatkan pertumbuhan padi sawah yang meliputi rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan (Kadengkang dkk., 2015).

MeToDe pelAkSAnAAn

Metode pelaksanaan kegiatan peng-elolaan jerami padi dan limbah bahan organik dalam upaya kemandirian kebutuhan pupuk organik yang dilakukan oleh Aminto petani Desa Sukosari Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun sebagai mitra I dan Mardi petani Desa Klumutan Kecamatan Saradan sebagai mitra II meliputi:

1. Diskusi

Awal pelaksanaan program dilakukan diskusi tentang limbah jerami, pembakaran jerami dan manfaat jerami serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi mitra dan kebutuhan yang diperlukan mitra dalam pengelolaan limbah jerami.

2. Partisipatif

Petani sebagai mitra dalam program ini turut berperan serta dalam pengelolaan limbah jerami hasil sawahnya dan menentukan

bahan local yang ada disekitarnya untuk membuat dekomposer yang diperlukan untuk pengomposan jerami atau pupuk organik cair agar sumberdaya tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu.

3. Pelatihan

Pelatihan pembuatan kompos jerami, baik yang dicacah maupun yang utuh dan yang diberi dekomposer maupun tidak serta pembuatan dekomposer atau MoL

4. Pendampinaagn Demoplot

Pendampingan aplikasi kompos jerami dan MoL pada tanaman padi petani serta pada percontohan penelitian.

hASIl DAn peMbAhASAn

Hasil diskusi sebelum kegiatan program, petani lebih senang membakar jerami dengan alasan hanya untuk mempercepat dan mempermudah persiapan lahan musim berikutnya (Gambar 1)

Gambar 1. Pembakaran Jerami

Petani belum menyadari dan memahami kondisi lahannya yang kekurangan bahan organik dan belum mengetahui bahwa jerami merupakan sumber bahan organik. Setelah penyuluhan tentang dampak pembakaran jerami dan perlunya penambahan organik ke lahan serta manfaat jerami sebagai kompos, petani berpartisipasi dalam pengelolaan limbah jerami. Jerami tidak dibakar lagi melainkan dimanfaatkan sebagai kompos dan

Pengelolaan Jerami Padi dan Limbah Bahan Organik dikembalikan ke lahannya untuk menambah

bahan organik tanah. Untuk mempercepat pengomposan, jerami harus dipotong menjadi ukuran lebih kecil. Kadengkang (2015) menyarankan bahwa pengolahan kompos jerami sebaiknya dicacah lebih dahulu supaya jerami dapat cepat terurai secara sempurna, sehingga unsur hara dapat tersedia bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Untuk memotong jerami, petani diberi mesin pencacah jerami berdaya 10 PK (Gambar 2) dan dari 10 kg jerami kering menghasilkan 8 kg cacahan seperti Gambar 3. Selanjutnya difermentasi untuk pembuatan kompos (Gambar 4) dan pembuatan kompos secara insitu (Gambar 5) serta hasil kompos seperti Gambar 6.

a.

b.

Gambar 2. Mesin pencacah jerami (a) mitra I dan (b) Mitra II

Gambar 3. Hasil cacahan jerami

a b

Gambar 4. Pembuatan kompos (a) jerami (b) jerami cacah yg diberi dekomposer

124

Daya Mas

, Volume 1 Nomor 2 September 2016 Praptiningsih Gamawati Adinurani & Wuryantoro

Gambar 6. Kompos jerami

Secara alami, proses perombakan jerami membutuhkan waktu relatif lama (2-3 bulan). Penambahan dekomposer akan membantu penguraian jerami menjadi lebih cepat. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan (Wikipedia, 2016). Pengomposan jerami yang dilakukan mitra memerlukan waktu berbeda seperti Gambar 7.

Gambar 7. Waktu pengomposan berbagai ukuran jerami

Dengan adanya bantuan mesin cacah petani dapat memproduksi sendiri pupuk organik dari limbah jerami sehingga petani minimal dapat menghemat 600 kg/ha pupuk organik buatan pabrik sekali musim tanam atau senilai Rp 900 000. Selain itu pemberian jerami cacah secara langsung saat pengolahan tanah dapat menghemat pupuk KCl, mengingat bahwa jerami padi mengandung + 12 kg K2O/ton(Harahap, 2008). Rendemen

jerami menjadi kompos adalah 60%, sehingga rata-rata kompos yang dihasilkan mitra adalah (6.75 - 7.2) ton ha–1 dari (11.25 -12) ton ha–1

jerami atau senilai Rp1.5 jt.

Pembuatan MoL untuk dekomposer maupun sebagai pupuk organik cair seperti Gambar 8 dan hasil pupuk cair pada Gambar 9.

Pengelolaan Jerami Padi dan Limbah Bahan Organik

Gambar 9. Pupuk Organik Cair

Penampilan tanaman padi yang disemprot pupuk organik cair seperti Gambar 10.

Gambar 10. Hasil padi yang disemprot POC

keSIMpulAn

1. Jerami limbah hasil usaha tani padi dapat dikelola menjadi kompos organik yaitu 6.75 - 7.2 ton ha–1

2. Kemandirian petani menghasilkan pupuk organik dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan penghematan biaya pupuk organik pabrik Rp 1.5 jt dan 84 kg K2O sekali tanam.

3. Pengelolaaan limbah jerami dan limbah lokal untuk pupuk organik mengurangi pencemaran lingkungan dan menambah pendapat..

DAFTAR puSTAkA

BPS. 2016. Produksi Padi, Jagung dan Kedelai. Berita Resmi Statistik No. 62/07/Th.XIX, 01 Juli 2016.

Cut Salbiah. Muyassir,dan Sufardi. 2013.. Pemupukan KCl, Kompos Jerami Dan Pengaruhnya Terhadap Sifat Kimia Tanah, Pertumbuhan Dan Hasil Padi Sawah (Oryza Sativa L.). Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan. Volume 2, Nomor 3, Juni 2013: hal. 213-222.

Harahap, S.M. 2008. Aplikasi Jerami Padi Untuk Perbaikan Sifat Tanah Dan Produksi Padi Sawah. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara

Hartatik, W. 2009. Jerami Dapat Mensubstitusi Pupuk KCl. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian., Vol. 31 No. 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.p. 1-3

Husein, E. Dan Irawan. 2008. Kompos Jerami, Pengomposan dan Karakteristik Kompos. Balai Penelitian Tanah. Departemen Pertanian. Jakarta.

Julianto. 2014. Lahan Pertanian Kritis Bahan Organik. Tabloid Sinar Tani. http:// tabloidsinartani.com/content/read/ lahan-pertanian-kritis-bahan-organik/ diakses Januari 2015

Kadengkang, I., Jeanne, M.P. dan Edy, F.L. 2015. Kajian Pemanfaatan Kompos Jerami sebagai Substitusi Pupuk NPK pada Pertumbuhan dan Produksi Padi Sistem IPAT-BO. Jurnal Bioslogos. Vol. 5 No.2. Universitas SamRatulangi. Manado.

Makarim A.K., Sumarno., dan Suyamto. 2007. Jerami Padi Pengelolaan dan Pemamfaatan. Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Jakarta.

126

Daya Mas

, Volume 1 Nomor 2 September 2016 Praptiningsih Gamawati Adinurani & Wuryantoro

Sipayung, M.T.H. 2010. Bertani Organik dengan Teknologi Biofob. Lily Publisher. Yogyakarta

Sisworo, W.H.(2006). Swasembada pangan dan pertanian berkelanjutan.Tantangan abad dua satu. Badan Tenaga Nuklir Indonesia. Jakarta.

Suryani, S. 2014. Teknologi Pembuatan Kompos Jerami Padi. http://www. perhiptani.org/berita-215-teknologi-pembuatan-kompos-jerami-padi.html. Diakses tgl 30 Mei 2015.

Wikipedia, 2016. Kompos. https://id.wikipedia. org/wiki/Kompos. Diakses tgl 22 Agustus 2016.

Daya Mas

SoSIAlISASI penCegAhAn penelAnTARAn DAn ekSploITASI

TeRhADAp AnAk

Zulin nurchayati1

1Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Merdeka Madiun

Abstract

Law No. 23 of 2002 on child protection. Article 1 that a child not yet 18 years of age, including children still in the womb. During the growth and development of children need to be maximized on a periodic basis according to age. The core of this socialization so that people are able to understand, explain, identify and provide concrete examples of how to prevent neglect and exploitation of children so as to reduce and prevent the neglect and exploitation of children in Indonesia.

Keywords : socialization, neglect, exploitation, child penDAhuluAn

Kehidupan di era kemajuan dalam segala bidang, merupakan sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa kenyataan hidup memang keras dan penuh persaingan. Ma-salah ekonomi merupakan pemicu utama terjadi nya penelantaran terhadap anak.

Penelantaran merupakan tidak dilaku-kannya kewajiban dan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak secara wajar, termasuk kasih sayang dan perhatian (Irwanto, 2014). Sedangkan anak terlantar adalah anak yang karena suatu sebab orang tuanya melalaikan kewajibannya sehingga kehidupan anak tidak dapat terpenuhi dengan wajar baik jasmani , rohani maupun sosial (pasal 1 UU nomor 4 Tahun 1979).

Terlantar disini bukan sekedar karena seorang anak sudah tidak memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya. Tetapi juga dalam pengertian ketika hak– haknya untuk tumbuh kembang secara wajar, untuk memperoleh pendidikan yang layak dan

untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian, ketidakmampuan atau kesengajaan dari orang tua.

Seorang anak yang kelahirannya tidak dikehendaki misalnya, sangat rawan untuk diterlantarkan karena ketidaksiapan orang orang tua untuk melahirkan dan memelihara anaknya secara wajar. Penelantaran juga dapat berupa pendiaman dan pembahayaan.

Penelantaran terkadang dilakukan oleh orang tua secara tidak disadari, karena di-sebabkan dampak dari kehidupannya sendiri, seperti kemiskinan, karakter atau tekanan yang sedang dialami oleh orang tua pada saat itu. Para orang tua atau sebagian besar orang menganggap penelntaran sebagai hal yang biasa sehingga sulit dideteksi. Hampir tidak ada orang yang melaporkan kondisi tersebut bahkan tidak pernah dilaporkan kepada pihak yang berwenang karena dengan dalih urusan keluarga, padahal hal ini sangat berdampak buruk untuk kehidupan anak kelak di

Dokumen terkait